Aku mantan pelacur

Aku mantan pelacur
Bab 30.Melepaskan


__ADS_3

Semalaman Ardhan memikirkan bagaimana kelangsungan cerita cintanya.


Haruskah dirinya terus menjadi boneka dalam dunianya sendiri?tentu saja tidak,dia hanya manusia biasa,dirinya juga ingin merasakan bahagia karena memiliki keluarga yang dicintainya.


Kini yang Ardhan pikirkan bagaimana untuk mengeluarkan dirinya dari belenggu yang bernamakan status tunangan.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


Siang hari saat jam waktu makan siang,Ardhan mengajak Jessica bertemu disalah satu Restoran mewah.


"Ada apa Kak?? Ragu-ragu bertanya, meminum air putih yang di sediakan di meja.berharap memberi sedikit energi untuk menerima semua kemungkinan yang akan dia dapatkan dari pertemuan ini.Karena dia sudah merasakan ada sesuatu di balik tatapan dinginnya.


Meskipun Jessica sudah biasa melihat itu.Namun kali ini hawa dingin itu terasa berbeda.


"Sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini."langsung pada tujuannya,tanpa mengatakan hal lain dahulu sebagai pembukaan.


Dirinya yang sudah tidak memiliki batas kesabaran lagi,cukup,waktu untuk dirinya bersandiwara.


Apalagi sekarang setelah mengetahui bahwa Mira masih hidup,Ardhan seperti memiliki kesempatan untuk mengejar cintanya.


"Kenapa?kakak tau aku mencintaimu kan?"terdengar bergetar, Jessica mulai merasakan hawa dingin di tatapannya.


"Dan kamu tau aku tidak mencintaimu Jess,dan kamu tau pertunangan ini ada karena apa,jadi aku ingin mengembalikan ini."ucap Ardhan jujur,dia melepaskan cincin di jari manisnya dan menaruhnya di meja.


Kata-kata itu seperti palu bagi Jessica yang saat ini dirinya merasakan hatinya mulai hancur,harga dirinya seperti di injak oleh harga dirinya.


Dan entah kenapa Jessica sama sekali tidak bisa marah,setelah apa yang di lakukan Ardhan padanya.


Dirinya terlalu lemah karena rasa cintanya yang begitu besar terhadap laki-laki yang di depannya.


"Kenapa seperti ini?tidak bisakah sedikit saja untukku kak?"mulai menangis sesenggukan,tidak peduli lagi dengan dandanannya yang akan luntur.Saat ini cintanya bagaikan di tepi jurang,meskipun dia tau selama beberapa tahun cintanya memang selalu di ambang kehancuran.


"Maaf,aku tidak bisa."Ucapannya melemah.Melihat wanita yang di kenalnya sedari kecil menangis di hadapannya.


Jessica tau kelemahan Ardhan,dia laki-laki yang tidak melihat seorang wanita menangis.Berharap yang dilakukannya kali ini bisa melebur semua kata-kata yang memisahkan mereka.


"Apa karena wanita murahan itu?"kata Jessica yang mulai tersulut emosi.

__ADS_1


"Jaga bicaramu!"Jawab Ardhan tak kalah tinggi.


"Kenapa kak?bukannya memang benar dia wanita seperti itu,semua orang juga tau itu.Jadi kakak tidak usah membelanya sebegitu nya."


"Dan bukannya dia sudah mati?lalu apa yang kakak harapkan?aku lebih pantas untuk kakak,semua orang merestui kita kak."Masih berusaha.


Jessica sudah tidak tau lagi harus bicara apa untuk mempertahankan status tunangannya.


Jessica melihat cincin yang di meja,dia sudah menaruh banyak harapan, yang sebentar lagi berubah menjadi nyonya Prayoga.


Dia tidak terima jika dikalahkan dengan seorang mantan pe**ur itu.


Dia tidak terlalu memikirkan di hubungan itu jika suatu saat hanya dia yang mencintai,tanpa di cintai.Dan dia percaya bukankah karena terbiasa bersama lama-lama akan tumbuh cinta?


"Jangan membuatku marah padamu Jess."Ardhan menekan perkataannya,berusaha mengontrol emosi.


"Seharusnya aku yang marah,tunangan ku lebih memilih orang mati!"Jessica berteriak,


Untung saja ruangannya private jadi tidak ada yang mendengar suara mereka.


