Aku mantan pelacur

Aku mantan pelacur
Bab 48.


__ADS_3

Masih berlanjut setelah Ardhan berada di mobilnya.Dany kembali melirik wajah Ardhan dari balik kaca spion.


Namun kali ini berbeda dengan waktu keberangkatan,mata merah menahan amarah sudah tidak ada lagi.Melainkan tatapan kosong yang ia tampak.Ardhan tengah berperang dengan pikirannya sendiri.


Ardhan menjatuhkan kepalanya di sandaran kursi penumpang bagian belakang karena terasa lebih berat.Akhir-akhir ini banyak kejadian tak terduga yang memenuhi isi kepalanya.


Salah satunya sebuah fakta yang mengejutkannya,Mira anak kandung Ayah Jessica.Yang mampu membuat Ardhan hampir tak percaya.


Lalu kenapa Jhon bisa sampai tega berbuat keji seperti itu jika memang Mira putrinya.Bukankah biasanya seorang Ayah akan memiliki ikatan batin yang kuat terhadap putrinya.Apalagi mereka terpisah cukup lama.


Di tengah gejolak pikirannya, tiba-tiba Ardhan mengingat sesuatu, kata-kata yang pernah ia sepelekan.


Asal kau tau,bukan hanya keluargaku yang memiliki dendam,tapi masih ada dendam lainnya yang lebih mengejutkan, terutama untuk kekasih ****** mu.


Ardhan sontak menegakkan duduknya,seperti tengah menemukan suatu kunci dari permasalahannya.


Yah,kata itu yang sepintas ia ingat.Awalnya Ardhan mengabaikan dan menganggap omongannya hanya omongan lalu belaka,hanya omongan orang yang mempunyai dendam masa lalu.


"Ada apa lagi dengannya?apa ada sesuatu yang terjadi dengan wanitanya?"gumamnya melirik laki-laki dibelakangnya.


Dany tengah berperan sebagai pakar penerjemah ekspresi wajah.Akhir-akhir ini Ardhan memang suka sekali merubah-ubah mimik wajahnya.Membuat Dany selalu menebak-nebak.


"Dany." Suara Ardhan dibelakang memecahkan lamunannya.


"Iya tuan."Jawabnya langsung,telinganya tengah bersiap mendengarkan ucapan Ardhan selanjutnya.


"Apa dia masih dipenjara?"tanya Ardhan, seolah-olah mencurigai seseorang.


Seakan tau siapa yang Ardhan maksud Dany langsung menjawab.


"Sepertinya Anda harus tau ini tuan."


Dahi Ardhan berkerut,merasa penasaran dengan kata-kata Sekretarisnya.


"Katakan,apa itu."


"Orang itu sudah keluar dari penjara.Dan yang lebih membuatnya aneh hari ini dirinya menemui Presdir Miller Crop di perusahaan nya.Entah apa yang mereka bahas,karena sepengetahuan ku mereka sama sekali belum pernah mengenal satu sama lain."

__ADS_1


Jelas Dany panjang lebar,karena sebelumnya dirinya sudah menghubungi staf kantor perusahaan Miller.Jika Ardhan dan dirinya akan membuat janji temu.Namun yang didengarnya jika Presdir mereka sedang kedatangan tamu dan itu adalah Samuel Presdir Group Company konstruksi.


Reaksi Ardhan cukup mengejutkan,urat lehernya seketika menegang.Bukankah belum lama Samuel masuk jeruji besi.Lalu apa ini,kenapa tiba-tiba dia mendengar jika Samuel sudah keluar bebas.


"Apa maksudmu?!bukankah sudah ku bilang hukum dia seberat-beratnya."Amarah Ardhan sudah tak terelakan lagi.


Dia sampai menendang kursi yang diduduki Sekretarisnya.Seketika langsung menepikan mobilnya.Takut jika dirinya sampai tidak konsentrasi dalam menyetir.


"Maafkan saya tuan,Karena sebelumnya memang dia sudah mendapatkan hukuman.Namun entah mungkin dia menjatuhkan banding atau bahkan ada orang dalam yang membebaskannya."jawabnya setengah takut.


