Aku mantan pelacur

Aku mantan pelacur
Bab 45.kebenaran


__ADS_3

Selama perjalanan Ardhan selalu diliputi dengan emosi,amarahnya masih saja membara .Bahkan sekretarisnya tidak berani buka suara,meskipun itu hanya untuk bertanya.


Dia terus fokus melihat ke depan dibalik kemudinya.Tapi sorot matanya masih bisa berani mengintip dari balik kaca,wajah memerah yang berada dibelakangnya sedang mengendurkan dasinya.Mungkin dia merasakan hawa sesak karena amarah.


Mobil berisi pengawal pribadi masih setia mengikuti dari belakang,sesuai komando dari atasan mereka."Terus ikuti,jangan sampai kehilangan jejak."kalimat perintah itu yang mereka dengar dari Dany.


Satu lirik,Dua lirikan yang Dany lihat masih sama bahkan mulutnya masih tertutup rapat menahan amarah di jok belakang.


Hingga mobil sampai pada tujuan,Bangunan Asri yang begitu menenangkan.Mobil Ardhan berhenti didepan gerbang sedangkan Mobil yang lain berhenti di belakangnya.


Ardhan milih menemui Mira dulu sebelum membuat perhitungan dengan Ayah Jessica.Dia begitu heran padahal dirinya sudah mengancamnya,namun semua itu sia-sia.


Dia lebih memilih bersitegang dengan mantan calon menantunya dari pada menuruti kemauan Ardhan.


"Tuan!"Cegah Dany,saat Ardhan baru akan membuka pintu sendiri,hendak turun karena sudah tidak sabar ingin melihat keadaan Mira.


"Apa!"


"Sebaiknya tahan emosi Anda saat didalam,takut itu akan berpengaruh dengan mental Nona."Lanjut Dany berbicara sedikit berhati-hati.Dia tau saat ini Ardhan dalam keadaan mudah marah.


"Ya,aku tau itu."Jawab Ardhan,lalu dia langsung keluar dan mulai masuk melewati gerbang masuk Panti.


"Kakak baik."Panggil salah satu anak perempuan,yang usianya berkisar delapan tahun.Dia langsung menghampiri Ardhan begitu dia sampai dihalaman.


Ardhan sudah mengenali semua anak Panti Asuhan itu.


"Kakak mau ketemu Ibu yah?tapi Ibu lagi ngurusin Kak Mira,kasian Kak Mira tadi badannya panas."Lapor anak yang bernama Risa itu.Wajahnya berubah sendu,karena anak itu cukup dekat dengan Mira.


Ardhan semakin khawatir,karena bukan hanya mental Mira saja yang terganggu.Tetapi juga fisik Mira ikut merasakan sakit.


"Ya sudah,Kakak temui Ibu Fatimah dulu yah."Ucapnya tersenyum tipis pada Risa,Ardhan mengusap kepala gadis kecil itu.


Risa hanya mengangguk,dan langsung berbalik pergi bergabung lagi dengan teman-temannya.

__ADS_1


Ardhan menghela nafas,dia bingung harus melakukan apa.Lagi dan lagi,secara tidak langsung Mira mendapatkan perlakuan yang tidak baik karenanya.


"Jadi masuk tuan?"tanya Dany.


Kata-kata Dany menyadarkan Ardhan yang sedang melamun.


"Ya."Jawabnya langsung masuk begitu saja.


Sementara Dany lebih memilih kembali ke mobil, memutuskan untuk menunggunya di sana bersama dua pengawal pribadi.


Didalam,Ardhan berpapasan dengan Bu Fatimah yang baru saja keluar dari kamar.Praduga Ardhan jika itu kamar yang Mira tempati,karena Bu Fatimah tengah membawa baskom dan lap ditangannya.


"Nak Ardhan!"Ucap Fatimah kaget,melihat kedatangan Ardhan yang masuk begitu saja.


Saat itu suasana Panti sedikit sepi, sebagian anak-anak sedang bermain dan orang yang membantu keseharian Bu Fatimah tidak ada satu pun yang terlihat.Mungkin mereka sedang beristirahat atau bermain dengan anak yang masih balita.


"Apa Mira baik-baik saja Bu?" Ucapnya khawatir setelah mencium punggung tangan Bu Fatimah.


"Ini pasti Siti yang kasih tau."gumamnya dalam hati.Padahal beliau sudah mewanti-wanti untuk tidak memberitahu Ardhan dulu.


