
Matahari pagi dengan gagahnya bersinar memperlihatkan sinarnya,hawa sejuknya sangat menenangkan ke dalam jiwa seseorang.
Pagi itu para petani terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Mira terlihat memakai Caping atau Topi petani.Saat itu dirinya paling mencolok diantara petani lainnya,karena hanya ia yang paling muda dan masih cantik.
Sesekali mereka saling lempar candaan untuk melebur rasa lelah,upahnya yang tak seberapa bukan halangan bagi mereka untuk mengais rupiah.Yang penting Halal,itu sudah cukup baginya.
Seperti petani mbok Darmi,meskipun mempunyai lahan sendiri dia masih mau mencari rupiah sebagai buruh di lahan yang lebih luas milik orang lain.
Apalagi kalau mendekati hari libur panjang,karena kebanyakan orang-orang kota lebih memilih kawasan puncak untuk waktu libur mereka,sekedar mengurangi rasa penat karena kesibukan sewaktu di ibukota atau kota besar lainnya.
Tak jarang saat hari libur tiba,banyak pedagang dadakan di sepanjang jalan menuju puncak atau wisata lainnya,menjajakan hasil panen mereka masing-masing.
Hari ini salah satu tetangga kaya mbok Darmi kebetulan sedang panen sayur berbentuk bulat dan berwarna putih atau hijau,seperti biasa beliau ikut bekerja menjadi buruh petik sayuran tersebut.
"Neng Mira,ayo istirahat dulu."meski usianya yang sudah tidak muda lagi namun semangat beliau masih sangat tinggi.
"Iya mbok tanggung, sedikit lagi keranjangnya penuh."
Tak berselang lama Mira beranjak bangun setelah keranjangnya yang berisi sayuran penuh,dan nantinya ada orang yang bertugas membawanya.
Karena para wanita hanya bertugas memetiknya saja.
Di gelarnya alas duduk di pinggiran lahan tersebut. Mereka semua mulai beristirahat sejenak di alas mereka masing-masing.
Mereka ada yang bergerombol bertiga atau berempat atau bahkan bisa lebih tergantung lebar alasnya.
walaupun hanya sekedar minum teh dan singkong rebus atau kue lainnya yang mereka bawa masing-masing.
Namun itu cukup bisa menghalau rasa lapar mereka.Terkadang juga mereka saling tukar bekal mereka.
"Mira ingin ke kota mbok."Mira hanya duduk berdua dengan mbok Darmi sambil memakan singkong rebus bawaan dari rumah sendiri.
__ADS_1
"Neng Mira ingin pulang?" ada raut kesedihan di wajah keriputnya ketika mbok Darmi mengatakan itu.
semenjak Mira tinggal bersama nya,beliau merasa mempunyai anak perempuan.
Dulu beliau sangat mengharapkan kehadirannya.Namun Tuhan hanya mempercayakan pada beliau seorang putra.Itupun harus menunggu beberapa tahun semenjak pernikahannya.
"Iya mbok,Mira kangen sama Bu Fatimah."
Mira pun akhirnya menceritakan tentang Bu Fatimah.hanya tentang beliau saja ,jika dirinya seorang yatim piatu dan dirinya mengaku tinggal di panti asuhan bersamanya.Dia tidak mungkin menceritakan masa lalunya karena jika iya sama saja dirinya menceritakan aibnya sendiri.
Mira sudah ada niatan untuk pergi dari desa itu,selain karena tidak ingin terus merepotkan keluarga Abah Ruslan.Mira juga merasa takut jika suatu hari ada yang mengetahui masa lalunya.
mengingat dulu berita tentangnya sempat tersebar luas walaupun sesaat kerena Ardhan langsung menanganinya.
ada kesedihan di mata Mira melihat wajah keriput di depannya,karena selama ini dia seperti mendapatkan kasih sayang seorang ibu yang lama sudah tak didapatkan nya.
ketika mereka sedang asik mengobrol antara sesama wanita,sesosok laki-laki terlihat mendekat.
beliau langsung berdiri begitu anak laki-lakinya sudah di depannya.
