
Pagi ini, Arkan sudah siap untuk pergi ke kantor. Dia sudah memakai baju kantornya.
Setelah rapi, Arkan pun melangkah keluar dari kamarnya. Dia akan turun ke lantai bawah. Namun sebelum sampai tangga, ponsel Arkan berdering.
Arkan merogoh ponselnya yang ada di saku jasnya.
"Denis,"
Arkan kemudian mengangkat panggilan dari Denis sahabat sekaligus kaki tangannya yang dia suruh untuk menculik Arumi.
"Halo..."
"Halo Kan."
"Den, bagaimana Den, kamu sudah amankan Arumi? dan kamu bawa Arumi ke mana?'
"Arumi sekarang ada di rumah baruku Kan. Kalau kamu mau ketemu Arumi, kamu bisa langsung ke sini sekarang."
"Baik. Aku akan segera ke sana."
Setelah bertelponan dengan Denis, Arkan tersenyum kecil. Dia kemudian berjalan menuruni anak tangga dan berjalan menghampiri ruang makan.
"Tuan muda, udah mau berangkat?" tanya Bu Hesti.
"Iya Bik. Papa mana?"
"Dia masih di kamar Tuan. Belum keluar dari tadi."
"Oh. Begitu."
"Tuan muda mau makan?"
"Tidak. Saya mau langsung pergi aja. Nanti kalau Papa keluar, bilang Papa ya. Saya berangkat duluan karena ada urusan penting di luar kantor."
"Baik Tuan."
Setelah berpamitan pada Bu Hesti, Arkan pun kemudian melangkah pergi meninggalkan rumahnya. Dia berjalan ke arah mobil yang ada di garasi rumahnya.
"Pagi Tuan muda. Sudah mau berangkat ya?" tanya Pak Tama pada Arkan.
Arkan menoleh ke arah Pak Tama dan hanya menganggukan kepalanya tanpa berucap sepatah katapun.
Arkan buru-buru masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan rumahnya.
"Arumi, aku nggak akan pernah melepaskan kamu Arumi. Kamu harus mau gugurkan kandungan kamu. Kalau tidak, aku akan buang kamu ke luar kota bila perlu aku akan singkirkan kamu dan buang kamu sampai ke luar negeri. Agar semua orang tidak tahu kalau aku punya anak dari kamu," ucap Arkan di sela-sela menyetirnya.
Beberapa saat kemudian, mobil Arkan sudah sampai di halaman depan rumah Denis, di mana Denis menyekap Arumi.
Arkan buru-buru turun dari mobilnya dan melangkah ke teras depan rumah Denis.
__ADS_1
"Sepi amat rumah ini. Rumah ini juga banyak debunya dan kotor sekali. . Apa Denis tidak pernah merawat rumah ini selama tidak ditempati," ucap Arkan.
Tok tok tok...
Arkan mengetuk pintu rumah itu. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki membuka pintu.
"Denis mana?" tanya Arkan pada lelaki itu.
"Bos. Ada di dalam."
"Kamu mau ke mana?"
"Saya mau beli makanan untuk wanita yang ada di dalam."
"Oh. Sekalian beli buat saya. Saya juga belum sarapan."
"Baik Tuan."
Arkan kemudian melangkah masuk ke dalam rumah Denis. Sesampainya di ruang tamu, Arkan menghentikan langkahnya. Dia kemudian menatap ke sekeliling.
Rumah itu adalah rumah baru Denis yang beberapa bulan lalu baru dibeli namun belum dia tempati. Dan rencananya rumah itu akan ditempati setelah Denis menikah nanti. Rumah itu sangat kotor dan berdebu. Dan Arkan paling anti dengan yang namanya kotor.
"Ih, apa-apaan ini. Kotor banget rumah ini," ucap Arkan.
Beberapa saat kemudian Denis muncul dari belakang Arkan.
"Arkan," ucap Denis.
"Mana Arumi?" tanya Arkan.
"Dia ada di dalam kamar ini Kan."
"Boleh aku masuk?"
"Ya, silahkan saja."
Arkan kemudian buru-buru masuk ke dalam kamar di mana Arumi berada.
Arumi terkejut saat melihat Arkan
"Tuan Arkan," ucap Arumi.
Arkan menatap tajam ke arah Arumi. Sorot matanya bak mata elang yang ingin menerkam mangsanya.
Tak ada senyuman yang terukir di wajah Arkan saat ini. Dia hanya menatap benci pada gadis yang ada di hadapannya saat ini. Gadis yang bisa membuat karirnya hancur saat dia buka mulut ke publik kalau sekarang dia sedang mengandung darah daging Arkan.
"Aku nggak suka berbasa-basi Arumi. Anak siapa yang ada di rahim kamu saat ini Arumi?" tanya Arkan tiba-tiba.
