
Sore ini, Arumi diam-diam pergi keluar dari rumahnya. Dia berjalan menuju apotik yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.
Arumi akan membeli tes pack. Dia penasaran dengan kondisi tubuhnya saat ini. Bisa saja, kejadian satu malam itu membuat Arumi hamil.
Sesampainya di depan apotik, Arumi menghentikan langkahnya. Dia menatap apotik itu lekat. Dia tampak ragu untuk masuk ke dalam apotik itu.
"Aku harus beli testpack. Untuk memastikan kalau aku hamil atau tidak," ucap Arumi.
Arumi kemudian berjalan masuk ke dalam apotik. Dia menghampiri seorang pelayan yang ada di apotek itu.
"Maaf Mbak, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan pada Arumi.
"Tes pack," ucap Arumi.
"Tes pack? Mbak mau beli testpack?" tanya pelayan itu.
Arumi mengangguk. "Iya."
Sebenarnya dia malu untuk membeli alat itu. Karena dia itu belum punya suami. Apa kata teman-teman Arumi nanti, kalau mereka tahu Arumi membeli testpack. Bisa-bisa mereka curiga kalau Arumi pernah berbuat mesum. Bagaimana kalau mereka menuduh Kenzo yang menghamili Arumi. Untung saja Mbak pelayan tidak mengenali Arumi. Jadi dia tidak banyak bertanya macam-macam.
"Ini Mbak." Pelayan itu menyodorkan alat pipih itu pada Arumi.
Arumi mengambil tes pack itu.
"Di situ udah ada petunjuk cara pakainya. Semoga hasilnya positif ya Mbak," ucap Mbak pelayan itu.
Sepertinya Mbak pelayan tidak curiga kalau Arumi hamil di luar nikah. Karena dia mikirnya, Arumi itu sudah menikah.
Arumi tersenyum. "Iya Mbak."
Arumi kemudian menyodorkan uang pada pelayan itu. Beberapa saat kemudian, Mbak pelayan memberikan kembaliannya pada Arumi.
"Ini Mbak, kembaliannya."
"Makasih ya Mbak."
"Iya. Sama-sama."
Setelah membeli tes pack, Arumi pergi meninggalkan apotik itu. Dia berjalan kembali untuk pulang ke rumahnya.
Sesampainya di gerbang rumah Pak Mahendra, Arumi berjalan masuk ke halaman depan rumah majikannya.
Tin tin tin...
Klakson mobil sudah terdengar dibelakang Arumi. Arumi menoleh ke belakang dan memberikan jalan untuk mobil itu masuk. Mobil itu melaju dan berhenti setelah berada di dekat Arumi.
Arkan membuka kaca mobilnya. Setelah itu dia menatap tajam ke arah Arumi.
"Kamu tuli ya? nggak dengar klakson mobilku? kamu sengaja menghalangi mobil aku masuk dengan berjalan di depan mobilku?" ucap Arkan dengan nada tinggi.
__ADS_1
Arumi diam, saat mendapat tatapan tajam dan ucapan menyakitkan dari sang Tuan muda.
"Maaf Tuan muda. Aku nggak bermaksud menghalangi Tuan muda. Kalau Tuan muda mau masuk, silahkan saja."
"Dasar, gadis bodoh. Gadis kampung! selalu saja buat aku kesal," gerutu Arkan.
Arkan kemudian melajukan mobilnya sampai ke garasi rumahnya.
"Kenapa sih Tuan Arkan. Dia kok jadi berubah banget sikapnya ke aku. Biasanya dia juga nggak galak banget seperti itu. Apa jangan-jangan karena peristiwa malam itu yang sudah membuatnya berubah Ih, menyebalkan banget sih. Dia yang salah, kenapa aku yang selalu disalahkan."
Arumi masih bengong di dekat gerbang. Dia masih menatap mobil hitam milik Arkan yang terparkir di garasi rumah Pak Mahendra.
Beberapa saat kemudian, teriakan Arkan terdengar sampai membuyarkan lamunan Arumi.
"Arumi...! Arumi...!"
Arumi yang di panggil buru-buru menghampiri Arkan.
"Iya Tuan. Ada apa?" tanya Arumi.
