
Leo tidak tinggal diam saat melihat ada seorang wanita yang akan bunuh diri di depan matanya. Leo sejak tadi masih berusaha untuk membujuk agar wanita yang ada di depannya itu mau turun dari jembatan itu.
"Nona, turunlah Nona. Jangan gegabah seperti ini. Bunuh diri itu dosa. Dan nggak akan bisa menyelesaikan masalah. Justru bunuh diri itu akan menambah masalah baru kamu setelah kamu mati nanti. Dan kamu bisa masuk ke dalam neraka jahanam yang menyala-nyala," ucap Leo menakut-nakuti wanita yang ada di depannya itu agar dia tidak terjun ke bawah.
Arumi diam. Dia mencoba untuk mencerna semua ucapan Leo. Arumi tiba-tiba saja teringat dengan guru agamanya waktu sekolah yang menerangkan tentang dosa seseorang yang bunuh diri.
Leo terkejut saat tiba-tiba saja wanita yang ada di depannya menangis sesenggukan.
"Hiks....hiks...hiks..."
Inez yang penasaran dengan wanita itu, segera turun dari mobilnya. Dia kemudian mendekati kakaknya dan wanita itu.
"Kak, turun Kak. Aku mohon jangan lakukan hal bodoh seperti ini. Kakak sedang punya masalah apa? Kakak bisa ceritakan ke kami masalah kakak. Siapa tahu kami bisa bantu Kakak," ucap Inez menatap lekat Arumi.
Inez mendekat ke arah Arumi. Namun sekarang nampaknya Arumi sudah semakin jinak. Tidak seperti tadi, yang masih ngotot ingin terjun ke bawah.
Inez pelan-pelan mendekati Arumi dan menyuruh Arumi untuk turun.
"Turun Kak. Aku akan membantu kakak," ucap Inez.
Setelah Inez dan Leo berhasil membujuk Arumi, akhirnya Arumi pun mau turun juga. Inez merangkul bahu Arumi dan mengajaknya menjauh dari jembatan itu.
"Istighfar Kak. Sadar Kak, hidup cuma sekali. Seharusnya kita jangan melakukan hal bodoh seperti ini jika punya masalah," ucap Inez sembari merangkul Arumi dan berjalan menjauh dari jembatan.
"Aku bingung sekarang aku mau ke mana. Aku diusir ayahku dari rumah," ucap Arumi sembari mengusap air matanya.
Inez terkejut saat mendengar ucapan Arumi.
"Kenapa ayah kamu ngusir kamu?" tanya Inez penasaran dengan cerita Arumi.
"Aku udah hamil di luar nikah. Dan aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan sekarang. Semua orang tidak ada yang peduli padaku termasuk ayahku. Ayahku malah mengusir aku dari rumah saat dia tahu aku hamil," ucap Arumi menjelaskan panjang lebar.
Leo dan Inez saling menatap.
"Ikut saya nona. Saya akan memberikan nona tempat tinggal. Untuk sementara Nona bisa tinggal bersama saya di rumah saya," ucap Leo.
Arumi terkejut saat mendengar ucapan lelaki tampan yang ada di dekatnya. Arumi mengusap air matanya dan menatap Leo dan Inez bergantian.
"Kalian yakin akan membantu ku?" tanya Arumi.
__ADS_1
"Iya. Kami akan bantu kamu. Nama kamu siapa Nona?" tanya Leo.
"Arumi," jawab Arumi singkat.
Leo mengulurkan tangannya.
"Aku Leo."
Arumi membalas uluran tangan Leo.
"Makasih udah mau ngingetin aku Mas Leo. Aku tidak tahu, kalau nggak ada kalian, mungkin aku udah terjun ke bawah tadi," ucap Arumi yang sekarang sudah sadar akan perbuatan bodohnya itu.
Inez tersenyum saat melihat Arumi mau bicara dengan Inez dan kakaknya. Akhirnya, Leo sudah berhasil membujuk wanita itu, agar dia mengurungkan niatnya untuk melakukan tindakan bunuh diri.
"Kenalkan Kak, namaku Inez. Aku adiknya Kak Leo," ucap Inez sembari mengulurkan tangannya.
Arumi tersenyum.
"Aku Arumi," ucap Arumi sembari menjabat tangan Inez.
