Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Menghilangnya Arumi.


__ADS_3

Arumi sebenarnya bingung untuk bercerita pada orang lain tentang siapa lelaki yang sudah menghamilinya. Tapi Arumi juga tidak mungkin memendam masalahnya sendiri.


Selama dia hamil, belum ada satu pun orang yang tahu kalau anak yang sedang di kandungnya itu adalah anak Arkan Mahendra.


Karena Arumi tidak mau menceritakan apapun pada orang lain. Apalagi menceritakan peristiwa di malam itu. Bagi Arumi itu adalah aib yang besar, yang tidak pantas untuk diceritakan kembali pada orang lain. Cukup dia dan Arkan Mahendra saja yang tahu soal kejadian malam itu.


Apa aku harus ceritakan masalah ini sama Inez ya, batin Arumi.


Arumi sejak tadi masih diam. Dia tampaknya masih ragu untuk menceritakan masalahnya itu sama Inez.


"Arumi. Kenapa kamu diam aja? Kamu cerita aja sama aku. Aku janji, aku nggak akan menceritakan rahasia kamu ke siapa-siapa. Kamu cerita aja sama aku. Siapa tahu dengan kamu cerita masalah kamu ke aku, bisa meringankan beban fikiran kamu," ucap Inez di sela-sela menyetirnya.


Arumi menarik nafasnya dalam sebelum dia bercerita.


"Sebenarnya. Aku hamil karena aku diperkosa Nez," ucap Arumi.


Inez terkejut saat mendengar ucapan Arumi.


"Apa! diperkosa? siapa orang yang sudah memperkosa kamu Arumi?" tanya Inez.


"Aku diperkosa oleh anak majikan ku," jawab Arumi.


"Apa! Jadi kamu hamil karena kamu diperkosa?"


Arumi mengangguk. Dia kemudian meneteskan air matanya.


"Iya. Aku sudah diperkosa. Malam itu, lelaki itu mabuk. Pas aku membawanya ke kamar, dia malah memaksaku untuk berhubungan dengannya."


"Ya ampun. Kasihan banget kamu Arumi. Terus orang tua kamu tahu masalah ini?"


Arumi menggeleng.


"Aku nggak pernah menceritakan masalah ini kesiapapun. Aku takutnya orang tua aku nggak akan percaya dengan ceritaku. Dan ayah aku ngusir aku karena aku nggak mau ngasih tahu siapa ayah bayi ini."


"Seharusnya kamu jujur aja sama orang tua kamu Arumi."


"Aku nggak berani jujur. Karena aku takut dengan ancaman lelaki itu."


"Kalau gitu, kamu lapor aja ke polisi Arumi."


"Itu juga aku nggak bisa melakukannya. Karena lelaki itu punya banyak uang. Dia bisa saja menghancurkan aku dan keluarga aku Nez. Jika dia tahu aku hamil anaknya, dia juga pasti akan menyuruh aku untuk menggugurkan kandungan aku. Dengan uangnya dia bisa melakukan apa saja Nez."

__ADS_1


"Sekejam itukah dia?"


Arumi mengangguk.


"Aku nggak nyangka ada lelaki sekejam itu."


Beberapa saat kemudian mobil Inez sudah sampai di depan rumah sakit. Inez dan Arumi turun dari mobilnya setelah mereka memarkirkan mobilnya. Setelah itu mereka pun masuk ke dalam rumah sakit untuk mencari dokter kandungan yang saat ini sedang menunggu mereka. Karena sebelum ke rumah sakit, Arumi dan Inez sudah janjian dulu dengan dokter Ferri yang tak lain adalah temannya Leo.


"Kakak kamu kerja di sini?" tanya Arumi.


"Iya Arumi."


"Kamu yakin kalau jam segini dokter kandungan masih ada di rumah sakit ini? " tanya Arumi.


"Iya. Dia masih ada di sini. Kan Kak Leo yang sudah buat janji sama dia. Dia pasti maulah memeriksa kamu walau sekarang jam kerjanya sudah habis."


Arumi dan Inez kemudian masuk ke dalam ruangan dokter Ferri.


