Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Kekecewaan


__ADS_3

"Baiklah Tan kalau begitu, aku mau pamit pulang dulu," ucap Arkan.


Setelah berpamitan pada Bu Hana, Arkan kemudian berjalan keluar dari rumah Bu Hana.


Dia berjalan ke arah mobilnya yang dia parkirkan di halaman depan rumah Bu Hana. Arkan kemudian masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu Arkan pun meluncur pergi meninggalkan rumah Nilam.


Sesampainya di depan kantor, Arkan memarkirkan mobilnya dan turun dari mobilnya. Setelah itu dia pun masuk ke dalam kantornya.


"Selamat pagi Pak Arkan," sapa salah satu karyawan Arkan.


Arkan yang di sapa hanya diam. Dia tidak menyapa balik orang kantornya. Sepertinya sikap Nilam sudah mengacaukan suasana hati Arkan pagi ini.


Arkan berjalan sampai ke ruangannya. Setelah itu Arkan menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesarannya.


Arkan mengurut keningnya.


"Nilam, aku nggak bisa melupakan kamu. Apa yang harus aku lakukan Nilam, agar hubungan kita seperti dulu lagi."


Beberapa saat kemudian, suara ketukan sudah terdengar dari luar ruangan Arkan.


Tok tok tok...


"Masuk...!" seru Arkan.


Seorang lelaki masuk ke dalam ruangan Arkan sembari membawa berkas-berkas penting yang perlu Arkan tanda tangani.


"Permisi Pak Arkan, ada berkas-berkas yang perlu anda tanda tangani," ucap Pak Hadi.


Pak Hadi kemudian memberikan berkas-berkas itu pada Arkan.


Arkan kemudian menandatangani berkas-berkas itu.


"Pak Arkan, sebentar lagi meeting akan segera di mulai."


"Iya. Saya akan segera ke sana."


"Baik kalau begitu. Saya permisi dulu Pak Arkan."


"Ya, silahkan."


Pak Hadi kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan Arkan


****


Sore ini, Bu Erina masih berada di dalam taksi. Setelah acara pernikahan Arkan dengan Arumi beberapa waktu yang lalu, Bu Erina pergi keluar negeri.


Dan sekarang dia sudah kembali ke Indonesia. Saat ini dia akan ke rumah Arkan untuk bertemu Arkan dan melihat bagaimana kondisi anaknya setelah acara pernikahan Arkan dengan Nilam itu hancur.


Sesampainya di depan rumah Pak Mahendra, Bu Erina turun dari taksi. Setelah membayarnya ongkos taksi, Bu Erina masuk ke dalam halaman depan rumah Arkan.


Sesampainya dia di depan pintu utama, Bu Erina mengetuk pintu rumah itu.


Tok tok tok...


Beberapa saat kemudian, Arumi membuka pintu rumah itu.


"Nyonya Erina," ucap Arumi.


Bu Erina menatap tajam ke arah Arumi. Sepertinya dia tidak suka saat melihat Arumi. Menurutnya, Arumi itu sudah menghancurkan kebahagiaan anaknya dengan datang dan menghancurkan acara penting anaknya.


"Mana Arkan?" tanya Bu Erina.

__ADS_1


"Tuan Arkan nggak ada di rumah Nya. Dia masih di kantor," jawab Arumi.


"Mana Pak Mahendra?" tanya Bu Erina lagi.


"Kalau dia ada di dalam Nya."


"Tolong panggilkan Pak Mahendra!" pinta Bu Erina.


Arumi mengangguk."Baik Nya."


Arumi kemudian berjalan masuk ke dalam untuk memanggil Pak Mahendra yang saat ini masih berada di dalam kamarnya.


Sesampainya di depan kamar Pak Mahendra, Arumi menghentikan langkahnya. Dia kemudian mengetuk pintu kamar ayah mertuanya.


Tok tok tok ..


Beberapa saat kemudian, Pak Mahendra keluar dari kamar itu. Dia kemudian menatap Arumi lekat.


"Arumi. Ada apa?" tanya Pak Mahendra.


"Pa, ada Nyonya Erina di depan," ucap Arumi.


"Erina? mau ngapain dia ke sini?"


"Saya juga nggak tahu Pa. Tapi tadi dia nanyain Mas Arkan."


"Ya udah, saya akan temui dia."


Pak Mahendra kemudian berjalan ke arah ruang tamu untuk bertemu dengan Bu Erina mantan istrinya.


"Mama, ada apa?" tanya Pak Mahendra setelah sampai di dekat Bu Erina.


"Sebenarnya saya ke sini ingin ketemu Arkan. Tapi katanya Arkan masih ada di kantor."


Bu Erina mengangguk. Setelah Pak Mahendra mempersilahkannya masuk, Bu Erina kemudian masuk ke dalam rumah Pak Mahendra.


"Silahkan duduk Ma!" pinta Bu Erina.


"Iya Pa."


Bu Erina kemudian duduk di sofa ruang tamu. Begitu juga dengan Pak Mahendra. Dia juga ikut duduk di dekat Bu Erina.


"Pa, bagaimana pernikahan Arkan dengan Arumi?" tanya Bu Erina.


"Pernikahan mereka baik-baik saja. Ada apa sih Ma? datang-datang kok sudah nanyain soal itu?"


"Nggak. Aku cuma dengar kabar, Nilam katanya melakukan percobaan bunuh diri. Benarkah itu?" tanya Bu Erina.


"Katanya sih begitu. Tapi aku belum jengukin Nilam."


