
Malam ini, Nilam masih berada di ruang tengah. Nilam masih berkumpul bersama ke dua orang tuanya.
Nilam sejak tadi masih diam. Mungkin dia masih memikirkan masalah kegagalan pernikahannya dengan Arkan.
"Nilam, kamu kenapa?" tanya Pak Erwin pada anaknya.
Nilam menatap Pak Erwin lekat.
"Aku nggak apa-apa Pa," jawab Nilam.
"Kamu masih mikirin Arkan ya?" tanya Pak Erwin lagi.
Nilam menggeleng.
"Nggak kok Pa. Aku nggak lagi mikirin apa-apa," jawab Nilam.
"Nilam, kamu nggak usah mikirin Arkan terus. Sekarang dia sudah punya istri Nilam. Kamu nggak usah dekat-dekat lagi dengan dia. Ibu tidak mau, kamu nanti di cap sebagai pelakor oleh orang-orang," ucap Bu Hana.
Bu Hana sudah mengingatkan Nilam berkali-kali agar dia mau melupakan Arkan. Dan Nilam pun sekarang akan mencoba untuk melupakan lelaki itu. Walau itu sangat sulit untuknya.
"Iya Ma. Aku tahu kok. Aku juga lagi nyoba untuk melupakan Mas Arkan. Dia sekarang sudah milik wanita lain, jadi mana mungkin aku bisa dekat lagi sama dia. Dan kegagalan pernikahan itu, mungkin karena aku sama Mas Arkan tidak berjodoh," ucap Nilam.
"Anak Papa nggak boleh sedih begitu. Masih banyak Nak, lelaki yang lebih baik dari Arkan," ucap Pak Erwin.
Nilam menatap ayahnya lekat.
"Iya Pa. Aku tahu itu Pa."
Nilam, Bu Hana, dan Pak Erwin sejenak saling diam.
"Ma, Pa, Nilam sebenarnya punya rencana," ucap Nilam tiba-tiba.
Pak Erwin dan Bu Hana menatap Nilam secara bersamaan.
"Rencana apa Nilam?" tanya Bu Hana.
"Nilam pengin pergi ke luar negeri Pa, Ma. Nilam pengin melupakan sejenak masalah Nilam yang ada di Indonesia," jawab Nilam.
Ya, Nilam memang pengin melupakan Arkan sepenuhnya. Dan cara satu-satunya untuk Nilam agar dia bisa melupakan Arkan adalah dengan dia pergi keluar negeri. Dan dia ingin selamanya pergi dari kehidupan Arkan.
Pak Erwin dan Bu Hana saling menatap.
"Kamu mau ke luar negeri? kamu yakin?" tanya Bu Hana.
"Iya. Nggak apa-apa kan Pa,Ma, untuk sementara aku tinggal di sana. Sekalian aku pengin liburan di sana. Atau mungkin aku mau menetap di sana dan mencari kerjaan di sana. Sekalian aku pengin melanjutkan S2 di sana."
Pak Erwin tersenyum.
"Papa akan selalu mendukung kamu Nilam. Itu cita-cita yang bagus."
__ADS_1
Bu Hana diam. Dia tampak sedih saat mendengar ucapan Nilam. Bu Hana tidak tega untuk melepaskan Nilam pergi ke luar negeri. Dan dia juga tidak punya teman jika Nilam pergi. Karena Nilam adalah anak satu-satunya yang dia punya.
"Sebenarnya Mama tidak mau kamu pergi jauh dari Mama Nilam. Mama nggak punya teman Nilam kalau kamu pergi," ucap Bu Hana.
Nilam menatap Bu Hana lekat
"Mama, mama kan yang bilang, kalau aku di suruh melupakan Mas Arkan. Aku nggak akan bisa melupakan Mas Arkan, kalau aku masih ada di sini. Di sini itu sudah terlalu banyak kenangan-kenangan bersamanya. Dan aku nggak akan bisa untuk melupakan itu."
"Ya,terserah kamu saja Nilam. Kalau keinginan kamu seperti itu, ya terserah kamu."
Nilam tersenyum pada ibunya. Setelah itu dia merangkul bahu ibunya dan mengusap-usapnya.
"Ma, ini juga kan cuma untuk sementara. Nilam pengin melanjutkan S2 di sana. Nggak apa-apa kan Ma? Nilam meneruskan cita-cita Nilam untuk belajar di luar negeri."
