
Tujuh tahun kemudian.
Arumi masih menapaki jalan raya untuk mencari Rafa anaknya. Arumi tidak tahu kemana perginya Rafa saat ini. Sejak tadi Arumi masih menatap ke sekeliling jalan raya. Tapi dia belum juga menemukan Rafa.
"Kemana ya Rafa. Biasanya dia main di sini. Tapi kenapa nggak ada ya. Kemana teman-temannya ngajak dia main," ucap Arumi.
Rafa memang anak yang sangat susah sekali di atur. Dia juga sangat keras kepala. Arumi fikir, Rafa mempunyai sifat yang sama persis seperti Arkan. Wajahnya juga hampir mirip dengan ayahnya.
Arumi menghentikan langkahnya saat melihat Rafa sedang berlari-larian di tepi jalan bersama teman-temannya.
"Ya ampun Rafa. Udah sore, kenapa dia masih main di jalan raya," ucap Arumi.
Arumi kemudian buru-buru berjalan menghampiri Rafa yang saat ini masih main bersama teman-temannya. Dan teman main Rafa bukan anak sepantarannya. Melainkan anak yang jauh lebih besar darinya.
"Rafa," ucap Arumi setelah sampai di dekat Rafa
Rafa menoleh ke arah Arumi ibunya. Begitu juga dengan teman-teman Rafa. Mereka juga menatap ke arah Arumi.
"Mama. Ada apa Ma?" tanya Rafa menatap Arumi lekat.
"Udah sore Rafa, tapi kenapa kamu malah masih mainan di pinggir jalan. Ayo pulang!" ucap Arumi yang sudah menggenggam erat tangan Rafa. Takut Rafa akan lari dan tidak mau diajak pulang.
"Nggak mau Ma. Aku masih pengin main di sini," ucap Rafa sembari menatap Arumi tajam. Dia sejak tadi menggeleng-gelengkan kepalanya dan mencoba melepaskan genggaman tangan ibunya.
"Rafa, jangan main di sini. Bahaya Nak. Banyak mobil di jalan raya. Nanti gimana kalau kamu keserempet."
"Aku juga udah hati-hati kok Ma. Dan aku mainnya juga nggak sendirian. Kan ada teman-teman aku. Jadi Mama nggak perlu khawatir."
"Rafa, kita pulang sekarang ya. Kamu belum mandi kan? kamu jangan jauh-jauh mainnya Rafa. Mama cemas mikirin kamu Nak. Mama khawatir sama kamu," ucap Arumi.
"Aku belum ingin pulang Mama. Aku masih pengin main. Teman-teman aku juga masih mau main," ucap Rafa.
Arumi menghela nafas dalam. Arumi tidak mau kalah dari Rafa. Dia kemudian buru-buru menggendong Rafa. Walau dia tahu, kalau sampai rumah Rafa pasti akan menangis. Namun Arumi tidak akan pernah membiarkan anaknya itu main sampai sore di pinggir jalan raya.
Sebelum pergi, Arumi menatap tajam teman-teman Rafa.
"Kalian itu kan udah pada gede-gede. Lain kali jangan ajak-ajak Rafa main di jalan raya seperti ini lagi ya. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa sama Rafa. Kalian mau tanggung jawab! ini jalan raya, jalan besar. Awas aja ya, kalau sampai kalian ngajakin Rafa main lagi di tepian jalan besar seperti ini," ancam Arumi pada teman-teman Rafa.
Ketiga anak lelaki itu hanya menundukan kepalanya. Mereka hanya bisa diam saat mendapatkan omelan dari Arumi ibunya Rafa.
Usia Rafa saat ini sudah menginjak enam tahun. Dan sampai saat ini, belum ada yang tahu menahu identitas Rafa, karena Arumi selalu menyembunyikan identitas anaknya itu dari orang lain. Tidak ada orang yang tahu, kalau Rafa adalah pewaris keluarga besar Mahendra.
__ADS_1
Sementara Arkan, dia sudah melupakan Arumi dan masalahnya dengan Arumi. Dia sekarang sedang sibuk dengan bisnisnya.
Arkan saat ini sudah menjadi pengusaha besar yang disegani. Sementara Pak Mahendra sudah pensiun dan menyerahkan semua perusahaannya pada Arkan.
"Maafkan kami Tante, kami janji kami tidak akan mengajak Rafa main jauh-jauh lagi. " ucap salah satu dari ketiga anak lelaki itu.
Arumi yang sudah menggendong Rafa hanya diam. Tanpa butuh waktu lama, Arumi mengajak Rafa pulang dan meninggalkan ketiga anak lelaki teman Rafa itu.
