
"Nggak mungkin, nggak mungkin aku hamil. Alat kehamilan ini pasti salah. Tapi, bagaimana kalau aku hamil beneran. Apa yang harus aku katakan pada orang-orang tentang kehamilan ini," ucap Arumi.
Dengan langkah gontai, Arumi keluar dari kamar mandi. Dia mendekat ke arah ranjang dan duduk di sisi ranjangnya.
"Hiks...hiks ..hiks .." Arumi menangis di kesendiriannya. Arumi tidak tahu dengan apa yang akan dia lakukan sekarang. Mungkin kah dia harus jujur pada orang-orang kalau anak yang dia kandung adalah anak Arkan.
Semua orang pasti tidak akan percaya. Karena yang mereka lihat selama ini, Arumi sangat dekat dengan Kenzo. Bisa saja Kenzo yang akan dituduh menghamili Arumi.
Dan Arumi juga tidak akan mungkin bisa menyembunyikan kehamilan itu untuk selamanya dari orang-orang.
Arumi yakin, kalau suatu saat nanti, kehamilannya itu akan terbongkar, karena perut Arumi akan membesar seiring dengan perkembangan janin yang ada di dalam perutnya.
Prang...
Arumi terkejut saat mendengar suara piring pecah. Arumi buru-buru menyembunyikan tespacknya di laci lemarinya. Dia kemudian keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan.
Arumi terkejut saat sampai di ruang makan. Ayahnya sudah berdiri dengan menatap pecahan piring di depannya.
"Bapak, apa bapak yang mecahin piring ini?" tanya Arumi saat melihat ayahnya ada di ruang makan.
Tubuh Arumi mendadak melemas saat tahu kalau ayahnya ada di dalam rumahnya. Bisa saja, saat Arumi menangis tadi ayahnya mendengar ucapan Arumi.
Arumi tidak tahu apa yang akan ayahnya lakukan jika dia sampai mendengar anaknya itu hamil. Yang Arumi tahu selama ini Pak Tama adalah orang yang sangat tegas dalam segala hal.
Dia juga tegas pada anak-anaknya. Sebenarnya Pak Tama melarang Arumi pacaran. Namun Arumi tidak bisa menjadi anak yang patuh pada ke dua orang tuanya. Karena selama ini diam-diam dia pacaran dengan lelaki yang bernama Kenzo.
Pak Tama tersenyum saat melihat Arumi.
"Maaf ya Arumi. Kamu kaget ya, bapak mecahin piring. Tadi bapak mau ambil makanan. Tapi bapak nggak sengaja nyenggol piringnya," ucap Pak Tama datar.
Mudah-mudahan saja bapak tidak tahu dengan kehamilan aku.
"Bapak mau makan?" tanya Arumi.
"Iya Arumi. Perut bapak lapar. Bapak cuma makan tadi pagi doang," jelas Pak Tama.
Pak Tama menatap anaknya lekat.
"Kamu kenapa? mata kamu merah. Kamu habis nangis?" tanya Pak Tama.
"Nggak kok Pak. Aku nggak apa-apa," ucap Arumi sembari mengusap matanya.
"Kamu yakin nggak apa-apa. Kata ibu kamu, kamu dari kemarin sakit. Apa mau bapak antar periksa?"
__ADS_1
Arumi terkejut saat mendengar ucapan ayahnya.
Apa? bapak mau ngantar aku periksa. Nggak, aku nggak mau. Bagaimana kalau bapak tahu aku hamil. Bisa gawat dong. Pokoknya apapun yang terjadi, aku harus jauh-jauh dari yang namanya Dokter. Karena dokter pasti tahu kalau aku hamil.
"Arumi. Apa yang lagi kamu fikirkan?" tanya Pak Tama yang melihat Arumi bengong.
"Em, nggak ada Pak. Aku nggak perlu periksa ke dokter. Aku udah sembuh kok Pak."
"Kamu yakin, sudah sembuh?"
"Yakin Pak. Kalau bapak mau makan, makan aja Pak silahkan. Arumi ke kamar dulu ya. Arumi capek, mau istirahat."
"Ya, silahkan."
Arumi kemudian buru-buru berjalan masuk kembali ke dalam kamarnya. Dia masih bisa bernafas lega saat ayahnya, ternyata belum mengetahui kehamilannya.
"Aku harus rahasiakan semua ini dari bapak. Aku nggak mau bapak tahu soal kehamilan aku," ucap Arumi sembari menutup pintu kamarnya.
