
Masih di Restoran,dimana ketiga orang itu masih duduk dengan berbagai pertanyaan.Hanya Jessica yang tampak biasa, makanan pencuci mulutnya sudah habis sejak tadi.
Kini dia terlihat menopang dagu,menatap tiga orang disekitarnya.
"Ayah penasaran darimana aku tau kalau Mira putri Ayah?"
"Apa!"ucap mereka kaget bersamaan.
"Jadi benar kamu sudah tau?"ragu-ragu Jhon bertanya pada putrinya.
"Hm,aku tidak sengaja menemukan ini di laci meja kantor Ayah."Ucap Jessica santai,sambil menyerahkan amplop berwarna putih dengan tulisan berwarna hijau nama Rumah Sakit dimana dia dan Mira melakukan tes DNA.
Jhon langsung terbelalak matanya,menatap benda berwarna putih kotak panjang yang sudah terbuka.Dia tau apa itu,karena sewaktu istirahat jam kantor dia menyelinap datang ke Rumah Sakit yang tertera di amplop itu.
Sebenarnya dia sudah akan berniat memberitahu Jessica soal kebenaran di dalam di amplop itu,dan malam inilah waktunya.Tapi ternyata Jessica sudah tau duluan.
"Baguslah,kalau kau sudah tau.Dan sekarang giliran aku untuk berbicara soal hubunganku dengan adikmu."
Lantas Ardhan menggenggam tangan Mira dan menaruh tangan mereka di atas meja yang sudah kosong.
Mira yang belum siap tiba-tiba tersentak kaget.Dia masih sedikit gelisah soal Jessica yang sudah tau tentang jati dirinya.
"Aku sudah melamar Mira,dan aku harap kalian merestui hubungan kami."Ucapnya sudah tidak tahan.
"Cih,menyebalkan!"ucap Jessica ketus.Tapi tangannya terlihat terulur mengarah ke Mira.
"Selamat atas hubungan kalian,setelah ini kalian tidak usah merasa tidak enak denganku, apalagi denganmu,berbahagialah."Lanjutnya lagi.
Kemudian dengan mata yang Berkaca-kaca Mira membalas uluran tangan Jessica,bahkan dia sampai bangun dan langsung memeluk gadis cantik itu.
Sungguh diluar dugaan,jika Jessica akan menerimanya dengan tangan terbuka.Padahal selama ini dia begitu membencinya karena laki-laki yang dicintainya lebih memilih perempuan lain.
"Maafkan aku nona."Tangis Mira pecah di pelukan Jessica.
"Sudahlah,aku tidak apa-apa.Aku sudah belajar untuk menerima semuanya.Terutama mengikhlaskan Ardhan untuk kamu."Ucap Jessica sambil mengurai pelukannya."Jadi kamu belajarlah juga untuk memanggilku kakak!"protes Jessica karena Mira masih saja memanggilnya Nona.
__ADS_1
Lantas mereka terkekeh bersama,mereka sama-sama saling menyeka bulir bening disudut mata.Sungguh keduanya tidak terpikirkan akan sedekat ini.
Bukan hanya dua perempuan itu saja yang merasakan kebahagian,tapi dua laki-laki berbeda zaman itu pula ikut merasakannya.
"Aku juga minta maaf,karena orang tuaku kamu tidak mengenal siapa Ayahmu,bahkan semenjak kamu masih dikandungan ibumu."Ucap Jessica,yang lagi-lagi membuat orang disekitarnya terheran-heran.Mereka saling pandang,seperti tengah bertanya darimana Jessica bisa tau.
Wajah-wajah penuh kebingungan tergambar jelas di ketiga orang itu,melihat itu Jessica tersenyum simpul.Lantas dia menyuruh Mira untuk kembali ke kursinya untuk duduk,begitupun dengan dirinya.
Jessica pun akhirnya menjawab kebingungan mereka.Dia bercerita dari awal saat dia tau kebenarannya.
*
*
Flashback beberapa jam lalu.
Di Ruang Presdir Miller Crop, Jessica keluar dari ruang pribadinya,mulutnya masih menguap lebar padahal sudah satu jam dia tertidur.Menjadi Presdir baginya sungguh melelahkan dan membosankan.
"Kemana Ayah,apa dia keruangan Direktur itu?"ucap Jessica sambil matanya menyapu ke seluruh ruangan yang kosong,karena tidak ada tanda-tanda kehidupan di ruangan itu.
