
"Ayah ini ada apa?kenapa aku harus berpakaian seperti ini?"gerutu Jessica kesal saat Jhon menyuruhnya berpakaian semi formal.
Jessica merasa tidak nyaman jika harus berpakaian seperti itu,karena dia lebih suka berpakaian santai tapi tetap membawa kesan elegan seperti style nya.
"Jess,,dengarkan Ayah!"Jhon memegang kedua bahu nya.Manik matanya menatap lurus ke wajah Jessica.
"Tolong patuhi Ayah kali ini!karena Ayah pikir ini waktu yang tepat untuk melakukannya."Pintanya memohon terhadap putrinya.
"Apa Ayah akan menyuruh Jess bekerja lagi?"jawab malas Jessica,karena bukan sekali dua kali,Jhon menyuruhnya untuk mengurus perusahaan keluarga.
"Hm."
"Ck!"decak Jessica kesal.
"Dengarkan Ayah."Jhon mendudukkan Jessica di kursi rias dengan dirinya yang masih memegang bahunya sedikit menunduk.
Karena saat ini mereka tengah berada di kamar Jessica.
Awalnya Jhon menyusul Jessica yang tak kunjung turun dari kamarnya.Namun saat masuk putrinya masih berkomentar soal penampilannya, menggerutu sebal soal penampilan yang tidak disukai nya.
Oleh karena itu disinilah Jhon,mencoba membujuk putri manjanya.
"Apa kamu sayang Deddy Alan?"Jessica mengangguk."Sayang Mommy Lyla?"mengangguk lagi."Dan Ayah?"kali ini mengangguk disertai bibirnya yang mengerucut.
"Karena itu patuhilah keinginan mereka Jess."
"Tapi bagaimana dengan Ayah?"menatap sendu wajah Ayahnya.Yang di balas hanya dengan senyuman.Mungkin mengartikan jika ia akan baik-baik saja.
Sempat hening saat Jessica tengah menimbang keputusan yang akan ia lakukan.Sedangkan Ayahnya masih menunggunya bersuara.
"Baiklah,demi kalian." Putusnya kemudian.
Jhon menggeleng,"Demi kamu,demi masa depan kamu Jessica."Jhon membenarkan pikiran Jessica.
Kemudian mereka mulai bersiap berangkat ke tujuan,dimana Jhon membawa Jessica ke perusahaan Miller Crop.
*
*
Sesampainya di perusahaan,mereka langsung di sambut Nessa di depan ruangan Meeting.
__ADS_1
Ya,Jhon mengadakan pertemuan antar dewan pemegang saham perusahaan Miller Crop.Dimana mereka akan membahas tentang pengalihan kepempimpinan terhadap pewaris satu-satunya pemilik saham terbesar perusahaan itu.
Awalnya para dewan bertanya-tanya karena rapat dadakan yang disampaikan Jhon lewat Nessa asisten Sekretarisnya.
"Selamat datang Tuan,Nona Jess!" Nessa menyambut Atasannya sopan yang di jawab dengan anggukan.
"Apa mereka sudah datang?"
"Sudah lumayan lama Tuan."Jawabnya sedikit takut menyinggung.
Karena memang hampir satu jam mereka menunggu kedatangan Presdir mereka.
Seketika Jhon melirik kearah Jessica yang terlihat gelisah,mungkin dia menyadari jika karenanya mereka bisa sampai terlambat.
Apa?
Nessa pun langsung mempersilakan mereka untuk masuk.
Deg,
Jhon langsung menangkap wajah yang sangat dikenalnya.Mantan sekretaris yang berkhianat tengah berdiri di belakang bos barunya.
Jhon sudah duduk di kursinya,dengan Jessica yang di samping Ayahnya.Posisinya tepat lurus dimana Samuel duduk.
Untuk itu Jhon bisa melihat dengan jelas bagaimana tampang laki-laki penipu itu dengan cara duduknya yang angkuh.
Nikmatilah gaya duduk mu yang sekarang,karena sehabis ini kau tidak bisa memiliki gaya duduk mu itu lagi.
Rapat pun di mulai,dengan awalan pembahasan tentang perkembangan selama setahun,membahas laporan tentang bagaimana hasil kerja setiap divisi tertentu.
Namun karena ini rahasia perusahaan,jadi sebelum di lanjut dengan mengorganisasikan kembali visi dan misi perusahaan secara menyeluruh.
Untuk itu Jhon akan mengumumkan terlebih dahulu tentang pemegang saham terbesar yang akan di jadikan sebagai penanggung jawab semua hal tentang perusahaan.