Setelah periksa, Arumi dan Inez kemudian pergi meninggalkan rumah sakit. Mereka berjalan menuju ke parkiran. Sesampainya di parkiran, Arumi dan Inez masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu mereka pun meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.


"Ini kan bukan jalan ke rumah Nez. Kita mau ke mana?" tanya Arumi.


"Ada sesuatu yang mau aku beli."


"Oh. Ya udah."


Sesampainya di toko buku, Inez menghentikan mobilnya. Sebelum turun dia menatap Arumi.


"Arumi. Kamu mau ikut turun, atau kamu mau tunggu di sini saja?" tanya Inez.


"Aku tunggu di sini aja deh."


"Ya udah. Aku turun dulu ya."


Arumi mengangguk. "Iya."


Inez kemudian turun dari mobilnya. Setelah itu dia berjalan masuk ke dalam toko buku untuk membeli sesuatu, perlengkapan kuliahnya. Sementara Arumi menunggu di mobil.


"Duh, Inez kemana sih lama banget. Kenapa mendadak aku jadi haus begini ya, aku mau beli minum dulu lah."


Arumi yang merasa haus, kemudian turun dari mobil Inez untuk membeli minum. Dia berjalan menyebrang jalan raya dan melangkah cukup jauh dari toko buku. Betapa terkejutnya Arumi saat dibelakangnya seperti ada orang yang mengikutinya.

__ADS_1


Arumi sesekali menoleh ke belakang. Namun dibelakang tidak ada siapa-siapa.


"Perasaan tadi ada yang ngikutin aku. Kenapa sekarang nggak ada ya," ucap Arumi.


Arumi kemudian melanjutkan langkahnya. Beberapa saat kemudian tiga orang laki-laki sudah menghadang jalannya. Arumi terkejut saat melihat ketiga orang itu.


"Ka-kalian siapa?" tanya Arumi.


Dua lelaki mendekati Arumi dan langsung memegang tangan Arumi. Membuat Arumi ketakutan dan tidak tahu dengan apa yang akan dilakukan ketiga lelaki itu.


"Kalian, mau ngapain. Lepaskan...! Lepaskan aku...!" ucap Arumi.


Sejak tadi Arumi mencoba untuk memberontak. Namun tampaknya kedua lelaki yang memegangi Arumi itu terlalu kuat.


"Kamu harus ikut kami," ucap salah satu dari mereka.


"Ikut ke mana. Aku tidak mau," ucap Arumi dengan mencoba memberontak melepaskan pegangan ke dua lelaki itu.


"Jangan banyak tanya. Ayo bawa dia." perintah lelaki yang ada di depan Arumi.


"To...tolong..!" Arumi mencoba untuk mencari pertolongan. Namun dengan sigap, salah satu lelaki itu membekap mulut Arumi dan membiusnya. Membuat Arumi jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri di tempat itu."


"Bawa dia ke mobil. Cepat!"


"Baik Bos."


Ketiga lelaki itu kemudian membawa Arumi ke mobil. Mereka bertiga akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah membeli beberapa barang dan buku di toko buku, Inez keluar dari toko itu. Dia menatap ke sekeliling yang tampak sepi. Inez tidak tahu saja kalau Arumi sudah di culik dan dibawa mobil.


Inez mendekati mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya. Inez terkejut saat tidak melihat Arumi berada di dalam mobilnya.


"Arumi. Arumi kemana. Kok nggak ada di mobil. Dia pergi ke mana," ucap Inez


Inez keluar lagi dari mobilnya. Dia menatap ke sekeliling. Namun di sekelilingnya tampak sepi. Hanya ada mobil dan motor saja yang ramai lewat jalan itu. Sementara jarang ada orang yang ada di tempat itu.


"Arumi kemana ya. Kenapa dia nggak ada. Aku harus cari Arumi. Dan kenapa ya baru jam segini tempat ini begitu sepi. Aku jadi takut sendiri di sini. Tapi aku harus tetap cari Arumi sampai ketemu. Aku nggak boleh ninggalin dia di sini. Tapi aku harus cari Arumi di mana."


***


.

__ADS_1


__ADS_2