Arumi terkejut saat mendengar ucapan Arkan. Dia tidak menyangka kalau akhirnya Arkan tahu juga kabar kehamilannya. Siapa lagi, kalau bukan dari Bu Hesti atau Lira. Pasti mereka sudah cerita macam-macam pada Arkan.
__ADS_1
"Anak? dari mana kamu tahu aku hamil?" tanya Arumi.
"Nggak usah banyak tanya. Kamu tidak perlu tahu dari mana aku tahu kamu hamil. Aku bawa kamu ke sini, karena aku cuma mau tanya. Anak siapa yang sedang kamu kandung saat ini?" tanya Arkan sekali lagi.
"Kalau aku sedang mengandung anak kamu, terus kamu mau apa?" Arumi menatap tajam Arkan. Seakan ingin menantang lelaki itu.
"Aku mau kamu gugurkan calon bayi itu," ucap Arkan dengan jari telunjuknya mengarah ke perut Arumi.
Arumi menggeleng.
"Nggak. Aku nggak mau. Aku nggak mau gugurkan janin aku," bantah Arumi..
"Arumi. Aku akan kasih uang satu milyar dan kamu gugurkan bayi itu," ucap Arkan menegaskan.
"Nggak. Walau kamu kasih uang seratus milyar pun, aku nggak akan pernah gugurkan bayi ini. Mengerti...!" ucap Arumi dengan nada tinggi.
"Kamu berani sama aku?" Arkan sudah mulai emosi.
Arkan semakin mendekatkan dirinya pada Arumi. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan duduk di sisi ranjang itu.
"Kamu yakin, nggak mau gugurkan bayi kamu?" tanya Arkan menatap Arumi tajam..
"Ya. Aku yakin. Aku nggak butuh uang mu Tuan Arkan Mahendra yang terhormat."
Arkan menghela nafas dalam. Dia semakin murka saja dengan Arumi.
Dia fikir, Arumi itu akan nurut dengannya. Namun nyatanya sekarang Arumi berani melawannya.
Dan selama ini, belum ada orang yang berani melawan Arkan. Tapi Arumi sudah berani melawannya. Karena Arumi saat ini sudah kalut, dia juga sudah tidak mau memikirkan keluarganya lagi semenjak ayahnya mengusirnya dari rumah.
"Kenapa? kenapa kamu diam Tuan Arkan. Kamu mau mengusir keluargaku dari rumahmu? atau kamu mau menyakiti dan menghancurkan keluargaku ? silahkan saja..." ucap Arumi.
"Mereka juga sudah tidak perduli padaku. Ayahku sudah mengusir aku dari rumah. Dan sampai sekarang keluargaku tidak ada yang mencari aku. Jadi untuk apa, aku harus peduli dan mengkhawatirkan mereka. Aku pun tidak akan pernah lagi memikirkan mereka. Dan ancaman mu waktu itu, sudah tidak berlaku lagi untuk aku Tuan muda."
"Arumi...!" geram Arkan. Dia sudah mengepalkan tangannya geram dan rahangnya juga sudah mulai mengeras. Setelah itu dia menatap tajam Arumi kembali.
"Kamu sekarang sudah berani melawan ku hah!" sentak Arkan. Dengan sekejap dia sudah mencengkeram dagu Arumi dan mengangkatnya hingga membuat Arumi mendongak.
"Arumi. Aku cuma punya dua pilihan untuk kamu. Gugurkan bayi itu dan aku akan berikan banyak uang untuk kamu. Atau kamu pergi ke luar negeri dengan membawa bayi kamu," ucap Arkan sembari melepas cengkeramannya. Dia tidak mungkin tega menyakiti wanita apalagi itu Arumi anak Bu Hesti dan Pak Tama.
Arkan tahu, kalau orang tua Arumi itu sudah sangat baik padanya. Terlebih ibunya Arumi juga sudah ikut merawat dan mengurus Arkan dari Arkan kecil hingga Arkan menginjak dewasa.
Karena ibu Arkan tidak pernah di rumah dan selalu pergi-pergi. Dan sampai ke dua orang tua Arkan bercerai. Bu Hesti yang ikut andil dalam mengurus Arkan. Dan Arkan tidak akan pernah melupakan kebaikan Bu Hesti.
Arumi terkejut saat mendengar ucapan Arkan.
"Apa! apa maksud kamu Tuan? kamu akan menyuruh aku pergi ke luar negeri?" tanya Arumi.
"Ya. Biar kamu nggak pernah muncul di kehidupan aku lagi dan menghancurkan nama baikku dan keluargaku Arumi," ucap Arkan menjelaskan.
__ADS_1
Kenapa kamu harus memberi aku pilihan yang sangat sulit Tuan Arkan, batin Arumi