Aku mantan pelacur

Aku mantan pelacur
Bab 43.pertemuan Ayah dan Anak


__ADS_3

Siang itu,setelah dirinya menemui partnership nya yang dilanjut makan siang bersama di Hotel. Kini Jhon terlihat di mobil bersama dengan Ben sekretarisnya.


"Apa tuan yakin akan menemui wanita itu sekarang?"Ucap Ben,dibalik kemudi.Dia sempat melirik dari kaca melihat raut wajah tuannya.


Aku penasaran bagaimana wajah anda setelah tau dia putri kandung anda tuan.ucap Ben dalam hati.Ada seringai tipis nyaris tak terlihat.


"Lebih cepat lebih baik.Aku tidak ingin melihat putriku terus bersedih karena wanita itu."Tatapannya kosong, sekelebat Jhon mengingat bagaimana keadaan Jessica pada malam itu.


yang Anda maksud putri yang mana Tuan?" kali ini Ben tersenyum saat mengucapkan pertanyaannya ejekan dalam hati.


Namun Jhon tidak melihatnya karena dirinya menatap ke arah luar jendela,dimana hiruk pikuk kota masih terlihat jelas saat jam makan siang.


Beberapa saat kemudian,terlihat sebuah taksi berhenti tepat didepan gerbang panti yang sepertinya sedang menunggu seseorang.


Mobil Jhon berhenti dari kejauhan.Melihat gerbang Panti mengingatkannya pada suatu momentum romantis dengan cinta pertamanya.


*


"Sini Salim dulu!"Jhon mengulurkan tangannya pada Brenda,memintanya melakukan yang ia minta.


"Tumben nyuruh aku kaya gini."Berucap setelah menuruti kemauan Jhon.


Namun tangan putih dan halus itu belum dilepaskan Jhon.Malahan sekarang dia membalikkan tangan Brenda.


Brenda yang bingung hanya diam,sampai saat tangan Jhon yang lain mengeluarkan sesuatu dari balik kantong celananya dan menaruh di telapak tangannya.


Hati Brenda mulai berdesir ,dia terharu,matanya mulai berkaca-kaca.Karena dia tau benda apa itu.


Dilihatnya sebuah kotak kecil berwarna merah menyala,yang Brenda pikir mungkin didalamnya cincin.Mungkinkah kekasihnya saat ini tengah melamarnya?


Brenda menatap wajah laki-laki yang tengah tersenyum padanya,sebuah anggukan terlihat.Mungkin mengisyaratkan bahwa apa yang dipikirkan wanitanya adalah benar.


"Bukalah,ini untukmu."Suruh nya kemudian.


Dengan tangan gemetaran Brenda mulai membukanya.Cincin emas putih bermatakan berlian.


Wajah Brenda bersemu saat Jhon mulai menyematkan cincin tersebut Ke jari manisnya.


"Will you Merry me!"Serunya mantap.


Tanpa pikir panjang Brenda langsung menganggukkan kepalanya.Laki-laki yang dicintainya mengajaknya membina rumah tangga.


*

__ADS_1


Saat itu Jhon merasa sangat bahagia,melihat wanitanya menangis di pelukannya,tidak perduli dengan kendaraan yang lalu lalang.Karena mereka saat itu berada dipinggir jalan didepan gerbang Panti Asuhan.


Cukup lama Jhon berada di dunia kenangan terindahnya,sekaligus menyakitkan baginya.Karena kesalahpahaman yang masih belum terjawab sampai saat ini.


Hingga dia tersadar dari lamunan saat ada pergerakan didepan sana.


Seorang laki-laki muda dan wanita paruh baya terlihat memasuki taksi tersebut dan mulai melaju meninggalkan tempat itu.


Lalu kini berganti Mobil Jhon yang berhenti didepan gerbang Panti.Jhon diam,menyiapkan hatinya yang masih terluka.


Setelah memantapkan hati,Jhon keluar dari mobilnya.


Deg,,


Jantungnya berdetak kencang,melihat dua perempuan yang dia kenal tengah berdiri.Wajah bersalahnya terlihat saat menatap Bu Fatimah.Teringat akan janjinya yang akan membahagiakan Brenda.


Namun seketika berubah dingin tatkala menatap wajah yang mirip dengan masa lalunya.


Berbeda yang dirasakan dua wanita itu,Mira hanya menatap biasa karena dia belum mengenal wajah Jhon.


Sedangkan Fatimah,wajahnya berubah seperti orang yang tengah ketakutan.


