Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Pemakaman.


__ADS_3

Bu Hana masih berada di sisi makam anak dan suaminya. Begitu juga dengan Arkan dan keluarganya. Mereka semua sangat berduka atas kematian Pak Erwin dan Nilam.


Tidak ada yang lebih menyedihkan di dunia ini bagi Arkan, kecuali kematian wanita yang dicintainya. Kemarin Nilam baru pamitan pada Arkan untuk pergi ke luar negeri. Dan ternyata itu adalah terakhir kalinya Arkan melihat Nilam.


Semua orang sudah pergi dari makam. Saat ini, hanya ada Bu Hana dan Arkan yang masih berada di sisi makan. Bu Hana dan Arkan masih tampak menabur bunga di atas makam Pak Erwin dan Nilam.


"Sabar ya Tan. Kita tidak tahu Tan, musibah apa yang akan menimpa diri kita ke depannya. Mungkin, ini semua sudah takdir Nilam dan pak Erwin harus meninggalkan kita," ucap Bu Arkan sembari mengusap-usap bahu Bu Hana.


"Iya."


Bu Hana menatap Arkan.


"Tante sudah tidak punya siapa-siapa sekarang Arkan. Nilam itu putri Tante satu-satunya. Tante bingung, bagaimana hidup Tante tanpa Nilam dan Om Erwin."


"Sabar Tan. Tante masih punya aku, masih punya mama, masih punya Nessa. Tante masih bisa menganggap aku dan Nessa anak Tante."


Bu Hana meraih tangan Arkan.


"Kamu mau jadi anak Tante?"


"Iya Tan. Nggak apa-apa kalau Tante mau menganggap aku anak. Karena aku cinta sama Nilam Tan. Aku sudah menganggap Tante seperti Mama kandung aku sendiri."


"Arkan, sekarang Nilam sudah pergi. Tante cuma ingin kamu melupakan Nilam. Karena Nilam sudah tidak akan bisa kembali di sisi kita."


"Iya Tan. Aku udah ikhlaskan Nilam pergi."


"Tante harap, kamu mau menerima istri dan anak kamu dalam kehidupan kamu. Jangan tangisin Nilam terus ya. Biarkan Nilam bahagia di kehidupan barunya."


Arkan mengangguk.


"Iya Tan."


Setelah menabur bunga di atas makam Nilam, Arkan dan Bu Hana kemudian pergi meninggalkan makam.


***


Satu bulan setelah kepergian Nilam,


Minggu pagi, Arkan masih duduk di teras depan rumahnya. Sesekali dia menatap ke arah Arumi dan Rafa yang masih bermain di halaman depan rumah.


Arkan tersenyum saat melihat mereka.


"Maafkan aku ya Arumi, Rafa, karena aku belum bisa membahagiakan kalian. Selama ini aku hanya bisa membuat kalian menderita."


Arkan bangkit dari duduknya. Setelah itu dia berjalan mendekati Arumi dan Rafa.


"Boleh aku ikut main?" tanya Arkan setelah berada dekat dengan mereka.


Arumi dan Rafa menatap Arkan bersamaan. Rafa tersenyum pada Arkan.


"Boleh Papa."


"Makasih ya."


Arkan menatap Arumi yang saat ini masih memegang bola milik Rafa.


"Arumi, boleh aku pinjam bolanya?"


"Eh, iya. Ini." Arumi memberikan bola itu pada Arkan.


"Makasih ya."

__ADS_1


Arkan kemudian mengajak anaknya bermain bola di halaman depan rumah. Sementara Arumi pergi ke belakang untuk mengambil minum.


Beberapa saat kemudian, Arumi datang sembari membawa dua botol minum dingin dan cemilan untuk Arkan dan Rafa.


Rafa menatap ke arah Arumi dan menghampiri Arumi.


"Mama..."seru Rafa.


Arumi tersenyum.


"Mama bawa apa?" tanya Rafa.


"Ini minuman buat kamu. Siapa tahu kamu haus."


"Makasih ya Mama." Rafa langsung mengambil botol minum itu. Setelah itu dia menegaknya.


"Udah Ma."


"Kamu taruh di meja aja ya."


"Iya Ma."


