
Pagi ini, sinar mentari sudah menyinari bumi. Cahayanya sudah merambat masuk sampai ke kamar Arkan.
Saat ini, Arumi masih berada di dalam kamar Arkan. Dia masih berdiri di sisi jendela kamar Arkan. Setelah Pak Mahendra menyuruh Arumi tidur di kamar Arkan, Arumi pun menurut untuk tidur di kamar suaminya.
"Tuan muda kemana ya. Dia udah pulang apa belum," ucap Arumi di sela-sela lamunannya.
Dari semalam Arumi tidak bisa tidur karena dia cemas memikirkan Arkan. Sejak semalam, Arkan tidak masuk ke dalam kamarnya. Arumi fikir, mungkin Arkan belum pulang, atau dia memang tidur di kamar lain.
Di sela-sela Arumi memikirkan Arkan, tiba-tiba saja sekelebat bayangan Kenzo muncul di dalam fikiran Arumi.
"Kenzo, apa kabar ya lelaki itu. Tujuh tahun aku nggak pernah mendengar kabar dia. Pasti sekarang dia sudah menikah," ucap Arumi.
Tampaknya Arumi kangen pada Kenzo. Lelaki itu sangat baik dan setia. Seandainya, tidak ada kejadian itu malam itu dan Arumi tidak hamil, mungkin Arumi sudah menikah dengan Kenzo.
Arumi memutar tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan kamarnya. Dia turun ke bawah untuk melihat anaknya.
"Rafa udah pulang belum ya," ucap Arumi sembari menuruni anak tangga.
Sesampainya di ruang tengah, Arumi menghentikan langkahnya. Dia menatap ke sofa ruang tengah. Pak Mahendra masih tampak bersantai sembari membaca koran dan menikmati secangkir kopi hangat.
"Selamat pagi Pa," sapa Arumi pada ayah mertuanya.
Pak Mahendra menoleh ke arah Arumi. Dia menatap Arumi sembari membenarkan letak kaca matanya.
"Arumi. Kamu udah bangun?" ucap Pak Mahendra.
Arumi tersenyum.
"Aku udah bangun dari tadi kok Pa. Cuma kepala aku agak sedikit pusing. Jadi aku malas keluar kamar," jelas Arumi.
Ya, sejak semalam Arumi memang tidak bisa tidur karena memikirkan Arkan dan Rafa yang tidak pulang ke rumah dari semalam.
"Arumi, kenapa berdiri aja di situ. Ayo duduk, temani Papa," ucap Pak Mahendra.
Arumi kemudian duduk di dekat ayah mertuanya setelah ayah mertuanya itu menyuruhnya untuk duduk.
"Papa lagi baca apa?" tanya Arumi.
"Ini, berita soal Arkan. Beritanya sudah menyebar ke seluruh media. Tapi, papa nggak mau memikirkannya," ucap Pak Mahendra sembari mengurut-urut pelipisnya. Tampaknya dia masih memikirkan kekacauan kemarin di acara pernikahan Arkan.
Arumi menundukkan kepalanya. Dia merasa tidak enak telah membuat nama baik keluarga Mahendra menjadi hancur.
"Maaf kan aku, karena aku sudah menghancurkan dan membuat malu keluarga Papa," ucap Arumi.
Pak Mahendra tersenyum. Dia tampak santai sekali menghadapi semua masalahnya. Pak Mahendra kemudian meletakkan korannya dan menatap wajah Arumi lekat.
"Nggak apa-apa Arumi. Papa sih, nggak malu karena papa nggak salah. Arkan yang salah. Biarkan dia mendapatkan hukuman yang pantas untuknya. Dia pasti malu, untuk keluar rumah karena berita ini," ucap Pak Mahendra.
__ADS_1
"Tuan Arkan kemana Pa? dia udah pulang atau belum?" tanya Arumi.
"Tuan Arkan? kamu kenapa masih panggil Arkan Tuan. Apa kamu lupa, kalau sekarang Arkan adalah suamimu?"
Arumi tersenyum.
"Lalu aku harus panggil apa?" tanya Arumi.
"Ya terserah kamu, panggil Mas atau Bang."
"Aku nggak akan berani memanggil seperti itu, di depan Tuan Arkan. Karena dia saja sepertinya tidak menyukai aku Pa."
"Kamu nggak boleh bicara seperti itu. Arkan itu masih syok atas kedatangan kamu dan Rafa, dan dia juga masih mencintai Nilam. Tapi lama-lama, Papa yakin, kalau Arkan bisa berubah dan bisa mencintai kamu."
"Kemana ya Mas Arkan. Kenapa dia nggak pulang semalaman. Aku jadi khawatir sama dia. Aku takut terjadi apa-apa sama dia di luar Pa."
