Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Kekacauan


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Di kediaman keluarga Mahendra, sudah banyak tamu undangan yang menghadiri acara pesta pernikahan Arkan.


Acara ijab kabul, akan di laksanakan di tempat mempelai pria. Nilam masih berada di dalam kamar. Sementara Arkan sudah berada di bawah, berkumpul bersama para tamu undangan.


"Bagaimana caranya aku masuk ke sana, semua orang pasti akan mengenaliku sebagai Arumi. Sementara aku harus bantu Nek Ella di dalam," ucap Arumi yang masih menggandeng tangan Rafa.


Arumi sudah memakai baju pelayan. Dia akan menjadi pelayan di acara pernikahan Arkan itu.


Keluarga Arumi, keluarga Nilam, dan keluarga Mahendra tidak ada yang tahu kalau jasa parasmanan yang mereka pesan adalah jasa parasmanan milik Bu Ella ibu angkat Arumi.


Jasa parasmanan dan jasa catering milik Bu Ella memang sudah terkenal di kalangan orang-orang kaya. Mereka selalu menyewa jasa Bu Ella untuk memasak di acara penting mereka. Bu Ella terkenal karena masakannya yang enak berbeda dari masakan orang orang yang lainnya.


"Mama, ayo kita masuk! kenapa kita berdiri saja di sini," ajak Rafa.


"Iya Rafa. Kamu ikut mama dulu yuk."


Arumi mengajak Rafa untuk ikut bersamanya. Entah Arumi akan mengajak anaknya ke mana. Sepertinya Arumi memang sedang punya rencana lain agar dia bisa masuk ke dalam pesta itu tanpa ada yang mengenali.


***


Di dalam kamarnya, Nilam masih di rias oleh seorang perias.


"Mbak Nilam cantik banget ya, ternyata. Udah orangnya cantik, di tambah make up seperti ini, dua kali lipat cantiknya. Saya yakin, kalau Mas Arkan ini, akan pangling saat melihat Mbak Nilam nanti," puji Lisna.


"Mbak Lisna bisa aja."


Nilam sejak tadi masih menatap pantulan dirinya di depan cermin. Sejak tadi, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Baru kali ini, Nilam merasa sangat gugup. Padahal dia belum keluar dari kamar dan menemui banyak orang.


Nilam memegang dadanya.


"Kenapa Mbak?" tanya Mbak Lisna.


"Nggak tahu, dari tadi aku deg degan banget."


"Wajarlah kalau itu Mbak. Semua orang juga merasakan gugup kalau mau nikahan dan menghadapi calon mempelai pria, penghulu, dan tamu undangan," ucap Lisna..


Beberapa saat kemudian.


Suara ketukan sudah terdengar dari luar kamar Nilam.


"Masuk aja, nggak di kunci," ucap Mbak Lisna.


Nessa adik tiri Arkan masuk ke dalam kamar Nilam. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan duduk di sisi ranjang pengantin.


"Kak Nilam cantik banget," ucap Nessa.


Nilam tersenyum.


"Makasih Nes."


"Mbak Lisna. Penghulunya udah datang. Bisa nggak cepat sedikit?" tanya Nessa.


"Oh iya. Ini juga udah selesai kok."


Setelah Lisna selesai merias Nilam, Nessa dan Lisna kemudian membawa Nilam ke bawah.

__ADS_1


Arkan dan para tamu undangan terkejut saat melihat mempelai pengantin wanita. Nilam saat ini sangat cantik dengan gaun pengantin putih yang melekat ditubuhnya.


Arkan tersenyum kecil saat melihat Nilam. Sepertinya dis terpesona dengan kecantikan calon istrinya.


Nessa dan Mbak Lisna masih mendampingi Nilam sampa Nilam duduk di sisi Arkan.


Setelah itu, penghulu pun menikahkan Arkan dan Nilam.


"Saya nikahkan Arkan Mahendra..."


"Hentikan...!" suara anak kecil menghentikan ucapan penghulu.


Semua orang yang ada di dalam acara pernikahan itu, menatap anak kecil berbaju putih yang ada di tengah-tengah para tamu.


"Papa jangan nikah lagi. Papa nggak kasihan sama aku dan Mama," ucap Rafa di depan semua orang.


Semua orang saling menatap. Mereka terkejut saat melihat kehadiran Rafa ditengah-tengah mereka. Pak Mahendra juga sama terkejutnya saat melihat anak kecil itu.


Arkan menatap Rafa.


Anak itu lagi, kenapa dia bisa datang di acara pernikahanku, batin Arkan.


