Anak CEO Yang Tersembunyi

Anak CEO Yang Tersembunyi
Risau


__ADS_3

Pagi-pagi, Arkan sudah bangun dari tidurnya. Dia masih duduk di sisi tempat tidurnya.Arkan mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.


"Aku harus telpon Nilam. Aku pengin tahu kabarnya," ucap Arkan.


Sejak kejadian itu, Nilam memang tidak pernah mau bertemu dan bicara dengan Arkan. Saat di rumah sakit, Arkan pun hanya bisa memantau kondisi Nilam dari jauh. Karena Nilam tidak mau menemui Arkan. Sepertinya Nilam masih kecewa dengan Arkan.


Tut...Tut ..Tut...


"Ah, Nilam. Angkat dong Nilam. Aku pengin bicara sama kamu Nilam," ucap Arkan.


Arkan sejak tadi masih mencoba untuk menelpon Nilam. Namun lagi-lagi Nilam tidak mau mengangkat panggilan dari Arkan.


Tut Tut Tut...


"Angkat dong Nilam, aku ingin bicara sama kamu, sebentar saja Nilam," ucap Arkan lagi.


Arkan kemudian mencoba untuk menelpon Nilam sekali lagi.


Namun saluran telpon itu tiba-tiba saja terputus begitu saja. Sepertinya Nilam sudah memutuskan saluran telpon itu begitu saja.


"Ih, kok malah dimatiin sih," gerutu Arkan.


Arkan tidak mau menyerah begitu saja. Arkan kemudian menelpon Nilam lagi untuk yang ke sekian kalinya.


Namun untuk kali ini, ponsel Nilam sudah tidak aktif. Sepertinya Nilam sudah menonaktifkan ponselnya. Dia sepertinya sudah tidak mau diganggu oleh Arkan.


Arkan yang merasa lelah dengan sikap Nilam, akhirnya menyerah. Dia kemudian meletakkan ponselnya di tempat semula.


Arkan bangkit dari duduknya. Dia kemudian melangkah keluar dari kamar tamu untuk naik ke lantai atas di mana Arumi berada. Karena semalam, dia membiarkan istrinya itu tidur di kamarnya.


"Arumi masih ada di dalam nggak ya," ucap Arkan setelah sampai di depan pintu kamarnya.


Perlahan-lahan, Arkan membuka pintu kamarnya. Dia terkejut saat melihat Arumi masih tidur di dalam kamarnya.


"Dasar wanita pemalas. Jam segini masih tidur aja di sini," ucap Arkan menggerutu.


Arkan yang sedang kesal, buru-buru menghampiri Arumi dan langsung menarik selimut Arumi.


"Enak banget kamu tidur di sini. Dasar wanita pemalas. Jam segini masih tidur ..!" suara bariton Arkan sudah menggema di seluruh sudut kamar.


Arumi mengerjapkan matanya dan terbangun saat mendengar suara Arkan di dalam kamarnya.


Arumi terkejut saat melihat suaminya sudah berada di depannya.


"Tu-tuan Arkan," ucap Arumi sembari beringsut duduk.


"Maaf, aku kesiangan," ucap Arumi sembari menatap wajah Arkan lekat.


"Pergi kamu dari kamar aku. Enak banget kamu tidur di sini. Kamu fikir, ini kamar kamu, makanya kamu bisa seenaknya tidur di sini," ucap Arkan dengan nada tinggi.


"Maaf Tuan Arkan, semalam Papa kamu minta aku untuk tidur di sini. Dan aku tidak bisa menolak permintaan Papa kamu."


"Cepat pergi dari sini, sebelum kesabaran aku habis Arumi," geram Arkan yang sudah mengepalkan tangannya geram.


"I-iya Tuan Arkan."


Arumi tidak mau membuat Arkan semakin marah. Dia kemudian buru-buru pergi meninggalkan kamar Arkan .


Setelah Arumi pergi, Arkan mengambil handuk. Dia kemudian melangkahkan kakinya untuk ke kamar mandi.


Arkan kemudian mandi, setelah itu dia berjalan ke arah lemari bajunya untuk mengambil baju-bajunya yang ada di dalam lemari bajunya.


