
Siang ini Arkan masih berada di kantornya. Dia masih sibuk dengan pekerjaannya.
Ring ring ring
Tiba-tiba saja telpon Arkan berbunyi. Arkan segera mengangkat panggilan dari Denis sahabatnya.
"Halo Kan."
"Ada apa Den?"
"Maaf Kan, aku tidak bisa menjaga Arumi dengan baik. Dia kabur Kan."
"Apa! kabur? kok bisa sih Arumi kabur? kamu gimana sih!"
"Maaf Kan. Aku juga nggak tahu Arumi pergi. Karena sekarang aku juga ada di kantor. Dan sebelum aku ke kantor, aku udah suruh anak buahku untuk menjaga Arumi di rumah itu. Tapi mereka semua sudah kecolongan."
"Hah, dasar. Nggak ada yang becus untuk jagain Arumi. Kamu sama anak buahmu itu sama saja bodohnya. Sekarang aku minta, kamu cari Arumi sampai dapat. Aku tidak mau tahu. Pokoknya kamu harus cari Arumi sampai dapat. Kalau tidak, kamu harus kembalikan uangku yang satu milyar."
"Baik Kan. Aku akan perintah anak buahku untuk cari Arumi."
"Bagus. Aku minta sekarang juga kamu cari Arumi dan bawa lagi dia ke tempat itu. Karena urusan aku dengan Arumi belum selesai. Aku tidak mau sampai dia pergi jauh."
"Baik Kan. Nanti aku suruh anak buahku untuk mencari Arumi. Karena sekarang aku masih ada di kantor."
"Ya sudah, aku juga lagi banyak kerjaan sekarang. Aku tutup dulu telponnya."
"Iya Kan."
Arkan menutup saluran telponnya. Dia kemudian meletakan ponselnya kembali di atas meja kerjanya.
"Kurang ajar. Kok bisa-bisanya sih Arumi kabur. Arumi benar-benar wanita menyebalkan. Dan aku benci orang yang berani melawanku," ucap Arkan. Dia saat ini sudah mengepalkan tangannya geram. Rahangnya pun sudah mulai mengeras. Arkan tidak mau kehilangan jejak Arumi. Karena urusannya dengan Arumi belum selesai.
"Aku nggak akan pernah biarkan Arumi pergi jauh," geram Arkan.
Untuk saat ini Arkan tidak mau terlalu memikirkan Arumi. Karena dia masih mau fokus dengan pekerjaannya yang masih menumpuk.
***
Arkan malam ini, sudah berada di dalam kamarnya. Dia sudah mandi dan sudah memakai baju santainya.
Sepulang kantor Arkan langsung pulang ke rumahnya dan tidak kemana-mana lagi. Dia masih menunggu telpon dari Denis. Dia sejak tadi menunggu perkembangan pencarian Arumi.
"Kenapa si Denis lama sekali. Dari tadi siang, dia sama sekali tidak menghubungiku. Apa jangan-jangan dia sudah gagal menemukan Arumi."
Arkan mencoba untuk menelpon Denis.
"Halo Den. Bagaimana. Kamu sudah menemukan Arumi?"
"Belum Kan. Tapi aku lagi berusaha mencari Arumi."
"Dari tadi siang, kamu nyari tapi belum ketemu juga, bodoh sekali kamu ini Den."
"Maaf Kan. Kota ini kan luas. Aku harus mencari Arumi kemana. Harus pelan-pelan dong Kan."
"Ya udahlah pokoknya aku nggak mau tahu. Kalau kamu sampai gagal menemukan Arumi, kamu harus kembalikan uang yang satu milyar."
"Baik Kan. Aku pasti akan menemukan Arumi."
"Ya udah, kamu cari Arumi. Aku tutup dulu telponnya."
"Iya Kan."
Arkan kemudian menutup saluran telponnya. Setelah itu dia membanting ponselnya ke kasur empuknya.
"Hah, bodoh sekali Denis itu. Dia benar-benar nggak bisa di andalkan lagi sekarang," ucap Arkan.
Arkan kemudian menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dan duduk di sisi ranjangnya. Arkan mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah itu dia menutup wajahnya dengan ke dua tangannya.
__ADS_1
"Aku nggak akan biarkan Arumi buka mulut, awas saja kalau dia sampai cerita-cerita ke orang lain kalau anak yang ada di dalam kandungannya itu anakku. Aku nggak akan pernah memaafkan dia," ucap Arkan.
Arkan mengurut keningnya tampak frustasi. Dia takut rahasianya itu akan terbongkar dan akan terdengar di telinga ayah dan ibunya.
