
Nilam meraih tangan Arkan dan menggenggamnya erat.
"Mas, kenapa kamu diam aja. Mau ya Mas, malam ini kita makan malam, " ucap Nilam yang masih membujuk Arkan agar Arkan tunangannya itu, mau pergi dengan Nilam malam ini.
Arkan mengangguk.
"Iya. Kita mau berangkat sekarang?" tanya Arkan menatap Nilam lekat.
Nilam tersenyum bahagia. Kapan lagi, Nilam bisa ngajak Arkan pergi. Biasanya Arkan selalu menolak kalau diajak pergi.
"Boleh deh, kita berangkat sekarang. Emang kerjaan kamu udah selesai?" tanya Nilam pada Arkan.
"Kerjaan itu tidak akan ada habisnya Nilam. Kalau hari ini udah selesai, besok akan nambah lagi pekerjaan baru. Coba aja kamu kerja di kantor seperti aku. Pasti kamu nggak akan sanggup."
"Kerja? untuk apa aku kerja. Aku kan sebentar lagi mau nikah sama kamu. Dan aku pengin langsung punya anak .Kalau sudah punya anak, aku mau ngurus anak aja di rumah. Nggak mau kerja." Sudah sangat besar harapan Nilam untuk menjadi istri Arkan. Karena selama ini Nilam itu sangat mencintai Arkan. Walau Nilam tahu bagaimana karakter Arkan. Tapi Nilam akan menerima semua kekurangan Arkan.
Arkan bangkit dari duduknya. Dia mengambil jasnya dan memakainya. Setelah Arkan siap, Arkan dan Nilam pun kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
Arkan dan Nilam melangkah keluar dari kantornya. Setelah sampai di parkiran mobil, mereka masuk ke dalam mobilnya. Arkan dan Nilam kemudian meluncur pergi meninggalkan kantor.
Malam ini, Arkan dan Nilam sudah berada di cafe. Mereka sejak tadi masih tampak menikmati makanannya.
"Mas, kita besok nggak boleh sampai kesiangan Mas," ucap Nilam di sela-sela kunyahannya.
"Ya." Arkan hanya bisa mengiyakan saja apa yang Nilam ucapkan.
Sejak tadi Nilam masih bicara panjang lebar. Namun Arkan hanya menjawab dengan satu kata. Ya.
Karena Arkan tidak terlalu suka membahas rencana pernikahannya itu. Selama Arkan dekat dengan Nilam, dia masih tampak ragu dengan perasaannya. Dia sudah mencintai Nilam atau belum, Arkan masih ragu.
Namun dia pun tidak mungkin menolak keinginan ke dua orang tuanya itu untuk dijodohkan dengan Nilam. Karena Arkan tidak ingin mengecewakan ayah dan ibunya.
Arkan sangat bersyukur, karena dia dilahirkan menjadi anak orang kaya raya. Dia sudah menjadi pebisnis hebat juga karena Pak Mahendra ayahnya.
Jika tidak ada Pak Mahendra atau Bu Erina, Arkan tidak akan bisa seperti sekarang Dan mungkin inilah saatnya untuk Arkan membahagiakan ke dua orang tuanya dengan cara menuruti semua keinginan mereka.
"Mas, kamu kenapa dari tadi cuma iya iya aja sih. Bicara kek,"
__ADS_1
"Lalu aku harus bicara apa?"
"Kita kan lagi membahas rencana kita besok, prewedding kita akan diadakan di puncak. Menurut kamu gimana?" tanya Nilam.
"Menurut aku, puncak itu dekat. Tidak apa-apa kalau mau ke puncak. Dari pada ke Bali."
Nilam tersenyum.
"Kalau di Bali itu sih, bulan madu kita nanti Mas," ucap Nilam.
"Kalau aku sih, terserah kamu dan mama aja. Kan kalian yang udah ngatur semuanya. Aku sih, nurut aja."
"Makasih ya Mas."
Di balik sifat Arkan yang dingin, cuek, pendiam, dan tempramen, tapi dia selalu nurut apa yang dikatakan Nilam, Bu Erika dan Bu Hana. Pesta pernikahannya pun, Arkan sama sekali tidak mau terlalu ikut campur.
***
Pagi ini, sinar mentari sudah bersinar sempurna. Sinarnya sudah menyinari bumi pertiwi. Arumi saat ini, masih berada di dapur bersama Bu Ella ibu angkatnya.