Setelahnya Dany yang mendapatkan perlakuan itu hanya diam.Dia tidak berani menyela atau bahkan mendahului omongan Ardhan.


Kena lagi aku kan.hiks


"Itu tugasmu bodoh!untuk menyelidiki kenapa dia sampai terlalu cepat bebas."


"Iya tuan,saya sudah menyuruh mereka untuk datang kekantor polisi,guna menayangkan perihal tersebut."


"Cih,pantas saja dua orang itu tidak ada di belakang."Ucapnya sambil merapikan Jaz yang ia pakai.Menurut Ardhan sedikit berantakan soalnya.


Mendengar itu Dany melebarkan matanya.Melihat Ardhan langsung dari balik kaca spionnya.


"Kenapa?kau heran kenapa aku bisa sampai tau?"tanyanya seakan tau tatapan Dany terhadapnya.


Dany menciut,tangannya mencengkram erat setir mobil.Matanya menatap ke depan.Melihat kendaraan lalu lalang cukup ramai.Karena jam sudah menunjukan sore, waktunya pulang untuk sebagian pekerja.


"Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan ku.Tapi mulai sekarang aku akan lebih berhati-hati.Jadi kau tidak usah khawatir."Ucap Ardhan lebih halus,dia memaklumi tindakan Dany.


"Karena dia ternyata Ayah kandung dari wanitaku Dany."ucap Ardhan dalam hati.


Sesaat setelah ada keheningan diantara mereka.


"Baiklah Ard.Sekarang apa kita ke perusahaan Miller?"


"Hm."


Saat itu juga mobil mereka langsung menuju perusahaan besar tersebut.Ardhan sudah menyiapkan langkah apa yang harus ia lakukan ketika berhadapan dengan orang yang sudah ia anggap paman.

__ADS_1


*


*


Seorang gadis terlihat berjalan setengah berlari memarkirkan motornya.Dia sudah ingin bertemu temannya,melihat keadaan Mira.


Masuk setelah mengucapkan salam,sampai di ruang tengah Siti melihat Mira sedang membantu menggulung tikar.Kegiatan rutin sore hari di Panti mengaji bersama.Semenjak Mira tinggal di Panti itu.


Dia sudah sehat,demamnya sudah turun.Setelah mengaji hati dan pikirannya sekarang lumayan plong.


"Mira!" Sapa Siti,dirinya jadi ingin ikut bantu biar cepet kelar katanya."Bukannya kamu masih sakit?"tanyanya khawatir.


"Sudah tidak usah,ini yang terakhir kok." Cegah Mira,lalu dia mengambil lagi tikar yang ia gulung tadi.Setelah itu mengikatnya kuat dan meletakkannya dipojokan ruangan.


"Ayo buruan!" Seru Mira begitu semua selesai.Dia langsung menarik tangan Siti yang hendak duduk.


"Apa?" Siti yang bingung,baru Datang sudah diajak pergi.Minum saja belum.*P*ikir Siti.


"Kamu tau alamat perusahaan Ayahnya Nona Jessica kan?"tanya Mira,karena tangan Siti seperti dipaku saja.alot saat ditarik Mira.


"Mau apa ke sana?"tanyanya penasaran.


Jangan-jangan dia mau balik ngancam Ayah Jessica lagi.Siti berspekulasi sendiri.


"Menyusul Bu Fatimah,karena aku yakin beliau pasti akan menemui Ayah Jessica."Ucap Mira khawatir.


Tak lama selepas Ardhan pergi Bu Fatimah dikabarkan ikutan pergi juga.


Mira yang saat itu berada di kamarnya,tidak menyadari.Itupun mengapa dia sampai tau karena mendapatkan informasi dari salah satu anak Panti.


"Apa!"Pekik Siti terkejut.


Tanpa ba-bi-bu malah Siti yang kini menarik tangan Mira menuju motornya.Dia


"Ayo cepetan Mira,kita nggak boleh telat!"


Bisa gawat kan,nggak kebayang kalo sampai dua orang tua seperti mereka sampai cakar-cakaran.

__ADS_1


Karena khawatir,Mira hanya menurut.Saat ini yang ada dipikirannya hanya Bu Fatimah.


__ADS_2