
Setelah menempuh beberapa menit perjalanan dari rumah sampai ke rumah Nilam, akhirnya Arkan sampai juga di depan rumah Nilam.
Arkan turun dari mobilnya setelah dia memarkirkan mobilnya di depan rumah Nilam. Arkan kemudian melangkah ke teras depan rumah Nilam.
Tok tok tok...
Arkan mengetuk pintu rumah Nilam. Beberapa saat kemudian, Bik Mira membuka pintu.
"Eh, Tuan Arkan. Ada apa Tuan?" tanya Bik Mira.
"Saya mau ketemu Nilam," jawab Arkan.
"Tapi, Non Nilamnya nggak bisa di ganggu. Dia lagi istirahat Tuan."
"Tolong Bik, bilang ke Nilam. Kalau aku mau ketemu dengan dia. Aku mau bicara dengan dia."
"Duh, gimana ya. Ya udah, saya mau tanya Nyonya dulu ya."
Arkan menganggukan kepalanya. "Iya Bik."
Bik Mira kemudian masuk kembali ke dalam rumah untuk memanggil Bu Hana.
Bik Mira berjalan ke ruang makan, karena saat ini Bu Hana dan Pak Erwin masih berada di ruang makan. Mereka berdua sedang sarapan pagi ini.
"Nyonya, ada Tuan Arkan di depan," ucap Bik Mira.
Bu Hana dan Pak Erwin saling menatap.
"Apa! Arkan ke sini," ucap Bu Hana.
"Iya Nya," ucap Bik Mira lagi.
"Ma, coba sana lihat Arkan dulu Ma," ucap Pak Erwin meminta istrinya untuk melihat Arkan di depan rumah.
Bu Hana menghentikan makannya. Setelah itu dia berjalan pergi ke ruang tamu untuk menemui Arkan di depan.
"Nak Arkan, kamu mau ketemu Nilam ya? bukankah Nak Arkan sudah tahu kalau Nilam lagi nggak mau ketemu sama Nak Arkan. Kenapa Nak Arkan masih memaksa dan masih ngotot ingin ketemu Nilam."
"Tolong Tan. Kali ini aja Tan. Aku mau bicara dengan Nilam, sebentar aja Tan," ucap Arkan.
"Ya udahlah. Kamu tunggu di sini. Tante akan bujuk Nilam agar dia mau ketemu kamu."
Arkan tersenyum.
"Makasih ya Tan."
"Ayo masuk Nak Arkan, kamu bisa tunggu di dalam."
"Iya Tan."
Setelah Bu Hana mempersilahkan Arkan masuk, Arkan kemudian masuk ke dalam rumah Nilam.
Arkan kemudian duduk di sofa ruang tamu rumah Nilam. Sementara Bu Hana masuk ke dalam untuk memanggil anaknya.
Bu Hana melangkah ke kamar Nilam. Setelah itu dia mengetuk pintu kamar Nilam.
Tok tok tok...
"Nilam, Nilam... buka pintu Nak. Mama mau bicara sama kamu," ucap Bu Hana.
"Masuk aja Ma, nggak di kunci," seruan Nilam sudah terdengar dari dalam kamar Nilam.
Bu Hana kemudian membuka pintu kamar Nilam. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar Nilam.
Nilam masih tampak duduk di sisi ranjang. Setelah itu dia menatap ibunya.
__ADS_1
"Ada apa Ma?" tanya Nilam.
Bu Hana mendekat ke arah Nilam. Setelah itu dia menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi Nilam.
"Nilam, ada Arkan di depan," ucap Bu Hana menuturkan.
Nilam terkejut.
"Mas Arkan, mau ngapain dia ke sini Ma?" tanya Nilam.
"Mama juga nggak tahu, katanya dia mau bicara dengan kamu Nilam."
"Tapi aku nggak mau ketemu dia Ma. Dan aku lagi nggak mau bicara sama dia."
"Nilam, temui sajalah Arkan. Kasihan dia, bolak-balik terus. Waktu di rumah sakit aja dia bolak-balik terus. Katanya dia mau bicara sama kamu, walau hanya sebentar."
"Tapi dia mau bicara apa Ma. Aku malas ketemu dia."
"Nilam, lebih baik kamu temui dia saja. Biar dia nggak bolak-balik terus ke sini."
Nilam diam dan tampak berfikir. Setelah lama dia berfikir, akhirnya Nilam mau juga bertemu dengan Arkan.
"Baiklah, aku akan temui dia "
Nilam bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah ruang tamu untuk menemui Arkan.
"Mas," ucap Nilam.
Arkan tersenyum saat melihat Nilam..
"Kamu mau ngapain ke sini?" tanya Nilam ketus.
Arkan bangkit dari duduknya.
"Iya. aku kasih kamu waktu lima menit ya untuk bicara."
"Iya Nilam."
Nilam kemudian duduk di dekat Arkan. Setelah itu dia menatap Arkan lekat.
"Ada apa Mas? kamu mau bicara apa?" tanya Nilam
"Nilam, bagaimana kondisi kamu Nilam?"
"Aku baik-baik aja Mas."
"Nilam, aku sangat khawatir sama kamu Nilam, waktu kamu keracunan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup aku tanpa kamu."
"Mas, sebenarnya kamu mau bicara apa? nggak usah banyak basa-basi deh Mas. Kamu langsung aja, kamu mau bicara apa."
