Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Ketiduran


__ADS_3

"Maafkan aku Ken, hiks...hiks...hiks..."


Di dalam taksi, Arumi masih menangis. Hatinya masih terasa sakit saat dia memutuskan Kenzo tadi.


Arumi memang masih sangat mencintai lelaki itu. Tapi, Arumi tidak mau terlalu memberikan banyak harapan ke Kenzo. Karena kalau tahu Arumi hamil di luar nikah, Kenzo pasti akan sangat kecewa pada Arumi.


Arumi sebenarnya tidak tega untuk memutuskan hubungannya dengan Kenzo. Tapi Arumi juga tidak mungkin melanjutkan hubungannya dengan Kenzo.


Arumi tahu, kalau sebentar lagi, akan ada musibah besar yang akan menimpanya. Di saat semua orang tahu kalau Arumi hamil tanpa suami.


Arumi yakin, semua orang pasti akan mempertanyakan siapa ayah dari bayi yang dikandungnya. Apakah Arumi harus jujur, kalau ayah dari bayinya adalah Arkan, seorang lelaki yang tak tersentuh. Lelaki tampan namun sangat jauh dari wanita.


Lelaki yang sulit sekali untuk ditaklukkan. Karena dia sangat membenci wanita dan membenci yang namanya pernikahan.


Mungkinkah semua orang akan percaya kalau Arumi mengandung benih dari Arkan. Anak dari Pak Mahendra majikannya.


"Neng, kita mau kemana Neng?" tanya sopir taksi pada Arumi.


Arumi yang ditanya hanya diam. Dia masih sibuk dengan lamunan dan tangisannya. Sampai-sampai dia tidak mendengar pertanyaan sopir taksi itu.


"Neng, kenapa nangis aja Neng? kita mau ke mana Neng?" tanya sopir itu satu kali lagi.


"Eh, iya Pak. Aku mau pulang Pak," ucap Arumi sembari mengusap air matanya.


"Pulang kemana Neng?"


"Jalan Seruni Pak."


"Baik Neng."


Sopir itu sejak tadi masih sesekali menatap ke sepion kaca mobilnya. Dia menatap Arumi yang masih terisak.


"Kenapa nangis Neng? lagi ada masalah?" tanya sopir itu.


"Nggak apa-apa Pak. Saya nggak nangis kok," ucap Arumi.


"Jangan bohong Neng. Saya tahu kalau Neng dari tadi nangis. Udah biasa, kalau anak seumuran kamu kalau nangis itu, paling lagi patah hati. Iya kan?"


Arumi hanya tersenyum. Dia sama sekali tidak marah dengan pertanyaan sopir taksi itu.


"Ah, bapak ini sok tahu."


"Sok tahu gimana Neng. Gini-gini, bapak juga pernah muda Neng."


Beberapa saat kemudian, taksi berhenti tepat di depan rumah besar tiga lantai milik Pak Mahendra.


"Sudah sampai Neng."

__ADS_1


"Makasih ya Pak."


Arumi mengambil tasnya. Setelah itu dia merogoh uang untuk membayar taksi itu.


Setelah membayar taksi, Arumi pun turun dari taksi dan berjalan masuk ke halaman depan rumah majikannya. Dia kemudian berjalan untuk ke paviliun yang ada di belakang rumah Pak Mahendra.


Arumi masuk ke dalam rumah yang setiap siang selalu sepi. Dia kemudian melangkah ke kamarnya dan masuk ke dalam kamar.


Arumi menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya dan duduk di sisi tempat tidur itu. Dia kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya. Arumi terkejut saat melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Kenzo.


"Banyak sekali panggilan tak terjawab dari Kenzo. Untuk apa dia nelpon aku. Aku lagi malas angkat telpon dia. Aku nggak mau dia kecewa setelah dia tahu aku hamil anak lelaki lain. Maafkan aku Ken, aku putusin kamu ini semua untuk kebaikan kamu juga," ucap Arumi.


Arumi kemudian menonaktifkan ponselnya. Setelah itu dia naik ke atas tempat tidur untuk berisitirahat.


Arumi menghela nafas dalam. Dia kemudian menatap ke langit-langit kamarnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, jika suatu saat nanti, semua orang tahu dengan kehamilan ini," ucap Arumi sembari mengusap perutnya yang masih rata.