Dengan sekejap, Arkan sudah tampak rapi dengan baju kantornya. Sebelum pergi, dia menyisir rambutnya terlebih dahulu.


"Aku mau ke rumah Nilam. Aku pengin bicara sama dia walau hanya sebentar. Mudah-mudahan, kali ini Nilam mau menemui aku," ucap Arkan.


Sejak tadi dia masih menatap pantulan dirinya di depan cermin.


"Seandainya, Arumi tidak datang ke acara pernikahan aku, pasti sekarang aku dan Nilam sudah menjadi suami istri. Kenapa semua jadi begini. Kalau tahu akan seperti ini jadinya, seharusnya aku lenyapkan saja Arumi dan anak itu waktu itu," geram Arkan.

__ADS_1


Dia masih menyalahkan Arumi dan Rafa atas semua kekacauan yang terjadi dalam acara pernikahannya. Arkan mengaggap mereka yang menjadi penyebab, hancurnya hubungan Nilam dan Arkan.


"Aku harus temui Nilam. Aku harus bicara dengan dia sekarang," ucap Arkan.


Setelah rapi, Arkan mengambil ponselnya. Dia kemudian memasukkan ponselnya itu di dalam tas. Dia kemudian berjalan pergi meninggalkan kamarnya.


Arkan menuruni anak tangga dan berjalan ke ruang makan


"Tuan Arkan, tumben pagi-pagi gini sudah rapi," ucap Bu Hesti.


"Aku mau pergi pagi-pagi. Ada urusan penting di luar. Tolong Bik Hesti, buatkan aku susu hangat dan siapkan roti untuk aku sarapan," pinta Arkan.


Walaupun dia sudah menjadi menantunya Bu Hesti, namun dia masih tetap memanggil Bu Hesti Bik. Karena Arkan tidak pernah menganggap pernikahan itu ada. Namun walau pun begitu, Bu Hesti tidak pernah marah, dia masih tetap melayani Arkan dengan baik.


"Nggak mau nunggu masakan bibi matang Tuan?" tanya Bik Hesti.


Arkan menggeleng. "Nggak. Aku mau langsung pergi soalnya."


"Baik kalau begitu Tuan."


Bu Hesti kemudian melangkah ke dapur untuk membuatkan susu hangat dan menyiapkan roti untuk sarapan Arkan lagi ini. Sementara Arkan, segera menghempaskan tubuhnya di atas kursi ruang makan.


Beberapa saat kemudian, Bu Hesti berjalan ke ruang makan, sembari membawakan satu gelas susu hangat untuk Arkan dan beberapa lembar roti untuk Arkan sarapan. Dia kemudian meletakan segelas susu dan roti itu di atas meja.


"Silahkan Tuan."


"Makasih Bik."


Arkan kemudian mengambil satu lembar roti tawar dan mengolesinya dengan selai. Dia kemudian memakan selembar roti itu sampai habis. Setelah makan roti, Arkan minum satu gelas susu hangat buatan Bik Hesti tadi.


Setelah makan roti dan minum susu, Arkan bangkit dari duduknya. Dia akan beranjak keluar rumah , namun Arkan menghentikan langkahnya saat dia berpapasan dengan ayahnya di bawah tangga.


"Mau kemana Arkan?" tanya Pak Mahendra menatap Arkan tajam.


"Mau ke kantor lah Pa," jawab Arkan.


"Mau ke kantor?"


"Tapi kok, pagi-pagi banget begini Arkan."


"Aku memang lagi ada urusan Pa dengan seseorang."


"Urusan dengan siapa?"


"Dengan klien."


"Oh..."


"Klien minta ketemu pagi-pagi gini," bohong Arkan.


Arkan memang sengaja berbohong pada ayahnya. Karena dia tidak mau ayahnya tahu kalau dia akan pergi ke rumah Nilam.


Jika Pak Mahendra tahu kalau Arkan akan menemui Nilam, pasti dia akan marah besar pada Arkan.


Sebelum pergi, Arkan mencium punggung tangan ayahnya. Setelah itu dia pun pergi keluar dari rumahnya.


Arkan berjalan ke garasi untuk mengambil mobil. Setelah itu dia masuk ke dalam mobilnya dan meluncur pergi meninggalkan rumahnya.


