Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Di usir


__ADS_3

Arumi langsung menegak air putih sampai habis setengah gelas.


Arumi kemudian mengalihkan pandangannya pada kakaknya.


"Mbak ke rumahnya Kenzo?" tanya Arumi.


Lira mengangguk. "Iya Arumi."


"Apa yang Mbak lakukan?" tanya Arumi lagi.


"Ya aku nyuruh dia untuk tanggung jawab dong. Kan dia yang menghamili kamu "


"Siapa yang bilang seperti itu Mbak?"


"Kan dia pacar kamu,"


"Tapi Mbak udah salah orang Mbak."


"Apa! salah orang?"


Arumi semakin dilema. Dia tidak tahu apa yang akan dia katakan pada kakak dan ibunya sekarang.


Tapi Arumi akan tetap merahasiakan siapa ayah bayinya karena dia takut dengan Arkan. Entah kapan Arumi mempunyai keberanian untuk mengatakan kejujuran itu pada orang tuanya.


*****


Arumi masih mengaduk-aduk minumannya. Saat ini dia masih berada di kantin kampusnya.


"Arumi, boleh aku duduk di sini?" tanya Kenzo yang sudah berdiri dibelakang Arumi.


Arumi menoleh ke belakang dimana Kenzo berdiri. Arumi terkejut saat melihat Kenzo.


Aku yakin, kalau Kenzo sekarang sudah tahu semuanya tentang kehamilan aku. Kenapa sih, Mbak Lira itu bodoh banget, kenapa dia bisa nuduh Kenzo yang menghamili aku. batin Arumi.


"Ken," ucap Arumi. Dia bangkit dari duduknya dan menatap Kenzo lekat.


"Duduklah Arumi. Kenapa terkejut begitu saat melihat aku," tanya Kenzo.


Arumi mengangguk. Dia kemudian duduk begitu juga dengan Kenzo yang mengikuti Arumi duduk.


"Aku ke sini mau bicara sesuatu sama kamu Arumi," ucap Kenzo.


"Bicara soal apa?" tanya Arumi.


"Arumi, kemarin..." ucap Kenzo menggantungkan ucapannya.


"Aku tahu, kakak aku ke rumah kamu kan?"

__ADS_1


"Iya Arumi. Aku udah tahu semuanya sekarang. Apa itu, yang membuat kamu mutusin aku?" tanya Kenzo.


Arumi diam. Dia menghela nafas dalam.


"Yah, begitulah Ken. Aku bukan wanita yang pantas buat kamu. Aku sudah hamil di luar nikah."


"Jadi, selama dua tahun kita pacaran, kamu udah selingkuh dengan lelaki lain?" tanya Kenzo datar.


Sebenarnya hati Kenzo itu sangat hancur, apalagi saat mengetahui Arumi hamil. Tapi, Kenzo masih bisa bersikap tenang , seolah-olah tidak ada apa-apa di antara mereka.


"Selingkuh? nggak Ken, aku nggak pernah selingkuh. Karena aku...aku cuma cinta sama kamu."


"Terus, bagaimana kamu bisa hamil. Kamu pasti punya hubungan dengan lelaki lain kan?"


"Ini semua cuma kecelakaan Ken. Aku juga nggak pernah menginginkan hal ini terjadi."


"Kecelakaan? siapa sebenarnya ayah dari bayi yang kamu kandung?"


"Maaf Ken, aku nggak bisa mengatakannya. Terlalu berbahaya jika aku mengatakan hal ini pada orang lain."


"Maksudnya?"


"Sudahlah Ken, jangan pernah kamu temui aku lagi. Kita sudah putus Ken. Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Mendingan sekarang kamu lupakan aku Ken. Dan aku mohon, jangan pernah kamu ikut campur dengan urusan aku," ucap Arumi.


Arumi kemudian melangkah pergi meninggalkan Kenzo begitu saja. Sementara Kenzo hanya diam sembari menatap kepergian Arumi. Sebenarnya Kenzo masih cinta sama Arumi. Namun dia juga tidak mungkin menjalin hubungan dengan wanita yang sudah hamil anak pria lain.


***


Pak Tama begitu sangat marah pada Arumi. Pak Tama sudah menatap nanar Arumi. Hampir saja tangan Pak Tama melayang ke pipi Arumi.


"Pak hentikan Pak. Jangan pukul anak kita," ucap Bu Hesti yang sudah mencekal tangan suaminya.


"Lepaskan bapak Bu. Bapak mau beri pelajaran anak yang kurang ajar ini. Sudah berapa kali bapak bilang, kalau dia tidak boleh pacaran. Tapi dia masih saja ngeyel. Jadi seperti ini kan akibatnya. Hamil di luar nikah...!"


