Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Rencana Arkan.


__ADS_3

Tok tok tok...


Suara ketukan pintu sudah terdengar dari luar rumah Arkan.


Arkan dan Pak Mahendra yang saat ini masih berada di ruang makan, saling menatap.


"Arkan, seperti ada tamu di depan," ucap Pak Mahendra di sela-sela kunyahannya.


"Iya Pa. Mungkin itu Deniz Pa."


"Denis?" Pak Mahendra mengernyitkan alisnya.


"Iya, Denis itu teman aku. Tadi aku nyuruh dia ke sini."


"Oh... ya udah, sana bukain!"pinta Pak Mahendra.


Arkan menatap ke sekeliling untuk mencari pembantunya. Dia tersenyum saat melihat Bu Hesti.


"Bik Hesti...!" seru Arkan.


Bu Hesti yang dipanggil, buru-buru mendekat ke arah meja makan di mana Arkan duduk.


"Iya Tuan muda, ada apa?" tanya Bu Hesti.


"Tadi sepertinya ada orang yang ngetuk pintu di depan. Coba bibi lihat, siapa yang datang. Barang kali itu teman aku yang datang," ucap Arkan.


Bu Hesti tersenyum.


"Baik Tuan "


Bu Hesti kemudian melangkah ke depan untuk membuka pintu ruang tamu. Seorang lelaki sepantaran Arkan sudah berdiri di depan pintu.


"Permisi, Arkannya ada?" tanya lelaki berjaket hitam dan berpawakan sedang itu.


"Oh, mau cari Tuan Arkan ya. Tunggu sebentar ya, bibik panggilin."


Bu Hesti berjalan ke ruang makan untuk memanggil Arkan.


"Tuan muda. Ada yang mau ketemu Tuan muda," ucap Bu Hesti setelah sampai di ruang makan.


"Siapa? Denis ya?" ucap Arkan..


"Duh maaf Tuan muda. Bibi lupa nanyain namanya."


"Ya udahlah. Aku tau kalau itu Denis."


Arkan bangkit dari duduknya. Setelah itu dia berjalan ke ruang tamu untuk melihat tamunya di depan.


Sementara Pak Mahendra, yang sudah menghabiskan satu piring nasi, menatap Bik Hesti.

__ADS_1


"Bik, tolong beresin meja makan ya."


"Baik Tuan."


Pak Mahendra bangkit dari duduknya. Setelah itu dia berjalan pergi meninggalkan meja makan. Sementara Bik Hesti lekas membereskan meja makan.


Sesampainya di ruang tamu, Arkan mengajak Denis masuk. Setelah itu dia mempersilakan Denis untuk duduk di ruang tamu.


"Duduk dulu Den!"pinta Arkan.


Denis menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.


"Ada apa kamu nyuruh aku cepat-cepat datang ke rumah mu?" tanya Denis setelah mereka sama-sama duduk.


"Ada kerjaan untuk kamu?" ucap Arkan.


"Kerjaan apa?"


Arkan memutar bola matanya dan menatap ke sekeliling. Setelah dia rasa aman, dia mengajak Denis untuk ke ruang pribadinya.


"Ikut aku Den," ucap Arkan sembari bangkit berdiri.


"Ikut ke mana?" tanya Denis.


"Ikut ke ruang kerja aku"


"Baiklah," ucap Denis sembari bangkit dari duduknya.


Arkan mengajak Denis ke salah satu ruangan yang ada di dalam rumahnya. Ruangan itu letaknya tidak jauh dari ruang tamu.


Ruangan itu, cukup luas dan biasa digunakan Arkan untuk mengerjakan tugas-tugas kantornya waktu berada di rumah.


Arkan membuka pintu ruangan itu. Ruangan itu cukup gelap. Karena Arkan sengaja mematikan lampu saat keluar dari ruangan itu.


Arkan menyalakan lampu ruangan itu setelah dia dan Denis sampai di dalam ruangan itu. Setelah itu dia mengunci pintu ruangan itu rapat-rapat.


"Kenapa di kunci?" tanya Denis.


"Sudahlah, biar kita nyaman ngobrolnya," ucap Arkan.


Arkan kemudian melangkah dan duduk di sebuah kursi yang ada di ruangan itu. Begitu juga dengan Denis yang hanya bisa mengikuti Arkan dibelakangnya.