****


Di sisi lain, Arumi sudah berada di dalam kamar ibunya. Sejak tadi dia masih mencoba untuk membangunkan Rafa.


"Rafa, udah siang Rafa, kamu nggak mau bangun Nak," ucap Arumi sembari mengusap-usap kepala Rafa.


Rafa yang dibangunin tidak mau bangun juga. Membuat Arumi sedikit kesal. Arumi menatap ke arah jendela kamar ibunya.


Dia tersenyum saat mendapatkan ide cemerlang.


"Mama tahu nih biar kamu bangun. Mama harus buka jendelanya," ucap Arumi.

__ADS_1


Arumi berjalan dan mendekati jendela. Setelah itu dia membuka korden jendelanya.


Sinar mentari masuk begitu saja menembus celah-celah jendela kamar Arumi. Sinar itu, sampai mengenai wajah tampan Rafa.


"Ih, mama silau mama," ucap Rafa sembari menutup ke dua matanya dengan lengannya.


Arumi tersenyum. Dia kemudian mendekati Rafa dan duduk di sisi ranjang.


"Sayang, ayo bangun. Udah siang. Kamu mau tidur sampai jam berapa sayang. Ini udah siang," ucap Arumi.


Rafa beringsut duduk. Setelah itu dia menatap Arumi lekat.


"Mama, aku ada di mana," ucap Rafa sembari menatap ke sekeliling.


"Kamu kan ada di kamar nenek. Apa kamu lupa, semalam itu kamu tidur sama nenek," jelas Arumi.


"Oh ya. Terus mama tidur di mana?" tanya Rafa.


"Di kamar Papa," jawab Arumi.


"Oh ya. Sama papa juga?"


Arumi menggeleng.


"Nggak sayang. Mama tidur sendiri di kamar Papa," jawab Arumi.


"Kok Mama nggak ajak Rafa sih. Rafa kan pengin tidur sama mama."


"Iya, maafin Mama ya sayang. Semalam kan Rafa udah tidur, Mama nggak tega untuk bangunin Rafa. Dan mama juga berat untuk menggendong Rafa sampai ke kamar Rafa. Jadi Mama biarin deh Rafa tidur sama nenek."


Rafa diam. Dia kemudian turun dari tempat tidurnya. Arumi terkejut saat tiba-tiba saja Rafa berlari pergi meninggalkan kamarnya.


"Rafa, kamu mau kemana Rafa..."


Arumi mencoba mengejar Rafa. Dengan sekejap, Rafa sudah berada di ruang makan.


Pak Mahendra yang sedang makan, tersenyum saat melihat cucunya.


"Rafa, kamu udah bangun," ucap Pak Mahendra.


Rafa hanya mengangguk.


"Sini sayang duduk sama Opa. Kita makan bareng ya."


Rafa tersenyum.


"Iya Opa."


Rafa kemudian duduk di dekat Pak Mahendra. Sepertinya biasa, Pak Mahendra selalu mengajak Rafa dan Arumi makan satu meja dengannya.


"Mama kamu mana?" tanya Pak Mahendra.


"Ada di belakang."


Beberapa saat kemudian, Arumi sudah sampai di meja makan. Dia tersenyum saat melihat Rafa sudah duduk di dekat Pak Mahendra.


"Kenapa kamu ikut makan Rafa. Kamu kan belum mandi. Kalau mau makan, mandi dulu sayang," ucap Arumi.


Pak Mahendra menatap Arumi lekat.


"Arumi, biarin saja Rafa makan. Mungkin dia sudah lapar Arumi. Kalau kamu sarapan, ayo kita sarapan bareng di sini."


"Iya Pa. Tapi aku mau mandiin Rafa dulu. Rafa harus mandi dulu dong sebelum makan. Masa jorok begitu sih."


Pak Mahendra menatap Rafa lekat.


"Rafa, kamu mandi dulu ya. Makannya nanti aja kalau sudah mandi."


Rafa mengangguk.

__ADS_1


"Iya Opa."


Rafa kemudian turun dari kursi. Setelah itu dia mendekat ke arah ibunya. Setelah itu, Rafa dan Arumi pun pergi meninggalkan meja makan.


__ADS_2