Arumi hanya bisa menangis menerima kemarahan ayahnya. Pak Tama adalah lelaki yang sangat menjunjung sekali martabat dan harga dirinya. Dia tidak mungkin membiarkan Arumi mempermalukan keluarganya dengan aibnya yang hamil tanpa seorang suami.


"Bapak benar-benar kecewa sama kamu Arumi. Sebelum Tuan Mahendra tahu tentang ini, bapak minta kamu pergi dari rumah ini Arumi...! pergi...!" ucap Pak Tama dengan nada tinggi.


"Pak, jangan usir Arumi Pak. Kalau Arumi pergi dari sini, dia mau tinggal di mana?" ucap Bu Hesti yang sejak tadi masih membela anaknya.


"Sampai sekarang, anak ini saja tidak pernah mau mengatakan siapa ayah bayinya. Untuk apa kita pertahankan dia di sini. Suruh aja dia pergi dari sini. Dan suruh dia untuk mencari lelaki yang menghamilinya. Bapak malu, kalau sampai Pak Mahendra dan semua orang tahu kehamilan Arumi. Mau di taruh di mana wajah bapak ini Bu," ucap Pak Tama.


Pak Tama sejak tadi masih emosi. Dia tidak bisa berfikir jernih saat ini.


"Sekarang, kemasin semua barang-barang kamu dan pergi dari sini. Jangan pernah datang ke sini dengan membawa anak haram kamu itu Arumi...! karena bapak nggak sudi punya anak seperti mu dan nggak sudi menerima anak yang ada di dalam kandungan kamu sebagai cucu bapak. Mulai sekarang, anak bapak cuma Lira. Dan kamu bukan anak bapak lagi sekarang."


Deg.

__ADS_1


Arumi tersentak saat mendengar ucapan ayahnya. Begitu sangat menyakitkan untuk Arumi.


Arumi sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Mungkin benar dia itu harus pergi, agar tidak membuat malu keluarga.


Arumi menangis dan buru-buru masuk ke dalam kamarnya.


Bu Hesti tidak tinggal diam. Dia berlari untuk mengejar Arumi di kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, Arumi mengambil tasnya. Dia kemudian mendekati lemari dan mengambil semua baju-bajunya yang ada di dalam lemari.


Arumi kemudian memasukkan baju-bajunya itu ke dalam tas bajunya.


"Jangan dengarkan ucapan bapak kamu Arumi. Dia itu tadi lagi emosi. Arumi, ibu mohon Arumi. Jangan pergi tinggalin ibu," ucap Bu Hesti. Sejak tadi dia masih memohon agar Bu Hesti tidak meninggalkan Arumi.


Arumi mengusap air matanya dan menatap ibunya di sela-sela tangisannya.


"Maaf Bu, aku harus pergi. Aku nggak bisa di sini terus. Bapak udah ngusir aku dari sini. Memang sudah seharusnya aku pergi Bu. Biar aku nggak buat malu bapak dan ibu."


Setelah Arumi mengepaki semua baju-baju ke dalam tas, Arumi menatap ibunya lekat.


"Aku pergi Bu. Jaga diri ibu baik-baik ya."


Bu Hesti menggeleng. Dia kemudian menangis. Sebagai seorang ibu, dia tidak tega melihat anaknya pergi, terlebih di kota Arumi tidak punya saudara. Saudara bapak dan ibu Arumi ada di kampung semua.


Arumi akan melangkah pergi. Namun buru-buru Bu Hesti mencekal tangannya.


Bu Hesti langsung memeluk erat Arumi.


"Arumi kamu mau pergi ke mana Nak?" tanya Bu Hesti di sela-sela tangisannya.


"Aku nggak tahu Bu. Aku mau pergi ke mana. Yang penting aku mau pergi jauh dari kehidupan bapak dan ibu."


Bu Hesti melepaskan pelukannya. Dia kemudian menangkup wajah Arumi.


"Jangan pergi Nak. Ibu mohon. Ibu nggak mau sampai terjadi apa-apa sama kamu."


"Maaf Bu. Aku harus pergi. Bapak aja udah tidak mau menganggap aku anak lagi."


Arumi kemudian melepaskan tangan Bu Hesti. Setelah itu dia pergi keluar dari rumahnya.


Bu Hesti akan mengejar Arumi. Namun buru-buru Pak Tama mencekal tangannya.


"Mau ke mana Bu?"


"Aku mau ngejar anak kita Pak."


"Biarkan dia pergi. Biar dia merasakan kerasnya kehidupan di luar sana. Biar dia merasakan bagaimana rasanya jauh dari orang tua."

__ADS_1


"Tapi Pak, apa bapak tega sama anak kita. Dia lagi hamil Pak. Bagaimana kalau terjadi apa-apa sama dia."


"Biarkan saja. Biarkan saja dia pergi. Biar dia mencari lelaki yang sudah menghamilinya. Mungkin cuma itu hukuman yang pantas untuk anak yang sudah membuat malu orang tua."


__ADS_2