Aku mantan pelacur

Aku mantan pelacur
Bab 31.Negoisasi


__ADS_3

Di Lobi perusahaan Miller crop Real Estate seorang laki-laki terlihat berjalan tergesa-gesa,dengan laki-laki lainnya yang mengikuti di belakangnya.


Ardhan bersama Dany sekretarisnya menemui Presdir perusahaan tersebut,sebelumnya Dany sudah mengatur jadwal mereka lewat sekretarisnya.


"Selamat datang Tuan."Ben menyapa,kepalanya menunduk sopan,saat Ardhan dan sekretaris nya sudah di depan ruangan Presdir."Tuan Jhon sudah menunggu Anda."lanjutnya lagi,lalu membukakan pintu ruangan.


"Kau sudah datang nak." Ucap Jhon ketika Mereka sudah memasuki ruangannya.


"Keluarlah"Menatap kearah Ben sekretarisnya lalu menyuruhnya pergi.Jhon berjalan menghampiri Ardhan dan Dany.


Mereka sempat berpelukan seperti biasa jika saling bertemu.Namun entah sehabis pertemuan ini.


"Iya paman."jawabnya sopan masih menghormati namun dengan wajah datarnya.Meski mengingat dengan apa yang dilakukan Jhon terhadap masalah hidupnya.


Kini mereka tengah duduk berhadapan di sofa,


"Paman pasti sudah tau maksud kedatanganku."ucap Ardhan mengawali pembicaraan,dirinya merasa sudah tidak ingin berbasa-basi lagi.


Menebak jika Jessica sudah memberitahu ayahnya,karena sifatnya yang manja pasti begitu terbuka dengan ayahnya,oleh karena itu menjadi salah satu yang membuat Ardhan tidak menyukainya.


Mereka sudah saling mengenal puluhan tahun.Andai saja laki-laki yang di hadapannya tidak menyulutkan api di hubungan mereka,mungkin Ardhan masih akan bersikap lebih hormat terhadapnya.


"Apa maksudmu?"mengelak,Masih bersikap santai,seperti tidak ada yang terjadi.


Ardhan melirik ke arah Dany,dia langsung tau apa yang Ardhan maksud.Mengeluarkan sesuatu dikantong jaz nya lalu menaruhnya di meja di hadapan mereka.


Sebuah kotak beludru berwarna merah.Jhon tau apa yang di dalamnya.Awalnya dia cukup tidak percaya jika apa yang dituturkan Jessica terhadapnya itu benar.


Ardhan,meski sifatnya yang dingin dan cukup arogan.Namun Jhon tau dia tidak akan tega jika berhadapan dengan perempuan,apalagi sampai membuatnya menangis.


"Kau tau apa akibat dari ini bukan?"Jhon bertanya,menatap benda yang menjadi masalah mereka,lalu pindah menatap mata tajam Ardhan.

__ADS_1


Hanya menyeringai,rasa empati dan hormat sudah tidak ada di diri Ardhan saat ini.


"Tentu,tapi paman juga pasti tau jika aku sampai berani seperti ini, berarti ada sesuatu yang mendukungku untuk melakukannya.Bukan begitu paman?


Seketika Jhon langsung mengerutkan keningnya,cukup tidak paham apa yang Ardhan katakan.


Detik berikutnya,Jhon tertawa lirih,mengejek cara bicara Ardhan yang terkesan ingin menantangnya.


Dua orang yang dulu sama-sama saling bahu-membahu kini sudah tidak lagi,hanya ada saling menunjukan keegoisan mereka masing-masing.


Diruang Presdir,hawa panas mulai terasa,dinginnya suhu AC mungkin sudah berpengaruh lagi.


"kau ingin menantang paman?kau lupa,jika selama ini hanya keluarga besar Miller yang ada di sampingmu?"Mengancam, semua yang pernah diberikan nya seperti ada harga yang harus dibayar.


"Saya tidak pernah lupa,bahkan semua yang di berikan Tante Lyla padaku masih membekas di pikiranku,meskipun beliau sudah lama tidak ada."


"Lalu kenapa kau begitu tega dengan putrinya?apa ini yang di sebut balas Budi?"Semakin menyudutkan Ardhan,apa mereka hanya memikirkan perasaan diri mereka sendiri?pikir Ardhan.


