
"Tuan Arkan yang terhormat, aku tidak pernah bohong untuk masalah ini. Jika kalian semua tidak percaya, silahkan buktikan dengan tes DNA," ucap Arumi.
Arkan terkejut saat mendengar ucapan Arumi.
Apa tes DNA. Bisa ketahuan kalau anak Arumi itu juga anak aku, batin Arkan.
"Papa benar-benar nggak nyangka sama kamu Arkan. Kamu itu sudah benar-benar mengecewakan Papa," ucap Pak Mahendra dengan nada tinggi.
Pak Mahendra sepertinya sangat marah pada Arkan. Karena Arkan sudah mempermalukannya di depan umum.
Arkan diam. Dia tidak bisa berkata-kata lagi untuk sekarang. Arkan dan Arumi sudah menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Arkan benar-benar malu saat ini. Namun Arkan pun tidak bisa lari dari masalah ini.
"Arkan, sekarang Papa minta, kamu harus tanggung jawab dengan semua perbuatan yang sudah kamu lakukan ke Arumi. Kamu sudah menelantarkan Arumi dan juga anak kandung kamu sendiri. Kamu harus bertanggung jawab Arkan," ucap Pak Mahendra dengan tegas.
Arkan menatap ayahnya tajam.
"Tanggung jawab gimana maksud Papa? aku nggak tahu Pa," ucap Arkan.
"Kamu harus nikahi Arumi sekarang juga."
Deg.
Arkan terkejut saat mendengar ucapan ayahnya.
"Apa! nikahin Arumi? aku nggak mau Pa. Aku itu nggak cinta sama Arumi. Aku cuma cinta sama Nilam," ucap Arkan.
Bu Erina mendekat ke arah suaminya.
"Apa maksud Papa? kenapa Arkan malah di suruh nikah sama Arumi. Seharusnya Arkan itu nikahnya sama Nilam. Dan sekarang Nilam pergi gara-gara wanita ini ...!" ucap Bu Erina menunjuk wajah Arumi dengan telunjuknya.
Rafa yang berada di tengah-tengah orang-orang dewasa itu, hanya bisa memeluk ibunya dengan erat. Sepertinya Rafa takut dengan pertengkaran di antara Arkan, Pak Mahendra, dan Bu Erina.
Lira menatap Rafa. Dia tersenyum dan mendekat ke arah Rafa.
"Sayang, sini ikut Tante," ucap Lira.
"Tante siapa?" tanya Rafa yang tampak takut dengan Lira.
__ADS_1
"Ini Tante Lira sayang. Kakaknya mama kamu, sini ikut Tante. Tante nggak akan jahat kok sama kamu," ucap Lira membujuk Rafa untuk ikut dengannya. Lira tidak mau Rafa terlalu lama mendengar pertengkaran keluarga Pak Mahendra.
Rafa melepaskan pelukannya dari tubuh ibunya. Dia kemudian menurut ikut dengan Lira.
Lira mengajak Rafa ke belakang.
"Arumi, apa maksud kamu. Lama kamu menghilang dari kehidupan kami semua, sekarang kamu kembali dengan menghancurkan semuanya. Apa yang kamu inginkan sebenarnya Arumi?" ucap Bu Erina menatap Arumi tajam.
"Aku tidak punya maksud apa-apa. Aku hanya ingin menuntut hak nya Rafa. Rafa adalah cucu kandung Nyonya. Dan Rafa hanya ingin mendapatkan pengakuan dari ayah kandungnya. Karena selama ini dia sangat merindukan ayah kandungnya," ucap Arumi.
Bu Erina menatap Arkan tajam.
"Benar kah Arkan apa yang Arumi katakan ini? benarkah kalau anak kecil itu adalah anak kandung kamu?" tanya Bu Erina.
"Nggak Ma. Semua itu bohong. Bagaimana mungkin Arumi hamil anak aku. Kita aja tidak pernah melakukan apa-apa," ucap Arkan yang masih mengelak.
"Tuh, lihat kan kamu Arumi. Apa yang anak saya katakan. Dia tidak pernah melakukan apapun terhadap mu. Jadi mana mungkin kamu bisa punya anak dari anak saya. Kamu jangan memfitnah anak saya Arumi," ucap Bu Erina yang masih membela Arkan anaknya.
Arumi yang sudah merasa lelah berdebat dengan ibunya Arkan, hanya bisa menahan emosi.
