
Arumi kembali duduk. Dia mencoba untuk menenangkan hatinya. Dia harus bisa sabar menghadapi para lelaki licik seperti Arkan dan Denis.
Arumi sekarang hanya sendiri. Siapa yang bisa menolongnya untuk saat ini. Kenzo, atau pun keluarganya mungkin tidak ada yang memikirkan Arumi.
Dan keluarga Dokter Leo, mungkin saat ini sedang panik karena Arumi menghilang begitu saja. Ponsel Arumi pun Arumi tinggal di mobil Inez semalam. Arumi tidak bisa untuk menghubungi siapa-siapa lagi sekarang.
Aku harus gimana. Bagaimana caranya aku keluar dari tempat ini, Bagaimana jika Tuan Arkan datang lagi dan membawa aku keluar negeri. Apa yang bisa aku lakukan. Dan jika Tuan Arkan memaksa aku untuk menggugurkan bayi ini bagaimana. Tolong aku ya Tuhan... berikan hamba mu ini kekuatan untuk keluar dari masalah ini, batin Arumi.
"Arumi kamu tunggu di sini. Aku mau ambilkan kamu makan," ucap Denis.
Setelah itu Denis pun pergi meninggalkan kamar itu. Tidak lupa Denis mengunci pintunya kembali sebelum meninggalkan kamar itu.
Denis tidak mau lengah. Jika Arumi kabur dari rumah itu, bisa gawat, karena Denis tidak akan bisa mengembalikan uang Arkan yang satu milyar itu . Uang Itu sudah Denis gunakan untuk keperluannya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Denis masuk kembali ke dalam kamar Arumi. Dia sudah membawa makanan dan minuman untuk Arumi. Denis kemudian meletakkan gelas dan piring itu di atas nakas.
"Arumi makanlah. Dari semalam kamu belum makan kan?" tanya Denis.
Arumi menatap Denis tajam.
"Aku tidak mau makan," ucap Arumi.
"Kenapa Arumi?"
"Aku tidak mau makan, sebelum aku bisa keluar dari sini."
"Arumi. Aku mohon. Jangan membantah dan melawan Arumi. Karena aku tidak suka melihat kemarahan Arkan, Arkan bisa marah sama aku, kalau kamu tidak mau makan."
"Tapi aku tetap tidak mau makan. Sebelum kamu dan Tuan Arkan membebaskan ku."
"Aku tidak mau tanggung jawab jika sampai kamu sakit Arumi."
"Aku tidak perduli. Biarkan saja aku mati, dari pada aku tersiksa di sini."
Denis terkejut saat mendengar ucapan Arumi.
Gila juga ini cewek. Udah ngelantur ternyata fikirannya. Untuk apa coba Arkan menculik anak pembantunya sendiri. Apa untungnya coba untuk Arkan menculik Arumi.
"Dasar wanita keras kepala. Terserah kamu kalau nggak mau makan. Yang penting aku sudah berbaik hati mengantar makanan untuk kamu ke kamar ini. Aku tidak punya banyak waktu Arumi. Aku akan pergi ke kantor juga sekarang."
Denis kemudian buru-buru keluar dari kamar Arumi. Ya, selama ini Denis kerja namun hanya menjadi staf biasa di kantor.
Denis bukanlah anak orang kaya raya seperti Arkan. Dia hanya anak orang biasa. Dan dia bisa dekat dengan Arkan, karena waktu SMA, dia pernah duduk sebangku dengan Arkan.
***
Malam ini, Kenzo masih berada di dalam sebuah cafe. Dia masih menikmati latte nya. Sesekali dia menyeruput minumannya sembari sesekali memikirkan Arumi.
Sejak kepergian Arumi beberapa waktu yang lalu, Kenzo tidak bisa melupakan Arumi walau statusnya sekarang sudah bukan pacar lagi karena mereka sudah putus.
Dalam hatinya Kenzo masih sangat mencintai Arumi.
"Arumi, kamu di mana Arumi," ucap Kenzo di dalam kesendiriannya.
Kenzo terkejut saat tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang.
__ADS_1
Kenzo menoleh ke belakang.
"Fani," ucap Kenzo saat melihat Fani sudah berdiri dibelakangnya.
"Hai Ken, boleh aku duduk di sini? " tanya Fani.
Kenzo mengangguk.
"Boleh. Silahkan saja."
Fani kemudian menghempaskan tubuhnya dan duduk semeja dengan Kenzo.
"Kamu sendirian aja Ken?" tanya Fani.
"Iya," jawab Kenzo singkat
"Arumi belum ketemu juga ya sampai saat ini?"
Kenzo mengangguk.
"Sebenarnya Arumi itu ke mana ya Ken. Aku juga kangen sama anak itu. Sudah satu bulan dia menghilang."
"Iya. Aku juga kangen."
"Kamu masih cinta ya sama dia?" tanya Fani menatap dalam wajah Kenzo yang tampak sendu.