***
Sore ini, Arkan masih berkutat di depan layar monitornya. Dia sejak tadi masih fokus menatap layar monitornya.
Sepertinya pekerjaan Arkan saat ini masih sangat banyak. Dia sampai tidak menyadari kalau sekarang sudah sore dan sebentar lagi waktunya para karyawan pulang.
Tok tok tok...
Suara ketukan sudah terdengar dari luar ruangan Arkan.
"Masuk...!" seru Arkan.
Beberapa saat kemudian, seorang wanita masuk ke dalam ruangan Arkan.
"Permisi Pak Arkan," ucap Natasha sekretaris Arkan.
"Ada apa?" tanya Arkan.
"Ada Bu Nilam di depan Pak Arkan," ucap Natasha menuturkan.
"Suruh dia masuk."
Natasha mengangguk. "Baik Pak."
Natasha melangkah keluar untuk memanggil Nilam. Dia kemudian menghampiri Nilam yang saat ini ada di depan ruangan Arkan.
Nilam adalah tunangan Arkan. Wanita yang dijodohkan orang tua Arkan beberapa tahun yang lalu. Dan mereka sudah satu tahun tunangan. Dan rencananya, mereka akan menikah tahun ini.
"Bu Nilam, silahkan masuk Bu. Pak Arkan sudah mempersilahkan Bu Nilam masuk ke dalam," ucap Natasha.
Nilam tersenyum."Makasih ya Mbak."
Natasha mengangguk.
__ADS_1
"Iya. Sama-sama Bu Nilam."
Nilam kemudian masuk ke dalam ruangan Arkan. Sementara Natasha pergi meninggalkan ruangan Arkan.
"Sore sayang..." ucap Nilam sembari duduk di depan Arkan.
"Mau ngapain kamu ke sini?"tanya Arkan sembari mengetik sesuatu di dalam komputernya.
"Aku mau ngajak kamu keluar sore ini sayang," ucap Nilam.
"Kemana?" tanya Arkan. Dia kemudian menghentikan aktifitasnya dan menutup layar monitornya. Setelah itu dia menatap Nilam lekat.
"Aku mau ngajakin kamu makan malam di luar, sekalian mau membicarakan tentang acara kita besok," ucap Nilam.
Arkan mengernyitkan alisnya.
"Acara apa?" tanya Arkan. Sepertinya Arkan lupa kalau besok adalah acara preweddingnya ke puncak.
"Kamu lupa ya, besok kita mau prewedding ke puncak," ucap Nilam.
"Ke puncak?"
"Iya sayang. Apa kamu lupa jadwal acara kita. Makanya kamu jangan mikirin pekerjaan kamu terus dong. Sebentar lagi kan kita mau nikah. Fikirkan juga dong rencana pernikahan kita,"ucap Nilam.
"Untuk apa aku ikut-ikutan mikirin rencana pernikahan kita. Bukankah kamu dan mama yang sudah mengatur semuanya."
"Ya tapi kan, prewedding itu kita mau foto-foto di puncak. Dan acaranya pasti akan lama sayang. Kita juga harus nginap sehari juga di sana. Kamu harus ikut ke sana sayang. Karena kita kan mau foto-foto."
"Hari apa besok?" tanya Arkan.
"Besok hari minggu. Nanti malam, malam minggu. Dan malam ini, aku mau ngajakin kamu makan malam di luar, gimana sayang. Kamu mau kan."
Nilam menatap Arkan lekat. Sejak tadi dia mencoba untuk membujuk Arkan agar Arkan mau menuruti semua keinginan Nilam.
Karena Arkan sangat susah sekali untuk di ajak pergi-pergi. Kalau tidak Nilam duluan yang ngajak, Arkan tidak akan pernah ngajakin duluan. Dan Nilam harus lebih agresif menghadapi lelaki seperti Arkan.
Arkan tunangan Nilam itu, beda sekali dengan lelaki lain. Arkan itu lelaki yang dingin dan sama sekali tidak bisa romantis. Dia kaku, dan terlalu serius.
Dia juga tidak bisa peka dengan perasaan pasangannya. Yang ada di fikiran Arkan itu hanya pekerjaannya saja.
Seandainya orang tua Arkan tidak mencarikan Arkan jodoh, mungkin sampai sekarang Arkan belum punya pacar.
__ADS_1
Dan setelah Pak Mahendra dan Bu Erika membujuk Arkan berkali-kali waktu itu, akhirnya Arkan mau juga dijodohkan dengan Nilam.
Bahkan sekarang mereka sudah akan menikah. Mungkin dua bulan lagi, acara pernikahan besar mereka.