
Satu jam sudah mereka berdua sampai di dufan Tasya yang sedari tadi tertidur di perjalanan akhirnya terbagun dengan antusias.
Dengan antusias Tasya membawa tas Rehan dan mengandeng Rania menuju loket.
Saat mereka bertiga sampai di dekat loket Hendra dengan sigap memberi intruksi kepada kedua perempuan yang iya cintai.
"Kalian tungguh di sini biar Papa belikan tiketnya kasihan Rehan rame begini"
"Iya Papa"
Rania hanya menganguk dan menungguh di pojokan dengan Tasya.
Dua menit Hendra mengantri tiket akhirnya mendapatkanya dan kembali ke dua wanita cantik yang setia menungguhnya.
"Ayo Papa udah dapat tiketnya" Merangkul pungung Rania.
"Rania yang di perlakukan seperti itu akhirnya merasa bahagia dan memandang Hendra dengan senyum manisanya.
Hendra yang mendapatkan senyumnya itu akhirya membalas senyuman Rania dan beralih membawa Rania dan Tasya ke dalam dufan.
Saat Sampai di dalam kami berjalan menyusuri berbagai wahana karna Tasya sangat antusias.
Saat Tasya berantusias bermain berbagai permainan Rania hanya bisa mengawasi dari jauh karna taak bisa ikut bermain.
Saat Hendra bermain dengan Tasya Rania duduk di pojok kursi taak jauh tempatnya.
Rania yang asik melihat semua permainan dan berbagai wahana mendadak kaget dengan tepukanpundaknya.
Saat itu juga Rania menoleh dan melihat sosok laki laki berprawakan tinggih tampan dengan stelan casual.
Saat Rania mengamati dengan jelih iya teringat laki laki yang perna berucap adik dari almarhum suaminya.
" Apa kabar kak"
Rania memandang dan berucap secara kaget
"Ah iya,baik"
"Aku Fauzan adik dari almarhum suami kakak"
"Ah iya,maaf sedikit lupah"
"Aku boleh duduk di sini" Menatap Rania dengan senyuman maunya.
Rania yang di tatap seperti itu akhirnya meloncarkan perkataan liri tapi masih terdengar samar samar dan menjawa pertanyaan.
"Ah iya taak apa"
"oh iya kak kok bisa kesini,memang sama siapa ke sini"
"Ah ini sama temenku,dia ngajak ke dufan sama sama"
"Em iya kak"
Rania akhirnya mengobrol bayak hal setelah saling bertanya.
mereka berdua seakan sudah perna kenal lama taak ada kecangungan satu sama lain.
Hendra yang taak sengaja sudah berhenti dari permaina akhirya melihat Rania sedang duduk berdua dan mengobrol dengan akrab.
Hendra dengan sigap membawa anaknya untuk menemui Rania.
saat itu Tasya protes dan memanyunkan bibirnya.
"Pah aku kan belum selesai main masih mau main lagi"
Hendra yang sedari tadi berjalan taak mengubris omongan anaknya Tasya dan lebih memilih mendekati Rania.
"Ehem.."
__ADS_1
Deheman Hendra membuyarkan pembicaraan antara Rania dan Fauzan.
"Mas Hendra "Rania dengan sigap berdiri dan menyapa Hendra.
Dengan perasaan taak enak jika nanti salah paham akhirnya Rania mengenalkan Hendra dengan Hendra.
" Oh iya mas, kenalin Fauzan adik dari Almarhum suami aku"
"Fauzan dan Hendra akhirnya bersalaman dan saling berkenalan"
"Oh iya aku baru tau seorang Randitia memiliki adik, bukanya dia anak tunggal.
" Ah iya memang semua mengenal kakak ku karna saya lama tinggal di luar"
"Oh begitu,aneh juga"
"Apa yang aneh"
"Taak ada ,hanya saja kenapa baru muncul kan bisa gantiin Raditia di perusahaan.
Sikap Hendra saat itu seakan berubah menjadi agak ketus melihat Rania berbicara dan bersenda gurau dengan santai.
Rania melihat Tasya juga memiliki mut yang taak enak sedari tadi saat Mas Hendra sampai di depanku.
" Ih apa apa.an anak sama bapak gak ada bedanya salahku apa bisa bisanya se cuex dan se ketus itu pakek monyong lagi tuh mulut,mintak di karetin.
"Fauzan yang melihat Hendra terlihat taak suka jika iya mendekati Rania akhirnya memutuskan kembali dan berlalu meningalkan mereka berdua.
" Ea sudah aku pamit dulu "
"Ah iya Zan kalau bisa datanglah ke rumah Mama Papa"
"Iya kak" Berlalu menigalkan Rania dan Hendra yang masih memanyunka bibir.
