Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Rahasia besar


__ADS_3

"Pak Arkan, apa Pak Arkan bisa, merahasiakan rahasia Arumi?" tanya Lira.


Arkan mengernyitkan keningnya.


"Rahasia? rahasia apa?" tanya Arkan penasaran.


"Tapi Pak Arkan janji dulu sama saya , kalau Pak Arkan akan menjaga rahasia keluarga saya," ucap Lira lirih.


"Ya, saya janji. Saya akan jaga rahasia keluargamu."


Lira diam. Dia mengambil nafas dan mencoba untuk bercerita jujur tentang Arumi pada Arkan.


"Sebenarnya, Arumi diusir oleh bapak, karena dia sudah hamil di luar nikah," ucap Lira.


"Apa!" Arkan terkejut bukan main saat mendengar ucapan Lira.


Hampir saja jantung Arkan melompat dari tempatnya saat mendengar ucapan Lira. Keringat dingin sudah mulai membasahi tubuh Arkan. Rasa gugup juga sudah mulai menguasai hatinya.


Ja-jadi, Arumi hamil. Apa jangan-jangan Arumi hamil anak aku? nggak. Ini nggak boleh di biarin, batin Arkan.


Arkan sejak tadi diam. Perasaannya sudah campur aduk tidak karuan. Sejak tadi dia terlihat sangat gugup. Namun sebisa mungkin Arkan berusaha untuk menyembunyikan rasa gugup itu dari Lira.


Nggak, aku nggak boleh gugup begini. Aku harus pura-pura tidak tahu saja. Aku nggak mau membuat Lira curiga sama aku. Mudah-mudahan saja, anak yang ada di dalam rahim Arumi bukan anak aku.


"Pak Arkan, Pak Arkan kenapa?" tanya Lira yang melihat Arkan diam.


"Pak Arkan," ucap Lira meninggikan nada suaranya.


Lira tidak mungkin keluar begitu saja dari ruangan Arkan sebelum Arkan mengizinkannya pergi dari ruangan itu.


"Eh, iya Lira."


"Apa yang bapak fikirkan?"


"Tidak ada yang aku fikir kan? kenapa bapak kamu harus mengusir Arumi?"


"Bapak itu, nggak mau menanggung malu dengan aib yang di bawa Arumi."


"Kamu sudah tahu, siapa lelaki yang sudah menghamili adik kamu?"


Lira menggeleng.


"Sampai saat ini, saya tidak tahu siapa lelaki yang sudah menghamili adik saya. Karena adik saya tidak pernah cerita apa-apa sama saya."


Oh, bagus Arumi. Kamu sudah tepati janji kamu untuk tidak melibatkan saya dalam masalah kehamilan kamu itu, batin Arkan.


"Oh, baiklah. Kalau begitu. Kamu bisa kembali kerja," ucap Arkan.


Lira mengangguk. Setelah Arkan mengizinkannya pergi, Lira kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.


****


Pagi ini Kenzo masih berada di kampusnya. Dia masih duduk di depan kelas sembari membaca-baca buku.

__ADS_1


Sudah satu minggu dia tidak melihat Arumi. Kenzo merasa kehilangan setelah Arumi benar-benar pergi jauh dari kehidupannya.


Kenzo sejak tadi masih menatap bukunya, namun tampaknya fikiran Kenzo seperti tidak ada di tempatnya. Ternyata sejak tadi Kenzo masih memikirkan Arumi. Wanita yang sudah satu bulan ini dia putuskan.


"Arumi, kamu sebenarnya di mana Arumi. Apa kamu sudah tidak diizinkan kuliah lagi oleh orang tua kamu," ucap Kenzo.


Seorang wanita melintas di depan Kenzo.


"Fan," ucap Kenzo.


Wanita yang bernama Fani itu menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Kenzo.


"Ken, ada apa?" tanya Fani.


"Kamu satu kelas kan dengan Arumi."


Fani mengangguk.


"Iya. Emang kenapa?"


"Sini, duduk dulu. Aku mau tanya soal Arumi."


Fani kemudian mendekat ke arah Kenzo dan duduk di samping Kenzo.


"Fan, aku nggak pernah melihat Arumi ada di kampus ini. Dia kemana ya, apa kamu tahu di mana Arumi?" tanya Kenzo pada Fani.


"Sudah tujuh hari, dia bolos kuliah. Dan aku juga nggak tahu di mana Arumi. Seharusnya kamu yang lebih tahu di mana Arumi dong. Kan kamu yang dekat dengan dia."


