Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Penasaran


__ADS_3

"Pak Tama, saya kok tidak pernah melihat Arumi lagi ya sekarang, anak kamu kemana? lagi sakit ya?" tanya Pak Mahendra di dalam perjalanan ke kantor.


Pak Tama yang ditanya tidak langsung menjawab pertanyaan dari majikannya. Dia bingung akan menjawab apa pada Pak Mahendra. Tidak mungkin untuk Pak Tama jujur kalau dia sudah mengusir anaknya dari rumah.


"Arumi?" ucap Pak Tama di sela-sela menyetirnya.


"Iya. Arumi. Sudah satu minggu ini saya tidak melihatnya."


"Sebenarnya, Arumi itu saya suruh ngekos sendiri Tuan," bohong Pak Tama. Pak Tama terpaksa berbohong untuk menjaga nama baiknya dan keluarganya dari Aib yang dibawa anaknya.


"Ngekos?"


Pak Tama mengangguk. "Iya. Tuan."


"Ngekos di mana?" tanya Pak Mahendra.


"Ngekos di dekat kampusnya Tuan," jawab Pak Tama.


"Oh..." Pak Mahendra hanya manggut-manggut mendengar ucapan Pak Tama. Dia sangat percaya sekali pada Pak Tama.


"Saya ingin Arumi itu lebih mandiri. Tuan kan tahu sendiri kalau di dekat ibunya Arumi itu rada manja. Kalau ngekos sendiri kan, dia bisa mandiri. Saya cuma ingin mengajari Arumi mandiri. Agar tidak ketergantungan lagi dengan orang tua."


"Oh... begitu. Yah, bagus dong kalau begitu. Itu artinya Pak Tama sudah mengajarkan sikap yang baik pada Arumi."


"Iya Tuan."


Pak Mahendra memang sudah satu minggu ini tidak pernah bertemu dengan Arumi. Biasanya setiap pagi, atau setiap sore pasti Arumi bersih-bersih di halaman depan rumah Pak Mahendra ikut membantu pekerjaan ibunya.


Pak Mahendra yang sudah tidak pernah melihat Arumi lagi, merasa kehilangan saat gadis itu, tidak pernah muncul lagi di depan matanya.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Pak Tama dan Pak Mahendra sampai juga di halaman kantor Pak Mahendra.


Setelah Pak Tama memarkirkan mobilnya di parkiran mobil, Pak Tama turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Pak Mahendra.


"Silahkan Tuan!" ucap Pak Tama.


"Makasih."


Pak Mahendra kemudian turun dari mobilnya.


"Saya masuk dulu ya Pak Tama."


Pak Tama mengangguk. "Iya Tuan."

__ADS_1


Pak Mahendra kemudian berjalan pergi meninggalkan Pak Tama dan masuk ke dalam kantornya.


Sementara Pak Tama sendiri seperti biasa, dia menunggu Pak Mahendra sampai Pak Mahendra keluar lagi.


Karena Pak Mahendra punya banyak cabang kantor, jadi dia tidak hanya ada di kantor ini saja. Mungkin dalam sehari ada lima cabang kantor yang Pak Mahendra biasa kunjungi. Dan Pak Tama yang bekerja menjadi seorang sopir, hanya menuruti saja kemana Pak Mahendra itu pergi.


Di sisi yang berbeda, Arkan sudah duduk di kursi kebesarannya. Dia sudah menyalakan layar monitornya. Seperti biasa, dia akan bekerja dan menghabiskan waktunya di dalam kantor.


Dan setiap hari, fikiran Arkan hanya bekerja, bekerja, dan bekerja. Dia sama sekali tidak pernah memikirkan wanita apalagi soal percintaannya. Sampai saat ini, belum ada wanita yang bisa menaklukkan hati lelaki beku itu.


Disela-sela pekerjaannya, tiba-tiba saja bayangan Arumi terlintas dalam fikiran Arkan.


"Kemana ya Arumi. Udah beberapa hari ini, aku tidak pernah melihat dia. Apa dia lagi sakit ya," ucap Arkan di sela-sela lamunannya


Tiba-tiba saja Arkan tersadar dan langsung menepis bayangan Arumi dalam fikirannya.


"Kenapa aku jadi keingat Arumi ya. Nggak, aku nggak mau ingat-ingat lagi soal wanita itu. Tapi...".


