
Hiks...hiks...hiks...
Nilam masih menangis di dalam kamarnya. Dia masih duduk di sisi ranjangnya sembari sesenggukan menangis.
Sejak dia meninggalkan acara pernikahannya itu, Nilam pulang dan dia langsung menangis di dalam kamarnya. Nilam mengurung dirinya sampai sore di dalam kamar.
Nilam begitu sangat sedih, saat dia tahu kebenaran, kalau Arkan calon suaminya itu sudah punya anak dari wanita lain. Nilam tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.
Sebenarnya Nilam sangat mencintai Arkan. Namun menerima masa lalu Arkan yang sudah punya anak itu terlalu sulit untuk Nilam.
Nilam wanita yang paling tidak suka dengan yang namanya kebohongan. Andai saja Arkan mau jujur dari awal, mungkin Nilam masih bisa menerimanya.
"Kenapa sih, kenapa Mas Arkan jahat banget sama aku, dia udah bohongin aku. Jadi selama ini, Mas Arkan sudah punya anak dari wanita lain. Kenapa dia nggak pernah mau cerita ke aku," ucap Nilam di sela-sela tangisannya.
Tok tok tok...
Suara ketukan sudah terdengar dari pintu kamar Nilam.Nilam mengusap air matanya. Dia bangkit dari duduknya dan buru-buru membuka pintu kamarnya.
Di depan pintu kamar Nilam, Bu Hana sudah berdiri sembari membawa nampan yang berisi makanan dan minuman untuk Nilam.
Sejak siang tadi, Nilam memang belum makan. Bu Hana tidak mau anaknya itu sakit, gara-gara memikirkan pernikahannya yang gagal itu.
Bu Hana tahu, bagaimana perasaan Nilam saat ini. Dia pasti hancur karena dia gagal menikah dengan lelaki yang dia cintai.
"Nilam, kamu belum makan kan dari tadi siang. Sekarang kamu makan ya," ucap Bu Hana
"Mama," ucap Nilam sembari mengusap sisa-sisa air mata di sudut matanya.
Bu Hana masuk ke dalam kamar Nilam sembari membawa nampan itu. Dia kemudian meletakan makanan dan minuman itu di atas nakas. Setelah itu, Bu Hana mendekat ke arah anaknya.
"Sayang, kamu makan ya. Nanti kamu sakit kalau nggak makan," ucap Bu Hana.
Dia merangkul bahu anaknya dan mengajak Nilam untuk duduk.
"Ma, kenapa Mas Arkan jahat banget sama aku Ma. Dia sudah bohongin aku," ucap Hana.
Sejak tadi, Hana memang belum bisa melupakan kejadian yang ada di dalam acara pernikahannya itu. Di mana ada seorang anak kecil datang ke acara pernikahan itu dan mengaku kalau dia adalah anak Arkan. Dan Nilam juga tidak percaya kalau ibu dari anak itu juga datang ke acaranya dan membongkar semua rahasia calon suaminya.
"Apa yang sudah wanita itu lakukan. Dia sudah menghancurkan semuanya. Menghancurkan kebahagiaan aku dengan Mas Arkan. Seandainya dia tidak datang, pasti semuanya akan baik-baik saja. Dan aku tidak mungkin malu seperti ini," ucap Nilam panjang lebar.
"Nilam sudahlah, jangan kamu tangisi ini semua. Kamu harus bisa lupakan Arkan. Karena sekarang Arkan sudah menikahi wanita itu," ucap Bu Hana.
Nilam terkejut saat mendengar ucapan Bu Hana. Sepertinya Nilam memang belum tahu. Sejak kepergiannya dari acara itu, Pak Mahendra sudah menyuruh Arkan untuk menikahi Arumi
__ADS_1
"Apa! mama yakin?" Nilam masih tampak tidak percaya.
"Iya Nak. Arkan memang sudah menikah dengan wanita yang bernama Arumi itu. Lupakan Arkan, dia sudah bukan milik kamu lagi sekarang. Kamu harus belajar menerima ini. Arkan sekarang sudah menjadi milik wanita lain. Dan dia juga sudah punya anak dari wanita itu," ucap Bu Hana.
"Jadi Mas Arkan udah nikahin Arumi," ucap Nilam.
"Iya Nilam."
"Mama tahu dari mana soal itu?" tanya Nilam.
"Bu Erina yang bilang ke mama. Tadi dia nelpon Mama. Dia menceritakan semua ke Mama. Arumi sekarang sudah sah menjadi istri Arkan. Sudah tidak ada kesempatan untuk kamu dekat dengan Arkan lagi," ucap Bu Hana menjelaskan.