"Selamat pagi dan selamat datang di rapat kali ini."Jhon berucap dengan sangat berwibawa.
"Selain untuk membahas tentang kinerja perusahaan ini,saya sebagai Presdir penanggung jawab akan menyampaikan perihal pergantian pemimpin yang akan mengantikan saya untuk kedepannya."
Kasak-kusuk mulai terdengar dari para peserta rapat,apalagi kehadiran Jessica sebagai pewaris tunggal Presdir terdahulu menjadi pusat yang mereka lihat.Karena itu mereka beranggapan jika jabatan itu pasti akan jatuh kepadanya.
Sedangkan Samuel terlihat menyeringai diseberang.Dirinya dengan percaya dirinya berasumsi jika ialah yang akan menggantikannya.Disamping karena sepak terjangnya di dunia bisnis sudah tak diragukan lagi,dirinya juga memiliki sebagian saham di perusahaan tersebut.
__ADS_1
Jessica Terdengar menghela nafasnya,karena sudah tau apa yang akan disampaikan Ayahnya.Dan itu sebenarnya sedikit kurang menyukai dengan keputusan itu.Namun bagaimanapun Jessica harus menerimanya.
"Untuk itu saya mohon agar kalian juga mendukung keputusan ini,bahwa pemimpin selanjutnya akan saya limpahkan kepada putri saya Jessica,sebagaimana kalian sudah mengenalnya sebagai keturunan keluarga Miller."Jelas Jhon panjang lebar.
dengan sedikit malas Jessica berdiri di samping Ayahnya,berusaha tersenyum.
"Selamat pagi Tuan-tuan."Ucapnya sopan membungkuk,karena ia tau harus tetap menjaga nama baik keluarganya.
Sebagian peserta rapat tampak mengangguk mengerti,namun mungkin masih ada yang meragukan,mengingat Jessica belum pernah terjun langsung di dunia bisnis.
"Jika untuk urusan tentang pengalaman kerjanya,saya yakin putri saya mampu karena di samping itu saya masih tetap akan mendampinginya."Lanjutnya kemudian yang langsung mendapatkan respon positif dari peserta rapat.
Berbeda dengan Samuel dan Ben,mereka tampak marah dengan keputusan yang menurutnya tidak masuk akal.
"Tunggu!" Samuel berdiri.Membuat peserta rapat tampak bingung,karena baru pertama kali melihat wajah Samuel.Mereka baru sadar jika ada wajah asing diantara mereka.
Berbeda dengan orang yang dibelakangnya,mereka sudah sangat mengenal dengan sosok itu.
"Saya tidak setuju dengan keputusannya!karena saya juga memiliki sebagian saham di perusahaan ini."
Dengan percaya diri,Ben menyodorkan surat pengalihan sebagian saham yang sudah tertanda tangani oleh Jhon.
Bergantian setiap peserta memeriksa suratnya, macam-macam respon mengenai surat itu terlihat dari wajah mereka.
Namun setelah surat tersebut sampai pada pengacara perusahaan.
Samuel langsung kaget,wajahnya semakin memanas.Bagaimana tidak,pengacara tersebut menyatakan jika surat tersebut palsu dan dirinya juga memberitahukan bahwa jika keaslian surat pengalihan saham hanya akan dianggap sah jika dibubuhi dengan tanda tangan pemilik perusahaan terbesar.Dan itu adalah Jessica bukan Jhon karena tanda tangannya hanya berlaku sebagai penanggung jawab saja.
Jelas saja itu membuatnya Samuel langsung berusaha mendekati Jhon hendak memukulnya.
"Brengsek kau Jhon,beraninya menipuku?!"teriaknya marah,tubuhnya ditahan Ben.Akal waras nya melakukan itu karena tau banyak orang penting yang menyaksikan.Sehingga berinisiatif untuk mencegah agar Samuel tidak melakukan hal-hal yang malah merugikan mereka sendiri.
"Maaf Tuan Samuel, sepertinya Andalah yang justru menipuku dan lebih tepatnya mencoba memeras dengan dengan meminta sebagian saham perusahaan ini."Ucap santai,namun tatapan tajamnya menghunus nya.
Tak lama pihak polisi datang,entah siapa yang menghubungi mereka.
Langsung membawa Samuel dan Ben yang mencoba memberontak untuk diperiksa.Tentu saja suasana gaduh menyelimuti ruangan itu.Meninggalkan banyak tanda tanya untuk semua orang termasuk Jessica yang berada di ruangan, terkecuali Jhon yang memang sudah tau sejak awal.
Terimakasih Nak.
...****************...
__ADS_1