Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Ke rumah sakit


__ADS_3

"Bu, kamu kenapa?" tanya Pak Tama yang tiba-tiba saja sudah masuk ke dalam kamarnya.


Bu Hesti mengusap air matanya. Dia kemudian menatap Pak Tama lekat.


"Bapak dari mana?" tanya Bu Hesti pada suaminya.


"Bapak dari kamar mandi tadi. Ada apa Bu? kenapa nangis? ada yang lagi ibu fikirkan?" tanya Pak Tama sembari mendekat ke arah istrinya.


"Ibu nggak apa-apa Pak," jawab Bu Hesti.


Pak Tama kemudian menghampaskan tubuhnya di atas ranjang dan duduk di sisi Bu Hesti.


"Bu, bapak tahu. Ibu sekarang pasti lagi mikirin Arumi. Iya kan? untuk apa sih, ibu mikirin Arumi. Arumi pasti akan baik-baik saja kok Bu," ucap Pak Tama.


"Dari mana bapak tahu kalau Arumi baik-baik saja. Sampai sekarang saja dia sudah tidak ada kabarnya sama sekali. Dia tidak pernah menghubungi ibu atau pun Lira. Apa itu yang bapak bilang baik-baik saja," ucap Bu Hesti yang sudah kesal dengan suaminya. Karena suaminya sama sekali tidak merasa bersalah karena sudah mengusir Arumi dan membuat Arumi hilang tanpa kabar.


Pak Tama menghela nafas dalam.


"Bu, bapak yakin Arumi itu tidak apa-apa. Dia pasti baik-baik saja di luar sana. Dia itu udah dewasa, udah kuliah. Dia pasti bisa jaga diri. Bapak cuma mau memberikan efek jera saja sama dia. Biarkan saja dia hidup mandiri Bu."


"Terserah bapak sajalah. Malas ibu bicara sama bapak. Bapak itu nggak pernah bisa ngertiin perasaan ibu. Susah jika bicara dengan orang yang fikirannya tidak sejalan dengan kita. Bapak itu udah tega dan udah sangat keterlaluan karena sudah menghukum Arumi seperti ini," ucap Bu Hesti dengan nada tinggi.


Bu Hesti yang sudah mulai emosi, sudah tidak mau meladeni ucapan suaminya lagi. Dia buru-buru berbaring di atas tempat tidurnya dan lekas memejamkan matanya untuk tidur.


Pak Tama hanya geleng-geleng kepala saat melihat sikap Bu Hesti istrinya.


Asal ibu tahu Bu, sebenarnya bapak juga nggak tega. Tapi bapak percaya kalau Arumi anak kita itu, gadis yang tangguh. dia pasti baik-baik saja di luar sana. Tidak akan terjadi apa-apa sama dia, batin Pak Tama.


Setelah lama Denis berada di rumah Arkan, Denis pun kemudian pamit untuk pulang.


"Kan, udah malam Kan. Aku pulang dulu ya," ucap Denis


"Kamu bisa kan cari Arumi dan bawa padaku."


"Iya Kan."

__ADS_1


"Pokoknya bawa Arumi kehadapanku dengan cara apapun."


"Iya. Siap! aku akan bawa Arumi dalam keadaan baik-baik saja."


Setelah berpamitan pada Arkan, Denis pun kemudian pergi meninggalkan rumah Arkan untuk pulang ke rumahnya.


****


"Arumi...!" seru Inez memanggil-manggil Arumi.


Inez sudah tampak rapi dan siap untuk membawa Arumi pergi ke rumah sakit.


Inez melangkah ke kamar tamu di mana Arumi berada. Dia kemudian mengetuk kamar itu.


Tok tok tok...


"Arumi. Kamu udah siap belum...!" seru Inez dari luar kamar Arumi.


Beberapa saat kemudian, Arumi membuka pintu kamarnya. Dia tersenyum saat melihat Inez.


"Iya. Aku udah siap. Kamu udah siap belum Arumi?" tanya Inez


"Udah kok," jawab Arumi singkat.


"Ayo aku antar ke rumah sakit."


"Iya."


Arumi dan Inez kemudian berjalan ke luar dari rumahnya. Inez masuk ke dalam mobilnya. Begitu juga dengan Arumi yang ikut masuk ke dalam mobil Inez. Setelah itu mereka pun meluncur pergi meninggalkan rumah.


