Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Mencari Arumi


__ADS_3

Malam ini, Leo sudah sampai di depan rumahnya. Dia kemudian menatap ke belakang mobil di mana Arumi dan adiknya duduk.


"Sekarang kalian turun," ucap Leo menyuruh Arumi dan Inez adiknya untuk turun.


"Kakak nggak mau ikut turun Kak?" tanya Inez pada Leo kakaknya.


"Saya mau ke rumah sakit. Tadi teman saya nelpon. Saya disuruh ke sana. Karena malam ini, lagi banyak pasien di rumah sakit," ucap Leo.


"Oh. Ya udah, jadi Kakak nggak mau turun dulu?"


"Nggak. Kakak mau langsung ke rumah sakit aja."


"Ya udah, kita turun," ucap Inez.


Inez kemudian menatap Arumi.


"Ayo kita turun Arumi," ajak Inez.


"Ini rumah kamu Nez?" tanya Arumi.


"Iya Arumi. Ini rumah aku."


Arumi dan Inez kemudian turun dari mobil Leo. Setelah itu mereka melangkah ke teras depan rumah.


Setelah Arumi dan Inez turun dari mobilnya. Leo kemudian meluncur pergi meninggalkan rumahnya untuk ke rumah sakit di mana dia bekerja.


Ya, Leo itu seorang dokter dan bekerja di salah satu rumah sakit swasta di kotanya.


Tok tok tok...


Inez mengetuk pintu rumahnya. Beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya membuka pintu.


"Eh, Non. Udah pulang Non," ucap Bik Minah yang tak lain adalah asisten rumah tangga Leo.


"Bik, tolong beresin kamar tamu ya. Untuk sementara Arumi akan tinggal di sini bersama kita!" ucap Inez memerintahkan..


Bik Minah menatap Arumi yang masih tampak asing. Namun Bik Minah tidak mau terlalu banyak bertanya.


"Iya Non."


"Oh iya. Tolong bawain tas Arumi juga ya ke kamar!" lanjut Inez.


"Baik Non."


Bik Minah kemudian melangkah masuk ke dalam dengan membawa tas baju Arumi. Sementara Inez menutup pintu rumahnya kembali.


"Ayo Arumi. Kita masuk!" ajak Inez


Arumi menatap ke sekeliling rumah Inez, rumah Inez yang terlihat tampak besar. Namun tidak sebesar rumah Pak Mahendra.


Arumi dan Inez melangkah ke ruang tengah.


"Kamu di sini tinggal sama siapa?" tanya Arumi pada Inez.


"Aku tinggal sama Kak Leo dan Mama," jawab Inez.

__ADS_1


"Oh. Kalau Papa kamu?"


"Papa aku sudah meninggal satu tahun yang lalu."


Inez tampak sedih saat diingatkan kembali dengan ayahnya yang sudah meninggal.


"Oh, jadi ayah kamu sudah meninggal. Maafkan aku ya Nez, udah membuat kamu teringat lagi dengan ayah kamu."


Inez tersenyum.


"Nggak apa-apa Arumi. Santai aja."


Setelah sampai di ruang tengah, Inez dan Arumi menghentikan langkahnya. Inez kemudian mempersilahkan Arumi untuk duduk.


"Kita duduk dulu ya Arumi. Kita tunggu Bik Minah beresin kamar kamu. Ayo duduk Arumi"


Arumi mengangguk. Setelah itu dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Begitu juga dengan Inez yang mengikuti Arumi duduk.


"Aku di sini cuma tinggal bertiga. Mama, aku dan Kak Leo. Dan tadi namanya Bik Minah asisten rumah tangga di rumah ini."


"Oh. Bik Minah."


"Ya Arumi."


"Makasih kamu udah ngizinin aku untuk tinggal di sini bersama kamu dan kakak kamu."


"Sama-sama Arumi."


Beberapa saat kemudian, Bik Minah menghampiri Arumi dan Inez.


Inez menatap Bik Minah lekat.


"Makasih ya Bik. Bibik boleh istirahat. Maaf kalau sudah mengganggu waktu istirahat bibi."


Bik Minah tersenyum.


"Nggak apa-apa Non. Ini juga sudah tugas bibi kok. Bibi pergi ke belakang dulu ya Non."


"Iya "


Setelah Bik Minah pergi, Inez menatap Arumi.


"Ayo Arumi. Aku antar kamu ke kamar kamu."


"Iya."


