
Sore ini, Arkan sudah berada di tengah-tengah jalan raya . Sore ini Arkan akan mencari keberadaan Arumi.
Sejak dia tahu Arumi hamil, Arkan begitu sangat resah. Ini sebuah ancaman yang sangat besar untuk Arkan. Di mana seorang anak pembantu sedang mengandung benihnya.
Dan jika saja rahasia besar ini terungkap ke publik, karir Arkan dan nama baik ke dua orang tuanya akan hancur. Terlebih ke dua orang tua Arkan adalah pengusaha terkenal.
Ya, Pak Mahendra dan Bu Anita memang seorang pengusaha. Pak Mahendra sudah lama menjadi pengusaha terkenal di kotanya, sementara Bu Anita, dia masih baru menggeluti dunia bisnis setelah suami ke duanya meninggal. Dia meneruskan kerjaan suaminya di kantor sebagai presiden direktur.
Di sela-sela menyetirnya, Arkan menatap ke kanan kiri jalan. Dia harap sore ini dia akan bertemu dengan Arumi.
"Aku harus cari Arumi. Aku harus tanyakan tentang kehamilannya. Seandainya dia benar-benar hamil anak aku, aku akan suruh dia untuk gugurkan kandungannya. Aku nggak akan biarkan dia buka mulut," ucap Arkan.
Arkan masih fokus menyetir. Tiba-tiba saja ponsel yang ada di saku bajunya berdering.
"Siapa sih yang nelpon," ucap Arkan.
Arkan kemudian mengambil ponselnya untuk mengangkat panggilan itu.
"Mama, mau ngapain sih mama nelpon," ucap Arkan.
Arkan kemudian segera mengangkat panggilan dari ibunya.
"Halo..."
"Halo Arkan, kamu ada di mana sekarang Arkan?"
"Aku ada di jalan Ma. Aku mau pulang."
"Kamu bisa nggak ke rumah mama?"
"Mau ngapain Ma?"
"Mama mau bicara penting sama kamu Arkan."
"Bicara apa Ma, aku lagi nggak ada waktu Ma sekarang."
"Arkan, ini masalah Nilam."
Nilam lagi, untuk apa sih mama bahas Nilam lagi. Aku yakin, mama pasti mau bahas perjodohan aku dengan Nilam, benar-benar menyebalkan, batin Arkan.
"Nilam? ada apa dengan Nilam."
"Arkan, mama pengin banget kamu berjodoh dengan Nilam. Nilam itu anak yang baik Arkan. Mama pengin Nilam jadi menantu mama."
"Ma, sudah berapa kali aku bilang. Aku nggak mau di jodohkan dengan wanita siapapun. Mau Nilam, mau Bulan, mau Zahra. Aku nggak mau. Karena aku belum siap untuk menikah Ma."
"Tapi Arkan, usia kamu sebentar lagi akan memasuki 25 tahun. Dan diusia segitu, seharusnya kamu sudah mendapatkan pacar. Mama nggak pernah lihat kamu dekat dengan cewek. Makanya mama mau deketin kamu sama Nilam. Siapa tahu kalian cocok."
"Tapi aku nggak mau Ma, dijodohin. Kalau aku mau, aku bisa cari jodoh sendiri. Tapi untuk sekarang, aku belum siap untuk menikah Ma. Aku masih ingin mengejar karir aku dulu Ma. Aku pengin jadi pengusaha terkenal seperti Papa."
__ADS_1
"Arkan, mama sebenarnya
nggak mau memaksa kamu.Tapi kamu kan sekarang jomblo. Nilam juga jomblo. Apa nggak sebaiknya kalian itu pedekate dulu. Siapa tahu lama-lama kalian cocok."
"Ma, sudah berapa kali aku bilang. Jangan pernah mama jodoh-jodohin aku dengan anak teman mama. Karena aku nggak suka Ma. Biarkan aku fokus dulu dengan pekerjaan aku Ma."
"Arkan, tolong. Mama selama ini nggak pernah minta apa-apa sama kamu. Mama cuma ingin kamu mau menikah dengan wanita pilihan mama. Mama mohon Arkan. Buka lah sedih hati kamu untuk Nilam. Biarkan Nilam dekat dengan kamu Nak."
Arkan menghela nafas dalam. Tidak sekali dua kali, ibunya membujuk Arkan dan memaksa Arkan untuk dekat dengan Nilam anak sahabatnya.
