
Pak Mahendra yang saat ini ada di ruang tengah terkejut saat mendengar suara dari dalam kamar Arkan.
"Arumi... Arumi...!" seru Pak Mahendra memanggil menantunya.
Beberapa saat kemudian, Arumi menghampiri Pak Mahendra.
"Iya Pa, ada apa?" tanya Arumi.
"Kamu dengar sesuatu nggak," tanya Pak Mahendra.
"Dengar apa Pa? aku nggak dengar apa-apa kok," jawab Arumi.
"Coba kamu lihat ke kamar Arkan. Siapa tahu suara itu ada di dalam kamar Arkan," pinta Pak Mahendra.
"Iya Pa."
Arumi kemudian naik ke lantai atas di mana kamar Arkan berada.
Arumi terkejut saat mendengar suara Arkan di dalam kamar.
"Kenapa Mas Arkan," ucap Arumi.
Arumi kemudian mengetuk pintu kamar Arkan. Dia khawatir akan terjadi apa-apa dengan Arkan di dalam.
Tok tok tok.
"Tuan, Tuan muda. Apa yang kamu lakukan di dalam. Tuan muda..." ucap Arumi.
Beberapa saat kemudian Arkan membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Arumi?" tanya Arkan menatap Arumi tajam.
"Kamu kenapa Tuan? ada apa?" tanya Arumi sembari menatap ke dalam kamar Arkan.
"Itu bukan urusan kamu Arumi. Aku tidak apa-apa. Kamu mau ngapain ke sini, pergi kamu dari kamar aku Arumi !" Arkan mengusir Arumi dari kamarnya.
Arumi hanya mengangguk. Dia tidak mau berlama-lama berada di depan kamar Arkan. Dia juga tidak mau jadi sasaran kemarahan Arkan.
Arumi turun ke bawah untuk menemui Pak Mahendra. Arumi kemudian duduk di dekat Pak Mahendra.
"Ada apa Arumi?" tanya Pak Mahendra menatap Arumi lekat.
"Aku nggak tahu Pa. Tadi sepertinya Mas Arkan ngamuk. Aku tidak tahu dia kenapa."
"Ngamuk? kenapa dia sampai ngamuk-ngamuk gitu?"
"Aku juga nggak tahu Pa. Mungkin dia lagi ada masalah."
"Biarin aja Arumi. Biar dia tenang dulu."
****
Pagi ini, Pak Mahendra sudah siap untuk ke rumah sakit. Dia akan mengambil hasil tes DNA Rafa.
Dia ingin membuktikan kalau Rafa adalah anak kandungnya Arkan. Tanpa sepengetahuan keluarga, Pak Mahendra diam-diam tes DNA Rafa.
__ADS_1
Pak Mahendra pergi keluar dari rumahnya. Setelah itu dia memanggil Pak Tama untuk mengantarnya pergi.
"Pak Tama, antarkan aku ke rumah sakit."
"Baik. Saya akan siapkan mobil dulu."
Pak Tama kemudian pergi untuk mengambil mobilnya. Beberapa saat kemudian, Pak Tama melajukan mobilnya sampai di depan Pak Mahendra.
Pak Tama turun dari mobilnya dan langsung membuka pintu mobil untuk Pak Mahendra.
"Silahkan Tuan."
"Iya. Terimakasih."
Pak Mahendra masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Pak Tama yang ikut masuk ke dalam mobilnya. Mereka kemudian meluncur pergi meninggalkan rumahnya. Mereka akan pergi ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian, mobil Pak Mahendra sudah sampai di rumah sakit. Mereka berdua turun dari mobilnya.
"Pak Tama, sebenarnya saya ke sini, saya ingin mengambil hasil tes DNA Rafa. Saya ingin membuktikan pada Arkan kalau Rafa adalah anak kandungnya," ucap Pak Mahendra setelah turun dari mobilnya.
Pak Tama terkejut saat mendengar ucapan Pak Mahendra.
"Oh, begitu. Jadi Tuan Mahendra lagi tes DNA Rafa?"
"Iya. Kamu mau ikut masuk, atau mau tunggu di sini Pak Tama ?" tanya Pak Mahendra pada Pak Tama.
"Saya mau ikut masuk."
"Ya udah, ayo kita masuk dan temuin dokter."
Pak Tama dan Pak Mahendra saat ini sudah duduk di dalam ruangan dokter. Mereka sedang menunggu hasil tes DNA itu.
"Bagaimana hasilnya Dok?" tanya Pak Mahendra penasaran.
"Silahkan, anda bisa baca sendiri," ucap dokter sembari menyodorkan kertas putih pada Pak Mahendra.
Pak Mahendra kemudian membaca dengan teliti kertas itu. Dan Pak Mahendra terkejut saat melihat hasil tes DNA itu.