"Aku nggak mungkin minta pertanggungjawaban dari Tuan Arkan. Dia pasti akan marah besar sama aku. Bisa saja dia menyuruh aku untuk menggugurkan kandungan aku. Dan bisa saja dia menghancurkan aku, bayiku dan keluargaku."


Arumi memang takut kalau ancaman Arkan itu tidak main-main. Padahal itu hanya ancaman yang keluar dari mulut seorang anak Papi yang kerja di kantor saja masih mendapatkan pengawasan dan bimbingan dari ayahnya.


Dan orang yang paling berkuasa dan berhak untuk menentukan pemecatan karyawan itu cuma Pak Mahendra.


"Gimana kalau ibu, bapak, dan Mbak Lira di pecat Tuan Arkan , dan kami di usir dari rumah ini. Apakah kami harus turun ke jalanan menjadi gembel?" ucap Arumi.


****


Waktu saat ini, sudah menunjukan jam tujuh malam. Heru dan Lira sudah sampai di depan rumah Pak Mahendra.


"Aku turun di sini saja deh Mas," ucap Lira pada Heru kekasihnya.


"Oh, iya sayang."


Sebelum turun Lira menatap Heru lekat.


"Mas, besok kamu mau jemput aku lagi nggak ?" tanya Lira.


"Kayaknya nggak sayang. Aku mau nganterin Mama ke rumah sakit besok."


"Oh. Mama kamu lagi sakit ya?"


"Iya. Dia mau cek gula darah dan kolesterol."


"Oh."


Lira turun dari mobilnya. Setelah itu dia melambaikan tangannya ke arah Heru.

__ADS_1


"Hati-hati ya Mas," ucap Lira.


"Iya sayang."


Heru meluncur pergi meninggalkan Lira. Setelah mobil Heru menghilang dari hadapan Lira, Lira pun melangkah masuk ke dalam halaman depan rumah Pak Mahendra. Dia menuju ke paviliunnya.


Lira terkejut saat melihat rumah kecilnya itu tampak gelap.


"Ih, kok rumah gelap banget begini. Ibu dan bapak ke mana ini. Apa mereka belum masuk rumah dari tadi pagi," ucap Lira.


Lira masuk ke dalam ruang tamu. Setelah itu dia menyalakan semua lampu yang ada di dalam rumahnya.


Lira melangkah ke kamar Arumi untuk melihat adiknya .Lira terkejut saat melihat adiknya masih terlelap di atas tempat tidur.


"Arumi kok masih pakai baju yang tadi pagi. Apa dia belum mandi. Dia tidur sudah dari jam berapa?" ucap Lira.


Lira masuk ke dalam kamar Arumi. Setelah itu dia membangun kan Arumi dengan menepuk-nepuk pipinya.


"Dek, bangun dek. Dek bangun ...!" ucap Lira.


Beberapa saat kemudian, Arumi mengerjapkan matanya. Dia terkejut saat melihat Lira sudah ada di depannya.


Arumi beringsut duduk dan mengucek matanya.


Hoaamm...


"Mbak, Mbak Lira. Kok Mbak bisa ada di kamar aku? sejak kapan Mbak di sini ? Mbak mau berangkat kerja ya?" tanya Arumi.


Arumi menatap ke sekeliling.


"Ini udah pagi ya Mbak."


Arumi tampak seperti orang bingung. Sepertinya sudah lama dia tertidur. Mungkin, sejak kepulangannya dari kampus tadi siang.


"Pagi? kamu mimpi ya Arumi. Makanya sana, kamu cuci muka dulu. Baru kamu lihat jam. Aku baru pulang kerja Arumi."


Lira menatap wajah Arumi yang matanya tampak bengkak.


"Arumi. Mata kamu bengkak? kamu habis nangis ya?"


Arumi langsung menggeleng.


"Nggak kok Mbak. Mungkin aku tidurnya kelamaan. Jadi mata aku bengkak deh."


"Tapi kamu nggak apa-apa kan? apa kamu masih sakit Arumi?"


"Aku udah sembuh kok Mbak. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap Arumi.

__ADS_1


__ADS_2