"Pokoknya, Papa tidak mau tahu. Kamu harus nikahi Arumi untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan kamu," ucap Pak Mahendra.
Keinginan Pak Mahendra sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi. Pak Mahendra ingin Arkan mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan menikahi Arumi.
"Tidak. Aku tidak mau menikah dengan Arumi." Arkan masih menolak untuk menikah dengan Arumi.
"Papa, papa gimana sih. Jangan paksa Arkan dong untuk menikahi Arumi. Dia tidak cinta sama Arumi. Tapi Arkan itu cintanya sama Nilam. Dan seharusnya Papa buka mata Papa. Kalau Arumi itu cuma anak pembantu," ucap Bu Erina di depan orang-orang.
Arumi sejak tadi masih bersabar mendapatkan cacian dan hinaan dari Bu Erina. Arkan sejak tadi juga mencoba untuk mengelak dan selalu berkelit.
"Papa tidak mau tahu, Arkan harus menikahi Arumi. Kalau tidak, pergi saja dia dari rumah ini. Dan ingat Erina, kalau kamu masih mau membela anak kamu ini, kamu bawa saja Arkan untuk tinggal bersamamu. Dan jangan pernah berharap warisan sepeserpun dari ku. Karena harta ku akan jatuh ke tangan anaknya Arumi. Bukan Arkan."
Arkan dan Bu Erina terkejut saat mendengar ancaman dari Pak Mahendra. Begitu juga dengan orang-orang yang ada di dekat mereka. Mereka hanya bisa diam menyaksikan perdebatan keluarga Pak Mahendra yang tidak ada habisnya itu.
Setelah beberapa lama Arkan dan Bu Erina berfikir, akhirnya Arkan setuju untuk menikah dengan Arumi.
Mungkin Arkan takut, kalau ancaman ayahnya itu tidak main-main. Arkan takut semua fasilitas yang sudah ayahnya berikan padanya akan di sita termasuk jabatannya di kantor. Mungkin Arkan akan diturunkan dari jabatannya.
__ADS_1
Arkan tidak mau hidup miskin. Dia lebih memilih untuk menikahi Arumi dari pada kehilangan harta warisannya.
Sementara Bu Erika, dia akhirnya pun menyetujui keinginan Pak Mahendra.
"Baiklah, aku mau menikah dengan Arumi," ucap Arkan.
Pak Mahendra menatap Arkan tajam. Sebenernya Pak Mahendra itu sudah sangat kesal dengan anaknya. Mungkin jika tidak ada tamu, Pak Mahendra sudah menghabisi Arkan dan membuatnya babak belur.
Pak Tama sejak tadi hanya diam bisa diam menyaksikan kekacauan yang terjadi di acara pernikahan Arkan. . Di depan keluarga majikannya, diapun tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela anaknya.
Pak Mahendra menatap Pak Tama lekat.
"Bagaimana menurut mu Pak Tama?" tanya Pak Mahendra.
"Saya sih, terserah Tuan saja."
"Baiklah. Pak Tama, kamu harus menjadi wali nikahnya Arumi. Dan Lisna, tolong kamu dandani Arumi."
Lisna sang perias pengantin pun hanya mengangguk. Dia kemudian mendekat ke arah Arumi dan mengajak Arumi untuk make up dan ganti baju.
Pak Mahendra berjalan dan mendekati Pak Penghulu.
"Pak penghulu, apakah bapak bisa menunggu Arumi dirias? hanya sebentar Pak Penghulu," ucap Pak Mahendra.
Pak Penghulu hanya mengangguk.
"Baik. Saya akan menunggu."
"Terimakasih banyak."
Pak Mahendra kemudian menatap semua tamunya.
"Maafkan saya karena kekacauan yang terjadi tadi. Tapi pernikahan ini akan tetap di laksanakan walau pengantin perempuannya beda. Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan silahkan nikmati hidangan yang ada di sini..." ucap Pak Mahendra.
Sebenarnya Pak Mahendra malu juga dengan masalah ini. Namun apa yang bisa Pak Mahendra perbuat.
Dia sudah menghabiskan banyak biaya untuk membiayai pernikahan Arkan. Dia juga sudah membuang banyak waktu untuk ikut mempersiapkan acara pernikahan itu. Pak Mahendra, tidak semua sia-sia begitu saja.
__ADS_1