Rania yang sedari tadi taak beta jika taak bertanya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Mas kenapa sih dari tadi mut kamu gak enak baget"
"Iya mas maaf jika kamu enggak suka tapi dia adik suamiku"
"Meskipun adik taak menjamin kemungkinan adiknya mencintai mu"
"Hala hala jadi cemburu ni lucunya taak akan ada perasaan sama sekali untuk fauzan mas.
Rania dengan sengaja melihat ke samping Tasya sedang cemberut saat itu juga Ranka menayakan kepada Tasya.
"Kenapa sayang kok cemberut ikut ikut Papa"
"Aku malas sama Papa Tasya belum kelar bermain eh mala aku di gandeng ke sini menemui tasya"
"Ea sudah ea sudah,kita bermain lagi ea"
"Saat itu juga Rania menariknya dan menuju ke tempat permainan lagi"
Hendra yang tadinya sedikit kesal akhirnya mulai berkurang dan mengikuti langkah kaki Rania dan Tasya.
Taak terasa jam sudah menujukan pukul 14.00 mereka menyudahi permainannya dan berlalu keluar dufan untuk pulang dan mencari makan siang.
Di dalam mobil Rania dan Hendra sedari tadi hanya fokus kedepan dan taak ada satu kata pun keluar dari mereka.
Hanya terdengar Tasya sedang asik bermain dan mengoda Rehan di sebelahnya.
Saat kesunyian menderu di pendengaran akhirnya Rania membuka obrolan santai sehingga Hendra menyauti perkataanya.
"Senang ea mas liburan ber empat"
"Iya sayang mungkin kedepanya kita harus lebih sering liburan agar mereka berdua dapat akrab dan menjadi sodara selalu"
"Iya mas" Memandang Hendra dengan senyum.
__ADS_1
Seketika suasana di mobil taak begitu kaku lagi mulai mencair sedikit kekesalan Hendra.
sampailah kami di salah satu rumah makan favorit untuk kita.
Kita berempat masuk dan mulai memesan semua pesanan yang Rania mau.
Di sisi lain Fauzan datang di sebuah rumah besar tapi terkesan sudah lama di tempati .
langkah kaki Fauzan terhenti di depan pintu dan mengetuk sedikit keras agar si empunya rumah mendengar dan membukanya.
tok..
tok..
tok..
saat itu juga Mama membuka pintu tua itu dengan sedikit pelan.
krek..
di lihatnya Fauzan dengan seksama dan berucap pelan.
"Fauzan ini kamu nak,akhirnya kamu mau datang Mama sudah lama menungguhmu"
"Iya Ma ini Fauzan anak mama juga maaf selama ini Fauzan taak mendatangi Mama karna Fauzan masih egois memikirkan kebahagiaan Fauzan saja"
"Iya sayang taak apa itu sudah jadu masa lalu Papa kamu juga sudah kagen sekali denganmu masuklah"
Fauzan saat itu juga memasuki rumah orang tuanya meskipun hanya sebatas Mama tiri bagi Fauzan.
saat melihat Papanya Fauzan dengan sigap memeluk dengan hangat Papanya.
"Ini kamu nak"
"Iya Pah ini Fauzan,Maafkan Fauzan jika selama ini taak mengunjungi Papa karna ke egoisan Fauzan"
"Iya taak apa sayang Papa sudah tidak memikirkan semua itu,itu udah masa lalu biarkan jadi pelajaran"
Mereka berdua melepaskan pelukanya dan berlalu mendudukan diri di sofa ruang keluarga.
"Maaf Pah aku baru datang setelah mendengar Kakak sudah menigal"
"Iya nak tak apa Fauzan"
Mereka berbincang bayak yang di bicarakan sampai pada saat itu Mama bembuka suara tentang perusahaan.
"kalau dulu kamu sudah ada,Perusahaan sudah kamu kelolah Fauzan"
"Taak apa Mah kan sudah ada Kak Rania dia juga pintar dalam berbusnees juga"
"Meskipun begitu Fauzan sudah mempunyai perusaa.an sendiri"
"Iya nak"
"Papa Harap kamu tinggal dengan kita"dengan raut memohon dan mengasihani.
"Maafkan Fauzan Pah taak bisa karna Fauzan sudah punya rumah sendiri dan"
"Oh,Apa kamu sudah berkluarga Nak kenapa taak kamu bawa istri dan anak kamu"
"Belum Mah Pah hanya saja Fauzan sudah memiliki rumah sendiri"
"Ea sudah taak apa jika nanti sering sering jenguk Papa dan Mama,meskipun mama hanya Mama tiri Mama menyayangimu"
"iya pah,Mah"
Mereka berdua akhirnya makan siang dan setelah selesai Fauzan akhirnya berpamitan taak pula memberikan satu black cartd untuk kedua orang tuanya.
Karna kesuksesany Fauzan bisa menjadi bilioner di indonesia.
__ADS_1
Bersambung...