Arumi tersenyum saat ada orang baik yang mau menolongnya.
"Iya. Itu tas aku," jawab Arumi singkat.
Leo menatap Inez.
"Nez bawa tas Arumi ke mobil."
"Iya Kak."
Inez kemudian mengambil tas Arumi dan membawa tas itu masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia kembali mendekat ke Arumi.
"Kak Arumi, ayo ikut kita Kak. Kita akan bantu masalah kakak. Kakak jangan sungkan-sungkan sama kita sekarang ya Kak," ucap Inez mengajak Arumi masuk ke dalam mobil.
Arumi hanya mengangguk. Setelah itu Arumi pun ikut pergi bersama Leo dan Inez.
****
Malam ini, Bu Hesti masih berdiri di sisi jendela kamarnya. Dia tidak tahu keberadaan anaknya saat ini. Pak Tama sudah mengusir Arumi dari rumahnya. Membuat Bu Hesti sedih dan khawatir dengan keberadaan anaknya saat ini.
__ADS_1
Arumi pergi hanya membawa baju-bajunya. Dia tidak membawa uang sepeser pun. Bu Hesti tidak tahu, bagaimana nasib Arumi di luar sana setelah dia pergi dari rumah.
Tok tok tok...
Suara ketukan dari luar kamar Bu Hesti terdengar. Bu Hesti menoleh dan menatap pintu. Dia fikir yang datang itu suaminya ternyata Lira anaknya.
Lira yang baru pulang dari kantor, segera masuk ke dalam kamar ibunya. Dia ingin menanyakan keberadaan Arumi pada ibunya.
"Bu, Arumi pergi ke mana? kok tadi aku ke kamarnya Arumi tidak ada?" tanya Lira.
Bu Hesti mendekat ke arah Lira.
"Bapak kamu sudah mengusir Arumi dari rumah ini Lira," ucap Bu Hesti menuturkan.
"Apa! Bapak udah ngusir Arumi dari rumah ini?" Lira terkejut saat mendengar penuturan ibunya.
"Dan ibu tidak tahu kemana Arumi sekarang. Ibu sedih banget Lira. Ibu khawatir banget sama Arumi. Ibu takut terjadi apa-apa sama dia. Apalagi dia lagi hamil muda sekarang."
"Bapak kok tega banget sih, ngusir Arumi. Kita kan nggak punya saudara yang ada di kota ini. Kalau Arumi di usir dari sini, dia mau pergi ke mana. Dia kan lagi hamil."
"Makanya dari itu, ibu dari tadi masih kefikiran Arumi. Mungkin saja Arumi saat ini masih di jalan. Kamu tahu kan kalau malam ini sepertinya mau turun hujan. Kamu kenapa baru pulang Lira?"
"Aku lembur Bu. Jadi aku baru pulang. Aku juga nggak tahu kalau bapak ternyata benar-benar sudah mengusir Arumi dari rumah ini."
Lira terkejut saat tiba-tiba saja ibunya menangis.
"Lira, bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Arumi. Dia lagi hamil. Dan dia juga nggak bawa uang sepeserpun tadi perginya," ucap Bu Hesti di tengah-tengah tangisannya.
"Sabar ya Bu, kita doakan saja mudah-mudahan Arumi tidak apa-apa. Dan mudah-mudahan Arumi menemukan orang baik yang mau menolongnya," ucap Lira sembari mengusap-usap bahu ibunya mencoba untuk menghibur ibunya.
"Sekarang ibu tidur ya. Udah malam. Besok Lira janji Lira akan cari Arumi. Lira akan bawa Arumi untuk cari kontrakan. Supaya dia ngontrak sendiri aja. Jangan tinggal sama kita."
Bu Hesti mengusap air matanya.
"Maksud kamu?" tanya Bu Hesti yang tidak tahu apa maksud Lira.
"Kalau besok aku ketemu Arumi, aku akan bawa Arumi untuk cari kontrakan. Biarkan saja dia ngontrak di rumah kontrakan. Jangan tinggal bareng bapak. Masalah biaya, nanti Lira yang akan tanggung. Lira Bu, yang akan bayar kontrakan Arumi. Tapi nanti ibu jangan bilang-bilang bapak ya."
Bu Hesti mengangguk.
__ADS_1