Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Tertuduh


__ADS_3

Kenzo keluar dari kamar ibunya. Setelah itu dia berjalan untuk ke ruang tamu menemui Lira.


Lira menatap Kenzo lekat. Setelah itu dia berdiri dan berjalan mendekati Kenzo.


"Ken, aku mau minta maaf ya, soal tadi. Aku mau pamit pergi dulu," ucap Lira.


"Lho, kok pergi. Aku mau bicara sama Mbak. Aku mau menjelaskan hubungan aku sama Arumi yang sebenarnya sama Mbak," ucap Kenzo.


"Maaf Ken, aku nggak ada watu lagi. Aku mau ke kantor. Udah siang, bos aku sudah nungguin sejak tadi," ucap Lira.


Setelah berpamitan pada Kenzo, Lira kemudian buru-buru pergi meninggalkan rumah Kenzo.


Dia kembali ke taksinya dan meluncur pergi meninggalkan rumah Kenzo.


Setelah Lira pergi, Kenzo menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Dia kemudian mengurut keningnya.


"Ya Tuhan, masalah apa lagi ini. Kenapa tiba-tiba kakaknya Arumi datang dan menuduh aku sembarangan. Aku saja tidak pernah melakukan apapun pada Arumi. Kenapa bisa, wanita itu menuduh aku menghamili Arumi."


Kenzo masih tampak berfikir keras.


Arumi sekarang lagi hamil. Dan aku sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Kalau begitu, siapa lelaki yang sudah menghamilinya. Apa jangan-jangan, Arumi mutusin aku gara-gara masalah ini.


"Ken...Kenzo.." suara Bu Rindi sudah terdengar dari dalam kamar.


Kenzo buru-buru bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar ibunya untuk melihat ibunya di dalam kamar. Kenzo tersenyum saat melihat ibunya sudah sadar.


"Mama, udah bangun Ma," ucap Kenzo. Dia kemudian duduk di sisi ranjang ibunya.


Bu Rindi menatap ke sekeliling.


"Di mana wanita tadi Ken?" tanya Bu Rindi.


"Dia udah pergi Ma. Dia mau ke kantor katanya."


Bu Rindi menghela nafas dalam.


"Ken, apa betul kamu sudah menghamili adik wanita itu?"


Kenzo menggeleng dengan cepat.


"Nggak Ma. Mama jangan percaya dengan wanita itu."


"Tapi Ken, tadi mama dengar, kalau dia datang ke sini karena dia mau minta pertanggungjawaban kamu."


Kenzo diam. Dia tampak bingung untuk menjelaskan pada ibunya.

__ADS_1


Gimana ya, cara jelasinnya ke mama.


"Ma, aku memang punya hubungan sama adik wanita itu. Tapi aku nggak menghamilinya Ma. Dan aku juga nggak tahu, bagaimana gadis itu bisa hamil. Mungkin saja, dia hamil anak lelaki lain."


"Ken, jangan seperti itu Ken. Kalau kamu memang sudah berbuat salah, bertanggung jawablah Ken. Kasihan gadis itu. Akui saja semua perbuatan kamu. Dan bertanggung jawablah. Jika keluarga gadis itu meminta kamu untuk menikahi gadis itu, nikahi lah Ken."


Gila, apa mama sudah percaya dengan wanita itu. Kenapa mama malah percaya sama kakaknya Arumi dari pada sama aku, batin Kenzo.


"Tapi aku nggak pernah menghamili gadis itu Ma. Ini cuma salah paham."


"Salah paham?"


"Iya Ma. Dan Kenzo nggak mungkin bertanggung jawab dengan sesuatu yang tidak pernah Kenzo lakukan."


Bu Rindi tampak berfikir. Selama ini, Bu Rindi tahu kalau Kenzo anaknya itu adalah anak yang baik. Dia sayang sama ibunya dan dia adalah anak yang jujur.


Mungkin saja, Kenzo itu jujur. Aku harus percaya pada anakku. Tapi, bagaimana kalau wanita itu datang ke sini lagi dan meminta pertanggungjawaban lagi untuk adiknya," batin Bu Rindi.


Kenzo meraih tangan ibunya. Setelah itu dia menggenggamnya erat.


"Ma, jangan fikirkan macam-macam Ma. Mama harus percaya sama Ken, kalau Ken nggak pernah berbuat sehina itu. Ken itu akan selalu menjaga nama baik keluarga kita Ma. Apalagi Ken sudah janji sama almarhum Papa. Kalau Ken akan selalu bahagiain mama."