"Pa, ini semua karena kamu tahu nggak. Kamu yang sudah menyebabkan Nilam depresi," ucap Bu Erina tiba-tiba.


Pak Mahendra terkejut saat mendengar ucapan istrinya yang tiba-tiba menyalakannya.


"Kok kamu malah nyalahin aku. Apa salah aku?" tanya Pak Mahendra tidak mengerti.


"Pa, kalau kamu tidak memaksa Arkan untuk menikah dengan Arumi, kejadian seperti ini tidak akan terjadi," ucap Bu Erina menjelaskan.


"Tapi ini bukan sepenuhnya kesalahan aku Erina. Apa kamu nggak lihat, Nilam pergi meninggalkan acara pernikahannya dan menggagalkan pernikahannya dengan Arkan, sebelum aku meminta Arkan untuk menikahi Arumi. Siapa coba yang salah. Aku atau Nilam."


"Tapi kamu tetap saja sudah menghancurkan kebahagiaan anak kita. Arkan itu tidak cinta dengan Arumi Pa. Tapi kenapa kamu malah memaksa dia untuk menikah dengan Arumi. Arkan itu cuma cinta sama Nilam. Kamu itu egois tahu nggak."

__ADS_1


"Kenapa kamu datang-datang dan menyalahkan aku Erina. Aku kan cuma minta Arkan untuk bertanggung jawab itu aja. Dan di antara Arkan dan Arumi ada Rafa. Rafa itu cucu kita, darah daging Arkan."


"Tapi aku nggak percaya soal itu. Bisa saja si Arumi, waktu itu cuma ngarang cerita. Karena dia punya dendam dengan Arkan dan dia ingin menghancurkan keluarga kita."


"Erina, kamu sudah terlalu ikut campur dengan kehidupan Arkan. Mulai sekarang, kamu tidak usah ikut campur dengan kehidupan Arkan. Biarkan Arkan bahagia dengan Arumi dan Rafa," ucap Pak Mahendra. Dia sudah cukup kesal berdebat dengan Erina mantan istrinya.


"Pa, Arkan itu tidak akan mungkin bahagia dengan pernikahannya. Karena mama yakin, cuma Nilam kebahagiaan Arkan," Bu Erina masih tidak mau dikalahkan.


"Mama salah, Papa yakin. Kalau suatu saat nanti, Arumi dan Arkan akan saling mencintai. Dan Arkan pasti akan melupakan Nilam."


Di sela-sela Pak Mahendra dan Bu Erina ngobrol, tiba-tiba saja deru mobil dari luar rumah terdengar.


Arkan turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumahnya. Dia terkejut saat melihat ibunya.


"Mama, mama kok bisa ada di sini. Katanya mama lagi ke luar negeri," ucap Arkan.


Arkan kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Setelah itu dia mencium punggung tangan Bu Erina.


Pak Mahendra menatap Erina dan Arkan bergantian


"Itu Arkan sudah pulang. Silahkan mama bisa bicara dengan Arkan, aku ke dalam dulu," ucap Pak Mahendra.


Pak Mahendra tampak lelah saat bicara dengan Bu Erina. Bu Erina tidak pernah mau kalah dalam bicara. Fikiran mereka juga tidak pernah sejalan.


Pak Mahendra bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah masuk ke dalam.


"Mama pulang kapan?" tanya Arkan.


"Tadi pagi Arkan," Hasan Bu Erina singkat.


"Tadi pagi?"


"Iya. Dan mama ke sini, karena mama dengar kabar, kalau Nilam katanya mau melakukan percobaan bunuh diri. Benarkah begitu Arkan?"


"Iya Ma benar itu."


"Terus bagaimana kondisi Nilam sekarang?"tanya Bu Erina.


"Nilam udah sehat kok Ma. Dia cuma tiga hari aja ada di rumah sakit. "


"Kamu udah jengukin dia?"


"Udah Ma. Tapi Nilam nggak mau ketemu aku. Dia juga nggak mau bicara lagi sama aku. Katanya, aku sudah punya istri dan Nilam tidak mau ganggu rumah tangga aku."


"Tapi kamu dan Arumi kan nggak saling cinta. Kamu itu cintanya sama Nilam. Apa kamu akan bahagia hidup berumah tangga dengan wanita yang nggak kamu cintai. Apalagi dia anaknya Bik Hesti. Anak pembantu. Sebenarnya mama nggak setuju kamu menikah dengan Arumi. Tapi Papa kamu maksa untuk kamu nikah dengan Arumi," ucap Bu Erina panjang lebar.


"Entahlah Ma. Aku juga bingung Ma. Aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Nilam juga sepertinya sudah sangat kecewa padaku," ucap Arkan tampak sedih.


"Arkan, kalau kamu nggak bahagia dengan rumah tangga kamu yang sekarang, masih ada cara untuk kamu bahagia."


"Maksud Mama?" tanya Arkan tidak mengerti.


"Maksud Mama, Kalau kamu merasa nggak bahagia dan nggak cocok dengan Arumi, kamu cerai saja dengan Arumi. Dan kamu kejar cinta Nilam lagi."


Arkan diam dan tampak berfikir.


"Apa aku harus melakukan itu? tapi bagaimana dengan Papa."


"Papa. Untuk apa kamu ngurusin Papa. Papa kamu itu egois. Dia tidak pernah mau mementingkan perasaan kamu. Dia cuma mementingkan dirinya sendiri saja. Makanya mama malas sama Papa kamu."


Arkan menghela nafas dalam.

__ADS_1


"Entahlah. Aku nggak tahu akan sampai kapan bertahan dengan Arumi."


****


__ADS_2