Bu Hana tersenyum.
"Terus rencana kamu, kamu mau pergi ke mana Nilam. Negara mana yang mau kamu tuju?" tanya Bu Hana.
"Kalau bisa sih ke Amerika."
"Ya, papa setuju Nilam dengan keputusan kamu. Papa sudah siap untuk membiayai kamu jika kamu ingin melanjutkan kuliah lagi di sana."
"Tuh, kan. Papa aja setuju. Mama harus setuju dong, kan ini untuk kebaikan aku juga Ma. Kalau bisa sih, Nilam pengin kerja sambil kuliah."
"Ya udah deh sayang, terserah kamu aja."
Setelah pernikahannya gagal, Nilam memang pengin meneruskan kuliah S2nya di luar negri. Sekalian dia juga ingin mencari kerjaan di sana.
***
Minggu pagi, Arkan masih berada di dalam kamarnya. Dia menatap ke luar jendela. Arkan masih fokus menatap ke bawah di mana Pak Mahendra, Pak Tama, dan Rafa masih bermain-main di halaman depan rumahnya.
"Kenapa harus ada anak itu di sini. Aku sama sekali nggak suka melihatnya. Dia yang sudah menyebabkan kegagalan pernikahan aku dengan Nilam. Dan semua ini gara-gara Arumi," geram Arkan.
Ting.
Suara notifikasi dari ponsel Arkan terdengar. Arkan berjalan untuk mengambil ponselnya yang ada di atas tempat tidur.
Arkan kemudian membuka sebuah chat dari Nilam.
(Mas, aku ingin ketemu sama kamu)
Arkan tersenyum. Dia kemudian langsung menelpon Nilam.
"Halo..."
"Halo Mas, kamu lagi sibuk nggak?"
"Nggak Nilam."
__ADS_1
"Kamu mau nggak, kita ketemuan di tempat biasa. Aku ingin bicara sesuatu."
"Oh, baiklah Nilam. Aku akan segera ke sana. Di tempat biasakan?"
"Iya. Aku tunggu ya Mas."
"Iya Nilam. Aku mau siap-siap dulu."
"Iya Mas."
Setelah saluran telpon itu terputus, Arkan kemudian buru-buru mengambil handuk dan melangkah ke kamar mandi.
Dia mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai mandi, Arkan melanjutkan berganti baju. Setelah ganti baju, Arkan menyisir rambutnya. Dia tampak bahagia karena Nilam sudah mau bertemu dengannya lagi. Arkan sudah kangen dengan wanita itu.
Setelah rapi, Arkan keluar dari kamarnya. Dia kemudian melangkah ke luar rumah.
Pak Mahendra menatap Arkan dari kejauhan. Dia kemudian buru-buru mendekati anaknya yang sudah rapi.
"Arkan, kamu mau ke mana?" tanya Pak Mahendra.
Arkan menatap Pak Mahendra lekat.
"Aku mau pergi sebentar Pa. Ada urusan sebentar dengan teman di luar."
"Pergi ke mana? urusan sama siapa? kenapa kamu nggak ajak Arumi sama Rafa. Sekali-kali Papa ingin melihat kamu pergi ajak mereka. Mereka kan anak dan istri mu Arkan."
Arkan diam dan tampak berfikir.
Mana mungkin aku harus ajak Arumi dan Rafa. Aku kan mau ketemu Nilam, batin Arkan.
"Lain kali aja lah Pa. Aku lagi buru-buru. Aku udah ada janji sama teman."
Arkan kemudian buru-buru masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dia pun meluncur pergi meninggalkan rumahnya.
Sesampainya di depan sebuah cafe, Arkan menghentikan laju mobilnya. Dia memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil itu.
Arkan kemudian masuk ke dalam cafe. Dia menatap ke sekeliling untuk mencari Nilam.
"Kok Nilam nggak ada ya, katanya dia mau ke sini. Apa mungkin dia belum datang ya," ucap Arkan..
Arkan kemudian mencari tempat duduk. Dia kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di cafe itu.
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan wanita menghampiri Arkan.
"Mau pesan apa Mas?" tanya pelayan itu.
"Jus jeruk saja satu," jawab Arkan.
"Baik mas."
__ADS_1