Bu Rindi mengangguk.


"Iya. Mama percaya sama kamu Ken."


***


Sore ini, Arumi masih berada di dalam kamarnya. Dia tidak berani keluar dari kamarnya. Sejak tadi pagi, Arumi mengurung dirinya di dalam kamar.


Arumi tidak tahu apa yang akan dia lakukan sekarang. Arumi fikir, Arumi bisa menyembunyikan kehamilannya itu sampai beberapa waktu yang lama. Namun ternyata, kakaknya sudah keburu menemukan tespack itu.


"Mbak Lira dan ibu sudah tahu kalau aku hamil. Terus bagaimana kalau bapak dan Tuan Mahendra tahu juga dengan kehamilan ini. Apa yang akan mereka lakukan padaku." Arumi sejak tadi masih tampak resah memikirkan nasibnya.


Beberapa saat kemudian, pintu kamar Arumi terbuka. Arumi yang masih berbaring, buru-buru memejamkan matanya dan pura-pura tidur.


Bu Hesti masuk ke dalam kamar dan membawakan Arumi makanan. Sejak tadi pagi, Arumi belum keluar kamar dan tidak mau makan.


"Arumi," ucap Bu Hesti yang melihat Arumi terlelap.


Bu Hesti meletakan makanan itu di atas nakas. Setelah itu dia duduk di sisi tempat tidur Arumi.


"Arumi, kamu harus makan Arumi," ucap Bu Hesti.


Arumi diam. Dia masih pura-pura tidur.

__ADS_1


"Kasihan anak yang ada di dalam kandungan kamu kalau kamu nggak makan," lanjut Bu Hesti.


Bu Hesti mencoba untuk membangunkan Arumi dan membujuk Arumi agar dia mau makan.


"Ibu nggak akan maksa kamu lagi untuk cerita, jika kamu belum siap cerita. Tapi kamu harus makan. Jangan siksa diri kamu dan calon anak kamu seperti ini Arumi."


Beberapa saat kemudian, Arumi membuka matanya. Dia beringsut duduk dan menatap ibunya yang sudah duduk di dekatnya.


"Ibu. Apa bapak udah tahu dengan masalah ini?" tanya Arumi.


"Belum Nak."


"Terus, Kak Lira, apa dia sudah pulang kerja?"


"Belum. Dia belum pulang."


Arumi menatap makanan yang ada di atas nakas.


"Bu, aku lagi nggak enak makan."


"Ibu tahu. Tapi kamu harus paksa makan Arumi. Ibu udah bawain kamu nasi, lauk, susu dan buah."


"Ibu baik banget sama aku Bu. Padahal aku sudah membuat ibu kecewa. Aku sudah membuat aib di keluarga kita."


Bu Hesti tersenyum.


"Tidak ada seorang ibu pun di dunia ini yang kejam pada anaknya. Sejahat apapun anaknya, tidak akan ada seorang ibu yang akan membenci anaknya. Ibu sayang sama kamu Arumi. Makanya kamu harus makan ya."


Arumi tersenyum. "Iya Bu. Makasih ya."


Beberapa saat kemudian, suara dari luar rumah terdengar. Sepulang kerja, Lira masuk begitu saja ke dalam rumah. Dia kemudian masuk ke dalam kamar adiknya.


"Arumi lagi makan," ucap Lira.


Lira kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kursi dan menatap Arumi lekat.


"Dari tadi pagi, Arumi belum makan Lir. Makanya ibu antarin dia makanan ke kamarnya. Biar dia makan."


Lira menghela nafas dalam. Dia kemudian menatap Arumi lekat.


"Kamu tenang saja Arumi. Mbak sudah nyemperin Kenzo. Mbak yakin setelah ini, Kenzo pasti akan tanggung jawab dengan kehamilan kamu itu."


Uhuk uhuk uhuk...


Arumi tersedak makanannya sendiri saat mendengar ucapan kakaknya. Bu Hesti langsung mengambilkan gelas dan menyodorkannya pada Arumi.

__ADS_1


"Hati-hati Arumi kalau makan. Jangan cepat-cepat makannya, ini minum dulu." ucap Bu Hesti


Arumi langsung menegak air putih sampai habis setengah gelas.


__ADS_2