Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Desakan ibu dan kakak


__ADS_3

Bu Hesti mengusap air matanya dan menatap Arumi tajam.


"Arumi, apa benar kalau tes pack itu milik kamu?" tanya Bu Hesti datar.


Arumi tidak berani menatap Bu Hesti dan Lira. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya dan menangis.


"Arumi. Lihat ibu Arumi. Lihat ibu...!" ucap Bu Hesti dengan nada tinggi.


Arumi mencoba untuk menatap ibunya.


"Arumi. Benarkah kalau tes pack itu milik kamu?" tanya Bu Hesti satu kali lagi.


Arumi mengangguk. "Iya. Benar itu milik aku Bu," jawab Arumi.


"Apa! jadi kamu hamil? kamu mual-mual dan muntah-muntah itu karena gejala kehamilan. Ya ampun Arumi. Kamu sudah membuat ibu kecewa Nak. Kenapa kamu tidak bisa menjaga diri kamu Nak. Kenapa...!" ucap Bu Hesti tampak kecewa.


"Maafkan aku Bu. Karena aku sudah membuat ibu kecewa. Hiks...hiks..." ucap Arumi di sela-sela tangisannya.


Arumi sejak tadi hanya bisa menangis. Sementara Lira dan Bu Hesti diam. Mereka masih sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.


Setelah itu Lira menatap adiknya tajam. Dia kemudian duduk di dekat Arumi dan memegang ke dua bahu adiknya dengan erat.


"Kalau begitu, sekarang kamu bilang, siapa lelaki yang sudah menghamili kamu Arumi?" tanya Lira pada Arumi.


Arumi terkejut saat mendengar pertanyaan Lira. Mungkinkah dia akan mengatakan jujur pada kakak dan ibunya kalau janin yang ada di dalam kandungannya saat ini adalah anak Arkan. Dan mungkinkah ibu dan kakaknya akan percaya.


Jika aku mengatakan jujur, Mbak Lira dan Ibu pasti akan sangat syok. Dan mereka juga nggak akan mungkin percaya sama aku. Dan Tuan Arkan, pasti dia akan melakukan sesuatu terhadap keluarga aku kalau aku sampai buka mulut. Karena waktu itu dia mengancam aku akan menghancurkan keluarga aku.


"Arumi, ayo katakan Arumi! siapa lelaki yang sudah menghamili kamu! biar Mbak beri pelajaran lelaki itu. Dia harus tanggung jawab dengan kehamilan kamu." Lira masih mendesak Arumi untuk mengatakan jujur.


Namun Arumi sama sekali tidak mau mengatakan jujur pada ibu dan kakaknya. Dia sejak tadi hanya bisa menangis dan masih bungkam.


"Aku tidak tahu siapa orang yang sudah menghamili ku. Bu, Mbak," ucap Arumi.


"Apa! bagaimana kamu bisa tidak tahu siapa ayah dari bayi kamu. Ini benar-benar gila Arumi," ucap Lira yang masih diselimuti emosi.


Bu Hesti bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah dan duduk di samping Arumi.


"Arumi, ini masalah besar Arumi. Bukan masalah kecil. Ini menyangkut nama baik keluarga kita Arumi. Tolong katakan sama ibu, siapa ayah dari bayi kamu. Dia harus tanggung jawab dengan kehamilan kamu Arumi. Sebelum kabar kehamilan kamu menyebar keluar, lelaki itu harus mau menikahi mu."


"Aku nggak tahu Bu, Mbak."Hanya itu yang keluar dari bibir Arumi sejak tadi.


"Arumi ibu mohon Arumi. Katakan yang sejujurnya sama ibu."


Arumi masih diam dan tidak mau berkata apa-apa.

__ADS_1


"Nggak mungkin kamu nggak tahu siapa ayah dari bayi kamu. Kecuali kalau kamu hamil sama jin," ucap Lira yang sudah mulai kesal dengan adiknya.


Bu Hesti dan Lira sejak tadi masih mendesak Arumi agar Arumi mau mengatakan siapa ayah bayinya. Namun Arumi sama sekali tidak mau mengatakannya. Sampai-sampai Mbak Lira kesal dan keluar dari kamar Arumi dan meninggalkan Arumi.


"Aku harus ke kantor sekarang. Udah siang. Urusan Arumi, biarlah nanti sepulang kantor aku akan bicara lagi sama dia."