"Silahkan duduk Den!" pinta Arkan.


Denis kemudian duduk di depan Arkan duduk.


Arkan mengambil sebuah foto yang ada di dalam laci mejanya. Dia kemudian memberikan foto itu ke Denis.


"Arkan, siapa ini?" tanya Denis yang tampak tidak mengenali foto yang ada di depannya.

__ADS_1


"Namanya Arumi," ucap Arkan.


Denis tersenyum saat menatap foto itu. Arumi di dalam foto itu terlihat sangat cantik dan anggun. Dan anak-anak Bu Hesti memang cantik-cantik walau ayah dan ibunya terbilang punya wajah yang pas-pasan. Mereka tidak mempunyai kemiripan seperti ayah dan ibunya.


"Cantik. Siapa Arumi? apa jangan-jangan, Arumi ini wanita yang sudah bisa menaklukkan hati seorang Arkan Mahendra," ledek Denis.


Braaak...


Arkan menggebrak mejanya tiba-tiba yang membuat Denis terdiam. Ya, Denis sudah tahu siapa Arkan. Karena dia sudah lama kenal dengan Arkan sejak duduk di bangku SMA.


Arkan adalah lelaki yang paling susah diajak bercanda. Dia juga paling tidak suka membahas soal wanita. Belum pernah ada satu wanitapun yang berhasil singgah di hati Arkan.


Sebenarnya ada banyak wanita yang suka dengan Arkan. Siapa yang tidak akan suka dengan penampilan Arkan yang selalu tampil menawan. Dia lelaki yang sempurna dan ketampanannya pun di atas rata-rata.


Dia mempunyai tubuh tinggi, berkulit putih, hidung mancung, disekitar pipinya ditumbuhi rambut-rambut halus dan rahang yang tegas, membuat Arkan banyak disegani terutama dari kalangan wanita. Tidak ada satu pun wanita yang berani mendekatinya karena mereka menganggap Arkan itu angkuh.


"Aku serius dan nggak lagi bercanda Den," ucap Arkan dengan nada tinggi. Sepertinya Arkan sudah mulai serius dengan rencananya.


"Ya, maaf. Jangan marah dong. Okelah kalau begitu, sekarang kamu katakan, kamu mau memberikan aku kerjaan apa?" tanya Denis


"Cari wanita ini sampai dapat dan bawa ke hadapanku," ucap Arkan sembari menunjuk foto Arumi yang ada di atas meja.


Denis sejak tadi masih menatap foto Arumi.


"Untuk apa Kan?" tanya Denis.


"Nggak usah banyak tanya. Aku cuma mau kamu cari wanita ini sampai ketemu dan bawa ke hadapanku."


"Bagaimana aku bisa membawa wanita ini, sementara aku saja tidak mengenalnya. Dia pasti tidak mau ikut dengan ku Arkan," ucap Denis yang pesimis bisa membawa wanita yang ada di foto itu. Karena memang Denis juga belum pernah kenal dengan Arumi sebelumnya, dan belum pernah melihatnya.


"Ya bawa paksa dia. Kalau dia melawan, bekap saja dia. Dan bawa dia ke gudang kantorku. Sekap dia di sana."


"Apa! kamu nyuruh aku menculik wanita ini?"


"Ya. Kamu tenang saja, aku akan memberikan kamu imbalan yang pas untuk kerjaan kamu kali ini."


"Baiklah, tapi aku nggak janji Kan, kalau aku bisa mendapatkan wanita ini."


"Bawa saja foto itu. Biar kamu lebih gampang untuk menemukannya."


"Baik Kan."


**


Setelah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah, Bu Hesti kembali untuk ke kamarnya. Bu Hesti menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Bu Hesti tiba-tiba saja teringat dengan Arumi. Hampir setiap hari Bu Hesti teringat dengan Arumi dan dia menangis saat dia teringat dengan Arumi.


"Arumi, kamu di mana Nak," ucap Bu Hesti.

__ADS_1


Bu Hesti meneteskan air matanya saat mengingat anaknya. Dia tidak tahu kemana Arumi pergi dan di mana keberadaannya saat ini.


Nomer Arumi saja sudah tidak pernah aktif. Bu Hesti takut terjadi apa-apa dengan Arumi. Dan kemarin saja Lira belum menemukan keberadaan Arumi.


__ADS_2