Selama ini dia terlalu diam membiarkan orang yang terlalu menyepelekannya.


Jessica seketika diam mendengar kalimat Ardhan,lidahnya kelu sudah tidak tau kata-kata apalagi untuk menyelamatkannya.Jessika menunduk menatap tangannya yang bergetar saling meremas.Matanya tidak berhenti mengeluarkan air kekalahannya.


"Bersiaplah apa yang akan ayah lakukan."Mendongak,mengancam,lalu berdiri dan pergi begitu saja.


Pergi membawa sejuta luka yang di dapatkannya hari itu.Luka yang lebih daripada yang biasa dia dapatkan.


Di pintu Jessica menabrak bahu pelayan yang membawa hidangan utamanya.


"Maaf Nona."Pelayan itu menunduk,meminta maaf atas semua yang bukan kesalahannya.Karena pekerjaannya yang mengharuskannya bersikap seperti itu.Satu hal yang penting karena pelanggan adalah Raja.


Pelayan mulai mendekati meja Ardhan,melihat laki-laki yang duduk diam di mejanya.


"ah,melihatnya lebih dekat ternyata lebih tampan."Pengagum baru saat melihat acara pertunangannya.


"Tapi wajahnya kenapa sedih?apa dia baru saja di putusin? bukannya mereka baru saja bertunangan?kasian sekali."Pelayan melihat cincin yang di meja.sedih,menganggap laki-laki tampannya sedang patah hati.

__ADS_1


Lalu pelayan itu menaruh hidangan yang di bawanya ke meja.


"Selamat menikmati tuan."Pelayan mengatakan apa yang biasa di katakan saat menyiapkan makanan pada tamu.


Ardhan melihat hidangan mewah yang di hadapannya,daging empuk dengan saus yang memanjakan lidah,Namun dirinya sudah tidak berselera lagi.Walaupun sebenarnya dia sama sekali belum mengisi perutnya dengan makanan sedari pagi.


Permasalahan hidupnya terlalu rumit,karena bukan hanya hatinya yang dia pikirkan.Melainkan akan ada banyak hati yang menjadi taruhannya.


Cinta, sebenarnya dulu dia tidak terlalu memikirkan soal kata itu.Namun semenjak mengenal Mira,kata itu seperti benda berharga yang harus terus ia perjuangkan.


Ah,mengingat nama itu Ardhan merasa kerinduan yang mendalam.Ingin rasa berlari menemui wanita yang memporak-poranda kan hatinya saat ini.


Namun dia bertekad akan menemuinya jika semua permasalahannya sedikit mereda.


Tangannya mengambil dompet di saku celananya,menyerahkan kartu tanpa limited pada pelayan restoran.


Pelayan dengan cekatan mengambilnya,menunduk hormat."Mohon menunggu sejenak tuan."lalu pergi untuk melakukan transaksi.


Bertepatan pelayan yang mulai hilang di balik pintu,Ardhan melakukan panggilan ke nomor yang yang tuju.


"Siapkan semua kemungkinan yang akan kita terima.Kita bertemu setengah jam lagi."ucapnya pada sekretaris nya,saat panggilan sudah tersambung.


Ardhan sudah menduga yang terjadi akibat pertemuan ini.Dia sudah siap menerimanya.


"Apa tuan sudah memutuskan?"Menebak apa yang di lakukan Ardhan.


"hm,jadi jadwalkan pertemuan dengan paman Jhon."Setelah mengatakan itu Ardhan langsung menutup panggilan.Tak lama pelayan yang tadi datang mendatanginya.


"Ini tuan."menyerahkan kartu kembali.


"Bawalah lagi."menunjuk hidangan dengan mata "Terima kasih."jawab Ardhan sopan,meskipun hanya pelayan.Namun dirinya patut menghargai pekerjaan nya.


Setelah memasukan kembali kartu ketempat nya,Ardhan langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa kembali Cincin itu.Dia berniat akan mengembalikan dimana tempat seharusnya.


"Sepertinya dia sangat terluka.Ah,andai saja aku bisa meminjamkan bahuku untuknya."Pelayan itu masih salah mengartikan,melihat cara Ardhan mengambil cincinnya dengan kasar.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2