"Setelah sekian lama untuk apa dia kemari?"batinnya mengatakan."Mungkinkah?"Fatimah melihat wajah kebingungan Mira.


Namun Fatimah merasa ada yang aneh,saat melihat tatapan Jhon pada Mira.Bukan tatapan yang tengah merindukan seseorang.Tetapi dia malah melihat tatapan dingin yang mengarah ke Mira.


Ben hanya diam berdiri dibelakang.Menjadi penonton, menunggu aksi apa yang hendak dilakukan Tuannya pada putri kandungnya.pikir Ben.


"Ternyata kamu masih hidup wanita rendah!"Ucapnya tajam saat dirinya sudah didepan Mira.


Fatimah kaget dengan kata-kata kasar Jhon.Dia bingung seharusnya Jhon senang saat melihat putrinya untuk yang pertama kalinya.


Pikir Fatimah apa Jhon belum mengetahui siapa Mira sebenarnya.Jika iya,tidak sepantasnya Jhon berkata kasar terhadap perempuan.


Mira tampak kebingungan,"Siapa sebenarnya laki-laki ini?kenapa bahasanya begitu menyakitkan ?"batinnya mengatakan,pada sosok laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya


"Jhon,apa yang kau katakan?"tanyanya memastikan.Sedikit marah karena kata-kata kasarnya.


Mira langsung melihat Bu Fatimah,"Bu Fatimah kenal dengan laki-laki ini."


"Maaf jika kedatangan saya mengagetkan Bu Fatimah."wajahnya berubah biasa.


"Saya hanya ada urusan dengan wanita rendah ini."Kembali dingin saat melihat Mira.

__ADS_1


"Siapa Anda sebenarnya?Dan maaf apa Anda tidak bisa bicara lebih sopan?"Mira langsung memberanikan diri bertanya,dia tidak suka bahasa kasarnya.


"Saya Ayah Jessica.Wanita yang kau rebut tunangannya."


Deg,Keberanian Mira mengendur.Tangannya mulai gemetaran,pantas saja bicaranya kasar terhadapnya.


Mira mulai takut jika kedatangan Ayah Jessica akan sama seperti yang Jessica lakukan malam kemarin.


Mendengar itu Bu Fatimah semakin kebingungan,karena beliau belum tau hubungan Mira Ardhan.


"Ada apa sebenarnya ini Jhon? Dan siapa yang merebut siapa?"tanya Bu Fatimah.Dia masih belum tau apa maksud perkataan Jhon.


"Sebaiknya Mba tanyakan saja pada wanita ini."Menatap Fatimah lalu kearah Mira yang kepalanya tertunduk sambil meremas ujung pakaiannya karena takut.


Bu Fatimah memegang kedua bahu Mira yang bergetar."Apa itu benar nak?"tanya Fatimah hati-hati sedikit takut.


Mira menggeleng,dia menolak tuduhan Jhon terhadapnya."Kami saling mencintai Bu,dan Mira tidak merebutnya dari siapapun."


"Ck"Jhon berdecak merasa muak mendengar ucapan Mira.


"Omong kosong."Jhon langsung menyela.Mira dan Bu Fatimah langsung menatap Jhon.


"Jika memang kamu tidak merebutnya,untuk apa kamu menerima Ardhan jika tau dia sudah bertunangan dengan putriku!"


Bu Fatimah langsung merengkuh bahu Mira yang mulai terisak.Menyayangkan sikap Jhon yang kasar terhadap Mira.


Mereka bertiga tidak menyadari jika seseorang diantara mereka tengah merekamnya.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini,sebelum Mba meneriaki mu."Ucap Fatimah marah mengusir Jhon.


"Baiklah,ini peringatan untukmu.Jauhi Ardhan sebelum aku berbuat yang lebih terhadapmu."Ucapnya tajam menunjuk Mira.


Lalu Jhon langsung berbalik tanpa mengucapkan salam seperti kedatangan awal dan pergi begitu saja.Diikuti sekretarisnya.


Seketika tubuh Mira luruh kebawah,dia begitu tak berdaya.Lagi-lagi dirinya mendapatkan perlakuan seperti ini.


Sejenak dia merasakan sangat lelah,begitu besar cobaan untuk dirinya yang ingin berubah.


Fatimah mengusap-usap punggung wanita yang tengah menangis di pelukannya.


Dia merasa dilema,antara harus berkata jujur siapa Mira atau membiarkan Mira tak pernah mengenal siapa Ayahnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2