
"Iya Tuan. Maafkan saya dan anak saya, karena kami sudah lancang menempati kamar anda tanpa izin anda," ucap Arumi.
Arkan diam. Dia sama sekali tidak mau melihat Arumi dan Rafa ada di dalam kamarnya. Sejak tadi Arkan hanya bisa menampakkan wajah masamnya.
Arumi tidak tinggal diam, Arumi yang melihat Arkan marah, dia langsung mengajak Rafa anaknya pergi meninggalkan kamar Arkan.
"Rafa, ayo kita pergi dari kamar ini," ucap Arumi pada Rafa.
Rafa mengangguk. Dia kemudian mendekat ke arah Arumi. Setelah itu mereka berdua pun pergi dari kamar Arkan.
Setelah Arumi pergi, Arkan menatap mainan Rafa yang berserakan di atas tempat tidurnya.
Arkan buru-buru memanggil Arumi.
"Arumi...!" seru Arkan dari dalam kamarnya.
Arumi yang sudah berada di luar kamar Arkan menghentikan langkahnya saat mendengar seruan Arkan.
Rafa menatap Arumi lekat.
"Ma, kok kita berhenti?" tanya Rafa.
"Rafa, kamu turun dulu ya ke bawah. Mama mau lihat Papa kamu dulu di kamar. Tadi dia panggil Mama."
"Iya Ma."
Rafa kemudian buru-buru turun ke lantai bawah. Sementara Arumi masuk kembali ke dalam kamar untuk menghampiri Arkan.
"Ada apa Tuan muda?" tanya Arumi.
"Apa yang anak kamu lakukan di kamar aku Arumi. Kenapa kamar aku jadi berantakan sekali seperti ini, kayak kapal pecah," ucap Arkan dengan nada tinggi.
Arumi menatap ke sekeliling.
Memang benar, kalau Rafa sudah memberantaki kamar Arkan. Mainan-mainan Rafa pun masih berserakan di atas lantai dan di atas tempat tidur Arkan.
"Maafkan Rafa anak saya Tuan. Karena sudah berantakin kamar Tuan," ucap Arumi.
"Halah, anak sama ibu sama aja menyebalkan," geram Arkan.
"Sekali lagi saya minta maaf Tuan. Saya akan beresin semuanya Tuan," ucap Arumi.
"Cepat beresin semuanya sekarang juga. Aku tidak mau tahu, setelah aku selesai mandi, kamu harus sudah keluar dari kamar aku. Dan bawa mainan-mainan itu pergi dari kamar aku," ucap Arkan sembari menunjuk ke arah mainan-mainan Rafa.
Arumi mengangguk.
"Iya Tuan."
Arumi kemudian membereskan semua mainan-mainan anaknya yang ada di dalam kamar Arkan. Sementara Arkan mengambil handuk dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi membersihkan tubuhnya yang kotor.
***
Hiks..hiks...hiks ..
Rafa menangis di depan teras rumahnya. Rafa takut dengan kemarahan Arkan tadi. Arkan sudah membentak-bentak Rafa dan Arumi sejak kepulangannya. Membuat Rafa takut dan berlari ke luar.
Beberapa saat kemudian, mobil Pak Mahendra masuk ke dalam halaman gerbang rumahnya.
Pak Mahendra yang berada di dalam mobil, menatap ke arah depan teras rumahnya.
__ADS_1
"Lho, Rafa kenapa? kenapa dia nangis dan kenapa Arumi membiarkannya sendiri," ucap Pak Mahendra.
Pak Tama yang masih ada di dalam mobil juga menatap ke arah Rafa.
"Rafa kenapa ya, kenapa dia nangis sendiri di situ," ucap Pak Tama.
"Nggak tahu Pak Tama. Saya akan samperin Rafa."
Pak Mahendra turun dari mobilnya dan buru-buru berjalan ke arah di mana Rafa duduk.
"Rafa, kamu kenapa?" tanya Pak Mahendra sembari duduk di sisi Rafa.
"Kamu kenapa Rafa? kenapa nangis di sini? mana Mama kamu?" tanya Pak Mahendra lagi.
Rafa menatap kakeknya lekat.
"Tadi, aku dan mama dimarahin Papa," jawab Rafa.
Pak Mahendra terkejut saat mendengar ucapan Rafa.
"Apa! kamu dan Mama di marahin Papa?"
