
Siang ini, Arumi dan Bu Hesti masih berada di dapur. Mereka masih sibuk memasak untuk persiapan makan siang mereka siang ini.
Di tengah-tengah kesibukan Arumi dengan ibunya, beberapa saat kemudian, Pak Mahendra datang dan menghampiri Arumi.
"Arumi," ucap Pak Mahendra.
Arumi menoleh ke arah Pak Mahendra.
"Iya Pa," ucap Arumi.
"Tolong nanti kamu ke kantor Arkan, dan bawain bekal makan siang untuk dia," pinta Pak Mahendra pada Arumi.
Arumi mengangguk. "Iya Pa."
"Tuan Mahendra, nanti saya yang akan menyiapkan bekal makan siangnya untuk Tuan muda," ucap Bik Hesti.
"Iya. Terserah kalian."
Pak Mahendra kemudian melangkah pergi meninggalkan dapur. Sementara Bu Hesti dan Arumi melanjutkan memasaknya.
Setelah masakan Bu Hesti matang, Bu Hesti kemudian menyiapkan rantang. Dia memasukan nasi dan lauk ke dalam rantang itu.
"Arumi...!" ucap Bu Hesti.
Arumi mendekat ke arah ibunya.
"Iya Bu. Ada apa?" tanya Arumi.
"Ini, makanan buat Tuan muda. Kamu bisa mengantar makanan ini ke kantornya sekarang," ucap Bu Hesti.
Arumi menatap rantang yang berisi makanan.
"Banyak sekali Bu makanannya," ucap Arumi.
Bu Hesti tersenyum.
"Itu sekalian buat kamu juga. Siapa tahu, kamu mau makan di sana bersama suami kamu," ucap Bu Hesti.
"Iya Bu. Tapi aku mau siap-siap dulu."
"Iya Arumi."
Arumi kemudian pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap. Setelah siap, dia menghampiri Bu Hesti kembali dan mengambil rantang itu.
"Kamu mau pergi naik apa? apa kamu mau di antar ayah kamu? mumpung ayah kamu ada di rumah," ucap Bu Hesti.
"Katanya ayah mau nganter Papa pergi. Aku naik taksi aja deh Bu."
"Ya udah, kalau begitu."
Arumi kemudian membawa rantang itu dan berjalan ke halaman depan rumah.
Arumi kemudian berjalan ke arah jalan raya untuk menunggu taksi.
Setelah taksi datang, Arumi kemudian masuk ke dalam taksi dan meluncur pergi meninggalkan kediaman keluarga Mahendra.
"Pak turun di depan Pak," ucap Arumi setelah sampai di depan kantor Arkan.
"Iya Mbak," ucap sopir taksi itu.
Arumi kemudian turun dari taksi setelah membayar ongkos taksi.
Dia kemudian masuk ke dalam kantor Arkan untuk menemui Arkan.
Arumi menatap ke sekeliling. Tak ada orang yang dia kenal di kantor itu. Membuat Arumi bingung dan dia hanya bisa berdiri di depan kantor Arkan.
__ADS_1
"Aku telpon Mas Heru atau Mbak Lira aja deh. Aku bingung di sini nggak ada orang yang aku kenal," ucap Arumi.
Arumi kemudian menelpon Lira kakaknya.
"Halo..."
"Halo Mbak. Mbak ada di mana? Mbak ada di kantor kan sama Mas Heru?"
"Ada apa Arumi? Mbak nggak ada di kantor sekarang. Mbak lagi keluar makan siang dengan Mas Heru."
"Sebenarnya aku mau tanya ruangan suamiku Mbak. Aku mau ngantar bekal makan siang."
"Oh, kamu ada di kantor yang sekarang?"
"Iya Mbak."
"Coba kamu tanya karyawan yang lain aja."
"Iya deh. Udah dulu ya Mbak."
"Iya Arumi."
Arumi kemudian menutup saluran telponnya. Setelah itu dia melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam ruangan Arkan.
"Pak, saya mau tanya ruangan Pak Arkan," ucap Arumi pada Pak Hadi karyawan lelaki yang lewat di sampingnya.
Pak Hadi menatap Arumi lekat. Sepertinya Pak Hadi pernah melihat wajah Arumi sebelumnya.
"Mbak ini bukannya istrinya Pak Arkan ya?" terka Pak Hadi.
Arumi mengangguk dan tersenyum.
"Iya. Saya mau tanya ruangan suami saya," ucap Arumi.
"Terus? dia kemana?" tanya Arumi.
"Dia ada pertemuan dengan kliennya di luar kantor. Jadi dia bakal lama ada di luar kantor."
"Terus berapa lama kira-kira dia pergi?" tanya Arumi.
"Mungkin sampai sore Mba," jawab Pak Hadi.