Fatimah belum menjawab,melihat Ardhan wajah Bu Fatimah menampakkan kekecewaan.Bila mengingat bagaimana Jhon mengancam putrinya sendiri.


"Mira sedang tidur sekarang.Dia butuh istirahat setelah meminum obat."Ucap Bu Fatimah,setelah memberi obat seadanya.Namun cukup bisa meredakan demam yang Mira rasakan.


Ardhan seketika menatap pintu kamar yang tertutup, sejujurnya ia sangat ingin melihat keadaan Mira secara langsung.Tapi Mira butuh istirahat dan Ardhan tidak ingin mengganggunya.


"Apa bisa Ibu bicara dengan Nak Ardhan?"tanya Fatimah.Dia sudah sangat ingin mendengar apa yang sebenarnya terjadi.Hingga Mira mendapatkan hinaan seperti itu.


Lantas Beliau mengajak Ardhan ke teras depan,duduk di kursi rotan yang mengapit satu meja kecil.


Ardhan saat itu tengah tersenyum merasa lucu,menatap segerombolan anak-anak yang sedang bermain ular naga panjang,hal yang tidak pernah ia rasakan dulu semasa kecil.Bermain bagaimana mestinya sebagai anak-anak.Hingga mengakibatkan kehidupannya yang merasakan kesepian dan menjadi pribadi yang tertutup.


permainan yang sudah sangat jarang dimainkan di zaman sekarang karena tergeser teknologi yang semakin canggih.

__ADS_1


"Apa benar kamu ada Hubungan dengan Mira?"tanyanya datar sambil membetulkan posisi kacamata nya.


Mendadak Ardhan menengok menatap Bu Fatimah.


"Darimana Ibu Fatimah Tau?"gumamnya dalam hati.


Meskipun Ardhan tak berniat menutupi hubungan mereka,tapi dia belum siap jika Bu Fatimah mengetahui dulu.Karena statusnya yang baru memutuskan pertunangan.Dia tidak ingin Bu Fatimah berpikiran yang tidak-tidak.


"Iya,kami sudah berpacaran.Dan kami baru meresmikannya."


Terdengar Bu Fatimah menghela nafasnya,mungkin dia merasa kecewa saat ini.


"Ibu tidak melarang kalian menjalin hubungan,Ibu juga sudah tau kamu sudah putus hubungan dengan tunanganmu.Tapi bukan berarti kalian tidak perduli dengan hal sekitar.Kamu pasti paham maksud Ibu,bagaimana masa lalu Mira yang menjadi momok paling menakutkan bagi Mira."Terangnya panjang kali lebar,beliau tau bagaimana saat dulu Mira mendapatkan perlakuan tidak baik dari masyarakat,saat tau masa lalunya.


"Saya tau Bu,dan saya sudah memikirkannya jauh hari sebelum meminta Mira menerimaku.Saat itu saya berjanji akan melin__."


"Tapi apa yang terjadi?"Sela Bu Fatimah menahan kekecewaannya."Kau tau nak,Ibu menyaksikan sendiri bagaimana Mira diperlukan?di tuduh melakukan hal yang sama sekali tak dilakukannya."


Suaranya bergetar saat mengatakan itu, sebenarnya yang membuat Bu Fatimah begitu sedih,Karena Mira di hina dan di caci oleh Ayah kandungnya sendiri.


"Sebenarnya sebelum saya meminta Mira,saya sudah lebih dulu memperingatinya untuk tidak mengganggu Mira lagi.Tapi ternyata dia mengingkari nya,dia lebih memilih mendekam di penjara."Ucap Ardhan geram.


"Jadi bukan kali ini saja Jhon sudah bertemu dengan putrinya,Mira."Batinnya berucap.


"Apa maksud nak Ardhan?dan kenapa sampai di penjara?"tanya Bu Fatimah merasa masih samar dengan kalimat Ardhan.


Ardhan dengan terpaksa mengungkapkan kebenaran tentang dalang otak penculikan Mira yang hampir menelan nyawanya karena akibat kecelakaan.


Mengetahui itu Bu Fatimah merasa sangat kaget dan sangat terpukul,seorang Ayah hampir saja membunuh putrinya sendiri.


"Ya Allah Mira,malang sekali nasibmu Nak.Maafkan Ibu, seharusnya tidak menutupi jika Ayahmu masih hidup.Brenda maafkan mba jika harus mengatakan yang sebenarnya siapa Mira,karena ini menyangkut keselamatan putrimu."Gumamnya dalam hati.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2