Arumi dan Inez kemudian melangkah untuk ke kamar tamu.


"Untuk sementara kamu tinggal di sini dulu ya Arumi."


"Iya. Makasih ya Nez."


"Udah malam Arumi. Aku mau ke kamar aku dulu ya. Kalau ada apa-apa kamu bisa panggil aku. Kamar aku ada di atas Arumi. Di sebelah kamarnya Kak Leo."


"Iya. Makasih."

__ADS_1


****


Pagi ini, Lira tampak sudah rapi. Minggu pagi, Lira libur kerja. Dan pagi ini Lira memutuskan untuk mencari Arumi adiknya yang kemarin pergi dari rumah dan belum ada kabar apapun tentangnya.


Lira sangat sayang sama Arumi, seperti Bu Hesti yang saat ini masih mengkhawatirkan Arumi. Namun Pak Tama sama sekali tidak mengkhawatirkan Arumi.


Dia fikir, Arumi pasti akan baik-baik saja karena dia sudah dewasa dan pasti bisa jaga diri. Pak Tama hanya ingin memberi pelajaran pada Arumi karena dia sudah membuat aib di keluarganya.


Pagi ini, Lira sudah janjian dengan Heru untuk mencari Arumi. Heru pagi ini sudah menunggu Lira di depan rumah Pak Mahendra.


Lira buru-buru pergi dari rumahnya. Dia tidak mau ayahnya tahu kalau dia akan mencari Arumi. Karena jika Pak Tama tahu Lira pergi untuk mencari Arumi, bisa marah besar Pak Tama pada Lira.


Lira buru-buru membuka pintu mobil Heru dan masuk ke dalam mobil itu.


"Ayo Mas, jalan."


"Kamu kenapa sih. Kayak buru-buru banget gitu?" tanya Heru.


"Aku nggak mau sampai bapak lihat aku pergi. Dia pasti akan tanya sama aku, aku mau pergi ke mana. Kalau dia tahu aku mau nyari Arumi, bisa marah besar dia sama aku. Tahu sendiri kan bagaimana watak bapak aku. Dia keras banget orangnya."


"Baiklah, terus sekarang kita mau nyari adik kamu ke mana?" tanya Heru pada Lira.


"Kemana aja Mas. Yang penting aku ketemu sama adik aku."


"Kamu yakin mau bawa adik kamu pulang ke rumah ini. Kan bapak kamu sudah ngusir dia."


"Nggaklah Mas. Aku mau carikan Arumi tempat tinggal. Aku tidak mungkin tega dong, membiarkan Arumi terlunta-lunta dijalanan apalagi dia dalam keadaan hamil sekarang."


Heru kemudian menyalakan mesin mobilnya. Setelah itu dia pun meluncur pergi meninggalkan tempat itu.


*


Sudah seharian Lira dan Heru mencari Arumi. Namun Lira belum menemukan juga keberadaan adiknya saat ini.


"Kita sudah muter-muter keliling kota ini. Namun sampai sekarang kita belum menemukan adik kamu," ucap Heru yang tampak sudah lelah setelah seharian dia mencari Arumi namun Arumi belum juga ditemukan.


"Kemana ya Arumi. Perasaan aku kenapa jadi nggak enak begini," ucap Lira sembari memegang dadanya.


"Lira, sabar ya. Aku yakin, adik kamu sekarang pasti ada di suatu tempat. Mungkin dia sudah bertemu orang baik yang sudah mau menolongnya. Kita positif thinking aja ya."


Lira menatap Heru lekat.


"Tapi bagaimana kalau sebaliknya. Bagaimana kalau Arumi bertemu dengan orang jahat di jalan. Aku nggak bisa membayangkan bagaimana nasibnya kalau dia bertemu dengan orang jahat di jalan."


"Lira sudahlah, kita doain aja adik kamu. Jangan berfikiran macam-macam seperti itu.Kita doakan saja yang terbaik untuk adik kamu."


Lira menganguk.


"Iya Mas."


"Sekarang kita mau ke mana. Apa kita mau pulang aja. Kamu lihat sendiri kan, kalau adik kamu itu nggak ada di mana-mana. Nggak mungkinlah dia pergi dari kemarin belum mendapatkan tempat tinggal. Mungkin dia sudah mendapat tempat tinggal."


"Iya Mas. Kita pulang aja deh. Aku juga udah lelah Mas."


Heru dan Lira kemudian meluncur pergi meninggalkan tempat itu, setelah mereka berhenti lama di tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2