Ring ring ring...
Suara ponsel itu kembali berdering.
"Pasti dari Denis," ucap Arkan.
Arkan kemudian mengambil ponselnya yang ada di atas ranjang. Dia terkejut saat melihat panggilan dari ibunya.
"Mama, mau ngapain sih dia nelpon," ucap Arkan sembari mengambil ponselnya.
Setelah itu Arkan pun mengangkat panggilan dari ibunya.
"Halo Ma."
"Halo Kan. Kamu lagi ngapain?"
"Aku lagi duduk Ma."
"Kamu udah di rumah Kan?"
"Udah Ma."
"Papa kamu ada di rumah juga?"
"Iya. Kami ada di rumah Ma. Ada apa? tumben Mama nyariin Papa."
"Sebenarnya mama mau ke rumah kamu ini Kan."
"Mau ngapain ke rumah aku?"
"Mau ketemu sama Papa kamu. Ada hal penting yang ingin Mama bicarakan dengan Papa kamu."
"Oh. Kapan mau ke sini?"
"Oh. Ya udah, kalau mau ke sini."
"Ya udah Arkan. Mama lagi dalam perjalanan ke rumah kamu ini."
"Mama sendiri?"
"Iya dong sendiri. Emang kamu fikir mama sama siapa. Ya udah Arkan, mama tutup dulu ya telponnya. Assalamualaikum."
"Wa'alakiumsalam Ma."
Setelah saluran telpon itu mati, Arkan bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah ke luar dari kamarnya.
Arkan berjalan untuk ke ruang makan. Di ruang makan, Bu Hesti tampak sudah menyajikan makanan di atas meja makan.
Arkan menatap ke sekeliling yang tampak sepi.
"Pa... Papa..." seru Arkan.
Beberapa saat kemudian, Bu Hesti melangkah mendekati Arkan.
"Tuan muda, mau makan?"
"Papa mana?"
"Tadi Tuan Mahendra lagi pergi sebentar Tuan."
"Pergi ke mana?"
"Saya juga tidak tahu."
__ADS_1
"Sama Mang Tama juga?"
"Iya Tuan."
"Ya udah, ambilkan aku piring. Aku mau makan duluan. Sudah lapar."
Bu Hesti tersenyum dan mengangguk. Setelah itu Bu Hesti pun pergi ke dapur untuk mengambil Arkan piring.
Beberapa saat kemudian, Bu Hesti kembali dengan membawa piring.
"Tolong dong, ambilkan aku nasi Bik."
"Baik Tuan."
Bu Hesti kemudian mengambilkan nasi dan lauknya untuk Arkan.
"Bibi boleh pergi."
"Iya Den."
Bu Hesti kemudian pergi kembali ke dapur. Sementara Arkan mulai makan.
***
Deru mobil dari luar rumah Arkan terdengar. Pak Tama menghentikan mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya.
Pak Tama turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil untuk Pak Mahendra.
"Silahkan Tuan."
"Makasih Pak Tama."
"Iya sama-sama."
Pak Mahendra dan Pak Tama menatap mobil yang ada di depan rumahnya.
"Seperti ada tamu Tuan."
"Iya. Siapa ya. Coba sana Pak Tama. Kamu lihat mobil siapa itu."
"Baik Tuan."
Pak Tama kemudian melangkah untuk melihat mobil siapa yang berhenti di depan gerbang rumah Pak Mahendra.
Seorang wanita berpenampilan modis turun dari mobilnya. Pak Tama tersenyum dan langsung memberi hormat pada wanita itu.
"Selamat malam Nyonya Erina."
"Malam Pak Tama. Apa Pak Mahendra ada di dalam?"
"Oh, Pak Mahendra baru saja pulang. Silahkan masuk Nyonya."
"Iya.Tolong Pak Tama, bawa parkirkan mobil aku di dalam."
"Baik Nyonya."
Bu Erina kemudian melangkah masuk ke dalam dan menghampiri Pak Mahendra.
"Selamat malam Mas," ucap Bu Erina
Pak Mahendra tersenyum.
"Malam. Tumben kamu malam-malam gini datang ke sini."
"Saya memang sengaja datang ke sini jam segini. Saya rasa kalau sudah jam segini, kita semua sudah lagi santai. Ada sesuatu penting yang harus saya bicarakan."
"Oh ya udah, ayo kita bicara di dalam."
__ADS_1
"Iya."
Pak Mahendra dan Bu Erina kemudian masuk ke dalam rumah. Mereka melangkah ke ruang tamu.