
Sesampainya di dalam kamarnya, Arkan menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya. Setelah itu dia menatap ke sekeliling.
Tiba-tiba saja bayangan Arumi terlintas dengan jelas di dalam fikiran Arkan.
"Arumi. Kenapa aku jadi ingat Arumi ya. Apa kabar wanita itu. Apakah dia baik-baik saja. Bagaimana kabar bayi yang ada di dalam kandungannya. Apakah Arumi sudah menggugurkan kandungannya, atau dia membiarkan anak itu lahir dan tumbuh besar. Jika anak Arumi hidup, aku yakin pasti sekarang dia sudah besar," ucap Arkan di kesendiriannya.
Arkan menghela nafas dalam. Dia mencoba untuk menyingkirkan bayangan Arumi dalam fikirannya.
"Nggak. Aku nggak boleh mikirin Arumi. Arumi tidak akan pernah muncul lagi di kehidupanku. Aku yakin, dia pasti takut dengan ancaman-ancaman ku. Seandainya Arumi dan anak aku itu masih hidup, aku akan selalu doakan mereka semoga mereka baik-baik saja," ucap Arkan.
Beberapa saat kemudian, suara ketukan dari luar kamar Arkan terdengar.
"Sayang... sayang...!"
Arkan bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah untuk membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Arkan pada Nilam.
"Aku mau pulang Mas. Antarin aku pulang yuk!"
"Duh Nilam. Kamu pulang sama Mang Tama aja ya. Aku lagi nggak enak badan nih sepertinya."
"Kamu sakit Mas?"
"Sedikit."
"Tapi kamu masih bisa nyetir kan. Aku nggak mau pulang sama sopir kamu. Aku mau pulang sama kamu aja Mas."
"Atau kalau tidak, kamu naik taksi aja Nilam."
Nilam menggeleng.
"Pokoknya aku nggak mau pulang naik taksi atau pulang dengan sopir kamu. Aku takut, gimana kalau nanti di jalan ada begal. Mereka nggak ada yang bisa bela diri. Beda kan kalau kamu, kamu pasti bisa melumpuhkan para begal itu."
Sejak tadi Nilam masih merayu Arkan. Akhirnya Arkan pun mau juga mengantarkan Nilam pulang.
"Ya udah deh. Aku mau ganti baju dulu. Kamu tunggu di bawah dulu ya."
"Oke Mas."
Nilam kemudian pergi meninggalkan kamar Arkan untuk menunggu Arkan di bawah.
Beberapa saat kemudian, Arkan turun dari lantai atas dan menuju ke ruang tengah di mana Nilam berada.
"Nilam," ucap Arkan.
Nilam menoleh ke arah Arkan. Dia tersenyum dan bangkit berdiri.
"Udah siap Mas?"
Arkan mengangguk. "Kamu udah izin dulu sama Papa aku?"
"Udah Mas."
__ADS_1
"Ya udah."
"Ya udah yuk Mas." Nilam menggandeng tangan Arkan dan mengajaknya keluar dari rumah.
****
Tin tin tin...
Arkan membunyikan klakson mobilnya saat di depannya, dia melihat ada banyak anak-anak bersepeda.
"Ih, menyebalkan sekali mereka ini. Kenapa bersepeda di jalan besar seperti ini. Ganggu jalan orang aja," gerutu Arkan yang merasa terganggu dengan keberadaan anak-anak itu.
Arkan terkejut saat tiba-tiba saja salah seorang anak dari mereka terjatuh dari sepeda.
Huhuhuhu...
Anak itu tiba-tiba saja menangis. Arkan tidak mau memperdulikan lagi anak-anak itu. Dia melajukan mobilnya meninggalkan kerumunan anak-anak itu.
"Mas berhenti Mas. Kita harus tolongin anak itu," ucap Nilam. Pandangannya masih menatap ke belakang di mana seorang anak perempuan itu jatuh.
"Ya udah, kamu aja yang turun. Aku nggak mau ikut turun," ucap Arkan.
"Mas kamu harus ikut turun dong. Kita harus tolongin anak itu."
"Untuk apa kita turun? buang-buang waktu aja. Emang aku yang sudah buat anak itu jatuh."
"Mas, ayolah. Kita harus nolongin dia."
"Baiklah. Kita turun."
"Dek, kamu nggak apa-apa?" tanya Nilam sembari berjongkok mendekati anak perempuan yang jatuh tadi.
Anak perempuan yang terjatuh itu menatap Nilam lekat dan menggeleng.
"Aku tidak apa-apa Tante," ucap anak itu.