"Jadi benar, kalau Rafa itu cucu ku. Anak kandung Arkan," ucap Pak Mahendra.
Tidak terasa setetes air mata Pak Mahendra terjatuh dari pelupuk matanya. Pak Mahendra membuka kaca matanya dan mengusap air mata itu. Pak Mahendra menangis karena terharu.
"Dokter, makasih banyak ya dok, untuk bantuannya," ucap Pak Mahendra.
"Iya. Sama-sama Pak Mahendra."
Pak Mahendra bangkit dari duduknya. Begitu juga dengan Pak Tama. Mereka berpamitan pada dokter.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya Dokter," ucap Pak Mahendra.
"Iya."
Pak Mahendra kemudian bersalaman dengan dokter. Begitu juga dengan Pak Tama. Dia juga ikut bersalaman dengan dokter.
Setelah itu Pak Mahendra dan Pak Tama pergi meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
"Ternyata Arumi tidak seperti apa yang Arkan tuduhkan. Arumi nggak bohong soal Rafa. Ternyata benar, kalau Rafa itu anaknya Arkan. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi dulu, kenapa bisa Arumi dan Arkan bisa punya anak," ucap Pak Mahendra di tengah-tengah perjalanan menuju ke parkiran mobil.
"Saya juga masih tidak percaya dengan semua ini Tuan. Dulu saya sudah pernah mengusir Arumi dari rumah. Saya dulu tidak tahu kalau ternyata Arumi itu sedang mengandung anaknya Arkan. Karena Arumi tidak mau mengatakan apapun pada saya soal itu."
Sesampainya di dekat mobil, Pak Tama membukakan pintu mobil untuk Pak Mahendra.
"Mulai sekarang kamu jangan panggil saya Tuan. Karena sekarang kamu besan saya Pak Tama."
"Iya. Tapi saya tetap sopir anda."
"Iya. Terserah kamu mau panggil saya apa. Tapi jangan panggil saya Tuan. Karena tidak pantas seorang besan memanggil besannya Tuan."
Pak Tama hanya tersenyum. Setelah Pak Mahendra masuk ke dalam mobil, Pak Tama juga ikut masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu mereka pun meluncur pergi meninggalkan rumah sakit.
*
Sore ini, Pak Mahendra masih duduk di ruang tengah. Sepertinya dia sedang menunggu Arkan pulang dari kantor.
Beberapa saat kemudian, seseorang yang ditunggunya datang.
"Arkan, papa mau bicara sama kamu," ucap Pak Mahendra.
"Bicara apa Pa?" tanya Arkan.
"Duduklah dulu!" pinta Pak Mahendra.
Arkan kemudian duduk di dekat ayahnya.
"Arkan ini surat dari rumah sakit. Bacalah Arkan. Itu hasil tes DNA Rafa. Dan kamu sudah tidak bisa mengelak lagi Arkan."
Arkan yang penasaran, mengambil kertas itu dan membacanya.
Dada Arkan seakan sesak saat mengetahui fakta yang sebenarnya kalau Rafa adalah anaknya.
Ya, Arkan sudah tidak bisa memungkirinya. Rafa memang darah dagingnya. Dan hasil tes DNA itu pun tidak mungkin bohong.
Arkan tidak tahu, bisa atau tidak dia untuk menerima semua kenyataan ini. Terima nggak terima, Arumi sekarang sudah menjadi istri Arkan. Dan Rafa adalah anak kandung mereka.
"Ya. Rafa memang anak kandung aku. Ini semua terjadi karena kesalahan satu malam itu," ucap Arkan.
"Maksud kamu?" tanya Pak Mahendra.
"Waktu itu aku mabuk, dan aku tidak sengaja tidur dengan Arumi. Aku tidak ingat, apa-apa malam itu."
Akhirnya, Arkan pun menceritakan semuanya pada ayahnya tentang hubungannya malam itu. Sudah tidak ada yang bisa di tutup-tutupi lagi.
Pak Mahendra hanya manggut-manggut mendengar penuturan Arkan.
"Kalau begitu, kamu harus terima Arumi menjadi istri kamu. Kasihan Rafa, selama ini dia terlantar bersama Arumi. Papa minta kamu jangan pernah sia-siakan mereka Arkan."
Arkan diam.
"Arumi dan Rafa itu masa depan kamu, dan Nilam itu masa lalu kamu, Papa harap lihatlah ke depan Arkan. Dan jangan lihat ke belakang lagi. Nilam itu sudah pergi dari kehidupan kamu, dan Papa harap kamu mau melupakan wanita itu," ucap Pak Mahendra.
Pak Mahendra bangkit dari duduknya. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan Arkan. Sementara Arkan hanya terdiam. Mencoba untuk mencerna semua ucapan ayahnya.
__ADS_1