
Malam ini, Arumi masih menapaki jalanan yang begitu gelap. Sepertinya cuaca malam ini, sedang tidak bersahabat. Sejak tadi kilat masih tampak menyambar-nyambar. Petir pun mulai terdengar bersahut-sahutan.
Awan gelap seakan ikut menjadi saksi bagaimana hancurnya perasaan seorang Arumi. Wanita yang sudah ternoda oleh anak majikannya sendiri.
Arumi memang terlalu lemah. Dia tidak bisa melawan kekuatan Tuan Arkan yang begitu sangat berkuasa dan sangat di segani.
Siapa yang akan percaya pada ucapan Arumi jika Arumi mengatakan kalau benih yang ada di dalam rahimnya itu anak Arkan. Mungkin ke dua orang tuanya pun tidak akan percaya. Karena Arkan lelaki yang paling anti dengan wanita.
"Aku harus ke mana sekarang, tega banget bapak ngusir aku dari rumah. Bapak kan tahu kalau aku nggak punya saudara di sini. Aku juga nggak pegang uang sama sekali, dan aku mau tinggal di mana setelah ini. Nggak ada satu pun orang yang mau nolongin aku sekarang, hiks..hiks ..hiks.." ucap Arumi di sela-sela tangisannya.
Arumi sejak tadi hanya bisa mengikuti kemana langkah kakinya pergi. Tidak ada tempat tujuan untuk Arumi saat ini.
Arumi tidak tahu dia akan pergi ke mana sekarang. Dia tidak punya saudara di kota, karena ke dua orang tuanya berasal dari kampung. Dan semua saudara-saudara Arumi berada di kampung.
Pak Tama dan Bu Hesti sudah ikut lama Tuan Mahendra dan jarang pulang kampung. Jadi mereka sudah jauh dengan saudara-saudara mereka di kampung.
Hiks ..hiks ..
Arumi hanya bisa menangis di sisi jalanan. Siapa orang yang mau menolongnya sekarang.
Mungkinkah Arumi harus menelpon teman-temannya untuk meminta pertolongan pada mereka, Itu semua juga tidak mungkin. Arumi tidak ingin merepotkan dan ikut melibatkan teman-temannya dalam urusannya saat ini.
Arumi melangkah hingga akhirnya langkahnya berhenti tepat di pinggir sebuah jembatan.
Arumi menatap ke sekeliling. Sudah jarang ada mobil dan motor yang lewat. Karena waktu saat ini sudah menunjukan jam sepuluh malam. Jalanan yang tadi ramai pun mendadak mulai senggang. Mungkin karena mau turun hujan, jadi banyak orang yang memilih untuk beristirahat di rumah dan tidak melakukan perjalanan.
Arumi menatap ke bawah jembatan. Arus sungai tampak mengalir deras. Dan sungai itu pun terlihat tampak dalam. Mungkin, jika Arumi jatuh ke bawah, dia akan mati bersama anaknya.
Tiba-tiba, terlintas fikiran buruk di dalam hati Arumi untuk melakukan tindak bunuh diri.
Deras banget aliran sungai ini. Pasti dalam banget sungai ini. Seandainya aku jatuh dari sini, aku yakin aku pasti akan mati bersama anak yang aku kandung. Dan jika aku mati, aku yakin, tidak akan ada yang perduli denganku termasuk bapak. Dan Tuan Arkan juga pasti akan tertawa bahagia mendengar aku mati bersama calon anaknya, batin Arumi.
"Apa aku lompat aja ya ke bawah. Percuma juga aku dan calon bayi aku hidup. Aku tidak mau terlalu banyak merepotkan orang jika sampai aku hamil dan melahirkan tanpa keluarga aku. Dan seandainya anak ini aku biarkan hidup, dia juga pasti akan membawa masalah sampai ke depannya "
__ADS_1
Arumi meletakan tasnya di pinggir jembatan. Setelah itu dia naikan salah satu kakinya di atas jembatan. Sepertinya Arumi ingin nekat mengakhiri hidupnya sendiri dengan lompat ke sungai.
"Seandainya aku mati, semua masalah pasti akan terselesaikan. Bapak dan ibu tidak akan menanggung malu lagi dengan keberadaan aku dan bayi ini, Tuan Arkan dan Tuan Mahendra juga tidak akan tahu, aku mengandung calon ahli warisnya," ucap Arumi dengan mengusap-usap perutnya yang masih rata.