"Saya hanya akan menagih hutang,karena paman mempunyai hutang denganku.Bukahkah ada istilah jika hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa?"


Mencoba melakukan negoisasi tanpa adanya tarik urat.


"Baiklah jika itu mau mu,sesuai kesepakatan kita lalu,jika sampai kau menolak semua saham ku yang berada di perusahaanmu akan kutarik, begitu juga beberapa investor karena kau tau bukan jika mereka berada di naunganku?"ada jeda saat mengatakan,melihat ekspresi wajah Ardhan.


"Jadi terserah,jika kau mau perusahaan yang dengan susah payah di bangun keluarga mu hancur begitu saja hanya karena pewaris yang lebih memilih wanita kotor itu."ucapnya lagi menekan kata terakhir,Jhon mulai emosi,mengingat Mira,membuatnya teringat dengan dendamnya pada ibunya.


"Berhenti menamainya seperti itu paman."Ardhan mulai tersulut emosi,dirinya tidak terima wanitanya di hina seperti itu.


Tanpa menunggu lagi,Ardhan mengeluarkan semua bukti kejahatan yang Jhon lakukan saat menculik Mira.


Jhon begitu kaget,matanya seketika melotot melihat semua foto yang di hadapannya.

__ADS_1


"Bre****k!,apa yang kau lakukan."Rahangnya mengeras,wajahnya merah padam.Berpikir darimana Ardhan mendapatkan itu semua.


Mendengar teriakan Tuannya,Ben yang sejak tadi berada di luar ruangan langsung masuk.Melihat dua orang yang bertatapan saling menghunus pedang mereka masing-masing.Satu orang lagi hanya menatapnya saja ke arah Tuannya tanpa melakukan apapun


Senyum tipis nyaris tak terlihat,hadir di bibirnya begitu melihat foto-foto berserakan di atas meja.Potret seorang wanita yang terikat di ranjang,dengan foto Tuannya.


"Jika paman bisa mengancam ku,Aku pun juga sama.Hutang nyawa harus di bayar nyawa,benarkan? Lagi-lagi Ardhan mulai menyulutkan api,dirinya sudah tidak lagi bisa menahannya.


Ardhan sudah ingin secepatnya bisa lepas dari masalah ini.


"Jika paman sampai melakukannya,aku tak segan-segan melaporkan kejahatan paman."Ucapnya lagi mulai mengancam,Ardhan benar-benar darahnya sudah mendidih.


Saat itu Dany hanya bisa melihat mereka tanpa bisa melakukan sesuatu, keberadaan nya hanya untuk mengantisipasi jika Ardhan tidak bisa mengontrol emosinya.


Terdengar sedikit aneh memang,tapi itulah,terkadang hanya karena masalah wanita yang dicintainya,Cinta bisa membuat seseorang menjadi pribadi orang lain.Jika di dirinya tidak bisa menahannya.


Sebagai sekretaris nya,Dany hanya tidak ingin jika amarah Ardhan mengakibatkannya berada di situasi yang justru membuatnya semakin tersudut.Dirinya hanya ingin melindungi atasannya.


Cukup lama Jhon menimbang kata-kata Ardhan,dirinya masih berpikir bagaimana Ardhan bisa tau kebusukannya,darimana dia mendapatkan bukti-bukti itu.


"Seperti itukah balasan mu?"masih berusaha menawar.


"Hmm."Nafas Ardhan naik turun,menahan amarahnya lagi.


Dany yang sejak tadi hanya diam, tau-tau mengeluarkan sesuatu lagi.Map coklat,berisi surat perjanjian yang intinya,jika Pihak Ardhan memutuskan pertunangan antara dirinya dan Jessica,Pihak dari Jhon tidak akan pernah menuntut apapun termasuk masalah di perusahaan miliknya.


"Lakukanlah jika paman memang masih menyayangi putrimu."Suruh nya Ardhan sambil menyerahkan map tersebut.


Saat ini Jhon hanya memikirkan bagaimana perasaan putrinya nanti,mengetahui jika dirinya tidak bisa memenuhi janjinya.


Dengan terpaksa,Jhon mengambil bolpoin dan mendatangani nya.

__ADS_1


"Maafkan ayah Jess,kali ini ayah belum bisa membahagiakanmu."


...****************...


__ADS_2