"Yah, begitulah Fan. Aku masih belum bisa melupakan dia. Walaupun dia sudah pergi jauh dari kehidupan aku."
Fani diam. Sebenarnya dia tidak tahu masalah yang terjadi sama Arumi. Padahal selama ini hubungan persahabatan Fani dan Arumi cukup dekat.
"Fan, kamu ke sini sama siapa?" tanya Kenzo.
"Sebenarnya aku mau nunggu teman aku. Tapi pas aku masuk ke cafe ini, dia belum datang. Eh, tadi aku lihat ada kamu di sini. Ya udah, aku samperin aja kamu di sini."
Kenzo hanya mengulas senyum.
"Oh. Kamu mau pesan apa Fan?" tanya Kenzo.
"Oh, tidak usah Ken. Nanti aja pesannya, kalau teman aku udah datang. Kalau dia nggak jadi datang ya udah, aku pulang aja."
"Udah janjian ya?"
"Iya. Udah."
Beberapa saat kemudian, seorang perempuan sepantaran Fani datang. Dia kemudian menatap ke sekeliling. Dia tersenyum saat melihat Fani. Namun dia terkejut saat melihat ada Kenzo di dekat Fani.
"Kok, Fani sama cowok sih. Apa itu cowoknya," ucap perempuan yang bernama Agnes.
Agnes kemudian melangkah menghampiri Fani dan Kenzo.
"Hai... kamu ngajak cowok kamu Fan? aku fikir kamu mau sendirian," ucap Agnes.
Fani terkejut saat melihat Agnes. Dia tersenyum dan menyuruh Agnes duduk.
"Duduk di sini aja Nes!" pinta Fani.
__ADS_1
Agnes tersenyum. Dia kemudian duduk di dekat Fani.
"Oh iya Nes. Ini bukan cowok aku. Dia Kenzo, teman sekampus aku," jelas Fani pada Agnes.
"Oh..." Agnes manggut-manggut mengerti.
"Dan ini Agnes Ken. Dia teman aku waktu SMA. Dan kami baru ketemu lagi. Soalnya Agnes itu tidak kuliah di sini ya Nes. Agnes kuliah di luar kota. Dan sekarang dia lagi main di sini," ucap Fani mengenalkan Agnes pada Kenzo.
Agnes mengangguk. "Iya betul."
"Oh. Iya ya. Kalian mau pesan apa?" tanya Kenzo.
Fani dan Agnes saling menatap.
"Nggak apa-apa. Biar aku traktir kalian," ucap Kenzo.
"Kamu yakin?" tanya Fani pada Kenzo.
"Yakinlah. Asal kalian mau temani aku ngobrol di sini."
"Tentu aku mau dong, kalau ditraktir mah," ucap Fani antusias.
"Aku juga mau. Siapa sih, yang nggak mau makan gratis. Apalagi cowok yang mau nraktir ganteng macam kamu," puji Agnes.
Kenzo hanya tersenyum mendengar pujian dari Agnes teman Fani.
Kenzo kemudian memesan makanan untuk Fani dan Agnes.
Sejak tadi Kenzo tampak sedih. Tapi mendadak kesedihannya hilang, saat ada dua perempuan yang menemaninya ngobrol dan menemaninya makan.
"Oh ya Ken. Kamu udah berusaha untuk nyari Arumi belum sih?" tanya Fani di sela-sela kunyahannya.
"Sudah. Tapi sampai sekarang aku belum menemukannya," ucap Kenzo menjelaskan.
"Arumi? Arumi siapa sih?" tanya Agnes menatap Kenzo dan Fani bersamaan.
"Arumi itu teman satu kelas aku di kampus. Kita satu jurusan. Dan dia menghilang sudah satu bulan ini. Dosen pun selalu nanyain dia. Tapi aku nggak tahu Arumi ada di mana," ucap Fani menjelaskan.
"Oh..." Agnes manggut-manggut tampak mengerti.
"Iya. Dan Arumi itu mantan pacar aku," ucap Kenzo menimpali.
"Oh. Gitu ya. Kenapa dia bisa sampai menghilang sih?" tanya Agnes.
"Dia pergi dari rumah karena ada suatu masalah," ucap Kenzo.
"Masalah apa?" tanya Agnes yang sudah mulai penasaran.
Kenzo diam. Untuk masalah yang sedang menimpa Arumi, Kenzo sama sekali tidak ingin menceritakan ke orang lain. Itu karena sama saja dia menyebar aib wanita yang dicintainya.
"Yah, masalah keluarga," ucap Kenzo datar.
"Oh. Mungkin masalahnya sangat berat ya, yang membuat dia pergi dari rumah. Kalau bukan masalah yang berat, dia tidak akan mungkin pergi meninggalkan keluarganya," lanjut Agnes.
"Yah, begitulah. Kita tidak tahu apa aja masalah yang menimpa Arumi. Arumi itu orangnya tertutup banget. Jadi aku sebagai orang yang dekat dengan dia juga nggak tahu, apa masalah Arumi saat ini," jelas Fani
__ADS_1