
Berita tentang pembatalan pertunangan dua pewaris perusahaan besar akhirnya datang juga.
Bukan dari Ardhan ataupun Jessica yang memberi keterangan di acara jumpa pers,mereka sama sekali tidak menampakan batang hidungnya sekalipun.
Presdir Miller Crop sendiri yang mengadakan pertemuan tersebut di Aula.Hanya dirinya yang mengklarifikasi putusnya hubungan mereka.
Di acara tersebut Jhon mengatakan pada semua awak media bahwa alasan yang menjadi penyebab kandasnya hubungan putrinya dengan Pewaris keluarga Prayoga karena mereka mempunyai ketidakcocokan lagi dan karena kesibukan masing-masing.
Mengatakan jika Putrinya Jessica sebagai pewaris perusahaan nya akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi di luar negeri dan Ardhan yang disibukan dengan pembangunan di beberapa kota.
Sebagian masyarakat masih sibuk berspekulasi sendiri tentang kandasnya pasangan itu.
Banyak yang bersimpati menyayangkan keputusan mereka,banyak juga yang merasa 'masa bodoh' dengan berita tersebut.
Karena bagi mereka,memikirkan hidupnya sendiri saja sudah membuatnya pusing,pikirnya masyarakat.
Namun berbeda dengan yang bersangkutan,dia justru tengah sibuk memikirkan hal lain.
Di lain tempat,tepatnya di Ruangan kantor Ardhan.
"Tuan,bisakah anda berhenti melakukan itu?"ucap Dany kesal,karena sudah hampir satu jam Ardhan bolak-balik di depannya.
Sesekali juga dirinya melihat Ardhan beberapa kali menghela nafasnya.
Ditambah sejak dari pagi Ardhan sama sekali tidak mau menyentuh berkas pekerjaannya sama sekali,alhasil sekarang Dany lah yang handle semua pekerjaan,itupun belum terselesaikan karena kelakuan Ardhan.
Dia hanya sibuk bolak-balik,Dan itu cukup membuat kepalanya pusing.
"Diam kamu!" jawab Ardhan tak kalah geram.Namun bukannya berhenti Ardhan seperti tambah kelimpungan.
"Akkhhh!"teriak Ardhan,sambil menjambak rambutnya sendiri.Dirinya merasa terlalu bodoh saat ini.
"Ar,kamu kenapa?"Karena sangking khawatir nya,Dany lupa memanggilnya dengan namanya saja.
Dirinya langsung saja menghampiri Ardhan yang tengah duduk di sofa masih dengan posisi nya.
"Ma-maksudku,tuan,anda kenapa?apa masalah itu mengganggu mu?"Tanya Dany lagi.
Dirinya berpikir jika Ardhan merasa terganggu dengan semua berita soal kandasnya hubungan pertunangannya dengan Jessica.
Padahal kenyataannya sangat berbeda,dirinya hanya sedang bingung.Menimbang antara mengiyakan atau tidak.
__ADS_1
"Katakan padaku,apa yang harus aku lakukan sekarang?"tanya Ardhan,dengan wajah yang terlihat polos.
Mendengar pertanyaan Ardhan,membuat bingung sekaligus aneh bagi Dany."Kenapa dengan wajahnya?"melihat raut wajah Ardhan yang tidak biasanya.
"Maksud Tuan?"tanya Dany masih setia menunggu jawaban Ardhan.
Ardhan terlihat menghela nafas,dia merasa bingung,cukup malu jika dirinya harus bertanya dengan Dany.
Karena selama ini yang Dany tau,Ardhan selalu bersikap Perfeksionis.
Masih dalam keheningan,mereka masih sama-sama dalam pikirannya masing-masing.
Sampai suara Ardhan mengejutkan Dany.
"Aku akan bertemu dengannya DAN."Ucap Ardhan polos tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya."Jantungku rasanya juga deg-degan."Lanjutnya lagi,dia menyentuh dadanya.Yang seketika membuat wajah Dany tampak terkejut,tidak percaya.
"Maksud Tuan,Mira?" tanya Dany mencoba menebak.Karena dia sudah tau tentang Mira yang ingin bertemu Ardhan.
Ardhan hanya menjawab menganggukkan kepalanya.Dia masih tidak percaya jika sebentar lagi akan menemui wanita yang dicintainya,wanita yang selama ini sangat dirindukannya itu.
Ardhan sebelumnya mendapatkan kabar dari Siti,jika dirinya akan menemui Mira di Panti Asuhan.Dan Siti mengatakan jika Mira ingin bertemu dengannya.