****
Di dalam sebuah mobil, seorang wanita menyuruh kakaknya menghentikan mobilnya.
"Berhenti Kak, berhenti..." ucap Inez.
Leo pengemudi tampan itu menghentikan laju mobilnya setelah adiknya menyuruhnya berhenti.
"Ada apa sih? kenapa kamu nyuruh aku berhenti di sini. Ada apa?" tanya Leo pada Inez adiknya.
"Kak, tadi aku melihat ada seorang wanita yang mau bunuh diri."
"Masa sih, di mana?" tanya Leo.
"Kakak kan lagi nyetir. Mana kakak bisa perhatikan ke kanan dan ke kiri jalan."
"Tapi aku tadi lihat, ada seorang wanita yang sudah naik ke atas jembatan. Sepertinya dia mau bunuh diri deh Kak."
"Kamu yakin, kalau tadi itu orang?" tanya Leo.
"Yakin banget kak, kalau tadi itu wanita."
"Kamu nggak salah lihat, jangan-jangan, wanita yang kamu sebut-sebut itu wanita penunggu jembatan itu."
Inez langsung memukul lengan kakaknya karena takut.
"Ih. Jangan nakut-nakutin gitu deh Kak. Kakak fikir aku salah lihat. Orang tadi benar itu orang kok. Masa Mbak Kunti? Mbak Kunti nggak mungkin bawa-bawa tas."
"Tas? wanita ibu bawa tas?"
__ADS_1
"Iya. Dan tasnya itu ditaruh di bawah. Sepertinya itu baju-bajunya deh. Mungkin wanita itu mau pergi dan nggak ada tempat untuk dia tinggal. Sehingga dia ingin mengakhiri hidupnya sendiri."
"Kamu yakin?"
"Ih...kakak nggak percayaan banget sih. Kita putar balik aja Kak. Kita lihat lagi ke jembatan barang kali tadi benar orang. Kalau bukan orang ya udah, kita lanjutkan lagi perjalanannya."
"Baiklah. Tapi awas ya kalau sampai kamu salah lihat. Awas aja kalau setelah kakak sampai ke jembatan nggak ada siapa-siapa di sana."
"Makanya kita lihat dulu biar kakak percaya."
Akhirnya Leo mau juga memutar balik mobilnya untuk melihat kembali di pinggir jembatan besar itu.
Dia melaju ke jembatan besar yang tadi dia lewati itu. Jembatan yang terbilang cukup angker karena banyaknya penampakan dan kecelakaan di jembatan itu.
Leo dan Inez terkejut saat melihat seorang wanita sudah naik di atas jembatan.
"Benar kan kalau dia itu manusia. Aku nggak mungkin salah lihat. Kakak harus turun dan tolongin dia kak. Jangan biarkan dia sampai jatuh ke bawah."
"Iya."
Leo membuka pintu mobilnya dan turun dari mobilnya. Setelah itu dia mendekat ke arah wanita itu.
"Hei...! apa yang mau kamu lakukan...!" seru Leo yang membuat wanita itu terkejut dan lantas menoleh ke arah Leo.
"Siapa kamu? jangan mendekat, atau aku akan terjun ke bawah," ucap Arumi menatap tajam ke arah Leo.
"Jangan bodoh kamu. Kamu jangan lompat ke bawah. Bahaya. Kamu bisa mati kalau lompat ke bawah dan bisa terseret arus. Karena sungai ini dalam banget dan deras banget arusnya"
"Aku nggak perduli. Dan jangan pernah kamu ikut campur dan halangi aku untuk lompat ke bawah."
"Hei Nona, kalau kamu lagi punya masalah, bukan seperti ini cara menyelesaikannya. Kamu bisa kan menyelesaikan masalah kamu dengan cara lain. Bunuh diri itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Tapi bunuh diri itu akan membuat kamu malah terjerumus ke lembah dosa. Ingat itu."
"Tapi aku udah nggak perduli dengan dosa. Aku tidak sanggup untuk menghadapi semua ini. Aku ingin mati saja, dan tidak ingin melihat dunia lagi. Biarkan aku mati dan jangan halangi aku untuk terjun ke bawah," ucap Arumi yang masih bersikeras untuk terjun ke bawah.
__ADS_1