
"Arumi," ucap Pak Tama.
"Bapak masih ada di sini? aku fikir, bapak sudah masuk kamar," ucap Arumi.
"Bapak belum ngantuk Arumi. Kamu mau ngapain ke sini?" tanya Pak Tama.
"Aku mau cari Rafa Pak," jawab Arumi.
"Kamu mau cari Rafa ya?"
"Iya Pak."
"Rafa nggak ada di sini."
"Terus, Rafa ke mana?"
"Dia ikut Lira dan Heru tadi sore"
"Lho, Mbak Lira mau membawa Rafa ke mana?" tanya Arumi sembari menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Katanya Lira mau membawa anak kamu ke rumahnya. Dan dia mau ngajakin Rafa nginap di sana," ucap Pak Tama menjelaskan.
"lho kenapa? emang Rafanya mau?"
"Mungkin Lira itu memang sengaja membawa anak kamu ke rumahnya untuk teman dia di rumah. Lira kan nggak punya anak."
"Maksudnya?"
"Maksud bapak kakak kamu itu belum punya anak."
"Oh. Jadi Mbak Lira belum punya anak."
"Iya Arumi.Sudah empat tahun menikah tapi Lira dan Heru belum dikaruniai seorang anak."
"Oh." Arumi manggut-manggut mengerti.
"Tuan Arkan sudah pulang Arumi?"
"Belum Pak. Nggak tahu dia mau pulang atau nggak. Tadi Tuan Mahendra juga sudah menghubunginya berkali-kali tapi nomer Tuan Arkan nggak aktif."
"Sepertinya dia masih belum bisa menerima kenyataan Arumi."
"Iya. Sudahlah, Pak. Lupakan saja soal Tuan Arkan. Aku juga sebenarnya nggak ada niat untuk menghancurkan pernikahan Tuan Arkan dengan wanita itu. Wanita itu yang pergi sendiri dari acara pernikahannya dan membatalkan pernikahan itu."
"Ya udahlah, sana sekarang kamu tidur. Kamu mau tidur di mana?" tanya Pak Tama.
"Kata Tuan Mahendra tadi, aku disuruh tidur di kamar Tuan Arkan. Karena katanya sekarang aku sudah sah menjadi istrinya Tuan Arkan. Jadi aku disuruh tidur di kamar Tuan Arkan. Tapi..."
"Tapi apa Arumi?" Pak Tama menatap Arumi lekat saat Arumi menggantungkan ucapannya.
"Jika Tuan Arkan pulang bagaimana. Apa Tuan Arkan tidak keberatan aku tidur sekamar dengannya. Tadi siang yang aku lihat, Tuan Arkan marah sekali dan langsung pergi, setelah akad nikah kami selesai."
__ADS_1
"Entahlah Arumi. Yang penting sekarang, yang harus kamu lakukan itu, melunakan hati suami kamu."
"Iya Pak. Kalau boleh, aku mau ke kamar ibu ya. Aku mau lihat kondisi ibu."
"Ibu kamu sudah sadar kok. Tapi dia lagi tidur tadi. Kalau kamu mau lihat ibu, masuk aja ke dalam."
"Iya Pak."
Arumi bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun berjalan masuk ke dalam kamar ibunya.
Sejak kedatangan Arumi hari ini, Arumi belum bertemu dengan ibunya secara langsung. Karena ibu Arumi pingsan cukup lama. Dan setelah acara selesai, Arumi juga repot membantu Bu Ella beres-beres.
Arumi menatap Bu Hesti yang saat ini masih terbaring di atas ranjang. Arumi tersenyum dan langsung mendekati ibunya. Arumi kemudian duduk di sisi ranjang Bu Hesti.
Arumi meraih tangan Bu Hesti dan menggenggamnya erat.
"Ibu, aku kangen sama ibu," ucap Arumi.
Setetes air mata Arumi mengalir begitu saja dari pelupuk matanya. Arumi menangis di sisi ibunya. Rasa rindu yang selalu bergejolak di hatinya tidak bisa dia tahan. Arumi langsung memeluk tubuh ibunya.
"Ibu. Aku kangen sama ibu. Hiks...hiks..." Arumi menangis sembari memeluk ibunya.
Bu Hesti yang masih terlelap, mengerjapkan matanya saat dia merasakan ada kehadiran seseorang di dekatnya.
Bu Hesti terkejut saat melihat Arumi memeluknya.
"Arumi," ucap Bu Hesti.
"Ibu, ibu bangun? maaf ya, karena aku sudah mengganggu tidur ibu," ucap Arumi.
