
Bu Hana dan Arkan masih berada di depan ruang UGD. Sejak tadi mereka masih mengkhawatirkan kondisi Nilam.
Hiks...hiks...hiks...
Bu Hana tidak berhenti menangis. Sejak tadi dia masih sesenggukan menangis di sisi Arkan.
Arkan juga saat ini bingung, apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia sejak tadi hanya bisa mencoba untuk menenangkan tangisan Bu Hana dengan mengusap-usap bahunya.
"Tan, jangan nangis terus Tan. Kita doakan saja yang terbaik untuk Nilam," ucap Arkan.
"Nilam itu anak Tante satu-satunya Arkan. Tante tidak mau kehilangan dia. Tante sayang sama dia," ucap Bu Hana sembari mengusap-usap air mata yang mengalir di pipinya.
"Iya Tan. Aku juga sayang sama Nilam. Aku sedih kalau Nilam bisa melakukan hal nekat seperti ini," ucap Arkan.
Bu Nilam menatap Arkan lekat.
"Arkan, Tante nggak bawa hape. Apa kamu bawa hape? " tanya Bu Nilam. Sepertinya dia ingin menghubungi seseorang.
"Bawa Tan." Arkan kemudian mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.Dia kemudian memberikan ponsel itu pada Bu Hana.
"Tante mau telpon Om Erwin?" tanya Arkan.
Bu Hana mengangguk.
"Iya Arkan. Tante mau ngasih tahu Om Erwin kalau sekarang Nilam ada di rumah sakit. Tante takut terjadi apa-apa sama Nilam."
"Ya udah, Tante telpon aja."
"Iya Arkan"
Bu Hana kemudian menelpon suaminya dengan nomer Arkan. Setelah itu Bu Hana menekan nomer suaminya.
Beberapa saat kemudian, suara Pak Erwin sudah terdengar dari balik ponsel Arkan.
"Halo..."
"Halo Pa. Hiks..hiks...hiks..."
"Ma, mama kenapa? kenapa mama nangis. Ada apa Ma?"
"Apa Papa bisa ke rumah sakit sekarang."
"Ada apa Ma memang? kenapa mama nyuruh Papa ke rumah sakit? siapa memang yang sakit?"
"Hiks...hiks...hiks... Nilam Pa. Nilam anak kita."
"Nilam? Nilam kenapa Ma? ada apa dengan Nilam? bicara yang jelas Ma."
__ADS_1
"Nilam anak kita sekarang ada di rumah sakit Pa. Sekarang Mama dan Arkan lagi nungguin dia di depan ruang UGD."
"Apa! Nilam di rumah sakit. Nilam sakit Ma?"
"Pa, Nilam nggak sakit. Tapi dia keracunan. Sepertinya Nilam mencoba meminum racun. Sampai dia pingsan dan mulutnya berbusa."
"Apa! kok bisa begitu? ya udah, Mama tunggu di sana ya. Papa akan segera ke sana sekarang."
"Iya pa."
Setelah menelpon suaminya, Bu Hana kemudian mengembalikan telpon itu pada Arkan.
"Makasih ya Arkan."
Setelah lama Bu Hana dan Arkan menunggu di ruang tunggu UGD. Pak Erwin datang dan menghampiri mereka.
"Ma, bagaimana kondisi anak kita?" tanya Pak Erwin pada Bu Hana.
Bu Hana mengusap sisa air mata di sudut matanya. Dia kemudian bangkit dari duduknya dan mendekati suaminya.
"Mama nggak tahu Pa, bagaimana kondisi Nilam saat ini. Nilam masih ada di ruang UGD. Dan dokter, belum keluar dari ruangan itu," jelas Bu Hana.
"Bagaimana ceritanya sih Ma, Nilam bisa sampai masuk rumah sakit?" tanya Pak Erwin.
"Nilam dari kemarin itu kan nggak keluar kamar dan nggak makan Pa. Tidak mungkin Nilam keracunan makanan. Nilam pasti sengaja menelan racun. Dia pasti ingin mencoba untuk bunuh diri," ucap Bu Hana.
"Kenapa Nilam bisa melakukan ini Ma,"
"Mungkin dia kecewa karena pernikahannya dengan Arkan gagal Pa," ucap Bu Hana.