"ya Allah Bu, emang tau kepo itu apa?" Karyo merasa heran sendiri dengan ibunya,di umurnya yang sudah tidak muda lagi masih tau saja bahasa gaul anak zaman sekarang.
tetapi ia juga sangat bersyukur, fisik ibunya tidak seperti orang tua kebanyakan yang suka mengeluh sakit melainkan sangat lincah.
"ya tau lah,yang suka mau tau urusan orang lain." jawabnya sedikit ketus melirik anaknya. tapi dengan mode bercanda.
sedangkan mas Karyo hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
mereka pun akhirnya melanjutkan bagian masing-masing sampai suara adzan zhuhur berkumandang baru mereka selesai dan memutuskan langsung pulang.
Hari pun berganti malam,angin pada saat itu cukup kencang dan terasa sangat dingin seakan sebagai tanda jika malam itu Mira merasa gelisah.
Menatap gelapnya malam hanya cahaya bulan yang meneranginya.Seperti itukah hatinya sekarang?hanya kenangan indah yang mungkin dapat menghibur nya.
__ADS_1
Perhatian-perhatian kecil yang sering dia dapatkan darinya menjadi kekuatan tersendiri jika dirinya pernah berharga di dunia ini.
Dia akui hatinya sedang tidak baik-baik saja sekarang,mengingat besok laki-laki yang dicintainya bertunangan dengan wanita lain.
Bagaimana tidak,hampir setiap hari berita rencana tentang mereka terus saja muncul.
Seolah mengingatkan Mira bahwa dirinya memang tidak layak untuk laki-laki sempurna itu.
'Ternyata cintanya hanya sesaat untukku,tetapi aku tetap bahagia setidaknya karenanya aku bisa seperti sekarang.Aku sadar memang tak layak untuk di perjuangkan.Biarlah dia tetap menganggap ku sudah tak ada Jadi tolong hilangkan rasa cinta ini untuknya,karena aku tidak ingin terus hidup dalam bayang-bayang nya.'
"Neng besok jadi mau pergi?"tanya mbok Darmi yang keluar dari dalam. memutus lamunan Mira yang sejak tadi menatap kosong keatas.Beliau lantas duduk di samping mira.
"Kalau iya,Karyo bisa mengantar Mira ke terminal,karena letaknya cukup jauh dari sini."ucapnya lagi sembari menggenggam telapak tangan mira yang dingin.
"Terimakasih mbok, terimakasih atas kebaikan mbok selama ini."mereka berpelukan Begitu hangat yang di rasakan Mira saat ini,ada binar bahagia di matanya melihat Beliau bukan siapa-siapa tapi dengan tangan terbuka Beliau mau menerimanya.
Sesaat dia berpikir jika kecelakaan yang menimpa dirinya menjadi keberuntungan untuknya,mungkin Allah mau menunjukan kuasanya jika dirinya yang jauh dari iman masih diberi kesempatan untuk tetap pada keinginannya untuk berubah di tambah dipertemukan dengan keluarga Abah Ruslan yang sudah mengajarkan banyak pelajaran selama tinggal dengan mereka.
"Iya,mbok juga berterimakasih sudah mau menganggap orang tua ini sebagai orang tuamu." ucapnya sambil merenggangkan pelukan hangat mereka.
"Mbok hanya bisa berpesan jangan lupakan apa yang sudah mbok ajarkan." lanjutnya lagi yang hanya di jawab Mira dengan anggukan dan senyuman.
"ya Allah,senyummu memang manis."meskipun Beliau juga seorang wanita tapi memang jika dirinya menyukai wajah Mira,apalagi senyumannya.
"Senyumku juga manis mbok."Karyo mendadak muncul dengan senyum yang di paksakan dan alis yang naik turun terlihat menggelikan.
Seketika Mira tertawa lepas melupakan kesedihannya yang akan pergi meninggalkan mereka.
Berbeda dengan mbok Darmi yang justru langsung memukul pundak Karyo dengan Lidi,Beliau geram dengan tingkah anaknya yang suka mengagetkan orang.
"Kebiasaan kamu Karyo!"
"Apakah aku sanggup setelah ini,melalui ujian yang akan Allah berikan padaku?Sejujurnya aku masih takut jika aku kembali tetapi karena dukungan merekalah yang selalu menguatkan ku untuk terus maju."
__ADS_1