
Sudah lima belas menit Arkan berada di cafe, namun Nilam belum juga datang.
"Nilam kemana sih sebenarnya, kenapa dia nggak datang-datang juga," ucap Arkan.
Arkan kemudian mencoba untuk menelpon Nilam.
"Halo..."
"Halo Nilam, kamu di mana? katanya kita mau ketemuan di cafe. Kenapa kamu lama sekali datangnya."
"Maaf Mas. Aku lagi ada di jalan ini. Jalanan macet banget Mas."
"Masa sih macet. Perasaan waktu aku mau ke sini nggak macet-macet banget kok."
"Aku nggak bohong Mas. Ini aku juga nggak bisa maju dan nggak bisa mundur. Tunggu dulu aja Mas."
"Ya udah deh, aku tunggu."
Setelah lama Arkan menunggu Nilam di cafe, akhirnya Nilam pun datang juga.
Nilam tersenyum saat melihat Arkan. Dia kemudian menghampiri Arkan yang sedang duduk sendiri di tempat duduk cafe.
"Mas, udah lama ya nunggu di sini?" tanya Nilam sembari menarik kursi dan duduk di dekat Arkan.
"Iya. Lumayan."
"Maaf ya, aku telat."
"Nggak apa-apa. Aku udah biasa menunggu kok. Kamu mau pesan apa Nilam? biar aku yang pesanin."
"Apa aja deh Mas."
Arkan memanggil pelayan dan memesan makanan untuk Nilam. Setelah itu dia menatap Nilam lekat.
"Nilam," ucap Arkan sembari meraih tangan Nilam dan menggenggamnya erat.
"Maaf Mas, jangan seperti ini," ucap Nilam.
"Kenapa?" tanya Arkan.
"Aku nggak enak, dilihatin orang. Kamu itu sekarang udah punya istri."
"Ya nggak apa-apa Nilam. Emang kenapa? mereka juga kan nggak kenal kita."
"Kata siapa nggak kenal. Kalau ada wartawan yang lihat, kita bisa digosipin macam-macam Mas. Kamu itu kan kaya artis. Fansnya banyak."
"Ya biarin aja Nilam. Sebenarnya kamu ngundang aku kesini kamu mau bicara apa? apa kamu mau membicarakan tentang hubungan kita?" tanya Arkan.
Nilam diam. Sebenarnya dia sedih jika dia harus mengatakan pada Arkan kalau dia akan pergi ke luar negeri. Pasti Arkan juga akan sangat sedih harus berpisah jauh dari Nilam karena sampai saat ini Arkan masih mencintai Nilam.
__ADS_1
"Mas, ada sesuatu yang mau aku bicarakan."
"Apa?"
"Sebenarnya aku..."
Nilam memotong pembicaraannya saat seorang pelayan menghampirinya.
"Silahkan Mbak, Mas," ucap wanita itu sembari meletakan pesanan Nilam dan Arkan di atas meja.
"Makasih ya Mbak," ucap Nilam.
"Iya, sama-sama."
Pelayan itu kemudian melangkah pergi meninggalkan meja Arkan dan Nilam..
"Kamu mau bicara apa Nilam?" tanya Arkan.
"Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu Mas," ucap Nilam yang membuat Arkan terkejut.
"Apa! maksud kamu apa Nilam."
"Aku mau pergi ke luar negeri, untuk meneruskan kuliah S2 aku Mas."
"Apa! kamu mau pergi ke luar negeri? kenapa mendadak sekali Nilam?" tanya Arkan.
"Nilam, kalau kamu nyuruh aku untuk melupakan kamu dan kenangan kita itu tidak akan bisa Nilam. Aku itu masih sangat mencintai kamu."
"Mas, kamu itu sekarang sudah punya istri. Seharusnya kamu belajar untuk mencintai dia. Apalagi kamu itu sudah punya anak dari wanita itu."
"Nilam, kamu mau pergi ke mana? aku nggak bisa hidup tanpa kamu Nilam. Aku itu cinta sama kamu. Dan aku nggak akan bisa melupakan kamu."
