
Paginya setelah berpamitan dengan mencium punggung tangan Abah dan mbok Darmi.Mira diantar Karyo dengan Motor besar pinjamannya dari teman,Alasannya karena takut jika di tengah jalan akan mogok jika memakai motor bututnya.
Tak banyak yang Mira bawa,hanya baju yang melekat di tubuhnya dan bekal pemberian mbok Darmi saja.
"sudah siap?"Tanya Karyo yang sudah menunggunya duduk di atas motor.Di Bua terlihat berbeda dengan Motor besarnya.
"Tumben kamu dandan Yo."mbok Darmi merasa heran karena tidak pernah melihat anaknya memakai baju rapi lengkap dengan jaketnya.Biasanya meskipun hendak ke kota dia hanya memakai celana pendek robek dan kaos oblong saja.
"Mungkin karena mau nganterin cewek cantik mbok."Abah yang langsung menyahuti.Beliau juga merasa heran dengan anaknya tapi meski begitu dia tetap senang karena itu artinya anaknya masih punya malu.
"Ya nggak juga Bah, sekali-kali kan boleh tampil gagah."ucap Karyo dengan percaya diri membela dirinya sendiri.
"Alasan!"ucap mbok Darmi meliriknya sambil mendekati Mira.memeluknya dengan sayang karena merasa kehilangan.
"Hati-hati ya neng,maaf mbok tidak bisa bawain neng apa-apa."Beliau merasa bersalah dengan keadaannya yang pas-pasan.
"Tidak apa-apa mbok,justru Mira sangat berterimakasih karena selama ini sudah menolong dan mau menampung Mira di sini."karena sudah membelikan tiket pulang saja sudah bersyukur,pikir Mira.
"Lagian mbok kan udah kasih Mira ini."sambil mengangkat bungkusan di kantong plastik berwarna hitam.
"Kapan-kapan kalau ada waktu pasti Mira sempatin main ke sini kok."
Mendengar itu wajah mbok Darmi tampak bahagia,itu artinya Beliau masih bisa ketemu wanita muda cantik ini.
Mereka pun masih melakukan drama perpisahan,sampai suara klakson Motor terdengar baru mereka menyudahinya.
"Bisa kita berangkat sekarang nyonya?"Karyo mencoba menggoda mereka,heran dengan kaum wanita.Mau pulang saja kebanyakan adegan.
Mira tidak menjawab,dia hanya mengangguk sekilas,lalu lekas menghampirinya.
Setelah hampir setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di Terminal yang sudah ramai orang lalu lalang ,Bus -bus Besar Antar Kota sebagian masih berjejer rapi di tempat parkiran masing-masing menunggu penumpang penuh.
"Kamu yakin mau kembali?"tanya Karyo setelah sampai di Terminal,dia masih duduk di atas motornya sedangkan Mira langsung turun berdiri di sampingnya.
"Iya mas aku yakin,aku tidak mungkin terus-menerus tinggal dengan kalian.Itu akan merepotkan." Mira sadar jika terus-menerus tinggal di rumah Abah Ruslan takutnya akan mengundang fitnah.
Karyo pun memahami maksud Mira.Meskipun selama ini sebagian warga sudah tau siapa Mira,tapi yang namanya waspada juga perlu karena dia tidak tau yang akan terjadi kelak.
__ADS_1
"Ya sudah pakai ini!"tau -tau karyo langsung menyampirkan jaketnya ke punggung Mira,tentu saja dia kaget dan Mira berniat melepasnya.
"Jangan di lepas,pakai saja!"serunya kemudian.
"Udaranya dingin belum lagi kalau di dalam jika AC nya dinyalakan.Aku hanya bisa membantumu seperti itu."lanjutnya lagi,karena sebenarnya Karyo merasa khawatir dengan Mira tapi dia menyadari jika dirinya bukan siapa-siapa.
"Terimakasih mas."
setelah mengatakan itu Mira langsung masuk ke dalam Bus,karena sebelumnya sudah memesan tiket terlebih dahulu.
Mira pun langsung mencari tempat duduk yang masih kosong.Dia memilih tempat duduk sendiri paling pinggir dekat kaca,supaya bisa memandang ke arah luar.
Namun baru beberapa menit duduk,Karyo menyusul masuk ke dalam mendekati di mana Mira duduk.
"Catat nomorku."ucap Karyo sambil langsung menyodorkan smartphone miliknya ke arah Mira.
