Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Makan malam


__ADS_3

Siang ini, Rafa masih berada di teras depan rumahnya. Dia sejak tadi masih menatap ke depan. Beberapa saat kemudian, suara orang jualan ice cream terdengar.


"Wah, ada ice cream. Aku mau beli ah," ucap Rafa.


Rafa berlarian masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil uang.


"Mama... mama... minta uang mama. Aku mau beli ice cream mama..." seru Rafa.


Tiba-tiba saja, Rafa menghentikan langkahnya saat dia teringat kalau ibunya itu tidak ada di rumah. Melainkan ibunya sekarang itu ada di toko bersama neneknya.


Tiba-tiba, Rafa punya ide.


"Aha... aku tahu. Mama biasa nyimpen duit di lemari. Aku harus nyari duit di lemari untuk beli ice cream," ucap Rafa.


Rafa kemudian mengambil kursi untuk dia manjat dan mengambil uang di lemari. Karena Rafa tahu, biasanya Amira menyimpan uangnya di atas lemari.


Rafa terkejut saat tiba-tiba saja sebuah foto jatuh dari atas lemari. Mungkin Rafa sudah menyenggolnya.


Rafa menatap ke bawah. Dia kemudian turun dari kursi dan mengambil foto itu.


Rafa menatap foto itu dengan seksama.


"Ini foto siapa," ucap Rafa sembari memperhatikan foto itu."Kenapa mama nyimpan foto ini di atas lemari."


Rafa tersenyum.


"Jangan-jangan, ini fotonya papa aku," ucap Rafa.


Rafa kemudian berjalan dan duduk di sisi ranjangnya dan kembali memperhatikan foto lelaki tampan yang Arumi simpan.


Ya, foto itu memang foto Arkan. Entah kenapa Arumi masih saja menyimpan foto Arkan. Padahal Arumi sangat membenci lelaki itu.


Rafa tampak bahagia saat melihat foto Arkan.


"Ini pasti papa aku. Ternyata dia sangat tampan ya. Tapi dia ada di luar negeri sekarang. Aku nggak bisa ketemu dia. Kalau aku pengin ketemu Papa jauh banget aku harus naik pesawat," ucap Rafa.


Beberapa saat kemudian,


"Rafa...! Rafa...!" seruan Arumi sudah terdengar dari luar rumah.


Rafa buru-buru menyimpan foto itu sebelum ketahuan ibunya.


"Mama nggak boleh lihat foto ini. Nanti aku di marahin kalau ketahuan mau ambil uang mama," ucap Rafa.


Setelah menyimpan foto itu, Rafa kemudian keluar dari kamarnya dan berjalan mendekat ke arah ibunya.

__ADS_1


"Mama," ucap Rafa saat melihat ibunya.


Arumi mengernyitkan alisnya.


"Kamu dari mana?" tanya Arumi pada Rafa.


"Aku... aku..."


Arumi menatap anaknya lekat saat melihat Rafa tampak gugup.


"Rafa kenapa?"


"Aku pengin ice cream. Tapi ice creamnya udah jauh,"jawab Rafa.


"Lho, kenapa kamu tidak kejar tukang ice creamnya."


"Aku nggak pegang uang Mama," ucap Rafa tampak sedih.


Arumi menghela nafas dalam.


"Makanya. Kamu jangan jauh-jauh dari mama. Ayo kita kembali ke toko. Kasihan nenek kamu sendirian nggak ada temannya."


"Iya Ma."


Arumi kemudian menggandeng tangan Rafa, mengajaknya keluar dari rumah dan kembali ke toko.


Dari pagi, memang Rafa ada di toko, tapi Rafa malah pulang sendiri ke rumah tanpa izin dari Arumi dan Nek Ella.


"Nggak tahu nih Rafa. Pulang nggak bilang-bilang dulu sama mama," ucap Arumi.


"Rumah udah di kunci lagi Arumi?" tanya Bu Ella.


"Udah Bu."


"Ya udah, kalau begitu."


****


Pak Mahendra, Arkan, dan Nilam saat ini masih berada di meja makan. Setelah kemarin mereka mengadakan foto prewedding di puncak, Pak Mahendra mengundang Nilam untuk makan malam di rumahnya.