Rafa yang ada di dalam rombongan anak-anak itu terkejut saat melihat keberadaan seorang lelaki yang mirip sekali dengan foto yang kemarin dia temukan di atas lemari.
Rafa tersenyum dan dia langsung memeluk Arkan.
"Papa. Akhirnya aku bisa ketemu Papa..." ucap Rafa sembari memeluk Arkan dengan erat.
Arkan, Nilam dan anak-anak itu terkejut dengan sikap Rafa.
"Ih, kamu siapa. Apa-apaan sih. Jangan panggil aku Papa. Aku bukan papamu," ucap Arkan yang tampak risih mendapatkan pelukan dari anak kecil itu.
Nilam bangkit berdiri.
"Mas, siapa dia? kok dia manggil kamu Papa?" tanya Nilam.
"A-aku tidak tahu Nilam siapa anak ini," ucap Arkan.
Arkan mencoba untuk melepaskan pelukan anak itu. Namun Rafa terlalu kuat memeluk tubuh Arkan.
__ADS_1
"Kok, dia panggil kamu Papa. Apa jangan-jangan, itu anak kamu ya dari wanita lain," ucap Nilam.
Arkan menelan ludahnya saat mendengar ucapan Nilam.
"Tidak Nilam. Bagaimana aku bisa punya anak. Aku itu masih perjaka. Aku tidak pernah macam-macam sama wanita lain. Mungkin ini anak udah gila karena kehilangan ayahnya,"ucap Arkan.
Setelah lama Rafa memeluk Arkan, Rafa melepaskan pelukannya. Rafa mendongakan kepalanya untuk menatap Arkan. Karena tubuh Arkan yang terlalu tinggi untuk Rafa.
Arkan terkejut saat melihat wajah anak itu. Memang ada sedikit kemiripan di antara anak itu dan Arkan. Namun entah Arkan dan Nilam itu menyadarinya atau tidak.
"Dek, kamu siapa? kamu kenal sama Om ini?" tanya Nilam pada Rafa.
"Aku kenal sama dia. Dia itu Papa aku."
"Apa! jangan ngaku-ngaku kamu ya. Saya itu nggak kenal sama kamu. Saya juga tidak kenal dengan ibumu. Kapan saya pernah menjalin cinta dengan ibu mu. Jangan mengada-ada kamu," ucap Arkan geram.
"Tapi mama masih menyimpan foto papa di atas lemarinya."
Nilam dan Arkan terkejut saat mendengar ucapan anak itu. Mereka tidak tahu siapa mama yang anak kecil itu maksud kan.
Beberapa saat kemudian, Bu Ella mendekat ke arah cucunya.
"Rafa. Di cariin ternyata kamu ada di sini," ucap Bu Ella.
"Bu, ini cucu ibu ya?" tanya Nilam.
Bu Ella menatap Nilam.
"Iya. Apa yang sudah cucu saya lakukan pada kalian?" tanya Bu Ella..
"Tadi cucu saya peluk-peluk calon suami saya sambil manggil-manggil Papa. Dia fikir, calon suami saya itu Papanya."
"Duh, maafkan Rafa ya. Mungkin Rafa itu lagi merindukan ayahnya."
"Kemana ayah anak ini?" tanya Arkan. Dia sepertinya penasaran dengan anak lelaki kecil yang ada di depannya.
"Ayah Rafa nggak ada. Dia di luar negeri dan belum pulang."
"Nenek, itu Papa aku nenek. Aku yakin, itu papa aku. Mama masih nyimpen foto Papa di atas lemarinya. Aku nggak bohong nenek," ucap Rafa yang masih meyakini kalau lelaki yang ada di depannya adalah ayahnya. Seperti foto yang kemarin dia lihat di atas lemari ibunya.
"Duh, maafkan Rafa ya. Mas, Mbak, Rafa memang suka begini," ucap Bu Ella
"Tidak apa-apa Bu," ucap Nilam.
Arkan dan Nilam masih terdiam. Masih mencoba mencerna apa yang anak itu katakan.
Apa maksud anak itu? mamanya masih menyimpan foto aku di atas lemarinya. Siapa sebenarnya ibu anak itu, batin Arkan.
Bu Ella tidak mau berurusan dengan orang-orang kaya itu. Dia kemudian buru-buru mengajak Rafa pergi dari tempat itu.
****
**Mohon maaf ya,
__ADS_1
Author lupa nama mamanya Arkan. Erina apa Erika. Tapi sudah author revisi lagi, mamanya Arkan namanya Erina ya. Seperti di awal cerita. Kalau masih ada kata Erika, nanti author revisi lagi.