Karena tak kunjung mendapatkan Respons dari Mira,lantas dia berpikir jika mungkin Mira bingung harus mencatat dimana,mengingat Mira tidak mempunyai handphone.
Didepan kursi Mira duduk seorang anak muda yang di duga mahasiswa di Kota ,terlihat dari cara berpakaiannya yang berbeda.
"permisi,Ade punya kertas sama pulpen?"tanya Karyo dengan sopan.
Begitu Karyo sudah mencatat nomornya,dia langsung menyerahkannya ke Mira.
"Telefon mas begitu kamu sudah sampai,oke."
Karyo langsung pergi meninggalkan Mira dalam keadaan masih kebingungan.Karena salah satu crew Bus menyerukan jika Bus mulai berangkat meskipun masih ada kursi yang kosong.
Terlihat dari jendela Bus,mas Karyo melambaikan tangannya,dengan mulut yang seperti sedang berbicara sesuatu.Dia menekuk tiga jarinya menyisakan ibu jari dan jari kelingkingnya.lalu menempelkannya ke telinga.serupa orang yang sedang telepon.
Mungkin dia bermaksud mengingatkan Mira agar tak lupa untuk menelpon nya.
Dalam perjalanan Mira masih saja melihat secarik kertas bertuliskan nomor telefon.
Tak jauh dari tempat mereka tadi sebelum Mira masuk,seorang laki-laki berpakaian rapi dengan Tas Ransel di punggungnya,memakai Kacamata hitam.Terus menatap ke arah Mira dan gerak-geriknya yang mencurigakan hendak menelpon seseorang.
...----------------...
__ADS_1
Di waktu siang ,tepatnya Acara pertunangan Ardhan dan Jessica.
Tampak seisi gedung sudah dipenuhi dengan tamu undangan,Berbagai prosesi Acara tunangan sudah terlaksana tanpa adanya halangan termasuk tukar Cincin pasangan.Mereka mengumumkan bahwa pernikahan mereka akan di selenggarakan dua bulan mendatang.
Kabar itu disambut bahagia tamu undangan terutama keluarga besar Jessica.Mereka berharap agar rencana mereka kelak bisa terwujud sampai kata Sah terucap.
Lain halnya dengan Ardhan,sepanjang acara pikirannya hanya tertuju pada satu nama 'Mira'.
Dia seumpama laki-laki yang tidak mempunyai gairah hidup lagi,terlalu besar efek yang di sebabkan Mira padanya.
Mungkin di tengah wajah bahagia mereka hanya wajah Ardhan yang menunjukan nelangsanya.
"Tuan,ada tamu mencari Anda."Dany terlihat mendekati Ardhan yang berdiri sendiri.Dia sebenarnya bingung harus menyampaikan sekarang atau menunggu acara ini selesai.Tapi Ia lebih takut kemarahan Ardhan.
"Sampaikan saja terimakasih ku,Aku malas mendengar ucapan Selamat itu."Ardhan merasa tidak peduli dengan Acaranya.
"Mungkin dia akan menyampaikan sesuatu tentang Nona tuan."
Ardhan langsung membalikkan tubuhnya menatap ke arah Dany."Kenapa kau tidak mengatakannya langsung?Lalu dimana dia sekarang?"tanyanya yang tidak sabaran.
Kali ini Ardhan berharap jika orangnya membawa berita baik untuknya,Dany akhirnya mengajak Ardhan untuk keluar dari area acaranya.
Namun baru sampai di depan pintu Ruangan,seorang dari pihak keamanan mencegahnya.
"Maaf tuan ada paket untuk anda,dia mengatakan jika ini penting."
"Berikan padaku."Dany langsung mengambil barang yang berupa amplop coklat dari tangan orang itu.
Mereka pun langsung menuju Ruangan lain dimana orang suruhannya sudah menunggunya.
"Katakan padaku berita apa yang hendak kau sampaikan?"ucapnya tidak sabar saat dirinya sudah berada di ruangan.
"Nona ternyata masih hidup,Saya melihatnya di Terminal dan sepertinya Dia hendak kembali ke Panti karena aku sudah memastikannya Tuan." katanya sejujurnya,orang itu sebelumnya sudah menanyakan kota mana yang Mira tuju.
Mendengar kabar itu seperti hujan di musim kemarau.Dirinya seketika memiliki gairah untuk hidup lebih lama.
"Kau tau sayang kehadiranMu sungguh menjadi semangat dalam hidupku, Terimakasih karena masih bertahan,Setidaknya untuk hidupMu."
__ADS_1
...****************...