Lira kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk mandi. Selesai mandi, dia ganti baju dan kembali untuk ke kamar Arumi. Sesampainya di depan pintu kamar Arumi, Lira menatap ibunya.


"Bu, tinggalkan saja Arumi Bu. Biarkan dia sendiri dulu. Mungkin dia masih butuh banyak waktu untuk berfikir. Udah siang Bu, bukannya ibu harus kerja. Tapi kalau ibu lagi sakit, nggak usah kerja dulu juga nggak apa-apa Bu. Izin dulu aja sama Tuan Mahendra," ucap Lira.


Bu Hesti menatap Lira lekat. Setelah itu dia bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar Arumi. Tidak lupa Bu Hesti menutup pintu kamar Arumi.


"Sudah ketemu rok kamu?" tanya Bu Hesti.


"Sudah Bu. Tadi di kamar Arumi."


"Dari mana kamu menemukan tas pack itu?"


"Aku tadi nyari rok di lemari Arumi. Dan aku menemukan tespack tadi jatuh dari lemari Arumi."


"Oh, jadi itu memang benar milik Arumi."


"Awalnya aku juga nggak percaya. Aku fikir tes pack itu milik ibu. Tapi setelah aku fikir-fikir, ibukan sudah tidak bisa hamil. Mana mungkin itu milik ibu. Dan mana mungkin Arumi menyimpan tes pack orang di dalam lemarinya."


"Ya udah, ibu mau ke dapur. Mau siap-siap masak untuk Tuan Mahendra."


Bu Hesti menatap Lira lekat.


"Mau ketemu siapa?" tanya Bu Hesti penasaran.


"Teman Bu."


"Kamu nggak mau sarapan dulu Lir?"


"Nggak Bu."


"Kamu mau ke kantor sekarang? ini masih pagi "


"Makanya itu Bu. Aku mau menemui seseorang. Mumpung masih pagi. Dia pasti masih ada di rumahnya."


"Kamu mau sama siapa perginya? sama Heru?"


"Mas Heru nggak bisa jemput aku Bu Hari ini. Karena dia mau ngantar mamanya ke rumah sakit. Aku mau naik taksi aja."


"Oh. Ya udah kalau kamu mau pergi dulu."

__ADS_1


"Iya Bu. Aku pergi dulu ya."


Sebelum pergi, Lira mencium punggung tangan ibunya. Setelah itu Lira pun pergi meninggalkan ibunya.


Lira keluar dari rumahnya. Dia melangkah ke halaman depan rumah Pak Mahendra. Lira keluar dari pintu gerbang menuju ke jalan raya untuk menunggu taksi di sana.


Sesampainya taksi itu di depan Lira, Lira pun masuk ke dalam taksi.


"Jalan Pak." ucap Lira.


"Baik Mbak."


Taksi itu meluncur pergi meninggalkan rumah kediaman Pak Mahendra.


Di tengah-tengah perjalanan, Lira mengambil ponselnya yang ada di dalam tas kecilnya. Sepertinya dia akan menelpon seseorang.


"Halo..."


"Halo Susi. Ini Mbak Lira Sus. Kakaknya Arumi."


"Oh. Kak Lira. Ada apa?"


"Sus, kamu tahu alamat rumahnya pacarnya Arumi nggak?"


"Kenzo maksudnya?"


"Iya. Kenzo."


"Kak Lira kenapa nggak nanya ke Arumi saja. Kenapa harus tanya ke saya. Kan Arumi jauh lebih tahu alamat rumah Kenzo."


"Arumi mana mau ngasih tahu alamat pacarnya padaku. Makanya aku minta sama kamu."


"Oh, kirim via chat aja ya Kak."


"Oh, baiklah. Ke nomer kakak ya "


"Iya Kak. Ngomong-ngomong, tumben kakak nanyain alamat rumah Kenzo. Kakak mau ke sana ya. Ada apa Kak?"


"Nggak ada apa-apa. Udah, kamu nggak usah kepo. Aku lagi ada di taksi mau meluncur ke rumah Kenzo. Aku tutup dulu ya Sus, telponnya."


"Iya Kak. Nanti buka chat aku ya Kak."


"Iya."


Tut Tut Tut.

__ADS_1


Telpon itu akhirnya terputus. Lira akan melanjutkan perjalanannya untuk ke rumah Kenzo lelaki yang selama ini dekat dengan adiknya.


__ADS_2