Bu Hesti tersenyum dan mengusap air mata Arumi.
"Nggak apa-apa Arumi. Ibu juga kangen sama kamu," ucap Bu Hesti.
Bu Hesti kemudian beringsut duduk. Bu Hesti meraih wajah Arumi dan menangkup wajah Arumi.
"Kamu Arumi?" ucap Bu Hesti. Dia masih tidak percaya kalau wanita yang ada di depannya itu anaknya yang sudah lama menghilang dari kehidupannya.
Arumi menganggukan kepalanya.
"Iya Bu, ini aku. Arumi."
Bu Hesti tersenyum. Dia kemudian langsung memeluk tubuh Arumi. Bu Hesti juga sangat merindukan Arumi saat ini.
"Kamu apa kabar Nak? kenapa kamu baru pulang sekarang. Kenapa Arumi! apa kamu tahu, kalau ibu kangen sekali sama kamu. Ibu sangat merindukan kamu sayang," ucap Bu Hesti sembari mengusap-usap bahu Arumi.
Arumi melepaskan pelukannya.
"Ibu tidak apa-apa? kenapa ibu bisa pingsan sih Bu. Aku khawatir jantung ibu kambuh lagi."
"Ibu, udah nggak apa-apa kok Arumi. Ibu cuma syok aja tadi waktu lihat kamu. Ibu masih tidak percaya kalau sekarang kamu ada di depan ibu. Hiks...hiks...hiks..."
__ADS_1
Bu Hesti dan Arumi menangis bersama di dalam kamar. Mereka saling melepas rindu setelah lama mereka tidak saling bertemu.
Beberapa saat kemudian, Pak Tama masuk ke dalam kamar.
"Arumi, lebih baik sekarang kamu tidur Arumi. Udah malam. Biarkan ibu kamu istirahat," ucap Pak Tama.
Arumi menatap ayahnya lekat.
"Bapak, apa boleh untuk malam ini, aku tidur di kamar ibu?" tanya Arumi.
"Apa! kamu mau tidur di kamar ibu? tapi bagaimana dengan suami kamu. Sebentar lagi dia pasti pulang. Kamu harus tidur bersamanya di kamar."
"Tapi Pak..."
"Arumi. Jangan buat Tuan Mahendra marah. Kalau dia sudah menyuruh kamu sekamar dengan Tuan Arkan, ya kamu harus nurut."
Bu Hesti menatap Pak Tama dan Arumi bergantian.
"Apa maksud bapak? Sekamar sama Tuan Arkan? kenapa Arumi harus tidur sekamar dengan Tuan Arkan. Mereka kan bukan muhrim."
"Bu, Arumi itu sudah menikah dengan Tuan Arkan. Setelah Pak Mahendra tahu kalau Arumi punya anak dari Tuan Arkan, dia meminta Tuan Arkan untuk menikahi Arumi. Dan sekarang mereka sudah sah menjadi suami istri," ucap Pak Tama menjelaskan panjang lebar.
Bu Hesti yang tidak tahu menahu dengan pernikahan itu, terkejut.
"Ja-jadi, Tuan Arkan sudah menikahi mu? dia mau menikahi mu Nak? Lalu bagaimana dengan Non Nilam?" tanya Bu Hesti.
"Nilam pergi Bu. Dia meninggalkan acara pernikahannya dan membatalkan pernikahannya dengan Tuan muda," jelas Arumi.
"Ya Allah, kenapa semua jadi seperti ini," ucap Bu Hesti.
Dia masih tidak percaya dengan ucapan Arumi dan Pak Tama kalau sekarang Arkan anak majikannya itu sudah menikahi Arumi.
"Arumi, mana anak kamu? bukankah kamu ke sini membawa anak? ibu pengin lihat anak kamu," ucap Bu Hesti yang baru ingat dengan anak lelaki kecil yang berbaju putih.
"Dia dibawa Mbak Lira dan Mas Heru ke rumah mereka Bu."
"Lho, kok dibawa. Emang dia mau."
"Katanya sih mau Bu. Tapi nggak tahu, di sana nanti betah atau nggak. Aku takutnya dia nangis. Dia kan nggak biasa tidur tanpa aku."
"Besok Heru akan mengembalikan dia ke sini," ucap Pak Tama.
"Besok pak?"
"Iya. Kalau Rafa nggak betah tinggal di sana dan nangis, nanti juga di kembalikan ke sini."
Bu Hesti menatap Arumi lekat.
"Siapa nama anak kamu Arumi?"
"Rafa Bu."
__ADS_1
"Oh. Rafa. Nama yang bagus "