"Nggak usah khawatir Arumi. Arkan pasti baik-baik saja. Mungkin sekarang dia lagi nginap di apartemennya. Atau mungkin dia lagi ada di rumah temannya."
Di tengah-tengah Arumi dan Pak Mahendra ngobrol, tiba-tiba saja deru mobil dari luar rumah Pak Mahendra terdengar.
Pak Mahendra dan Arumi saling menatap.
"Arumi, sepertinya itu Arkan sudah pulang," ucap Pak Mahendra.
"Biar aku aja Pa, yang bukain pintu."
Arumi bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun berjalan ke ruang tamu untuk membuka pintu depan.
Arumi menatap ke arah mobil yang ada di depan rumah.
"Itu sepertinya bukan mobil Mas Arkan," ucap Arumi sembari mengamati mobil yang sedang berpakir di halaman depan rumah Pak Mahendra.
Beberapa saat kemudian, Heru dan Rafa turun dari mobilnya. Rafa menatap ke teras di mana ibunya berdiri. Dia langsung berlarian menghampiri Arumi.
"Mama.." seru Rafa.
Sesampainya di depan Arumi, Rafa langsung memeluk Arumi.
"Lho Rafa sudah pulang," ucap Arumi sembari mengusap-usap kepala anaknya.
Rafa melepaskan pelukannya dan menatap Arumi lekat.
"Mama, maaf ya. Semalam aku pergi nggak bilang-bilang dulu sama Mama. Aku soalnya di ajak Tante Lira jalan-jalan tadi malam. Dan aku di suruh nginap di rumah Om Heru dan Tante Lira," ucap Rafa menjelaskan.
"Dan mama tahu nggak, kalau aku udah beli banyak mainan. Om Heru dan Tante Lira yang udah membelikannya untuk aku," lanjut Rafa.
Arumi terkejut saat mendengar ucapan Rafa.
__ADS_1
"Oh ya? terus sekarang Tante Lira nya mana? kenapa cuma ada Om Heru," tanya Arumi.
Beberapa saat kemudian, Lira keluar dari mobil sembari membawa beberapa bungkus kantong plastik besar, yang sepertinya itu adalah mainan baru Rafa yang baru dia belikan tadi malam.
Lira kemudian mendekat ke arah Arumi dan Rafa dengan membawa kantong-kantong itu.
"Apa ini Mbak?" tanya Arumi setelah Lira meletakan semua barang-barang di depan rumah Pak Mahendra.
"Itu mainan baru untuk Rafa. Dan baju-baju baru untuk dia juga," jawab Lira.
"Ya ampun Mbak. Kamu yang beliin semua ini," ucap Arumi tidak menyangka kalau kakaknya akan membelikan Rafa mainan dan baju-baju baru.
"Iya. Aku dan Mas Heru yang membelikan mainan ini dan baju-baju baru ini," ucap Lira.
"Banyak banget Mbak. Seharusnya nggak usah kalian beliin Rafa banyak mainan seperti ini. Rafa juga udah punya banyak mainan kok di rumah neneknya," ucap Arumi.
"Nggak apa-apa Arumi. Itu buat Rafa semua. Ambil aja. Lagian biar Rafa senang dan betah tinggal di sini," ucap Lira lagi.
"Makasih banyak ya Mbak, Mas." Arumi berterimakasih sembari menatap Heru dan Lira bergantian.
"Iya sama-sama Arumi," ucap Lira.
"Kalian nggak mau masuk?" tanya Arumi pada Lira dan Heru.
"Nggak usah Arumi. Kami mau langsung pulang aja. Lagian Mas Heru juga mau kerja," ucap Lira.
"Ya udah makasih banyak ya. Jadi ngerepotin banget begini."
"Nggak apa-apa Arumi. Saya juga seneng ngajak Rafa main. Lain kali, saya mau ngajak dia main lagi," ucap Heru.
"Iya Mas. Boleh kok, kalau kalian mau ngajak Rafa main lagi dan nginap di rumah kalian. Rafa itu kan ponakan kalian. Jadi aku nggak akan pernah melarang kalian untuk dekat dengan Rafa."
"Makasih ya Arumi. Kalau begitu, kamu pulang dulu. Mas Heru juga mau ke kantor."
"Iya Arumi udah siang. Kami ke sini, cuma mau ngantar Rafa aja."
"Oh. ya udah. Sekali lagi makasih banyak ya, udah ngantar Rafa pulang."
Setelah Heru dan Lira berpamitan pada Arumi, mereka pun kemudian pergi meninggalkan rumah Pak Mahendra.
Setelah Heru dan Lira pergi, Arumi mengajak anaknya masuk ke dalam rumah.
"Ayo sayang, kita masuk."
"Iya Ma."
Arumi kemudian masuk ke dalam rumah sembari membawa kantong mainan dan kantong baju baru Rafa.
__ADS_1