Tiba-tiba saja Arkan menghentikan ucapannya. Dia diam dan tampak berfikir.


"Bagaimana dengan malam itu. Bagaimana kalau sampai Arumi hamil anak aku. Bisa kena masalah besar aku dalam hidup aku. Karir aku bakalan hancur. Begitu juga dengan nama baik Papa dan Mama," ucap Arkan yang masih mengkhawatirkan soal kejadian di malam itu.


Arkan sejak tadi masih tampak gelisah. Dia takut kejadian malam itu, akan membuat Arumi hamil.


Malam itu, adalah malam di mana Arkan melepas keperjakaannya. Karena Arkan sebelumnya tidak pernah menyentuh seorang wanita. Dan peristiwa satu malam bersama Arumi, Arkan sama sekali tidak mengingatnya.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu sudah membangunkan Arkan dari lamunannya. Arkan terkejut saat mendengar ketukan pintu dari depan ruangannya.


"Siapa...!" seru Arkan.


"Ini Lira Pak Arkan," ucapan dari luar sudah terdengar di ruangan Arkan.


"Masuk aja Lir."


"Iya Pak Arkan."


Setelah Arkan mempersilahkan Lira masuk, Lira kemudian masuk ke dalam ruangan Arkan. Dia kemudian mendekati meja kerja Arkan.


"Ada apa Lir?" tanya Arkan menatap tajam Lira.


"Pak Arkan, saya ke sini, cuma mau minta tanda tangan bapak. Ada banyak berkas-berkas yang perlu anda tandatangani Pak."

__ADS_1


"Mana?"


"Ini Pak."


Lira kemudian memberikan berkas-berkas penting itu pada Arkan.


Setelah Arkan menandatangani semua berkas-berkas itu, dia kemudian memberikan berkas-berkas itu pada Lira.


"Ini, udah aku tanda tangani semua."


"Makasih Pak Arkan. Kalau begitu saya permisi dulu."


Lira memutar tubuhnya untuk pergi dari ruangan Arkan. Tiba-tiba saja Arkan menghentikan langkahnya.


"Tunggu Lir," ucap Arkan.


Lira menoleh ke belakang dan memutar tubuhnya kembali untuk menghadap ke arah Arkan.


"Iya Pak. Ada apa?" tanya Lira.


"Saya mau tanya soal Arumi. Di mana Arumi sekarang? akhir-akhir ini, saya jarang melihatnya."


Lira bingung untuk cerita ke Arkan soal Arumi. Kalau dia cerita jujur ke Arkan, sama saja Lira itu membongkar aib yang selama ini keluarganya tutup-tutupi dari keluarga Mahendra.


"Lira, kenapa kamu diam aja? kemana Arumi?" tanya Arkan.


"Arumi udah tidak tinggal bersama saya lagi Pak Arkan," jawab Lira.


Arkan terkejut saat mendengar ucapan Lira.


"Kenapa? terus sekarang dia ada di mana?"


"Saya juga nggak tahu, dimana Arumi Pak Arkan. Karena Arumi pergi begitu saja waktu diusir bapak," ucap Lira.


Lira langsung menutup mulutnya dengan tangannya. Sepertinya dia keceplosan saat bercerita pada Arkan tentang Arumi.


"Apa! di usir?" pekik Arkan.


Duh, mulut. Kenapa sih, mulut aku ini nggak bisa direm. Pasti Pak Arkan akan tanya macam-macam sama aku kenapa bapak sampai ngusir Arumi. Aku mau jawab apa, batin Lira.


Benar saja dugaan Lira, Arkan akan tanya macam-macam tentang Arumi. Arkan menyuruh Lira untuk duduk. Sepertinya dia kepo dengan kepergian Arumi.


"Duduklah Lira. Aku ingin dengar cerita kamu. Kata kamu Mang Tama sudah mengusir Arumi dari rumah. Kenapa Arumi diusir? apa dia sudah membuat kesalahan yang besar, sehingga membuat Mang Tama marah dan mengusirnya dari rumah?" tanya Arkan.

__ADS_1


Lira menurut untuk duduk. Lira kemudian duduk di depan Arkan.


"Lira, kamu belum jawab pertanyaan aku. Kenapa ayah kamu ngusir Arumi. Apa salah Arumi?" tanya Arkan yang sudah semakin penasaran.


__ADS_2