Namun Arkan tidak pernah mau menuruti keinginan ibunya. Dia selalu menolak perjodohan itu. Semakin Bu Anita memaksa Arkan, semakin Arkan membenci ibunya..
"Halo ..halo Arkan..."
Arkan diam. Dia merasa muak saat ibunya sudah membicarakan masalah perjodohan.
"Halo Arkan. Kenapa kamu diam aja?"
"Halo. Udah dulu ya Ma. Aku lagi nyetir nih. Nanti kita lanjutkan lagi ya telponnya kalau aku sudah sampai rumah," ucap Arkan beralasan. Padahal sebenarnya Arkan mau melanjutkan untuk mencari Arumi.
"Ya udah deh Arkan."
"Iya Ma "
Arkan memutuskan saluran telponnya. Setelah itu dia menatap kembali ke depan.
"Hah, kenapa sih mama selalu saja ngerecoki hidup aku. Sebel banget deh aku sama mama," gerutu Arkan di sela-sela menyetirnya.
"Kemana ya Arumi sekarang. Kenapa aku muter-muter dari tadi Arumi nggak ketemu juga. Apa jangan-jangan dia perginya jauh dari sini. Atau dia pulang ke kampung orang tuanya. Kalau dia pulang kampung mah kebetulan banget, tapi gimana kalau suatu saat dia kembali ke sini lagi."
Setelah Arkan lelah, akhirnya Arkan memutuskan untuk pulang.Dia memutar arah untuk pulang ke rumahnya.
Beberapa saat kemudian, Arkan sudah sampai di depan rumahnya. Sebelum masuk ke dalam rumahnya, Arkan memarkirkan dulu mobilnya di garasi rumahnya.
Sebelum turun dari mobil, Arkan tampak mengurut keningnya. Dia masih bingung bagaimana caranya dia untuk mencari Arumi. Dia hanya ingin memastikan kalau anak yang ada di rahim Arumi itu anaknya atau bukan.
"Aku harus telpon Denis," ucap Arkan.
Arkan kemudian mengambil hapenya untuk menelpon Denis sahabat sekaligus orang kepercayaannya.
"Halo..."
"Halo Den. Kamu lagi di mana?"
"Aku masih di kantor."
"Den, bisa ke rumah aku nggak Den."
"Ke rumah kamu? untuk apa?"
__ADS_1
"Aku punya kerjaan buat kamu."
"Kerjaan apa?"
"Sudah lah jangan banyak tanya. Aku nggak bisa menjelaskannya di sini. Nanti malam kamu ke sini ya."
"Nanti malam jam berapa?"
"Jam sembilan, atau jam sepuluhan. Aku mau bicara empat mata sama kamu."
"Baiklah kalau begitu."
"Ya udah, aku tutup dulu ya telponnya. Sampai ketemu nanti malam."
Setelah menelpon Denis, Arkan turun dari mobilnya. Setelah itu dia masuk ke dalam rumahnya.
"Selamat malam Tuan muda," ucap Bik Narsih salah satu asisten rumah tangga di rumah Arkan.
"Malam, bisa bawakan tas saya?" tanya Arkan.
"Baik Tuan muda "
Bik Narsih kemudian mengambil tas yang ada di tangan Arkan. Setelah itu dia membawa tas itu masuk ke dalam.
"Tolong, bawa langsung ke kamar aja ya Bik."
"Baik Tuan."
Sesampainya di ruang tengah, Arkan menghentikan langkahnya saat dia melihat ayahnya sudah duduk di ruang tengah..
"Arkan, dari mana aja kamu? bukankah kamu udah dari tadi sore keluar dari kantor. Kenapa jam segini baru nyampe?" tanya Pak Mahendra pada anaknya.
"Aku ada urusan sebentar Pa tadi. Jadi aku agak telat datangnya," ucap Arkan sembari menghempaskan tubuhnya di atas sofa dan duduk di sisi ayahnya.
"Urusan apa?" tanya Pak Mahendra.
"Biasalah. Urusan pribadi sama teman."
"Oh..." Pak Mahendra manggut-manggut.
"Kamu udah makan?"
Arkan menggeleng."Belum Pa."
"Ya udah, setelah ini temani Papa makan ya di ruang makan ."
Arkan hanya mengangguk.
"Aku ke kamar dulu ya Pa. Mau mandi sekalian ganti baju."
__ADS_1
"Iya Arkan."
Arkan bangkit dari duduknya. Setelah itu dia melangkah pergi untuk ke kamarnya.