"Mas, aku yakin. Kamu pasti bisa jika kamu mau mencoba. Kamu harus mencoba untuk melupakan aku dan kenangan kita, dan kamu harus coba buka hati kamu untuk istri kamu."
Arkan diam. Dia tampak sedih saat mendengar ucapan Nilam.
"Nilam, jika kamu mau, kita bisa kan mengulang kembali hubungan kita."
"Maksud kamu?"
"Aku akan ceraikan Arumi. Dan kita lanjutkan hubungan kita dan pernikahan kita."
Nilam menghela nafas dalam. Dia benar-benar bingung sama lelaki yang ada di depannya. Arkan memang lelaki yang sangat sulit.
Dia sulit untuk jatuh cinta, dan sulit untuk melupakan cintanya. Dan sepertinya, Arumi harus berjuang keras jika dia mau mendapatkan hati suaminya.
"Nggak mas. Aku nggak mau. Aku nggak mau merusak rumah tangga kamu dengan wanita itu. Kamu ikhlas atau tidak, aku akan tetap pergi ke Amerika. Dan tolong jangan halangi aku Mas. Karena kita bukan siapa-siapa lagi sekarang."
Nilam bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Nilam, kamu mau ke mana?" tanya Arkan.
"Aku mau pergi Mas. Biarkan aku pergi. Mungkin lusa aku sudah akan terbang ke luar negeri."
"Tapi kamu belum makan, makanan kamu Nilam. Kenapa kamu mesti buru-buru banget sih."
"Maaf Mas, kamu habiskan saja makanan itu. Atau kamu bungkus dan bawa pulang aja."
Nilam akan beranjak pergi, namun buru-buru Arkan mencekal tangannya.
"Jangan pergi Nilam, aku mohon. Aku cinta sama kamu. Dan kamu cinta sama aku. Kita lanjutkan saja hubungan kita Nilam. Jika perlu, aku akan ceraikan Arumi."
Nilam menghempaskan tangan Arkan. Dia kemudian buru-buru pergi meninggalkan Arkan.
Arkan tidak tinggal diam. Dia berlari ke luar dari cafe untuk mengejar Nilam.
"Nilam tunggu Nilam," ucap Arkan
Arkan mengacak rambutnya frustasi saat dia tidak bisa mengejar wanita yang dicintainya. Nilam sudah jauh pergi meninggalkan Arkan dengan taksi.
Di dalam taksi, Nilam hanya bisa menangis. Sangat berat memang jika harus melupakan kenangan bersama Arkan.
Walau Arkan itu lelaki dingin dan bukan lelaki yang romantis, tapi tetap saja, mereka punya kenangan-kenangan indah yang susah untuk mereka lupakan.
Arkan akan selalu mengingat bagaimana perjuangan Nilam untuk mendapatkan hati Arkan.
"Mas, maafkan aku Mas. Aku harus pergi meninggalkan kamu," ucap Nilam di sela-sela tangisannya, sembari sesekali dia mengusap air matanya.
Setelah Nilam pergi, Arkan pun kemudian pergi meninggalkan cafe itu. Dia membiarkan makanannya tak tersentuh sama sekali.
Arkan kemudian meluncur untuk pulang ke rumahnya.
Sesampainya di depan rumah, Arkan menghentikan laju mobilnya. Dia turun dari mobilnya dan buru-buru masuk ke dalam rumah.
Pak Mahendra yang saat ini ada di ruang tengah, menatap Arkan yang melewatinya begitu saja.
"Kenapa dengan anak itu, kenapa dia pulang-pulang seperti itu. Apa yang sebenarnya terjadi di luar. Dan ketemu siapa tadi Arkan di luar," ucap Pak Mahendra.
Arkan masuk ke dalam kamarnya dan langsung membanting pintu kamarnya.
"Aaaghhh..." teriak Arkan.
Dia kemudian membanting ponselnya di atas tempat tidurnya.
"Dasar, wanita. Apakah semua wanita di takdir kan untuk menghancurkan perasaan laki-laki. Kenapa Nilam akan pergi meninggalkan aku di saat aku masih mencintainya."
Arkan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Setelah itu dia menutup wajahnya ke dua tangannya.
"Nilam...!" teriak Arkan.
__ADS_1