Sejak Arumi kabur dari rumah penyekapan itu, Arumi bertemu dengan Bu Ella, ibu baik hati yang mau menolongnya. Selama ini Arumi juga tinggal bersama Bu Ella.
Karena sekarang dia sudah bisa mendirikan toko kue dan roti sendiri. Dan sudah dua tahun ini, Bu Ella dan Arumi juga menyediakan jasa catering dan parasmanan untuk acara-acara besar, seperti acara pertunangan, pernikahan, khitanan, dan acara lainnya. Sepertinya keberadaan Arumi dan Rafa di rumah Bu Ella, membawa keberuntungan sendiri untuk Bu Ella.
Bu Ella sudah menganggap Arumi itu anak kandungnya sendiri. Karena Bu Ella selama ini juga tidak punya anak. Sejak suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu, dia sudah tinggal sendiri.
Dan sejak dia bertemu Arumi, dia merasa menemukan keluarga baru. Dan Bu Ella langsung mengangkat Arumi sebagai anaknya.
Bu Ella orang yang selama ini, mendampingi Arumi waktu dia hamil, melahirkan bahkan sampai Rafa berusia enam tahun.
Huhuhuhu...
Arumi dan Bu Ella saling menatap saat mendengar suara tangisan Rafa dari luar rumah mereka.
"Itu, seperti Rafa yang nangis," ucap Arumi.
"Coba sana kamu lihat Arumi. Kenapa dengan Rafa. Barang kali dia ditinggal teman-temannya," ucap Bu Ella sembari mengaduk-aduk sayur yang ada di panci.
__ADS_1
Arumi yang mendengar suara tangisan anaknya buru-buru melangkah keluar dari rumahnya. Dia ingin melihat apa yang sudah terjadi pada anaknya.
Arumi terkejut saat melihat Rafa sudah terduduk di tengah jalan bersama dengan sepedanya yang ikut jatuh juga. Sepertinya Rafa jatuh dari sepedanya. Dan tidak ada orang yang mau menolong Rafa.
Arumi buru-buru melangkah mendekati anaknya.
"Ya ampun, anak mama. Kenapa kamu Nak?" tanya Arumi.
"Sakit Ma. Hiks...hiks..." ucap Rafa sembari menunjukan luka di bagian lututnya.
Arumi terkejut saat melihat lutut Rafa berdarah.
"Ya ampun Raf. Lutut kamu terluka. Mama obati ya Raf. Ayo kita masuk," ucap Arumi.
Arumi kemudian menggendong Rafa sembari menuntun sepeda Rafa sampai ke teras depan rumah.
"Mama bilang apa, jangan mainan sepeda tanpa Mama. Rafa itu belum pintar naik sepedanya," ucap Arumi sembari sesekali mengusap air mata anaknya dengan telapak tangannya.
"Mama, tapi aku pengin main sepeda. Aku mau ngejar teman-teman aku Mama. Hiks...hiks .."
"Iya. Nanti kalau Rafa sudah bisa naik sepeda, pasti Rafa akan bisa ngejar teman-teman Rafa.Tapi untuk saat ini, Rafa nggak boleh main jauh-jauh ya. Rafa cukup naik sepeda di depan rumah aja. Nggak usah ngejar-ngejar teman," ucap Arumi.
Arumi kemudian mendudukan Rafa di ruang tamu.
"Rafa, mama ambil air dulu ya untuk membersihkan luka kamu. Nanti mama akan obati luka kamu," ucap Arumi.
Rafa mengangguk.
"Iya Mama."
Arumi kemudian berjalan masuk ke dalam untuk mengambil obat.
"Bu, lihat salep luka nggak?" tanya Arumi pada Bu Ella yang saat ini masih ada di dapur.
"Oh, coba di laci ruang tengah. Perasaan ibu taruh di situ waktu ngobatin Rafa kemarin."
"Nggak tahu tuh, Si Rafa, jatuh-jatuh mulu kalau main sepeda."
__ADS_1
"Jangan dimarahin Arumi. Namanya juga anak kecil. Dia belum tahu apa-apa. Kamu sabar-sabarin aja Rafa. Kalau udah gede, dia juga pasti nurut kok."
"Iya Bu."