****
Siang ini, Arumi masih berada di kampusnya. Sejak tadi pagi, dia sudah menghindar dari Kenzo kekasihnya.
Arumi ingin menyudahi hubungannya dengan lelaki itu. Karena dia tidak mau memberi terlalu banyak harapan pada Kenzo.
Arumi yakin, jika Kenzo tahu hal yang sebenarnya, Kenzo pasti akan memutuskannya. Dan akan meninggalkan Arumi begitu saja. Sebelum hal itu terjadi, lebih baik Arumi yang memutuskan hubungannya dengan Kenzo duluan.
Kenzo tersenyum saat melihat Arumi sudah duduk manis di kantin kampusnya.
"Akhirnya, aku menemukan gadisku juga," ucap Kenzo.
Dia kemudian berjalan mendekati Arumi. Setelah dia sampai dibelakang Arumi, Kenzo menutup ke dua mata Arumi dengan tangannya.
Arumi terkejut saat ada seseorang yang menutup matanya dengan ke dua telapak tangannya.
"Ini siapa sih," ucap Arumi.
Dia meraba ke dua tangan itu.
"Kamu, Kenzo kan. Lepaskan aku Ken. Kamu apa-apaan sih. Nggak lucu tahu nggak."
Kenzo melepaskan tangannya. Setelah itu dia duduk di sisi Arumi.
"Kamu kemana aja sih? dari tadi pagi aku nyariin kamu tahu nggak."
__ADS_1
Arumi menatap Kenzo lekat.
"Kamu nyariin aku? mau ngapain kamu nyariin aku?" tanya Arumi.
"Karena aku rindu sayang sama kamu."
Kenzo meraih tangan Arumi dan menggenggamnya erat. Kenzo terkejut saat tiba-tiba saja Arumi melepaskan tangannya.
"Arumi, kamu kenapa? kamu nggak senang ya aku datang ke sini."
Mata Arumi tiba-tiba saja berkaca-kaca.
"Aku mau kita putus Ken."
"Apa! putus? kenapa putus sayang? apa salah aku sama kamu? kenapa kamu tiba-tiba mutusin aku?" tanya Kenzo. Dia terkejut saat Arumi tiba-tiba saja memutuskan hubungannya.
"Maaf, aku udah nggak bisa melanjutkan hubungan ini lagi Ken."
"Iya. Tapi kenapa? bukankah kita saling cinta."
"Tapi aku nggak pantas buat kamu Ken."
"Nggak pantas gimana. Bukankah aku udah tahu status kamu. Kamu itu anak pembantu. Aku akan terima apapun status kamu Arumi. Karena aku mencintai kamu apa adanya. Aku nggak pernah memandang status kamu."
"Tapi Ken, aku tetap nggak bisa melanjutkan hubungan kita. Lebih baik, kamu cari wanita lain aja Ken, yang lebih baik dari aku."
Arumi meneteskan air matanya. Namun dia buru-buru mengusapnya dengan cepat. Dia tidak mau terlihat sedih di depan Kenzo.
Sebenarnya Arumi juga tidak tega untuk memutuskan hubungannya dengan Kenzo. Namun mau bagaimana lagi. Arumi harus memutuskan lelaki itu. Karena Arumi tidak mau ikut melibatkan Kenzo dalam masalahnya yang cukup rumit.
"Arumi, aku nggak mau putus dari kamu. Karena aku nggak sanggup hidup tanpa kamu," ucap Kenzo.
Arumi bangkit dari duduknya.
Arumi terkejut saat tiba-tiba saja tangan Kenzo menggenggam tangannya dengan erat.
"Arumi. Jangan tinggalin aku Arumi. Aku itu cinta sama kamu. Aku akan menerima semua kekurangan kamu. Duduklah sayang, kita bicarakan baik-baik masalah ini."
"Maafkan aku Ken, karena aku harus pergi."
Arumi sudah tidak mau lagi mendengarkan ucapan Kenzo. Dia melepas tangan Kenzo dan buru-buru pergi meninggalkan tempat itu.
"Arumi...! Arumi... jangan tinggalin aku Arumi...!" seru Kenzo. Dia tidak perduli dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
Sementara Arumi pergi begitu saja meninggalkan Kenzo di kantin.
Arumi berjalan dengan cepat untuk sampai ke jalan raya. Dia kemudian menyetop taksi dan masuk ke taksi itu. Tanpa butuh waktu lama, taksi itu pun meluncur pergi meninggalkan kampus Arumi.