
"Ken, maafkan aku ya Ken," ucap Lira.
"Maaf untuk apa Mbak?" tanya Kenzo.
"Kemarin-kemarin aku sudah salah sangka sama kamu. Aku fikir kamu yang sudah menghamili adik aku. Tapi ternyata dugaan aku salah."
Kenzo tersenyum.
"Nggak apa-apa Mbak. Itu kan cuma salah paham aja. Ngomong-ngomong, kalau aku boleh tahu, siapa Mbak lelaki yang sudah menghamili Arumi. Jika aku ketemu dia, aku benar-benar ingin menghabisinya," ucap Kenzo dengan mengepalkan tangannya geram .
Lira diam. Lira juga tidak tahu siapa lelaki yang sudah menghamili Arumi. Karena Arumi sampai saat ini tidak mau mengatakan siapa ayah dari bayi yang di kandungnya.
Dan selama ini yang Lira tahu, lelaki satu-satunya yang dekat dengan Arumi cuma Kenzo. Jadi Lira fikir, Kenzo lah yang sudah menghamili Arumi.
"Aku juga nggak tahu Ken. Arumi sampai saat ini, belum mau jujur sama aku tentang siapa ayah kandung bayi yang dikandungnya itu."
"Oh...gitu ya Mbak."
"Iya Ken. Oh iya Ken, kamu yakin Ken, mau ikut nyari Arumi?"
"Yakin dong Mbak. Aku juga khawatir sama dia. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama dia. Oh iya Mbak. Arumi bawa hape nggak sih waktu pergi?"
"Bawa kok Ken."
"Tapi kenapa dari kemarin aku telpon nggak pernah aktif."
"Mungkin dia sengaja menonaktifkan hapenya Atau mungkin dia memang mau ganti nomer. Karena dia sudah tidak mau dihubungi kita lagi."
"Mungkin ya Mbak. Oh iya. Kalau gitu, aku boleh nggak minta nomernya Mbak Lira. Biar kalau ada kabar tentang Arumi, aku bisa menghubungi Mbak."
"Boleh. Tunggu ya."
Lira kemudian mengambil hapenya. Setelah itu dia memberikan nomernya pada Kenzo.
"Makasih ya Mbak."
"Iya. Kalau gitu, aku masuk ke dalam dulu ya Ken."
"Iya Mbak."
Lira kemudian buru-buru masuk ke dalam rumah Pak Mahendra. Sementara Kenzo masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan tempat itu.
****
Malam ini, Arumi masih berada di ruang makan rumah keluarga Dokter Leo, seorang lelaki yang sudah menolongnya beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Sudah satu minggu lebih Arumi tinggal di rumah Leo. Dan saat ini, dia sedang makan malam bersama Leo, Inez dan Bu Sarah ibu dari Leo dan Inez.
Arumi merasa bahagia karena sudah dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Leo dan Inez. Mereka orang-orang yang sangat baik.
Mereka sudah menganggap Arumi seperti keluarganya sendiri. Begitu juga dengan Bu Sarah. Bu Sarah juga sudah menganggap Arumi seperti anak kandungnya sendiri.
"Arumi, makan yang banyak," ucap Bu Sarah di sela-sela kunyahannya.
Arumi tersenyum dan mengangguk."Iya Bu."
"Iya Arumi, makan yang banyak, agar bayi yang ada di dalam kandungan kamu itu sehat," ucap Inez menimpali.
"Mulai sekarang kamu nggak usah mikirin apa-apa lagi Arumi. Orang hamil itu nggak boleh banyak fikiran dan stres. Karena bisa mempengaruhi kandungan kamu. Apalagi kehamilan yang masih muda, masih sangat rawan keguguran," ucap Leo.
"Iya Mas Leo."
Setelah menghabiskan makanannya, Inez bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pamit untuk ke kamar.
"Aku ke kamar dulu ya Ma, Kak, Arumi," ucap Inez sebelum pergi.
"Iya," ucap Leo.
Begitu juga dengan Bu Sarah. Dia bangkit dari duduknya dan mengikuti anaknya pergi meninggalkan ruang makan. Sementara Arumi masih bersama Leo di ruang makan.
"Arumi, kamu kenapa? baru saja aku bilang, kalau jangan banyak fikiran, tapi sekarang kamu malah ngelamun. Kamu lagi mikirin apa Arumi?" tanya Leo. Dia tidak tahu apa yang sedang Arumi fikirkan saat ini.