Pak Mahendra itu memang sangat sayang pada calon mantunya. Makanya dia sering mengundang Nilam untuk makan malam bersama di rumahnya. Pak Mahendra sudah tidak sabar dengan pernikahan mereka. Karena Pak Mahendra ingin sekali punya cucu.


Begitu juga dengan Bu Erina. Dia yang sangat antusias dengan pernikahan Arkan dan Nilam. Bu Erina juga ikut membiayai pernikahan Arkan dengan Nilam.


"Gimana prewedding kemarin?" tanya Pak Mahendra di sela-sela kunyahannya.

__ADS_1


Arkan yang ditanya hanya diam. Sejak tadi, cuma Nilam saja yang menjawab pertanyaan-pertanyaan dari calon ayah mertua.


"Preweddingnya lancar kok Om."


"Terus, apa rencana kalian besok?" tanya Pak Mahendra menatap Arkan dan Nilam bergantian.


"Kalau besok sih, kayaknya kami istirahat dulu Om. Mungkin minggu depan, kami akan ke butik untuk nyobain baju pengantin kami," jawab Nilam.


"Oh..."


Arkan dan Nilam memang sudah memesan gaun pengantin di butik ternama di kotanya satu bulan yang lalu.


Baju pengantin rancangan dari disainer kondang itu tidak mengeluarkan uang sedikit. Untuk memesan baju pengantin itu, Arkan harus mengeluarkan uang ratusan juta.


Karena Nilam memang ingin pesta pengantinnya itu di gelar secara mewah. Nilam selalu berharap, kalau pernikahannya dengan Arkan, akan menjadi pernikahan sekali seumur hidup.


Setelah tiga tahun mereka menjalin hubungan, rasanya Nilam sudah semakin mantap saja untuk menjadikan Arkan suaminya.


Karena mereka seperti sudah cocok satu sama lain, dan sudah tidak ada penolakan lagi dari Arkan. Rasanya Arkan juga sudah mulai nyaman dengan Nilam. Walau Arkan jarang menunjukan sikap romantisnya ke Nilam.


"Sebenarnya Om udah tidak sabar Nilam, menunggu pernikahan kalian. Kamu kan tahu Nilam, kalau Arkan itu anak saya satu-satunya yang akan mewarisi kerajaan bisnis saya. Dan saya harap, kalian tidak akan menunda untuk mempunyai anak. Karena Om sudah sangat mengharapkan cucu dari kalian untuk menjadi pewaris di keluarga saya," ucap Pak Mahendra panjang lebar.


"Ya Om. Mau aku juga gitu kok Om. Kalau aku udah punya anak, aku mau ngurus anak dan suami aja di rumah. Aku mau jadi ibu rumah tangga aja."


"Bagus dong kalau begitu. Kamu tidak meniru jejaknya mamanya Arkan. Dia itu kan nggak pernah ngurusin Arkan. Karena dia sibuk sendiri dengan urusannya sendiri. Mudah-mudahan kamu tidak meniru dia."


Nilam tersenyum. Dia kemudian melanjutkan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Setelah menghabiskan makanannya, Arkan bangkit dari duduknya.


"Arkan, mau kemana?" tanya Pak Mahendra.


"Aku mau ke kamar dulu Pa, sebentar."


"Kamu nggak mau temani Nilam dulu?" tanya Pak Mahendra.


Arkan menatap Nilam sejenak.


"Nilam masih makan. Untuk apa aku menemaninya. Kan udah ada Papa di sini. Nilam juga kan udah gede. Ngga usah di temani dia juga udah berani," ucap Arkan.


"Ya udah Mas, kalau kamu mau ke kamar. Aku nggak apa-apa kok. Aku juga ada Papa kamu di sini. Masih ingin ngobrol-ngobrol dengan papa kamu."


"Ya, aku mau ke kamar. Kalau kamu butuh sesuatu kamu bisa ke kamar aku."


Nilam tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Iya Mas."


Arkan kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang makan dan dia pun naik ke lantai atas di mana kamarnya berada. Sesampainya di dalam kamar, Arkan membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2