Usia kandungan Arumi saat ini sudah memasuki tiga bulan, dan selama itu Arumi belum pernah memeriksakan kandungannya itu ke dokter kandungan. Dan sore ini, Inez sudah siap mengantar Arumi untuk ke rumah sakit menemui dokter kandungan.


"Arumi, gimana sekarang kondisi kamu? kamu udah mendingankan?udah nggak ada keluhan mual muntah lagi kan?" tanya Inez di sela-sela menyetirnya.


"Aku udah mendingan kok. Udah nggak seperti dulu lagi," jelas Arumi.

__ADS_1


"Syukurlah, kita tinggal menunggu anak kamu lahir aja ya Arumi.


Tiba-tiba saja wajah Arumi berubah menjadi sedih saat mendengar ucapan Inez. Sebenarnya anak yang ada di dalam kandungan Arumi, anak yang sama sekali tidak diinginkan keberadaannya oleh Arumi. Karena yang Arumi fikir, jika anak itu dilahirkan, anak itu akan membawa masalah untuk kehidupannya ke depan.


Seandainya tidak ada Leo dan Inez malam itu, pasti Arumi juga sudah terjun ke sungai itu dan tidak tahu bagaimana nasibnya saat ini.


Arumi sejak tadi masih diam. Sepertinya fikirannya saat ini sedang tidak ada di tempatnya. Mungkin Arumi saat ini sedang memikirkan bagaimana jika anak itu lahir ke dunia ini. Masalah apa yang akan terjadi jika Arumi harus kembali lagi ke keluarganya atau bertemu dengan keluarga Mahendra.


"Arumi, kamu kenapa? kamu jangan sedih dong. Kamu seharusnya bahagia, karena sebentar lagi kamu akan punya anak. Di luar sana banyak lho wanita-wanita yang menginginkan seorang anak," ucap Inez di sela-sela menyetirnya


Arumi menatap Inez lekat.


"Inez, kenapa kamu dan Mas Leo mau nolongin aku waktu itu. Seharusnya kalian biarkan saja aku terjun ke dalam sungai itu. Seharusnya aku dan bayi aku sudah mati dari dulu. Karena jika anak ini lahir, akan timbul banyak masalah nanti ke depannya," ucap Arumi.


Inez terkejut saat mendengar ucapan Arumi.


"Arumi, kenapa kamu bicara seperti itu Arumi? dan kenapa kamu harus ingat-ingat lagi soal itu. Katanya kamu sudah bertaubat dan sudah tidak ingin mengulangi perbuatan seperti itu lagi"


"Iya. Aku juga sudah tidak akan mengulanginya lagi. Aku sekarang sadar, kalau perbuatan aku itu akan menjerumuskan diri aku sendiri ke dalam lubang dosa."


"Arumi, kamu dengar kan nasihat-nasihat dari kakak aku. Bunuh diri, dan menggugurkan kandungan itu sama-sama sebuah perbuatan dosa besar yang harus benar-benar kita hindari. Karena perbuatan itu bisa menjerumuskan kita ke dalam neraka."


"Iya, aku tahu itu."


"Arumi, jika aku ada diposisi kamu, aku nggak akan pernah menggugurkan bayi aku. Aku akan rawat dan aku akan besarkan dia sepenuh hati aku. Karena dia juga lahir dari rahimku. Percayalah, kalau setiap anak membawa rezekinya masing-masing."


Arumi mencoba untuk mencerna ucapan Inez. Sudah berkali-kali Inez dan Leo mengingatkan Arumi si wanita rapuh itu untuk tidak melakukan hal-hal yang aneh-aneh pada dirinya dan bayinya seperti yang Arumi lakukan di malam itu.


"Aku bingung Nez. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan, seandainya anak ini lahir. Anak ini lahir pasti akan mendapatka gunjingan dari orang-orang karena dia lahir tidak punya bapak."


"Arumi untuk apa kamu memikirkan soal itu. Anak kamu itu tidak berdosa Arumi. Biarkan saja orang mau bilang apa. Yang harus kamu lakukan sekarang, fokus saja dengan kehamilan kamu, siapkan mental kamu untuk kelahiran buah hati kamu nanti."


Arumi dan Inez saling diam untuk sejenak.


"Arumi. Sebenarnya siapa sih ayah biologis anak itu?" tanya Inez yang membuat Arumi terkejut.

__ADS_1


__ADS_2