Duduk di kursi kebesaran Ayahnya yang sekarang menjadi miliknya.
Karena bosan Jessica teringat dengan ponselnya yang sejak tadi pagi tersimpan dilaci.Nessa melarangnya untuk membawa ponsel ketika meeting.
Jessica sempat kesal dengan Sekretarisnya itu,karena selalu melarangnya melakukan hal yang dia sukai.Semenjak dirinya memutuskan kembali ke dirinya yang sebenarnya, Jessica selalu bertingkah seenaknya.
Jessica terdiam saat membuka laci dimana dirinya menyimpan ponselnya.Pikirannya menebak-nebak melihat amplop berwarna putih dengan tulisan berwarna hijau,RUMAH SAKIT ********.
kenapa perasaan ku tidak enak?apa ayah sakit?gumamnya dalam hati.
Karena penasaran Jessica membuka amplop yang sudah terbuka,mata Jessica Seketika terbelalak.Dia tidak bodoh,dia tau apa yang tertera disurat itu.
"Lelucon apa ini?"Jessica belum sepenuhnya percaya,tapi melihat stempel dan tanda tangan dokter yang menangani dia.
"Aku harus menanyakan langsung padanya."
__ADS_1
Jessica langsung menyambar kunci mobil dan ponselnya,tak lupa tas brandednya.Dia pergi ketempat dimana jawaban itu berada.
Sebuah rumah yayasan menjadi tujuannya.Jessica ingin mencari Mira,guna menanyakan kebenaran yang baru ia ketahui.Dia mengesampingkan kebenciannya yang masih ia rasakan terhadap Mira.
Begitu sampai,orang yang tengah ia cari tidak ada.Hanya kepala yayasan yang saat itu ia temui.Awalnya Bu Fatimah sedikit kurang suka saat kedatangannya.Mengingat bagaimana perlakuannya terhadap Mira.
Tapi bagaimanapun juga Jessica adalah tamu dan Jessica berkata bahwa dia datang hanya ingin menanyakan sesuatu.
Berhubung orang yang dituju tidak ada dan Jessica benar-benar sudah tidak sabar, akhirnya dia pun bertanya pada Bu Fatimah,pasti beliau tau karena mereka dekat,pikir Jessica.
Saat tau jika benar Mira anak kandung dari Ayah tirinya, Jessica begitu marah.Kebenciaanya bertambah karena dia mengira jika dulu Jhon berselingkuh dari ibunya.Tapi saat Bu Fatimah menjelaskan asal-usul nya, kemarahannya sedikit mereda.
Jessica sungguh tak percaya jika masa lalu Mira begitu menyedihkan, kebenciannya terhadap Mira mulai surut saat tau tentang perihal pernikahan ibunya dan Ayah Jhon.
Semenjak itu Jessica berjanji akan melebur sebuah kebenciannya terhadap Mira.Dia akan menerima Mira sebagai adiknya dan mencoba menghapus rasa cintanya terhadap Ardhan.
Dia ingin membalas kebaikan Ayah tirinya lewat putri kandungnya.
Kini hidupnya terasa lebih ringan karena dirinya bisa menjadi diri sendiri,apa adanya.Tidak seperti saat dia masih mengharapkan cinta Ardhan,yang membuatnya harus rela menjadi wanita mandiri yang seperti Ardhan suka.
*
*
Kembali ke saat ini.Jhon langsung memeluk tubuh putri sambungnya,dia begitu terharu mendengar cerita Jessica,padahal dia juga sudah tau.
"Kamu tetap putri Ayah,sampai kapanpun kamu tetap anak Ayah Jess."Ucap Jhon sendu, Jessica menangis dipeluknya.
Ardhan memeluk pundak Mira,dia juga merasa bahagia dan bersyukur jika kekasihnya kini hidup bahagia.
Dan Mira masih tidak percaya jika sekarang ini sudah memiliki keluarga yang sangat diinginkannya.
"Kapan ngomongin soal pernikahan kita?"ucap Ardhan berbisik,Mira hanya mencebik lalu tersenyum.bisa-bisanya Ardhan masih memikirkan tentang nikah, benar-benar tidak tau tempat pikir Mira.
Ibu lihat, sekarang aku bahagia Bu.Mira sudah punya Ayah,dan bahkan Mira juga punya kakak perempuan yang cantik.
__ADS_1
Dari kejauhan,seakan Mira melihat sesosok yang sangat dirindukannya.Dia juga tersenyum bahagia.
...****************...