Rafa mengangguk sembari mengusap air matanya.
"Iya Opa."
"Papa kamu udah pulang?" tanya Pak Mahendra.
"Iya. Dia udah pulang tadi."
"Sekarang Papa kamu mana?"
"Baiklah. Opa akan ke sana temui Papa kamu. Ayo sekarang kita masuk. Opa akan buat perhitungan sama Papa kamu."
Pak Mahendra mengajak Rafa masuk. Dia menggandeng tangan Rafa untuk menemui Arkan di kamarnya.
Sesampainya di depan pintu kamar Arkan, Pak Mahendra dan Rafa menghentikan langkahnya. Setelah itu Pak Mahendra mengetuk pintu kamar Arkan.
Tok tok tok...
"Arkan ...! Arkan...!" ucap Pak Mahendra.
Beberapa saat kemudian, Arumi membuka pintu.
"Papa, ada apa?" tanya Arumi.
Pak Mahendra terkejut saat melihat Arumi ada di dalam kamar Arkan.
"Lho, kamu ternyata ada di sini Arumi? kenapa kamu biarkan Rafa menangis sendirian di luar rumah. Kamu gimana sih Arumi."
"Apa! Rafa nangis?" ucap Arumi sembari menatap Rafa lekat.
"Iya. Tadi Papa yang bawa Rafa masuk. Sekarang Arkan mana? dia sudah pulang?" tanya Pak Mahendra.
"Dia ada di kamar mandi Pa, lagi mandi. Kalau aku, lagi beresin mainannya Rafa di kamar," jawab Arumi.
"Arumi. Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa Rafa menangis sendiri tadi di luar."
"Tadi Rafa berantakin kamarnya Mas Arkan, dan Mas Arkan tidak terima dan dia pulang-pulang marahin kita berdua."
__ADS_1
"Arumi, bilang ke Arkan, kalau Papa tunggu dia di ruang tengah. Papa ingin bicara penting sama dia "
"Iya Pa."
"Ayo Rafa, ikut Opa."
Pak Mahendra kemudian mengajak Rafa turun ke bawah. Sementara Arumi masuk kembali ke dalam kamar untuk membereskan mainan Rafa.
Beberapa saat kemudian, Arkan keluar dari kamar mandi. Dia hanya melilitkan handuknya saja di pinggangnya. Arkan terkejut saat melihat Arumi masih ada di dalam kamarnya.
"Arumi, kenapa kamu masih ada di sini heh...!" sentak Arkan.
Arumi bangkit dari jongkoknya dan menatap Arkan lekat.
"Tuan muda. Maaf, aku belum selesai beres-beres. Mungkin Tuan muda mandinya kurang lama."
"Apa maksud kamu? kamu yang lelet Arumi beres-beresnya. Cepat beresin semua."
"Tuan muda, dari pada marah-marah sama aku, ada hal yang lebih penting lagi Tuan muda."
Arkan mengernyitkan alisnya.
"Hal penting? hal penting apa?" tanya Arkan.
"Tadi Papa kamu pulang. Dia nyariin kamu."
"Terus?"
"Dia lagi nunggu kamu di ruang tengah."
"Mau ngapain?"
Arumi mengedikan bahunya.
"Aku juga nggak tahu. Mungkin ada hal penting yang mau dia bicarakan sama kamu Tuan muda."
"Baiklah. Aku akan segera ke sana."
Arkan kemudian mengambil bajunya yang ada di lemarinya.
"Arumi, aku mau ganti baju dulu. Silahkan kamu pergi, dan boleh kamu lanjutkan pekerjaan kamu nanti."
"Baik Tuan muda."
Arumi kemudian keluar dari kamar Arkan. Namun dia tidak pergi meninggalkan kamar itu, melainkan menunggui ganti baju di depan kamar Arkan.
Beberapa saat kemudian, Arkan membuka pintu kamarnya. Dia terkejut saat melihat Arumi.
"Arumi, kamu masih ada di sini? bukannya aku sudah menyuruh kamu pergi dari kamar aku?"
"Kata Tuan muda, aku disuruh beresin mainan Rafa yang ada di dalam kamar. Kenapa Tuan muda nyuruh aku pergi, kan aku belum beresin semuanya."
Arkan menatap ke sekeliling.
"Baiklah, silahkan kamu beresin kamar aku sampai beres."
Arumi mengangguk.
"Baik Tuan muda."
__ADS_1
"