Nilam diam. Dia sudah dibuat sedih oleh kebohongan Arkan, ditambah lagi sedihnya saat dia tahu kebenaran, kalau Arkan sudah menikahi Arumi.
Hiks...hiks..hiks...
Nilam kembali menangis. Kali ini, tangisnya semakin kencang. Nilam tidak menyangka lelaki yang dia cintai dengan sekejap sudah menjadi milik wanita lain.
Padahal selama ini, kenangan Arkan dengan Nilam sudah begitu banyak. Nilam tidak yakin, kalau dia bisa cepat melupakan Arkan.
Apa Mas Arkan akan bahagia menikah dengan wanita itu, aku rasa dia tidak akan bahagia, karena dia tidak cinta sama Arumi. Dia cuma cinta sama aku, batin Nilam.
Bu Hana sejak tadi masih mencoba untuk menenangkan Nilam. Sesekali dia mengusap pipi Nilam yang banjir air mata.
"Aku lagi nggak pengin makan Ma. Bawa aja Ma, makanan itu," ucap Nilam sembari menatap makanannya.
"Lho, kok dibawa lagi. Kan mama udah ambilin buat kamu. Sayang lho kalau di buang-buang makanannya. Mubazir."
"Tapi aku nggak mau makan Ma. Apa mama bisa tinggalkan aku sendiri di sini. Aku lagi pengin sendiri Ma."
Bu Hana menatap anaknya lekat. Ya, mungkin Nilam memang lagi butuh waktu untuk sendiri.
Bu Hana bangkit dari duduknya. Setelah itu dia berjalan pergi meninggalkan kamar Nilam. Dia tidak mungkin memaksa Nilam untuk makan.
Bu Hana menutup pintu kamar Nilam. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan kamar Nilam. Membiarkan anaknya sendiri menenangkan diri di dalam kamar.
***
Malam ini, di ruang tengah, tampak Pak Mahendra dan Arumi masih duduk bersama. Sejak tadi mereka masih menunggu Arkan pulang.
"Tuan, kemana ya Tuan Arkan. Sampai malam begini, kenapa dia belum pulang," ucap Arumi.
Dia tampak cemas dan sangat mengkhawatirkan Arkan, lelaki yang sudah menghalalkannya beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
Pak Mahendra tersenyum.
"Arumi. Sekarang kamu panggil aku papa. Nggak usah Tuan lagi. Karena kamu sekarang sudah menjadi menantuku," ucap Pak Mahendra.
Arumi tersenyum .
"Iya Papa. Maaf kalau aku belum terbiasa memanggil Papa. Jadi aku masih sering memanggil anda Tuan."
"Arumi, mulai sekarang, kamu tidur di kamarnya Arkan ya. Karena sekarang kalian berdua sudah sah menjadi suami istri. Jadi kalian harus tidur satu kamar," ucap Pak Mahendra.
Arumi terkejut saat mendengar ucapan Pak Mahendra.
"Apa! satu kamar dengan Tuan Arkan?"
Arumi tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia tidur satu kamar dengan lelaki itu. Lelaki yang menurut Arumi jahat karena dulu dia sudah menculiknya dan akan membuangnya ke luar negeri.
"Kenapa Arumi? kenapa kamu terkejut begitu?"
"Oh, iya Pa. Sekali lagi, aku memang belum terbiasa. Apalagi itu tidur dengan Tuan muda. Aku juga masih belum percaya kalau Tuan muda sekarang adalah suamiku."
"Lama-lama juga akan terbiasa Arumi."
"Iya Pa.
Pak Mahendra tersenyum.
"Oh iya. Di mana anak kamu?" tanya Pak Mahendra.
Arumi menatap ke sekeliling. Namun Rafa tak nampak ada di dalam rumah Pak Mahendra.
"Kemana ya Rafa," ucap Arumi.
"Sepertinya dia ada di belakang bersama Lira."
"Iya Pa. Kalau begitu, aku ke belakang dulu ya. Mau lihat Rafa dulu. Takut dia nangis. Soalnya dia tidak terbiasa dengan orang baru," ucap Arumi.
Pak Mahendra mengangguk.
Arumi kemudian bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun berjalan ke belakang rumah di mana anaknya berada.
Arumi sudah sampai di ruang tamu rumah kecil orang tuanya yang ada di belakang rumah Pak Mahendra.
Arumi menatap ke sekeliling ruang tamu. Namun tak ada Rafa di ruang tamu. Arumi kemudian melanjutkan langkahnya sampai ke ruang tengah.
__ADS_1
Arumi tersenyum saat melihat ayahnya masih duduk di sofa ruang tengah.