
Siang ini, Arkan sudah sampai di depan rumah Nilam. Arkan mengetuk pintu rumah Nilam setelah dia sampai di depan teras rumah Nilam.
Tok tok tok...
"Permisi."
Beberapa saat kemudian, seorang wanita keluar dari rumah Nilam.
"Eh, Tuan Arkan. Mau cari Non Nilam ya?" tanya Bik Mira asisten rumah tangga yang ada di rumah Nilam.
"Iya. Nilamnya ada?"
"Non Nilamnya ada di dalam. Tapi, dari kemarin dia belum keluar dari kamarnya," jelas Bik Mira.
"Bik Mira, tolong, bisa panggilkan Nilam."
Bik Mira mengangguk. Dia kemudian berjalan masuk ke dalam dan meninggalkan Arkan untuk memanggil Nilam di kamarnya.
Sesampainya di ruang tengah, Bik Mira menghentikan langkahnya saat melihat Bu Hana duduk di ruang tengah.
"Siapa Bik yang datang?" tanya Bu Hana.
"Itu, Tuan Arkan Nya," jawab Bik Mira singkat.
"Mau ngapain dia ke sini? bukankah saya sudah menyuruhnya untuk menjauhi Nilam." Bu Hana tampak kesal dengan kedatangan Arkan.
"Saya juga tidak tahu Nya. Tapi tadi katanya Tuan Arkan ingin ketemu Non Nilam."
"Biar saya aja ya bicara sama Arkan."
Bu Hana bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun pergi untuk melihat Arkan di depan.
"Arkan. Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Bu Hana menatap Arkan tajam.
Arkan tersenyum. Dia lantas mencium punggung tangan Bu Hana seperti yang biasa dia lakukan saat bertemu dengan Bu Hana.
"Aku mau ketemu Nilam Tan. Nilamnya ada Tan?" tanya Arkan.
"Mau ngapain kamu ketemu Nilam Arkan? Nilam nggak mau ketemu sama kamu. Dia masih marah sama kamu "
"Tan tolong Tan. Izinkan aku ketemu Nilam. Sebentar aja Tan. Aku mau minta maaf sama dia. Aku mau bicara sama dia sebentar aja Tan. Tolong Tan. Panggilkan Nilam."
Bu Hana menghela nafasnya dalam. Kalau Arkan bukan anak dari Bu Erina sahabat dekat Bu Hana, mungkin saja Bu Hana sudah mengusirnya dari tadi.
Namun Bu Hana masih mau menghargai Arkan, karena dia adalah anak Bu Erina. Walau Arkan sudah menghancurkan perasaan Nilam, namun Bu Hana mencoba untuk memaafkan kesalahan Arkan.
"Baiklah. Tante akan panggilkan Nilam. Tapi kalau Nilam nggak mau ketemu kamu, kamu janji ya kamu harus pergi dari rumah saya dan jangan ganggu Nilam atau pun Tante," ucap Bu Hana sebelum masuk ke dalam rumah.
Arkan tersenyum. Dia bahagia akhirnya Bu Hana mau juga memanggil anaknya di dalam dan mengizinkannya untuk bicara dengan Nilam.
"Iya Tan. Aku akan pergi dari sini dan nggak akan maksa Nilam lagi. Kalau Nilam nggak mau bicara denganku."
__ADS_1
"Ya udah, masuk dan tunggu di dalam. Nanti Tante akan panggilkan Nilamnya."
"Iya Tan makasih."
Arkan kemudian masuk ke dalam rumah Nilam. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Sementara Bu Hana, masuk ke dalam untuk memanggil anaknya yang masih mengurung diri di dalam kamar.
Tok tok tok...
Bu Hana mengetuk pintu kamar Nilam, setelah dia sampai di depan kamar Nilam.
Tok tok tok...
"Nilam, ini Mama nak. Nilam, buka pintunya Nak," ucap Bu Hana.
Tak ada sahutan dari dalam kamar Nilam. Bu Hana mencoba untuk mengetuk pintu itu sekali lagi.
Tok Tok Tok.
"Nilam. Nilam buka pintunya Nilam," ucap Bu Hana dengan meninggikan nada suaranya.
Bu Hana tampak khawatir saat Nilam belum juga mau membuka pintu. Di dalam kamar juga tidak terdengar suara apapun.
"Nilam, kamu lagi ngapain di dalam Nak. Buka pintunya Nak."