Sejak Arumi diusir dari rumah, Arumi memang masih kefikiran dengan Arkan dan keluarganya. Dia juga merasa tidak enak, jika dia harus lama-lama berada di rumah Bu Sarah.
Sebenarnya Arumi tidak mau terlalu banyak merepotkan keluarga mereka. Arumi sejak tadi masih berfikir, bagaimana dia bisa untuk berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain.
Arumi ingin cari rumah kontrakan dan ingin cari kerja. Agar Arumi bisa membiayai hidupnya sendiri tanpa bantuan orang lain..
"Arumi," ucap Leo.
Arumi menatap
Leo lekat.
"Maaf ya Mas Leo. Aku sudah banyak merepotkan kamu," ucap Arumi.
Leo tersenyum.
"Nggak apa-apa Arumi. Aku ikhlas kok bantuin kamu."
"Sebenarnya aku nggak enak Mas Leo, lama-lama tinggal di sini."
__ADS_1
"Kenapa kamu merasa tidak enak seperti itu?" tanya Leo.
"Karena aku sudah banyak ngerepotin keluarga Mas Leo termasuk Bu Sarah. Sebenarnya aku ingin mandiri sendiri. Aku ingin ngontrak rumah sendiri dan ingin cari kerja."
"Arumi. Aku bilang apa tadi. Jangan fikirin macam-macam. Sekarang kamu fokus saja sama kehamilan kamu. Kamu nggak usah mikirin macam-macam Arumi. Kami di sini, nggak merasa direpotin sama sekali Arumi. Kami ikhlas membantu kamu."
"Iya Mas. Makasih banyak ya Mas, untuk bantuan kamu selama ini."
"Iya Arumi."
"Arumi, kamu itu lagi hamil. Orang tua kamu juga sudah mengusir kamu, dan lelaki yang menghamili kamu juga tidak mau bertanggung jawab. Udah saatnya Arumi, kamu buktikan ke mereka kalau kamu itu kuat dan bisa berdiri tanpa bantuan mereka."
"Iya Mas."
Sejak kemarin Leo sudah menasihati Arumi dan memberikan dia dukungan agar dia semangat untuk menjalani kehidupannya saat ini.
"Arumi, tidak ada anak haram Arumi. Anak yang kamu kandung sekarang juga tidak berdosa. Semua bayi yang lahir ke dunia ini itu terlahir dalam keadaan suci. Yang berdosa itu sebenarnya orang tuanya yang sudah melakukan zina," ucap Leo tiba-tiba.
Arumi meneteskan air matanya.
"Iya. Sungguh aku sangat berdosa seandainya aku kemarin benar-benar terjun ke sungai itu. Aku sama saja sudah membunuh anak kandung aku sendiri dan membunuh diriku. Dan aku sama sekali tidak akan punya kesempatan untuk bertaubat. Dan dosaku benar-benar akan dilipatgandakan."
Setelah menghabiskan makanannya, Leo menatap Arumi.
"Arumi, aku mau ke kamar dulu ya."
"Iya Mas.
Leo kemudian bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pergi meninggalkan ruang makan.Sementara Arumi hanya bisa menatap kepergian Leo.
Setelah makan, Arumi membereskan semua piring-piring kotor yang ada di meja makan. Arumi kemudian membawa semua piring-piring kotor itu ke dapur.
"Non Arumi. Kenapa diberesin Non?"
"Mas Leo sudah pergi ke kamarnya Bik Minah. Jadi aku beresin."
"Kenapa nggak panggil bibik Non. Biar bibi aja yang beresin."
"Nggak apa-apa Bik. Biar Arumi bantu bibi beresin semua ini."
"Duh, seharusnya Non Arumi istirahat aja. Nggak usah ikut beresin dapur. Biar bibi aja. Ini kan sudah tugas bibi Non. Dan Non juga lagi hamil. Nggak boleh kecapean. Nanti gimana kalau Tuan Leo marahin bibi."
"Nggak apa-apa Bik. Aku di sini kan cuma numpang. Nggak enak juga kalau nggak bantu apa-apa," ucap Arumi.
"Ya udahlah, terserah Non Arumi aja kalau Non Arumi maksa."
__ADS_1