"Siapa itu, anaknya Arkan. Apa Arkan sudah pernah menikah sebelumnya."


"Anak itu mirip banget dengan Arkan. Jangan-jangan benar kalau Arkan sudah pernah menikah dan punya anak."


"Ckckck...nggak nyangka ya, Arkan itu udah punya anak. Saya fikir, dia itu masih perjaka."


"Tapi kapan Arkan nikah? dan kapan Arkan punya anak."


"Mungkin selama ini, Arkan menyembunyikan status anak itu dari kita semua."


Arkan bangkit dari duduknya.


"Hei anak kecil, ngapain kamu ke sini. Sudah saya bilang, kalau saya bukan ayah kamu. Saya saja tidak kenal ibu kamu. Jangan ngaku-ngaku kamu jadi anak saya,'" ucap Arkan dengan nada tinggi.


Yang membuat semua orang heran sekaligus bingung.


Nilam ikut bangkit dari duduknya.


"Mas Arkan, kenapa anak kecil itu bisa ada di sini. Gimana kalau semua orang percaya kalau itu anak kamu," bisik Nilam.


Pak Mahendra menatap anak itu lekat. Dia kemudian mendekat ke arah anak kecil itu.


Tiba-tiba saja,


jepret jepret jepret..


Para wartawan memotret anak itu. Karena kebetulan Arkan juga mengundang wartawan dalam acara pernikahannya.


Tiba-tiba saja wartawan itu, berkerumun di depan Rafa dan Pak Mahendra.


"Benarkah kalau kamu anaknya Arkan Mahendra dek?" tanya wartawan.


"Siapa ibu kamu?"


"Di mana kamu dan ibu kamu tinggal?"

__ADS_1


Beberapa pertanyaan dari para wartawan membuat Rafa bingung untuk menjawabnya.


Wartawan kemudian menanyakan kepada Pak Mahendra tentang anak kecil itu.


"Pak Mahendra. Benarkah dia anaknya Arkan?"'


"Apakah Arkan pernah menikah sebelumnya?"


Pak Mahendra juga bingung mau menjawab apa.


"Tolong jangan seperti ini. Bisa kalian bubar, dan tanyakan ini nanti," ucap Pak Mahendra.


Di sisi lain, Arumi masih berada di dapur bersama Bu Ella.


"Arumi, mana anak kamu?" tanya Bu Ella.


Arumi menatap ke sekeliling.


"Ya ampun Rafa. Kemana ya dia."


Arumi kemudian mencari Rafa. Arumi terkejut saat melihat Rafa sudah dikerumuni wartawan.


"Ya ampun Rafa. Kenapa dia bisa ada di tengah-tengah wartawan. Apa yang sudah anak aku lakukan,"


Arumi buru-buru mendekat ke arah anaknya.


"Mama..." ucap Rafa.


Semua orang menatap ke arah Arumi. Seorang wanita berambut pendek dan berkaca mata yang mengenakan baju pelayan.


Ya, sebelum masuk ke dalam pesta itu, Arumi sempat menyamar dengan memakai rambut palsu dan memakai kaca mata. Dia berharap kalau tidak akan ada orang yang mengenalinya.


"Ini anak saya, maafkan anak saya, sudah mengacaukan semuanya," ucap Arumi.


Arumi buru-buru membawa Rafa pergi dari kerumunan para wartawan itu.


"Tunggu...!" Pak Mahendra menghentikan langkah Arumi.


Arumi dan Rafa menghentikan langkahnya.


"Kamu siapa? saya seperti mengenalimu."


Arumi memutar tubuhnya dan menatap Pak Mahendra.


"Arumi," ucap Pak Mahendra. Tampaknya dia tidak pangling dengan penyamaran Arumi.


"Arumi, dia anak mu?" tanya Pak Mahendra.


Arumi mengangguk.


"Iya. Dia anak aku. anaknya Tuan muda juga. Dia Rafa cucu anda Tuan besar." Akhirnya Arumi pun membongkar semua rahasia yang selama ini dia tutupi dari orang-orang.


Pak Mahendra terkejut saat mendengar ucapan Arumi.


"Apa!"


Arumi membuka kaca matanya. Dia kemudian membuka rambut palsunya dan membiarkan rambut panjangnya itu terurai.

__ADS_1


Semua orang membelalakkan matanya saat melihat Arumi. Sementara Bu Hesti jatuh pingsan saat melihat kehadiran Arumi bersama anak kecil yang dibawanya.


__ADS_2