Setelah lama Bu Hana berada di depan pintu kamar Nilam, Bu Hana pun pergi meninggalkan kamar putrinya untuk menemui Arkan lagi di depan.
"Arkan, Nilam nggak mau keluar dari kamar. Kamarnya juga sepertinya sepi Arkan. Tante takut terjadi apa-apa sama Nilam di dalam kamar," ucap Bu Hana.
"Kemana ya Nilam. Apa jangan-jangan dia pergi," ucap Arkan.
"Tolong Nak Arkan. Tante khawatir dengan Nilam. Apa Nak Arkan bisa dobrak pintu kamar Nilam. Tante takut terjadi apa-apa sama dia. Soalnya dari kemarin Nilam itu belum makan apa-apa. Tante takut Nilam sakit."
"Baik Tan."
Arkan bangkit dari duduknya. Setelah itu dia berjalan mengikuti Bu Hana ke kamar Nilam.
Sesampainya di depan kamar Nilam, Arkan mengetuk pintu kamar Nilam.
Tok tok tok...
"Nilam, ini aku Nilam. Buka pintunya Nilam. Aku ingin bicara sama kamu Nilam. Nilam, buka pintunya Nilam," ucap Arkan.
Sejak tadi Arkan mencoba untuk mengetuk kamar Nilam. Tapi sepertinya, kamar Nilam sepi.
"Arkan dobrak saja pintunya Arkan. Tante takut terjadi apa-apa sama Nilam di dalam."
"Baik Tan."
Arkan kemudian mendobrak pintu kamar Nilam setelah Bu Hana menyuruhnya untuk mendobrak pintu itu.
Bu Hana dan Arkan terkejut saat melihat Nilam tergeletak di lantai dengan mulut berbusa.
__ADS_1
"Ya ampun Nilam..!" seru Bu Hana dan Arkan bersamaan.
Mereka masuk ke dalam kamar dan menghampiri Nilam yang saat ini sudah pingsan dengan mulutnya yang berbusa.
Sepertinya Nilam mencoba untuk bunuh diri dengan meminum racun.
Bu Hana menangis sesenggukan di depan anaknya.
"Arkan kenapa Nilam jadi seperti ini. Hiks...hiks..."
"Sabar Tan. Kita bawa Nilam saja ke rumah sakit. Sepertinya Nilam keracunan," ucap Arkan.
"Kenapa Nilam bisa keracunan. Dari kemarin dia nggak makan apa-apa. Atau jangan-jangan, dia sudah minum racun,"
Arkan terkejut saat mendengar ucapan Bu Hana.
"Aku nggak tahu Tan kalau itu. Yang penting sekarang kita bawa Nilam ke rumah sakit. Mumpung dia masih bisa bernafas. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama Nilam. Aku belum siap kehilangan Nilam."
"Iya Nak Arkan. Tolong bantu Tante untuk bawa Nilam ke rumah sakit."
"Iya Tan."
Arkan tidak tinggal diam. Dia kemudian membopong tubuh Nilam dan membawanya keluar dari rumah.
Sesampainya di mobil, Arkan kemudian memasukkan tubuh Nilam masuk ke dalam mobilnya.
"Tante, ayo masuk Tan. Kita harus bawa Nilam ke rumah sakit."
"Iya."
Bu Hana buru-buru masuk ke dalam mobil Arkan. Setelah Bu Hana masuk ke dalam mobil, Arkan pun ikut masuk ke dalam mobil. Mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan rumah untuk ke rumah sakit.
Sesampainya di depan rumah sakit, Arkan turun dari mobilnya.
"Tan, Tante tunggu di sini aja ya. Aku mau ke dalam panggil suster."
"Iya Nak Arkan."
Arkan kemudian masuk ke dalam rumah sakit untuk memanggil suster.
Beberapa saat kemudian, beberapa orang suster mendekat ke arah mobil Arkan.
Mereka kemudian membawa tubuh Nilam masuk ke dalam rumah sakit dengan mendorongnya dengan ranjang dorong rumah sakit.
"Suster, tolong anak saya Sus, tolong. Selamatkan anak saya," ucap Bu Hana dengan berderaian air mata.
"Kalian tunggu di sini. Biar kami yang menangani pasien. Berdoa saja yang terbaik untuk keselamatan pasien."
Arkan dan Bu Hana mengangguk. Mereka kemudian duduk di ruang tunggu yang ada di depan UGD.
****
__ADS_1