Arkan sejak tadi hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah dengan kejadian yang sudah menimpa Nilam saat ini."
"Saya mau minta maaf ya Om, Tan, untuk semua ini. Saya sudah salah, karena saya yang sudah menjadi penyebab Nilam seperti ini," ucap Arkan sembari menatap ke dua orang tua Nilam bergantian.
"Nak Arkan, jangan salahkan diri kamu. Mungkin Nilam yang bodoh karena harus melakukan semua ini," ucap Pak Erwin.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruang UGD.
Dokter menghampiri Bu Hana, Pak Erwin dan Arkan yang masih ada di ruang tunggu.
"Dokter, bagaimana kondisi anak saya?" tanya Bu Hana pada dokter.
Dokter menatap Bu Hana, Pak Erwin, dan Arkan bergantian.
"Nilam tidak apa-apa. Dia sudah melewati masa kritisnya. Untung saja kalian membawa Nilam ke rumah sakit dengan tepat waktu, kalau tidak, mungkin nyawa Nilam tidak akan bisa diselamatkan," ucap dokter.
"Syukurlah kalau Nilam tidak apa-apa." ucap Pak Erwin.
__ADS_1
Syukur kalau Nilam tidak apa-apa. Aku akan sangat merasa bersalah kalau sampai terjadi apa-apa sama Nilam, batin Arkan.
****
Sore ini, Arkan sudah sampai di depan rumahnya. Arkan turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Sudah satu minggu Arkan tidak pulang ke rumah karena menunggui Nilam di rumah sakit.
"Selamat sore Tuan muda," ucap Bu Hesti pada Arkan.
Arkan yang di sapa hanya diam. Biasanya dia selalu menyapa balik Bu Hesti. Namun saat ini, Arkan hanya melewati Bu Hesti begitu saja tanpa menyapanya balik.
Arkan berjalan ke lantai atas untuk ke kamarnya. Sesampainya di depan kamarnya, Arkan membuka pintu kamarnya.
Arkan terkejut saat melihat ke kamarnya. Di dalam kamarnya, tampak Rafa sedang bermain-main di dalam kamar Arkan.
"Ya ampun, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Arkan pada Rafa anaknya yang sekarang ada di atas tempat tidurnya.
Rafa menatap ke arah Arkan.
"Papa," ucap Rafa.
Arkan melotot ke arah Rafa .
"Jangan panggil aku Papa. Karena aku bukan Papa mu," ucap Arkan dengan nada tinggi. Membuat Rafa takut dan langsung menundukan kepalanya.
"Kamu lagi ngapain di sini? siapa yang nyuruh kamu bermain di kamarku," ucap Arkan lagi pada anak itu.
Beberapa saat kemudian, Arumi keluar dari kamar mandi. Dia menatap ke arah Arkan yang saat ini sudah berada di dekat Rafa.
"Mas Arkan," ucap Arumi.
Arkan menatap Arumi tajam. Dia kemudian mendekati Arumi.
"Apa yang kamu lakukan di kamar ku heh...! dan apa yang dilakukan anak kecil ini di sini. Kenapa kamarku jadi berantakan begini...!" ucap Arkan dengan nada tinggi.
Lagi-lagi Arkan bicara dengan keras kepada Arumi dan Rafa membuat Rafa takut saat melihat Arkan.
"Maaf ya Mas, karena Rafa sudah berantakin kamar kamu," ucap Arumi.
"Apa! Mas? kamu panggil aku Mas?" Arkan melotot ke arah Arumi.
"Maaf, Papa memang menyuruh aku untuk memanggil kamu Mas. Karena kamu sekarang sudah menjadi suami aku."
Arkan mengepalkan tangannya geram. Sepertinya dia marah pada Arumi. Karena Arumi sudah lancang masuk dan menempati kamarnya bersama Rafa anaknya.
"Jangan pernah kamu panggil aku Mas. Panggil aku Tuan, karena selamanya kamu itu cuma pembantu. Walau kamu sekarang sudah menjadi istriku, tapi aku nggak akan pernah menganggap kamu sebagai istri."
Arumi diam. Benar dugaan Arumi selama ini, kalau Arkan pasti akan bicara seperti itu. Arkan itu memang sudah lama membenci Arumi dan dia juga selalu berusaha untuk menyingkirkan Arumi dalam kehidupannya.
__ADS_1