Namun saat ini dia justru semakin takut jika alasan Mira ingin bertemu dengannya,hanya karena akan menyuruhnya untuk terus semakin menjauhinya.
"Jadi hanya karena itu,sejak tadi anda seperti setrikaan?"ucap Dany kesal,namun seketika wajahnya berubah pias setelah mendapatkan lirikan tajam dari Ardhan."Maaf."menunduk lemas,meratapi kebodohannya.
"Lalu apa masalahnya?"
Tubuhnya berubah berenergi setelah menanyakan itu.Berpikir siapa tau dia bisa memberi solusi tentang kegundahan hati Ardhan.
Karena dia cukup bangga dengan diri sendiri selama ini yang selalu membantu menyelesaikan semua masalah Bosnya baik tentang masalah pekerjaan atau bahkan masalah pribadinya.
"Aku takut dia akan menyuruhku pergi."ucap Ardhan dengan wajah sedihnya.
Semakin bingung dengan ucapan Ardhan,kali ini Dany merasa harus hati-hati dalam berucap.
"Kau juga bingung kan?"menebak apa yang dipikirkan Dany.
"Kenapa dia bisa tau?"ucapnya dalam hati.Masih
"Jika nanti bertemu dengannya,apa dia akan menyuruhku pergi untuk menjauhinya karena masalah putusnya hubunganku dengan Jessica?" ucap Ardhan, akhirnya dia mengungkapkan kegundahan hatinya setelah pergulatan batinnya.
__ADS_1
"Jadi karena itu?"Melihat ayahnya Jessica tengah berbicara di acara konferensi pers di TV yang sejak tadi menyala.
Dany terdengar menghela nafasnya.Dia cukup tau bagaimana saat hancurnya Ardhan mendapatkan penolakan dari Mira.
"Tetap temui dia Ar."Dany memulai tugasnya memberi solusi,saatnya berfikir lebih dewasa dari laki-laki yang didepannya.
Ardhan menatap lekat wajah Dany,menunggu ucapan Dany selanjutnya.
"Jika kamu menghindar,kamu tidak akan pernah tau perasaan dia sebenarnya."
Ardhan terlihat tengah meresapi kata-kata Sekretarisnya.
Selama ini dirinya memang belum tau seperti apa perasaan Mira sesungguhnya.Karena Mira selalu menghindarinya,terlebih saat hilangnya Mira.
Namun saat tau bahwa Mira masih hidup,kini Ardhan berpikir jika alasan Mira tidak memberitahu keberadaannya ada hubungannya yang ingin menghindarinya.
Terlebih saat kepulangannya ke Panti.Dan sekarang Mira malah mengajaknya bertemu,dan itu membuat Ardhan semakin curiga sekaligus takut.
"Lalu?"tanya Ardhan dengan wajah polos.
"Kamu tanya lalu?"Dany kaget dengan pertanyaan Ardhan.
"Tentu saja tanyakan perasaannya bodoh!"lanjutnya lagi kesal.Namun dia ingat jika laki-laki di depannya sedikit bodoh jika bersangkutan dengan masalah perempuan.
"Apa tadi kau bilang?kamu mengatai ku bodoh?"
"Aku membiarkanmu memanggilku hanya dengan nama,tapi bukan berarti kamu berani mengatai ku, bodoh!" ucap geram Ardhan sambil melempar bantal sofa yang di sampingnya.
"Cih,kalau saja aku tidak butuh pendapatmu sudah aku tendang sekretaris kurang ajar sepertimu."ucapnya lagi.
Mendengar itu wajah Dany berubah pias,dirinya mengakui tadi terlalu bersemangat memberi masukan terhadap Ardhan.
Dia sempat lupa dengan posisi nya,karena bagaimanapun dirinya harus bersikap sopan yang hanya sekretarisnya saja.Meskipun Ardhan menganggapnya sekaligus teman.
"Maaf."ucapnya dengan kepalan yang menunduk tidak berani menatap wajah Ardhan saat ini.
Melihat itu Ardhan sedikit merasa bersalah,padahal dirinya tadi hanya menggertak nya saja.
"Hm,sekarang lanjutkan apa yang aku lakukan."
Dan setelahnya,Ardhan terus menanyakan langkah dan apa yang akan dia siapkan ketika bertemu wanita yang dicintainya.Mereka sama sekali tidak memperdulikan tumpukan berkas pekerjaan mereka yang sudah menantinya.
__ADS_1