"Nilam, aku mau minta maaf soal kejadian waktu itu. Aku menyesal Nilam, karena aku sudah membohongi kamu"ucap Nilam tampak sedih.
Nilam diam. Dia sebenarnya masih kecewa dengan kebohongan Arkan. Namun Nilam mencoba untuk memaafkan Arkan.
"Aku udah maafin kamu kok Mas," ucap Nilam.
Arkan tersenyum. Dia tidak menyangka, kalau Nilam sudah mau memaafkannya. Arkan lekas menggeser posisi duduknya dan mendekat ke arah Nilam.
Arkan kemudian meraih tangan Nilam.
"Kamu yakin, udah maafin aku sayang?" tanya Arkan.
Nilam terkejut saat Arkan memanggilnya sayang.
"Mas, jangan panggil aku sayang. Karena sekarang aku bukan siapa-siapa kamu lagi Mas. Dan ingat, kamu itu sekarang sudah punya istri. Kamu tidak pantas memanggil sayang pada wanita lain," ucap Nilam.
__ADS_1
"Tapi aku nggak cinta sama istriku Nilam. Satu-satunya wanita yang aku cintai itu cuma kamu. Nggak ada yang lain," ucap Arkan.
Nilam melepaskan genggaman tangan Arkan.
"Mas, tolong jangan seperti ini Mas. Kamu itu sudah punya istri. Kamu harus belajar untuk melupakan aku Mas."
"Tapi aku nggak bisa melupakan kamu Nilam. Jangan suruh aku untuk melupakan kamu Nilam. Karena cinta aku ke kamu terlalu besar. Sulit untuk aku melupakan kamu."
"Mas, aku mohon Mas, lupakan aku. Sekarang kamu sudah punya istri dan anak. Kamu harus belajar untuk melupakan aku dan belajar mencintai mereka. Anak istri kamu."
"Tapi aku nggak bisa melupakan kamu Nilam. Sulit untuk aku melupakan kamu."
"Mas, aku yakin.Kamu pasti bisa Mas. Tolong Mas, lupakan aku. Dan jangan buat masalah baru lagi. Dengan kamu dekat dengan aku, itu akan menimbulkan masalah baru di kehidupan kamu Mas. Karena sekarang kamu sudah punya istri."
Nilam bangkit dari duduknya.
"Sudah lima menit kan Mas. Sekarang kamu boleh pulang Mas. Aku sudah memberikan waktu untuk kamu bicara. Dan cuma lima menit Mas, waktu yang aku berikan untuk kamu."
Nilam akan beranjak pergi, namun Arkan buru-buru mencekal tangannya.
"Nilam, Tolong duduk lagi Nilam. Kita belum selesai bicara," pinta Arkan.
Nilam menggeleng.
"Sepertinya urusan kita sudah selesai Mas. Hubungan kita juga sudah berakhir. Lebih baik kamu pulang saja Mas. Dan nggak usah temuin aku lagi "
Nilam kemudian melepas tangan Arkan. Setelah itu, Nilam buru-buru pergi meninggalkan Arkan.
"Nilam...!" seru Arkan.
Nilam berlari ke kamarnya. Dia kemudian menutup pintu kamarnya dan menguncinya rapat-rapat.
Hiks...hiks...
Nilam menangis sembari bersandar di pintu kamarnya.
"Maafkan aku Mas. Sebenarnya aku juga sulit untuk melupakan kamu. Tapi sekarang kamu bukan milik aku. Kamu sudah punya istri. Dan aku tidak mungkin dekatin kamu dan merebut kamu kembali dari tangan istri kamu. Aku tidak mau dibilang pelakor. Lebih baik kita nggak usah ketemu lagi Mas," ucap Nilam.
Nilam mengusap air matanya. Setelah itu dia menghempaskan tubuhnya dan duduk di sisi ranjang.
Sementara Arkan masih duduk di sofa ruang tamu rumah Bu Hana.
Beberapa saat kemudian, Bu Hana mendekat ke arah Arkan dan duduk di dekat Arkan.
"Arkan, sebenarnya kamu mau ke mana sih? kamu mau ke kantor kan?" tanya Bu Hana yang melihat Arkan sudah tampak rapi dengan setelan baju kantornya.
Arkan mengangguk.
"Iya Tan. Aku mau ke kantor," jawab Arkan.
"Ya udah kalau kamu mau ke kantor, kenapa kamu masih duduk di sini. Nanti kamu terlambat Arkan."
"Iya Tan. Sebentar lagi "
"Kamu lagi nungguin apa di sini Arkan. Kamu lihat kan tadi bagaimana sikap Nilam dan ucapan Nilam. Nilam ingin kamu melupakan dia dan Nilam ingin kamu mencoba untuk mencintai anak dan istri kamu."
"
Arkan menghela nafas dalam.
"Sulit Tan, untuk aku melupakan Nilam."
"Tante yakin, kamu pasti bisa melupakan Nilam. Biarkan Nilam sendiri Arkan. Masa depan Nilam itu masih panjang. Biarkan Nilam melupakan kamu dan mencari lelaki pengganti yang baik untuknya. Karena kamu dan Nilam itu sudah tidak berjodoh. Alangkah baiknya untuk kalian saling melupakan."
Arkan bangkit dari duduknya. Menurut Arkan, sekarang percuma untuk Arkan membujuk Nilam. Karena Nilam masih kecewa pada Arkan. Mungkin Arkan akan menunggu sampai Nilam melupakan kejadian di hari pernikahannya itu.
__ADS_1