"Iya. Itu dulu Fan. Aku dan Arumi sudah putus sekarang. "


"Apa! jadi kamu sudah putus sama Arumi?"


"Iya. Aku sudah putus sama dia."


"Putus kapan? Arumi kok nggak pernah cerita sama aku."


"Udah sekitar satu bulanan lah aku dan Arumi putus."


"Kenapa putus?"


"Mungkin Arumi dan aku belum berjodoh. Arumi yang udah mutusin aku."


"Sabar ya. Terus kenapa kamu cariin Arumi. Kan kalian sudah putus."


"Iya. Aku cuma nggak terbiasa kalau nggak lihat dia. Hati aku, merasa hampa kalau tidak ada dia."


"Ciye... jadi ceritanya kamu masih cinta ya sama Arumi. Tapi Arumi udah mutusin kamu begitu aja."


"Yah, begitulah."


"Kalau kamu masih cinta, kejar saja Arumi. Kamu cari tahu alamat rumah Arumi dan kejar cinta Arumi."


Bicara memang mudah. Tapi apa iya, aku harus ngejar wanita yang lagi hamil anak pria lain. Apa aku sanggup menerima wanita yang di rahimnya ada anak pria lain. Cuma lelaki bodoh yang mau menerima wanita yang lagi hamil anak pria lain. Tapi aku pun tidak bisa membohongi perasaan aku sendiri. Kalau aku tidak bisa jauh dari Arumi. Karena aku masih cinta sama dia, batin Kenzo.

__ADS_1


****


Sepulang dari kantor, Lira menatap seorang lelaki yang saat ini masih berada di depan rumah Pak Mahendra. Lelaki itu masih berdiri di depan gerbang rumah Pak Mahendra.


"Siapa itu," ucap Lira.


Lira mengambil uang dari dalam tasnya untuk membayar taksi.


"Makasih banyak ya Pak," ucap Lira.


"Iya. Sama-sama Mbak."


Lira turun dari taksi setelah dia membayar taksi yang di tumpanginya itu. Setelah itu dia menghampiri seorang lelaki yang sejak tadi masih berdiri di depan rumah Pak Mahendra.


"Maaf, mau cari siapa ya?" tanya Lira pada lelaki itu.


Lelaki itu menoleh ke belakang dimana Lira berdiri.


Lira terkejut saat melihat Kenzo. Lelaki yang tempo hari pernah dia tampar dan dia tuduh menghamili adiknya.


"Kenzo, kamu kok bisa ada di sini? kamu mau ngapain ke sini?" tanya Lira.


"Aku ke sini mau ketemu Arumi Mbak," jawab Kenzo.


"Arumi?"


"Iya. Sudah satu minggu aku nggak melihat Arumi di kampus. Aku cuma pengin tahu kabar Arumi aja. Barang kali Arumi lagi sakit dan nggak bisa ke kampus."


"Ken, Arumi udah nggak tinggal di sini lagi Ken."


"Terus dia tinggal di mana Mbak?"


"Aku juga nggak tahu di mana keberadaan Arumi sekarang Ken."


"Lho, kok bisa gitu?"


"Arumi pergi dari rumah Ken. Dia sudah membawa pergi baju-bajunya."


"Oh. Jadi Arumi pergi dari rumah."


"Iya Ken."


"Mbak tahu nggak ke mana Arumi pergi dan di mana sekarang dia tinggal?"


"Saya juga nggak tahu Ken. Saya juga belum mendapatkan kabar dari Arumi."


"Kata Mbak, Arumi lagi hamil. Kok Mbak biarkan dia pergi?"


"Ceritanya sangat panjang Ken. Aku nggak bisa cerita di sini. Yang penting Arumi sekarang pergi dan dia udah nggak tinggal di sini lagi, dan saya tidak tahu di mana Arumi sekarang. Dari kemarin saya juga mencarinya. Tapi belum ketemu sampai sekarang."


"Ya udah Mbak. Kalau begitu, aku akan bantu Mbak ya untuk nyari Arumi."


Lira tersenyum.

__ADS_1


Sepertinya, Kenzo ini anak yang baik. Dia tidak mungkin menghamili Arumi. Dia juga sopan banget kalau ngomong sama orang yang lebih tua. Aku jadi merasa bersalah sama dia karena kemarin-kemarin aku sudah sempat nampar dia dan menuduhnya.


__ADS_2