"Yah, sayang sekali kalau begitu. Padahal aku sudah membawakan bekal makan siang untuk dia," ucap Arumi tampak kecewa.
"Ya udah Mbak, saya pergi dulu ya Mbak. Tapi kalau Mbak mau tunggu Pak Arkan di ruangannya, silahkan. Siapa tahu, Pak Arkan akan kembali ke kantor," ucap Pak Hadi.
"Nggak usah deh Pak. Aku mau pulang aja. Takutnya suamiku mau sampai sore. Nggak mungkin kan, aku nungguin dia di sini sampai sore. Kalau begitu, makasih banyak ya Pak untuk informasinya."
"Iya Mbak. Sama-sama."
Arumi tampak kecewa karena ternyata Arkan tidak ada di kantornya. Arumi kemudian berjalan sampai akhirnya dia sampai di kantin kantor Arkan.
Arumi menatap ke sekeliling untuk mencari tempat duduk. Dia kemudian duduk di kantin kantor. Dia yang sudah merasa lapar, kemudian membuka rantangnya.
"Apa aku makan sendiri aja ya. Kenapa sih, Papa harus nyuruh aku untuk membawakan makanan untuk Mas Arkan ke kantor. Apa Papa nggak tahu, kalau Mas Arkan itu sekarang nggak ada di kantor," ucap Arumi menggerutu sendiri.
Arumi kemudian membuka rantangnya satu persatu. Dia akhirnya makan juga, bekal makan siang suaminya.
Di sela-sela kunyahannya, Arumi menatap ke depan. Arumi terkejut saat melihat seorang lelaki yang sangat dikenalnya.
Yah, dia Kenzo. Lelaki masa lalunya yang pernah singgah di hati Arumi. Lelaki yang tujuh tahun yang lalu dia tinggalkan.
Arumi menelan ludahnya saat melihat Kenzo ada di depan matanya.
"Ken, kamu kok bisa ada di sini?" tanya Arumi.
__ADS_1
Kenzo tersenyum.
"Arumi, boleh aku duduk di sini?'' tanya Kenzo.
Arumi menatap ke sekeliling.
Dia sebenarnya tidak enak dengan orang-orang jika dia duduk berdua dengan Kenzo.
Tapi Arumi berfikir lagi, semua orang yang ada di kantor Arkan, tidak begitu mengenalnya. Dan mereka juga tidak tahu, hubungan masa lalu, Arumi dengan Kenzo.
"Yah, silahkan Ken!" ucap Arumi.
Setelah Arumi mempersilahkan Kenzo duduk, Kenzo kemudian duduk di depan Arumi.
"Kamu mau makan juga ya Ken?" tanya Arumi.
"Iya. Aku mau pesan makanan sebenarnya."
"Kamu makan makanan aku aja Ken. Sayang, masih banyak. Nggak ada yang habisin. Aku nggak mungkin dong, menghabiskan makanan sebanyak ini," ucap Arumi.
Kenzo menatap rantang makanan yang ada di atas meja. Dia tersenyum saat melihat makanan-makanan itu. Sepertinya Kenzo teringat dengan sesuatu.
Ya, dulu sewaktu dia masih pacaran dengan Arumi, Arumi juga sering membawa bekal makanan. Arumi pasti akan duduk di kantin untuk makan bersamanya.
"Ini masakan kamu, atau masakan ibu kamu?" tanya Kenzo.
"Masakan ibu Ken," jawan Arumi singkat.
"Oh, enak dong."
"Ya, pasti enak dong."
"Arumi, kamu bawa-bawa makanan sebanyak ini untuk apa?" tanya Kenzo lagi.
"Sebenarnya, aku mau memberikan makanan ini untuk Arkan."
Kenzo terkejut saat mendengar nama lelaki itu disebut. Kenzo baru ingat, kalau Arumi adalah istrinya Arkan.
"Kamu mau bawain bekal makan siang untuk suami kamu?"
Arumi mengangguk.
"Kamu sendiri, ngapain di sini?" Arumi balik bertanya.
"Aku kerja di sini Arumi."
Arumi terkejut.
"Oh,jadi kamu kerja di sini?"
"Iya. Kamu apa kabar Arumi?" tanya Kenzo.
"Aku baik Ken, alhamdulillah."
"Arumi, aku udah tahu, semua masalah kamu dengan Arkan. Aku tahu, kalau kamu ternyata punya anak dari lelaki itu."
"Kamu udah tahu Ken?"
Kenzo mengangguk.
"Iya. Karena waktu itu, aku juga ikut menyaksikan pernikahan kamu dengan Arkan."
Arumi terkejut saat mendengar ucapan Kenzo.
Ternyata Kenzo hadir di acara pernikahan Arumi dengan Arkan. Namun Arumi sama sekali tidak menyadari akan kehadiran Kenzo.
__ADS_1