"Oh iya. Sekalian cemilannya mama titip, taruh di meja itu."


Rafa kemudian mengambil toples itu dan berjalan ke arah meja yang ada di dekatnya.


Beberapa saat kemudian, Arkan berjalan menghampiri Arumi.


"Ini untuk aku Arumi?" tanya Arkan.


"Eh, iya Tuan muda. Silahkan ambil saja."


Arkan kemudian mengambil botol minuman itu. Dia kemudian menegak sampai setengah botol minuman dingin itu.


"Makasih ya."


"Iya Tuan muda. Sama-sama."


"Arumi, aku ingin bicara sama kamu."


Arumi menatap Arkan lekat.


"Kita duduk di sana saja yuk!"


"Iya Tuan."


Arumi dan Arkan memutar tubuhnya untuk ke kursi yang ada di teras depan.


"Mama, Papa,"


Arumi menoleh ke arah Rafa.


"Kamu main sendiri dulu ya. Mama mau bicara dulu sama Papa."


Rafa mengangguk.


Arumi dan Arkan kemudian duduk di teras depan rumah.


"Ada apa Tuan. Kamu mau bicara apa?" tanya Arumi.


"Arumi, jangan panggil aku Tuan Arumi. Aku ini suami kamu."

__ADS_1


"Tapi kalau aku panggil sebutan lain, kamu pasti akan marah sama aku."


"Nggak Arumi. Aku nggak akan marah lagi sekarang. Aku sekarang sadar, kalau kamu adalah istriku dan Rafa itu anak kandung kita."


"Iya."


Arkan tiba-tiba saja menggenggam tangan Arumi dengan erat.


"Arumi. Aku mau minta maaf Arumi."


"Minta maaf untuk apa?"


"Aku selama ini udah jahat sama kamu. Aku tidak tahu, kesalahan aku ini bisa di maafkan atau tidak. Aku sudah terlalu jahat sama kamu Arumi."


Arumi tersenyum.


"Aku sudah memaafkan kamu mas, sebelum kamu minta maaf."


Arkan tersenyum.


"Benarkah kamu sudah memaafkan aku?"


"Iya Mas."


"Arumi, apakah kamu mau memberikan kesempatan untuk aku. Aku ingin membuktikan sama kamu, kalau aku bisa jadi suami yang baik dan ayah yang baik untuk Rafa."


"Maksud kamu?"


"Aku ingin berubah Arumi. Apa kamu mau, kita membuka hati kita masing-masing dan membuka lembaran hidup kita yang baru?"


Arumi terkejut saat mendengar ucapan Arkan. Dia tidak menyangka Arkan akan bicara seperti itu. Padahal kemarin saja dia masih bersikap dingin pada Arumi.


Entah apa yang sudah terjadi pada Arkan, Arumi tidak tahu. Tapi mungkin saja, Tuhan sudah membuka hati Arkan dan melunakan hatinya sehingga Arkan mau bersikap baik sama Arumi.


Sekarang Arkan menginginkan untuk mereka membuka hatinya masing-masing dan membuka lembaran hidup baru. Mungkin saja Arkan akan belajar untuk mencintai Arumi.


"Maksud kamu?"


"Aku memang belum bisa mencintai kamu Arumi. Tapi aku akan belajar mencintai kamu dan Rafa anak kita."


Arumi tersenyum.


"Terimakasih kamu masih mau bertahan di sini, walau aku sudah bersikap kasar sama kamu."


"Iya Mas. Aku sepertinya juga mau melakukan hal yang sama seperti kamu. Mencoba untuk belajar mencintai kamu. Walau selama ini, aku masih membencimu karena sikap mu."


Arkan terkejut saat mendengar ucapan Arumi.


"Kamu membenciku?"


Arumi menggeleng.


"Nggak. Tapi aku membenci sikap kamu yang kasar."


"Sekali lagi maafkan aku Arumi. Aku janji, aku akan berubah setelah ini demi Rafa anak kita."


"Iya mas. Aku percaya sama kamu."


Arkan kemudian mencium punggung tangan Arumi berkali-kali. Hal pertama yang pernah Arkan lakukan pada Arumi


Tamat

__ADS_1


.


__ADS_2