"Di mana semua orang? kenapa sepi sekali. Aku pulang, nggak ada satu pun orang yang menyambutku. Apa mereka semua sudah bosan kerja? apa mereka mau saya laporkan ke Papa agar mereka semua di pecat dari kerjaannya."
"Tuan, kalau jam segini, biasanya para Mbak itu lagi pada di atas. Mereka lagi nyapu ngepel. Makanya mereka nggak dengar Tuan Arkan pulang," ucap Arumi menjelaskan.
Namun entah Arkan mau percaya atau tidak dengan ucapan Arumi.
"Kamu dari mana?" tanya Arkan.
"Ini, bawain tas aku. Sekalian bawain jas aku."
Arkan menyodorkan tas dan jasnya di depan Arumi. Arumi mengambil tas dan jas Arkan dari tangan Arkan.
Pluk.
Arumi terkejut saat melihat tes pack nya jatuh. Sebelum Arkan melihat, Arumi buru-buru mengambilnya.
Arkan menoleh ke arah Arumi.
"Apa tadi yang jatuh?" tanya Arkan menatap Arumi penuh selidik.
Arumi tampak gugup.
"Em... nggak ada yang jatuh Tuan."
"Tapi tadi aku dengar kalau ada yang jatuh. Coba sini tas aku. Siapa tahu barang-barang aku ada yang jatuh"
Arkan mengambil tasnya dengan paksa. Setelah itu dia mengecek kembali ke dalam tas. Ternyata barang-barangnya masih lengkap.
"Ya udah ini. Bawa sampai ke kamar aku "
__ADS_1
"I-iya Tuan."
Arkan masuk ke dalam rumahnya di ikuti Arumi yang mengekor di belakang Arkan.
Arkan naik ke lantai atas. Begitu juga Arumi yang ikut naik ke lantai atas. Sesampainya di depan kamar, Arkan membuka pintu kamarnya. Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya. Sementara Arumi masih berdiri di depan pintu.
Arkan menoleh ke arah pintu.
"Kenapa kamu malah berdiri di situ? sini tas aku dan jas aku."
"Iya Tuan."
Arumi kemudian masuk ke dalam kamar Arkan.
"Mau di taruh di mana Tuan?"
"Taruh di atas meja saja. Dan sekarang kamu boleh pergi."
"Baik Tuan."
Arumi melangkah keluar dari kamar Arkan. Dia kemudian turun ke lantai bawah dan berjalan untuk ke paviliun, rumah kecil yang ada di belakang rumah Pak Mahendra.
Setelah sampai di depan rumahnya, Arumi masuk ke dalam rumahnya. Seperti biasa, rumah kecil itu selalu tampak sepi jika di siang hari.
Rumah itu, hanya untuk peristirahatan Arumi dan keluarganya saja di malam hari. Karena setiap hari, ayah dan ibu Arumi kerja, Mbak Lira juga kerja dan sering pulang malam. Sementara Arumi, dia juga sibuk kuliah.
Arumi menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Dia mengambil tes pack yang ada di saku bajunya.
Dia menatap tes pack itu.
"Aku pakai sekarang aja kali ya, mumpung nggak ada orang di rumah. Kalau aku pakai nanti malam, ibu, bapak dan Mbak Lira pasti curiga. Besok pagi juga mereka ada di rumah dan aku harus kuliah."
Arumi bangkit dari duduknya. Dia akhirnya memilih memakai tespacknya sekarang.
Arumi masuk ke dalam kamar mandi. Dia kemudian memakai testpack itu sesuai arahan.
Beberapa saat kemudian,
Deg,
Arumi terkejut, saat melihat garis dua terpampang dengan jelas di dalam tes pack itu.
Arumi melebarkan matanya. Sesekali dia mengucek matanya. Dia takut kalau dia cuma salah lihat saja.
Dan ternyata Arumi tidak salah lihat. Memang benar kalau garis dua itu terlihat jelas di dalam tas pack itu.
Arumi menutup mulutnya tidak percaya. Arumi harap, kalau hasil tes pack itu salah.
"Nggak mungkin. Nggak mungkin aku hamil. Kan aku melakukan itu cuma satu malam saja dengan Tuan Arkan. Jadi, bagaimana mungkin aku hamil."
__ADS_1
"